Forever With You My Idol

Forever With You My Idol
bab 20


__ADS_3

ddrrrrt ddrrrrt


Getar dari ponsel milik Ragil mengalihkan pandangannya dari Hanum. Begitu juga Hanum yang langsung memutuskan pandangannya dari Ragil.


Ada nama Mama di sana, Ragil mengangkatnya dan tetap berdiri di sana. Selang beberapa saat, ia bisa mendengar suara riang seseorang.


"besok aku akan ke sana" katanya dengan senang.


Setelah sambungan teleponnya terputus, Ragil kembali menyimpan ponselnya. Ia melihat Hanum yang sedang melepas apron. Kali ini lebih mudah, daripada saat ia sedang memasangkan kain itu tadi.


"apa kau besok ada waktu" tanya Ragil.


Hanum langsung berbalik, "aku harus ke rumah sakit" jawab Hanum sembari menunjuk gips di lengannya.


"biar aku yang antar, setelah itu ikut denganku ke rumah mama"


Hanum memperhatikan perubahan wajah Ragil, laki-laki itu sepertinya sedang senang. Ia berjalan ke ruang keluarga, lalu duduk di sofa. Tangannya meraih remote tv, seketika perasaan seperti cemburu membuatnya cemas. Ia tidak jadi menonton tv, dan membalikkan remote pada tempatnya semula.


Ia kembali berjalan ke dapur, karena langkahnya terlalu cepat. Lutut Hanum sampai terantuk meja makan. Hingga menimbulkan suara yang cukup keras.


"aduh" ia meringis kesakitan sembari mengelus bagian lutut yang terantuk meja.


Ragil memutar tubuhnya, dan berjalan cepat ke arah Hanum. Ia menunduk untuk melihat rona merah di lutut Hanum. Kaki Hanum yang putih sangat kontras dengan memar akibat terantuk meja itu.


"duduk dulu" Ragil menarikan kursi untuknya. Lalu dengan dibantu Ragil, Hanum mendudukkan dirinya. Meski rasa nyerinya tidak separah tadi, tapi tindakan manis Ragil membuatnya tidak ingin menyudahi rasa sakit di lututnya.


Sementara itu, Ragil mengambil es batu dari dalam lemari es. Membungkusnya dengan plastik. Lalu membawanya kembali ke Hanum. Ia berlutut, kemudian meletakkan es batu itu dengan perlahan ke atas luka memar di lutut Hanum.


Hanum sempat meminta es batu itu, tapi Ragil menolaknya. Ia dengan sangat lembut merawat luka memar Hanum. Sesekali ia akan meniup lutut Hanum. Yang berhasil membuat seluruh darah di tubuh Hanum memanas.


"masih sakit" Ragil mendongak untuk melihat ke arah Hanum.


Sedangkan Hanum yang ditatap Ragil, hanya mengangguk. Hanum memperhatikan Ragil yang sedang mengompres lututnya. Ia akan mengalihkan pandangannya, saat Ragil melihat ke arah Hanum.


"sudah jauh lebih baik" ucap Hanum sembari mendorong es batu itu dengan hati-hati.


Ragil tidak langsung berdiri, ia kembali mendongak. Lalu tersenyum, tangannya terulur untuk menghapus jejak air mata Hanum. Sepertinya ia tahu rasanya sangat sakit saat lutut Hanum terantuk meja.


Dengan canggung Hanum bangkit, lalu membenarkan dressnya. Ia juga terlihat bingung.


"terimakasih" katanya dengan malu malu.


"pipimu kenapa merah juga, kamu..." tunjuk Ragil pada pipi Hanum yang sedang menunjukkan semburat merah itu.


Refleks dengan cepat Hanum menutupi kedua pipinya. Ia lantas berlari, meninggalkan tempat itu. Yang membuat Ragil tersenyum semakin lebar.


"hei, pipimu udah kaya buah tomat. kayanya pipimu perlu es batu juga" godanya saat Hanum sudah menaiki anak tangga.


"dia menggemaskan sekali" Ragil masih tidak bisa menghilangkan senyuman dari bibirnya. Ia bergegas meletakkan es batu itu, kemudian ikut naik ke atas.


Ketika tirai besar bergerak terkena angin, ia jadi curiga seseorang coba masuk lewat balkon di lantai dua. Dengan berhati-hati ia melihat keluar balkon, tapi malah mendapati Hanum yang sedang berdiri di sana.


"ngapain di sini" tanyanya saat melihat Hanum menoleh ke arahnya.


"cari angin"


"nanti yang ada, kamu malah masuk angin" Ragil menunjuk pada baju yang Hanum kenakan.


Hanum berusaha mengalihkan pandangannya, ia menatap ke arah bintang di langit yang terlihat sangat banyak. Sedangkan Ragil yang melihat leher jenjang Hanum, membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mengulurkan tangannya untuk menggapai ikat rambut di kepala Hanum.


Kemudian menariknya, hingga membuat Hanum terkejut. Lalu rambut yang sudah susah payah ia ikat cepol, terurai begitu saja kemudian bergerak terkena angin.


"kenapa kau melepasnya" tanya Hanum tak senang. "jangan ikat rambut mu saat keluar rumah" ujar Ragil.


Hanum mengernyitkan keningnya, ia tidak mengerti apa maksud Ragil. "kau tahu kan aku perlu usaha ekstra untuk mengikat rambut ku" Hanum mengangkat gips di lengannya, yang membuatnya susah mengikat rambutnya.


Ragil menatap ke arah Hanum dengan lekat, ia lalu kembali melihat ke arah langit. Sembari tersenyum, Ragil menjelaskan.


"iya aku tahu. karena itu kau jadi terlihat jauh lebih cantik saat rambutmu diikat"


"maksudmu sebelumnya aku tidak cantik"


Ragil bersandar pada pembatas balkon, "orang orang akan terganggu dengan kecantikanmu"


"apa sih, kenapa omongan mu jadi tidak jelas" ucap Hanum yang kesal karena tiba-tiba Ragil melarangnya.


"kau tidak lupakan, hubungan diantara kita hanya sebatas perjanjian"


Sontak Ragil berubah murung, ia lantas kembali masuk ke dalam. Dan meninggalkan Hanum yang masih tidak mengerti kenapa Ragil tiba-tiba mengaturnya.


Tapi tak lama ia ikut menyusul Ragil masuk, karena angin malam semakin membuatnya kedinginan. Setelah melihat pintu kamar Ragil yang tertutup, Hanum pun masuk ke dalam kamarnya sendiri.


*


Ragil dengan bosan menunggu Hanum datang ke tempat parkir. Ia sudah menunggu Hanum sejak tadi. Salahnya sendiri karena ingin mengantarkan wanita itu ke rumah sakit. Sekarang ia hanya bisa menunggu di dalam mobil milik Hanum. Kalau tidak, orang orang akan menambah berita baru tentangnya.


Dari pintu keluar ia bisa melihat Hanum berjalan ke arahnya. Sudah tidak ada gips yang terpasang di lengannya. Ia sedikit lega melihat hal itu. Wanita yang mengenakan dress selutut dengan warna peach, juga makeup natural terlihat sangat cantik.


"awas aja gue marahin, dia bilang nggak lama. Ini udah lebih dari satu jam" gerutunya saat Hanum membuka pintu mobil.


"maaf ya lama" ujar Hanum sembari mendudukkan dirinya.


"aku hampir mati bosan" "aku kan tidak memintamu untuk mengantarkanku. Kau sendiri yang menawarinya diri untuk mengantar ku"


Ragil memajukan bibirnya dengan lucu. Hal itu membuat Hanum tertawa singkat. Dan Ragil mendengarnya.


"kau tertawa" tanya Ragil dengan girang.


"tidak" elak Hanum.


"tapi aku melihatnya"


"aku bilang tidak"

__ADS_1


"aneh, padahal aku melihatnya tadi" Ragil menyalakan mobil. Yang kemudian membawa mereka pergi dari sana. Selama perjalanan mereka berdua masih berdebat karena banyak hal.


Ini adalah kali pertama bagi Hanum, bisa bicara banyak hal dengan seseorang dengan sangat nyaman selain Elma.


Tidak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di depan rumah keluarga besar Prambudi. Kedatangan mereka bahkan sudah disambut dengan baik oleh Sinta. Wanita paruh baya itu terus memeluk sang menantu.


"bagaimana keadaan lenganmu" tanya Sinta saat mereka sudah sampai di dalam rumah.


"jauh lebih baik, mama tidak perlu khawatir" jawab Hanum dengan sopan.


"yang penting sekarang kamu baik baik saja. oh iya, maaf karena beberapa hari ini mama tidak bisa mengunjungimu"


"tak apa, ma"


"maaf ya, kau pasti sangat tertekan"


"mah, mama tidak perlu khawatir. Aku tahu resiko besar karena sudah menikah dengan anak mama. Tapi aku tidak akan membiarkan rumah tangga kami hancur hanya karena sebuah berita"


Ragil yang sedang berjalan naik, berhenti sejenak karena ucapan Hanum. Ia nampak sedang berpikir, tapi kemudian ia melanjutkan langkahnya lagi. Saat tiba tiba seseorang memanggilnya dari ujung anak tangga.


"Ndaru" sontak suara seorang wanita membuat mereka bertiga melihat ke arah sumber suara.


Ragil mengembangkan senyumnya, ia langsung menghambur ke arah wanita itu. Hanum yang melihatnya dari bawah, sedikit heran siapa wanita cantik yang sedang memeluk Ragil itu.


Sementara itu, Sinta yang menyadari kegelisahan sang menantu. Mengambil kesempatan untuk membuat sang menantu cemburu. Dia dengan sengaja menyembunyikan identitas wanita itu.


"ayo Hanum, mama sudah siapkan makanan untuk kamu" Sinta membawa Hanum yang masih tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Ragil.


Ragil datang ke ruang makan bersama wanita tadi. Mereka masih sesekali melontarkan candaan di sela obrolan mereka menuju ruang makan. Tawa dua orang itu sedikit membuat Hanum sakit. Ia juga merasa tidak nyaman dengan perutnya. Meski ia sudah tidak lagi datang bulan.


"Hai, apa kabar" wanita itu menyapa Hanum dengan canggung setelah Ragil menyuruhnya.


"hai... aku baik" Hanum membalas sapaan itu dengan canggung juga.


"ayo duduk" perintah sang ibu. Membuat dua orang yang sedang berdiri itu segera duduk.


Mereka duduk dalam diam, Sinta dengan sengaja tidak mengenalkan wanita yang mengambil tempat di sisi Ragil, tepat di seberang Hanum. Dia ingin melihat sang menantu yang sangat dingin dan cuek itu cemburu.


"loh Hanum kapan datang" Kedatangan Rama membuat orang orang di mengalihkan perhatiannya pada Rama.


"baru saja pa, papa apa kabar" ucapnya dengan sopan.


"baik, maaf untuk keributan yang terjadi akhir-akhir ini ya. Papa harap kamu tidak...


"pa, jangan bahas itu sekarang" Sela Sinta.


"iya, ma. oh iya apa kamu sudah berkenalan dengan Raya" Rama menunjuk wanita di samping Ragil, Hanum nampak sangat bingung. Ia seperti pernah mendengar nama itu, tapi tidak terlalu yakin.


Sedangkan wanita yang disebut oleh Rama, sedang berusaha menahan diri untuk tidak tertawa. Dia adalah Rayya, putri sulung keluarga Prambudi.


"kita akan berkenalan setelah ini pa" ucap RayyaL, lalu Rayya menyenggol bahu Ragil, dan membuat laki-laki itu menoleh.


Interaksi keduanya sukses membuat Hanum mengepalkan tangannya di bawah meja. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba merasakan cemburu. Tapi yang jelas hatinya mungkin sudah menerima Ragil. Namun tidak dengan logikanya.


"Kamu ingat Rayya kan" pertanyaan dari Sinta membuat Hanum berhenti berjalan. Ia menatap sebuah bingkai besar, foto dirinya yang terpasang di dinding sebelah pintu sebuah kamar. Itu adalah foto saat dirinya masih menjadi atlet ice skating.


"itu" Hanum tidak mengerti kenapa ada foto dirinya.


"karena Rayya sangat menyukai mu, dia tidak ingin fotomu di letakan di tempat lainnya. Dia ingin kamu menjadi bagian dari hidup seseorang"


"dia Rayya" Sinta mengangguk membenarkan.


"hai, aku Rayya Maharani Prambudi. Kakak Ragil Mahendaru Prambudi. Bukankah wajah kami berdua terlihat sama, adik ipar" Rayya berdiri di belakang Hanum, sontak saja Hanum memutar tubuhnya.


Ia sangat terkejut mengetahui pernyataan tersebut. Bahkan wajahnya cantiknya sangat terlihat menggemaskan bagi Ragil. Ia berkali-kali membuang pandangannya agar tidak terpengaruh wajah menggemaskan itu.


Rayya menyikut lengan sang adik, ia tahu sesuatu yang sedang dirasakan dua orang dihadapannya. Sebagai seorang dokter, instingnya lebih kuat.


Beberapa menit kemudian, dua wanita itu sudah terlihat begitu akrab. Rayya memperlihatkan semua benda yang ia kumpulkan selama Hanum menjadi seorang atlet.


"kenapa kakak menyukai ku" tanya Hanum tatkala ia menemukan foto dirinya sedang tersenyum sembari memegang mendali emas.


"hmm, mungkin sebenarnya aku menyukai adik perempuan yang cantik"


"dulu, waktu mama melahirkan Ndaru. Aku menolak untuk menyentuh atau melihat Ndaru. Bagiku, bayi perempuan jauh lebih cantik dari pada bayi laki-laki. Lalu setelah beberapa bulan mama dan papa mengajak ku untuk melihat teman mama yang baru saja melahirkan. Ternyata bayi mereka perempuan" cerita Rayya penuh antusias.


"bayi kecil itu merubah pemikiran seorang Rayya kecil. Ternyata semua bayi memang menggemaskan. Berkat bayi perempuan itu, Aku mulai menyukai Ndaru. " sambungnya.


tok tok


Kedua perempuan itu melihat ke arah pintu. Di ambang pintu Ragil sedang berdiri. Ia terlihat salah tingkah, karena Hanum sedang menatapnya.


"aku harus ke suatu tempat, ada pemotretan. Mungkin 2 atau 3 jam" jelas Ragil.


"ini kan hari libur" Rayya menyahut dengan keras.


"maaf, nanti aku akan menjemputmu" ujar Ragil pada Hanum.


"hmm" jawab Hanum sembari mengangguk.


"tolong jaga dia untukku" pesannya sebelum pergi pada Rayya.


"memangnya dia barang ya, harus dijaga segala" gerutunya.


Sementara Hanum mengulum bibirnya untuk menyembunyikan senyumannya. Menyadari itu, Rayya mulai menggoda Hanum.


"apa kau suka" "hah"


"kau suka adikku" Hanum dengan tegas mengatakan tidak. "tidak"


"lalu kenapa kalian berdua menikah, jika tidak saling mencintai. Apa Ndaru memaksamu" selidik Rayya.


"Rayya" Sinta memanggil putri sulungnya itu tepat waktu. Dia yang datang untuk menanyakan suatu hal. Malah mendengar ucapan Rayya barusan.

__ADS_1


"iya ma"


"di mana kamu taruh buku agenda mama" Rayya bangkit dari duduknya, ia lalu melihat ke arah Hanum yang ikut bangkit. "tunggu sebentar ya"


"Rayya, biarin Hanum istirahat dulu. Dari tadi kamu ngajak ngobrol dia terus kan" Rayya mengangguk.


"Hanum kamu ingat di mana letak kamar Ragil kan" "iya, ma"


Sinta dan Rayya berpisah dengan Hanum di depan tangga. Setelah itu Hanum berjalan beberapa langkah menuju kamar Ragil. Ia sempat ragu, tapi kemudian ia tetap membuka pintu kamar Ragil.


Aroma yang sama, seperti terakhir kali ia masuk ke dalam kamar itu. Entah kenapa, ia memang sangat lelah. Hampir dua jam ia duduk mendengarkan Rayya berbicara. Sesekali merebahkan tubuhnya di kamar Rayya sembari berbincang. Tapi tetap saja tidak bisa mengurai rasa lelahnya.


Jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore. Ragil juga baru saja pergi, jadi ia tidak ingin melepas kesempatan untuk istirahat di tempat tidur laki laki itu. Dan tidak butuh waktu lama, ia sudah terlelap di atas ranjang empuk berukuran besar itu.


*


Hanum terbangun karena mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Ia mengerjakan kedua matanya untuk menyesuaikan terang di kamar itu.


"apa Ragil sudah kembali" gumamnya sembari mendudukkan dirinya.


Tepat saat itu, pintu kamar mandi dibuka dari dalam. Ragil keluar hanya dengan sehelai handuk yang melilit tubuhnya. "aaagggrrhh, dasar mesum" gerutu Hanum langsung menggunakan kedua tangannya untuk menutupi matanya.


Melihat hal itu Ragil berniat menggoda Hanum. Dia berjalan mendekati Hanum. Dan berdiri di depannya.


"kenapa kau menutup matamu"


"kau pikir kenapa, cepat kenakan pakaian mu"


Ia lalu mencondongkan tubuhnya, hingga aroma wangi dari sabun mandi menguar dari tubuh Ragil. Membuat Hanum terbuai, ia terdiam saat menyadari Ragil ada di depannya.


"hei" Tangan Ragil terulur untuk menarik tangan Hanum. Tapi Hanum beranggapan Ragil ingin berbuat lain. Justru menampik tangan Ragil dengan keras.


Karena hal itu, Ragil kehilangan keseimbangannya. Dan terhuyung ke arah Hanum. Beruntung kedua tangannya dengan sigap bertumpu pada ranjang. Jika tidak, ia sudah menindih tubuh Hanum. Posisi Ragil saat ini, seperti sedang mengunci pergerakan Hanum.


"apa yang kau lakukan" ucap Hanum terkejut.


"kenapa, kau benar-benar penasaran" godanya.


"oh, astaga" Hanum berusaha keras untuk tidak melihat ke arah Ragil.


"lihat aku" pinta Ragil dengan lembut.


"tidak, dasar mesum" tolak Hanum.


"lihat aku" kali ini masih dengan lembut, ditambah tangan Ragil mulai dengan beraninya menyentuh wajah Hanum.


"menyingkirlah"


Brakkk


"upss sorry" Rayya kembali menutup pintu Ragil. Ia lalu berlari menuruni tangga, Rayya seperti baru saja melihat adegan hot di sebuah film.


"Rayya, mana adik kamu" tegur sang ibu.


Melihat Rayya yang tersenyum geli, membuat Sinta terheran heran. "mama, bentar lagi pasti punya cucu" jelas Rayya senang.


"apa, cucu" Rayya mengangguk sembari tersenyum dengan sangat lebar.


"emang mereka lagi ngapain" selidik Sinta yang sangat penasaran dengan apa yang baru saja dilihat Rayya.


"kakak" Ragil mendekat dengan nafas yang memburu. Membuat dua wanita di sana saling tatap. Lalu mereka berdua menyatukan kedua tangan mereka. Sepertinya dugaan mereka memang benar.


"tolong ya, lain kali ketuk pintu dulu"


"salah siapa yang mau begituan, tapi lupa kunci pintu" sindir Rayya.


Ragil memutar matanya jengah, ia lalu menyambar ayam goreng di atas piring. Kemudian segera berlari, sebelum sang mama menyadari tindakannya. Entah bagaimana ia sudah berada di dalam kamarnya lagi. Ragil mencari keberadaan Hanum. Tapi mendapati pintu kamar mandi tertutup, ia bernafas lega.


Sementara itu, Hanum nampak sangat kebingungan. Ia tidak sengaja membuat baju yang ia kenakan basah kuyup. Beberapa kali ia berusaha menutup keran air yang terus mengeluarkan airnya. Tapi usahanya tidak berhasil. Jadilah ia berdiam diri dulu di dalam kamar mandi. Berharap Ragil kembali, sampai ia mendengar seseorang membuka pintu.


"Ragil, Ragil" panggilnya.


"iya, ini aku" jawab Ragil dari balik pintu.


"e bisa minta tolong" katanya ragu.


"ada apa, kau tidak apa-apa kan" cukup lama Hanum berpikir ingin mengatakannya atau tidak.


"Hanum" panggil Ragil.


"Hanum jawab aku, apa kau baik-baik saja"


"tidak, maksudku aku baik baik saja. aku hanya bingung mengatakannya" ujar Hanum ragu.


"katakan atau kubuka paksa pintu ini" Ragil sudah mulai cemas. "jangan, tetap di sana"


Tapi Ragil tidak mengindahkan permintaan Hanum, detik selanjutnya ia sudah mendobrak pintu kamar mandi dengan keras. Hanum yang terkejut, langsung mencengkram erat tangannya.


"apa yang terjadi" tanya Ragil cemas, ia melihat baju yang dikenakan Hanum. Baju yang sudah basah, membuat bayangan pakaian dalam wanita itu terlihat. Lalu ia melihat ke arah keran air yang masih menyala. Ragil menghela nafas lega.


Dia mengambil handuk dari dalam lemari penyimpanan, lalu membungkus tubuh basah Hanum.


"aku akan minta seseorang untuk menyiapkan pakaian mu" ujar Ragil sembari berdiri.


"tunggu" Hanum mencegah Ragil yang sudah berbalik.


"bisa tolong pinjamkan pakaian kak Rayya saja"


Ragil tidak mengiyakan permintaan Hanum, ia memilih menyuruh seseorang untuk urusan itu.


"dalam 10 menit, bawa beberapa setelan pakaian wanita ke rumah keluarga besar Prambudi"


"ah, jangan lupa dengan pakaian dalamnya. Dia wanita dengan tubuh ramping, dan juga tinggi" tambahnya.

__ADS_1


__ADS_2