
Hanum membulatkan matanya, ia melihat langsung kedua mata Ragil yang tampak sama terkejutnya dengan dirinya. Sementara itu, bukannya segera berdiri Ragil malah sengaja diam saja. Membiarkan Hanum salah tingkah seorang diri.
"apa kamu senang" tanya Hanum sembari merapihkan jasnya.
"apanya yang senang, apa kamu sebut tadi itu sebuah ciuman" Ragil perlahan berdiri.
"tentu saja" kata Hanum dengan keras. "aku bahkan menggunakan masker, bibir kita tidak saling bersentuhan" elaknya yang berhasil membuat rona merah di pipi Hanum semakin merah.
"sama saja, itu juga ciuman" ucap Hanum dengan gagap.
"kau mau tahu bagaimana itu berciuman yang benar" Ragil menyeringai saat melihat Hanum semakin salah tingkah.
Sementara itu Hanum melangkah kebelakang dengan perlahan seiring dengan Ragil yang terus berjalan ke arahnya.
"tidak, tidak perlu" tolaknya.
Punggung Hanum terbentur dinding di sebelah pintu lift yang terbuka, ia tidak lagi bisa mundur lagi. "kau, kau tetap diam di sana" pintanya.
"untuk apa diam" ujar Ragil sembari terus berjalan. Hanum langsung menutup kedua matanya dengan rapat, sedangkan kedua tangannya meremas ujung jasnya dengan kuat. Tapi Ragil tidak menciumnya, dia malah melewati Hanum dan langsung masuk ke dalam lift.
Merasa tidak ada seorang pun dihadapannya, Hanum membuka matanya. Lalu ia berputar untuk melihat di mana Ragil berada.
"kamu tidak ingin pulang" kata Ragil. Melihat laki laki itu berada di dalam lift membuat Hanum sedikit kecewa. Tapi Hanum juga kesal karena merasa dikerjai oleh Ragil.
"kamu kecewa, karena aku tidak jadi menciummu" goda Ragil.
"bisakah kamu berhenti membahas tentang ciuman" ujar Hanum dengan kesal.
"tidak" dari balik masker Ragil tersenyum senang.
"hah menjengkelkan" gerutunya sembari menekan tombol tutup lift dengan keras.
Setelah lift tertutup tidak ada diantara keduanya yang bersuara. Mereka berdiri dengan berjauhan. Hingga sebuah insiden mati listrik, membuat lift berhenti mendadak. Dan lampu di dalam lift mati, membuat fobia Hanum kembali muncul.
Menyadari hal itu, Ragil dengan cepat menarik tubuh Hanum. Membawanya ke dalam pelukannya. Ia juga menyalakan lampu flash dari ponselnya. Hal itu cukup berhasil mengatasi ketakutan Hanum meski hanya berkurang sedikit.
Dia tidak lagi gemetaran seperti tadi. Dan pantulan cahaya terang di wajahnya berhasil membuat seluruh dinding pertahanan Ragil goyah. Ia yang sudah berusaha dengan kuat untuk tidak menciumnya tadi. Tiba-tiba sekarang ingin sekali mengecup bibir merah itu.
Ditambah aroma dari parfum yang sangat menggodanya itu. Ragil melepaskan pelukannya, untuk mengurangi rasa berdebar di jantungnya. Juga agar ia tidak melakukan hal yang tidak diinginkan.
Awalnya semuanya baik-baik saja, sampai tiba-tiba lift bergerak dan lampu menyala. Gerakan mendadak itu membuat Hanum kembali menghambur ke dalam pelukannya karena terkejut.
Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam, kemudian Ragil memulainya. Dia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Hanum. Matanya yang tajam langsung menatap ke dalam mata indah Hanum. Yang seolah mengunci pergerakan wanita itu.
Semakin dekat, Ragil melepaskan masker yang menutupi mulut dan hidungnya. Ia menempelkan ujung hidungnya dengan hidung Hanum. Menunggu respon apa yang akan wanita itu berikan.
Setelah tidak ada respon apapun, Ragil memulainya kembali. Ia memiringkan kepalanya. Lalu dengan sangat perlahan, ia menempelkan bibirnya dengan lembut di bibir Hanum.
Awalnya hanya kecupan singkat. Namun yang kedua ia mulai semakin menikmatinya, begitu juga dengan Hanum. Ciuman keduanya semakin dalam dan panas. Mereka tidak menyadari pintu lift sudah terbuka, beruntung tidak ada satupun orang di sana.
Usai melepas pagutannya, Ragil menempelkan keningnya dengan kening Hanum. Keduanya sama-sama mengatur nafas yang memburu karena ciuman tadi.
"maaf" ujar Ragil sembari menyentuh bibir Hanum dengan lembut menggunakan ibu jarinya, Ia tersenyum melihat lipstik merah Hanum yang sudah berantakan itu.
Hanum mengangkat tangannya, lalu menggenggam tangan Ragil yang sedang menyentuh bibirnya. "hmm, apa ini berantakan" katanya.
"iya, tapi aku suka"
Hanum memukul dada Ragil dengan kuat beberapa kali, "kau benar-benar ya"
"aduh duh, tolong jangan menggodaku" ucap Ragil sembari menangkap tangan Hanum.
Hanum mencebikkan bibirnya, ia dengan kesal langsung keluar dari lift. Kedua tangannya membersihkan sisa lipstik yang tertinggal di bibirnya. Di belakangnya Ragil menyusul, sembari kembali mengenakan maskernya.
"di mana mobilmu" Hanum melihat ke area parkir baseman yang menyisakan beberapa mobil saja.
"kau tidak menggunakan mobilmu sendiri" tanya Ragil dengan antusias. "aku lelah, sepertinya orang yang tidur seharian bisa jadi supirku" ucapnya.
Ragil menunjuk mobilnya tak jauh dari tempat mobil Hanum berada dengan sangat senang. Mereka berjalan beriringan, lalu masuk ke dalam mobil.
Keduanya kembali melakukan ciuman dengan singkat di dalam mobil Ragil. Setelah itu mobil melaju dengan kecepatan sedang di keramaian jalan raya. Malam itu Hanum dan Ragil sepertinya lupa dengan perjanjian yang mereka tulis. Untuk tidak jatuh cinta pada satu sama lainnya.
Setelah sampai di rumah, keduanya dengan canggung masuk ke dalam rumah. Hanya berpegangan, tapi mampu membuat kedua pipi Hanum merona. Mereka berpisah di depan pintu kamar Hanum. Meski enggan melepas kedua tangannya, tapi Ragil tidak ingin memaksa Hanum. Ia juga ingin membiarkan semuanya berjalan dengan perlahan.
"masuklah"
"hmm, kamu juga masuk"
"mimpi indah, selamat malam" ucap Ragil sembari menyelipkan rambut Hanum ke belakang telinga. Perhatian kecil yang berhasil membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
__ADS_1
Jika Ragil terus mengumbar senyum, dan juga terlihat sangat senang. Hanum terlihat masih malu-malu, dan juga belum terbiasa dengan perlakuan manis dari Ragil.
*
Hari wisuda Rayya
Enam belas jam perjalanan akhirnya mereka sampai di negara I, Mereka langsung menuju ke kampus Rayya. Setelah berganti baju Rayya kembali berlari untuk menghadiri acara wisuda yang sudah dimulai. Rayya tersenyum melihat kedua orangtuanya juga duduk di tempat yang disiapkan pihak universitas untuk mereka. Ketika namanya disebut sebagai lulusan terbaik. Semua orang bertepuk tangan dengan riuh. Termasuk kedua orangtuanya yang sangat bangga padanya.
Setelah acara wisuda selesai, Rayya berlari ke arah kedua orangtuanya yang sedang menunggu di luar gedung. Mereka memberikan buket bunga juga pelukan hangat padanya.
Mereka langsung pergi untuk makan malam di restoran terkenal di kota itu. Lelah dengan kegiatan yang sangat padat, membuat mereka tidur lebih awal. Karena esok hari, mereka harus kembali.
Pagi harinya, Rayya juga kedua orang tuanya langsung menuju ke bandara. Tapi karena pagi itu sedang hujan deras, mobil sedikit hilang kendali beberapa kali. Beruntung sopir bisa mengendalikan mobil dengan baik.
Sebuah mobil trailer datang dari arah berlawanan, dan tergelincir lalu ambruk. Kejadian yang mendadak itu membuat sopir mobil Rayya dengan panik membanting setir ke arah kiri. Tanpa diduga ada mobil lain yang datang, dan langsung menabrak mobil Rayya dengan keras.
Mobil terguling beberapa kali, menabrak beberapa mobil lainnya. Kemudian berhenti saat menabrak pembatas jalan. Bunyi tabrakan dan juga ledakan terdengar bersahutan dari mobil lainnya. Kecelakaan itu juga membuat mobil Rayya ringsek parah dan mengeluarkan asap dari dalam mobil.
Dari dalam mobil yang sudah rusak itu, Rayya memanggil kedua orangtuanya dengan lirih. Dari kepalanya darah segar terus mengalir membasahi wajah juga pakaiannya. Sementara itu Rama juga Sinta tidak sadarkan diri, dengan luka yang sama parahnya.
"mama... mama... pa..."
*
Sudah dua malam ini Ragil tidak datang menjemputnya. Hanum melihat ke sekeliling baseman untuk memastikan ada mobil Ragil atau tidak. Sedikit kecewa karena laki laki itu tidak menjemputnya lagi. Tapi ia sadar diri, hubungan mereka terhalang sebuah kontrak pernikahan.
Hanum mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia berhenti sebentar untuk memesan makanan di restoran Drive thru. Lalu kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
Mobil Ragil sudah terparkir di halaman rumah saat ia sampai di rumah. Hanum langsung ke dapur, meletakkan makanan yang ia beli ke tempat makan.
"kau sudah pulang" Hanum menoleh ke arah Ragil yang sedang berjalan ke arahnya.
"hm, kau sudah makan"
"aku lagi diet" Hanum terkejut mendengar perkataan dari Ragil. Ia memandangi tubuh Ragil dari kaki sampai kepala. Postur tubuh yang ideal untuk seorang idol. Lalu yang membuat laki-laki itu memutuskan untuk diet.
"kenapa harus diet" "untuk orang yang sering tampil di televisi, aku harus selalu terlihat sempurna" jelas Ragil.
"oh, syukurlah. aku bisa menghabiskan makanan ini sendiri" Hanum menggoda Ragil dengan makan makanan itu di hadapannya.
Awalnya Ragil bisa mengalihkan perhatiannya dari godaan makanan yang sangat lezat itu. Tapi detik berikutnya ia sudah bergabung di meja makan, ikut menyantap makanan tersebut. Hanum hanya tersenyum melihat tingkah laku Ragil.
"..."
"ya, dengan saya sendiri"
Ragil mendengarkan dengan seksama suara orang dari seberang telepon. Pada awalnya ia masih bisa menyahut, saat orang itu bertanya. Tapi detik berikutnya, wajah Ragil berubah menjadi gelap. Detik berikutnya lagi, Ragil memejamkan kedua matanya lama. Setelah itu ia langsung mematikan sambungan teleponnya.
Hanum melihatnya dengan bingung. Ia langsung bertanya saat Ragil sudah membuka matanya. "ada apa" Tanya Hanum dengan lembut.
Ragil tersenyum, lalu mengelus pipi Hanum dengan ibu jarinya. "maaf ya, mendadak aku ada pekerjaan di luar negeri" jawabnya dengan lembut.
Hanum yang mengerti hanya mengangguk dengan disertai tersenyum. "kapan"
"sekarang juga aku harus berangkat" Ragil memainkan rambut Hanum dengan jarinya.
"hmm, pergi lah"
"maaf ya, aku mungkin akan sangat sibuk nanti" selesai mengatakannya Ragil langsung bergegas pergi ke kamarnya dengan wajah panik. Hanum menyadari hal itu, jadi setelah mematikan layar LCD. Dia ikut menyusul Ragil menuju lantai dua, tepatnya kamar Ragil.
Sementara itu, di dalam kamarnya Ragil sedang menyiapkan paspor dan juga memasukkan beberapa setel pakaian ke dalam koper. Hanum berdiri di ambang pintu, menyaksikan Ragil sedang berkutat dengan kopernya.
"berapa lama kau akan pergi" tanya Hanum.
Ragil langsung berbalik begitu selesai dengan persiapannya. Ia memegang kedua bahu Hanum. Lalu menatap dalam ke mata indah Hanum.
"jangan khawatir, kalau urusan sudah selesai aku pasti akan langsung pulang" hibur Ragil.
"aku tidak khawatir, hanya ingin memastikan saja" elaknya. Mendengar hal itu, Ragil tersenyum tipis. Ia lalu mendekap tubuh Hanum dengan erat.
"aku tidak bisa bernafas" ucap Hanum sembari memberontak ingin melepaskan dirinya.
Tanpa Hanum sadari, Ragil menitikkan air matanya. Setelah melepas pelukannya, ia lantas mengecup kening Hanum. Lalu pindah mengecup bibir merah merona Hanum singkat. Sedangkan Hanum yang belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi hanya tersipu malu dengan perlakuan manis dari Ragil.
Setelah berpamitan Ragil dengan cepat mengendarai mobil mewahnya menuju bandara. Setibanya di sana, asisten papanya sudah menunggu. Kemudian mereka berdua berlari di tengah padatnya bandara, karena pesawat akan segera berangkat.
Ragil hanya diam di dalam pesawat, ia bahkan sulit tidur meski perjalanan masih sangat lama. Cemas bercampur takut, isi kepalanya terus menerus mengatakan hal buruk tentang keadaan kedua orangtuanya. Sesekali Ragil terlihat menahan air matanya agar tidak jatuh.
Duduk di samping Ragil, asisten Rama pun memilih untuk diam. Dia juga tidak kalah cemas seperti Ragil. Kabar yang ia dapatkan cukup membuat nafasnya terasa sangat berat. Apa lagi yang Ragil rasakan pastilah lebih sakit dari dirinya.
__ADS_1
"berapa lama lagi" ucap Ragil.
"kurang lebih lima jam lagi, pak" jawab asisten Rama.
Ragil kembali memejamkan matanya, tapi ia tidak benar-benar tertidur. Sampai mereka mendarat di negara I. Keduanya langsung menuju ke rumah sakit.
Awalnya Ragil bingung kenapa ia di bawa ke ruangan itu oleh asisten sang papa. Karena saat ini Ragil berdiri di depan ruangan bertuliskan kamar jenazah. Sedangkan asisten sang papa berdiri di belakangnya. Ragil menoleh ke arah orang di belakangnya. Setelah itu asisten Rama berjalan ke depan, dan membukakan pintu ruangan itu.
Ia masih bisa berjalan biasa saja saat masuk ke dalam ruangan itu. Tapi ketika petugas membuka salah satu penutup. Kedua tangannya mulai mengepal dengan erat. Matanya pun berair. Ragil menghentikan tangan petugas yang akan kembali menutup kain itu. Di sana, tubuh Rama terbaring kaku. Bekas luka di wajahnya masih jelas terlihat.
Petugas itu mundur dari sana, dan kembali ke tempatnya. Sementara Ragil terus memandangi wajah pucat dari orang yang paling dia sayangi. Meski mereka lebih sering bertengkar, tapi dia sangat menyayangi papanya. Dengan perlahan ia menyentuh wajah itu, bibirnya bergetar hebat. Ia menengadah untuk menghentikan air mata yang siap jatuh itu.
"papa..." panggilnya lirih.
Setelah puas memandangi wajah Rama untuk yang terakhir kalinya, Ragil menarik kain penutup dengan perlahan. Ia mencoba untuk mengikhlaskan kepergian sang ayah. Meski sebenarnya hatinya sangat hancur.
Ia berbalik dan siap pergi, ketika asisten Rama memanggilnya. "pak"
"antar aku ke ruangan mama" ucapnya sembari berjalan pelan.
"nyonya besar ada di sini" Ragil berbalik dengan cepat dengan wajah tak percaya. Ia berjalan dengan cepat ke arah asisten Rama. Dan menyingkirkan pria itu dengan keras. Ia tidak percaya apa yang telah ia lihat.
Ragil memeluk tubuh sang mama yang dingin itu dengan histeris. Ia tidak menyangka akan kehilangan kedua orangtuanya dengan tragis secara bersamaan seperti ini. Tangis laki laki itu begitu menyayat hati. Bahkan asisten almarhum Rama memutuskan keluar dari ruangan itu. Dia tidak sanggup melihat orang orang yang membawanya dari jalanan hingga ke titik ini terbujur kaku di sana.
Ragil terus menangis sembari menciumi wajah pucat Sinta. Dia sangat hancur, karena tidak ada lagi dua orang yang dengan sangat ikhlas menyayangi dirinya. Meski berkali kali ia menyakiti keduanya, tapi mereka masih dengan setia menerima dirinya. Ragil tidak bisa menopang tubuhnya, ia terduduk dan kembali menangisi kepergian kedua orangtuanya
*
Ragil dan juga orang orang Rama tetap berdiri di bawah hujan gerimis. Tak ada satupun yang mengenakan payung. Bahkan Ragil menolak benda itu melindungi kepalanya saat asisten Rama memayunginya. Mereka sedang
Mereka menunggu kedua peti jenazah di turunkan ke dalam liang yang sama. Lalu ia menaburkan bunga sebelum kedua peti itu ditutup dengan tanah. Selepas memakamkan kedua orangtuanya, Ragil tidak langsung pergi dari sana. Ia merasakan hancur yang amat sangat setelah kehilangan kedua orangtuanya.
Ditambah lagi keadaan sang kakak yang masih kritis. Benar benar membuat Ragil hancur. Air matanya jatuh bebas di pipinya. Bersamaan dengan air hujan yang mengguyur tubuhnya.
*
Hari berikutnya, Ragil masih menunggu hasil pemeriksaan sang kakak di ruangan ICU. Ia dengan lembut membelai wajah Rayya, seolah takut menambah luka di wajah pucat itu.
Dokter wanita datang bersama dua perawat menyapanya sebentar lalu memeriksa tubuh dan juga tanda vital Rayya dengan teliti.
"bisa kita bicara sebentar, tuan" Ragil langsung mengangguk.
"baiklah, jadi begini. Saat ini pasien dalam keadaan koma. Kami sudah melakukan pemeriksaan secara mendetail sejak pagi, untuk memastikan kembali perkembangan pasien. karena benturan di kepala sangat kuat, ini yang menyebabkan cedera otak dan membuat pasien koma" jelas dokter itu.
"tolong lakukan apapun agar kakak saya bisa bangun dari komanya" pinta Ragil.
"kami akan melakukan yang terbaik, tapi untuk kasus seperti ini bisa sembuh adalah sebuah keajaiban. Jadi tolong bantu doakan pasien agar cepat sembuh" hibur sang dokter.
Setelah dokter tadi pergi, Ragil kembali duduk di kursi. Kemudian asisten Rama yang bernama Miko itu masuk. Dan langsung membisikkan sesuatu.
Mendengar info yang baru saja diberikan oleh Miko, Ragil langsung bergegas pergi bersama dengan Miko ke suatu tempat.
Orang orang kepercayaan Rama sedang berkumpul di sebuah tempat hiburan terkenal di negara I. Tempat itu adalah milik Rama. Karena menurut wasiat terakhir Rama, kepemilikan tempat itu akan diwariskan kepada putra satu satunya yaitu Ragil. Mereka semua sedang menyambut kedatangan presdir mereka yang baru. Tapi mereka juga sedang berduka karena kehilangan orang yang sangat mereka segani.
Ragil masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan Miko. Kedatangannya membuat orang orang yang sudah menunggu sejak tadi berdiri.
Ia melihat pada orang orang yang sedang menunduk untuk memberikan penghormatan kepada dirinya.
*
Sementara itu di tempat yang jauh di kantor Paradewa, Hanum tampak gelisah dan juga cemas. Beberapa kali ia mondar mandir di ruangannya. Ia baru saja mendapatkan informasi tentang kematian kedua orang tua Ragil dari berita yang tidak sengaja ia baca di internet.
Tapi ia tidak bisa menghubungi Ragil ataupun Rayya. Hanum duduk dengan gelisah. Ia
"tolong siapkan penerbangan ke negara I secepatnya, dan juga cari tahu di mana letak makan kedua mertuaku" perintahnya pada Hoshi lewat interkom. Tak lama pria itu sudah berdiri di sana, menyerahkan bukti reservasi tiket pesawat.
"terimakasih, kau boleh kembali ke ruangan mu" Hoshi hanya berdiam diri, menyadari Hoshi tidak juga pergi Hanum lantas melihat ke arahnya dengan bingung.
"anda tidak bisa pergi seorang diri, saya akan ikut dengan anda" jelas Hoshi.
"aku bisa sendiri, kamu tetap di sini. Urus semua pekerjaan di sini"
"maafkan saya nona, saya tidak bisa membiarkan anda pergi seorang diri"
Hanum menghela nafasnya panjang, "keluar" gertaknya keras.
Pada akhirnya, Hanum tetap pergi bersama dengan Hoshi. Begitu sampai di negara I, Hanum langsung menuju ke pemakaman. Mengenakan pakaian serba hitam, juga kaca mata hitam. Ia menabur bunga di atas kedua makan mertuanya.
Setelah itu ia pergi ke beberapa rumah sakit bersama Hoshi, untuk mencari tahu keberadaan Rayya. Tapi ia tidak bisa menemukan keberadaan Rayya. Hanum terduduk di kursi penumpang dengan lelah. Sudah seharian dia mencari keberadaan Rayya, dan tidak menemukan di mana dia berada. Hanum hanya berharap sang kakak ipar masih hidup.
__ADS_1
Tanpa mereka berdua sadari, kedatangan mereka diketahui oleh Ragil. Dengan cepat ia meminta Rayya di pindahkan ke rumah, untuk dirawat di rumah.