
Hanum merasakan tatapan penuh iri dan juga benci dari setiap karyawan di kantornya. Dia tahu jelas apa penyebabnya. Tapi Hanum tidak terlalu memikirkannya. Siapa yang mengira dampaknya akan sangat besar pada hidupnya. "kok lu biasa aja sih. Bahkan semua karyawan di sini udah heboh parah. Ratu membosankan berkencan dengan seorang idol. Satu melihatmu dengan iri, sedangkan yang lainnya melihatmu dengan ketidaksukaan" Elma sang sahabat sudah bertanya. Pertanyaan yang sudah berada diujung kepalanya saat melihat Hanum datang tadi.
"itu tidak penting" katanya tak acuh. Elma membulatkan matanya, tampak sangat heran dengan pemikiran bosnya itu. "tapi kalau kejadian ini orang lain yang kena. Pertama mungkin senang karena digosipin deket dengan seorang penyanyi. Yang kedua mungkin nggak berani keluar karena tatapan orang orang di sekitarnya yang nggak terima. Tapi lu anggap ini nggak penting, wah ... " Elma menggeleng tak percaya. Hanum melipat kedua tangannya di depan dadanya. matanya yang indah itu menatap langit dari jendela kaca besar di depannya.
"itu memang tidak penting bagi saya, hidup saya sudah berhenti di tahun itu. Tidak ada lagi yang perlu dijaga karena penting" ujar Hanum dengan datar. Elma terkejut bukan main, sang sahabat ternyata masih terpukul atas kepergian ibunya. Dia berjalan mendekati Hanum. Kemudian menyentuh pundaknya. "lu masih punya gue, Num. Seberat apapun hidup lu. ingat gue selalu ada buat lu. Jangan pernah berpikir hidup lu udah berakhir ya. Ada gue, Presdir juga ada buat lu kok" Hibur Elma. Meski tidak langsung membuat Hanum percaya, tapi setelah kepergian ibunya hanya Elma yang selalu berdiri di sampingnya.
"El" wajah Hanum melunak "ett dah, jangan panggil gue El doang kenapa sih. gue balik ke meja gue ya. kalau ada apa-apa panggil gue" Elma bersiap untuk pergi. "terimakasih" kata Hanum dengan tulus, dua mata yang tampak selalu kosong kali ini terlihat hidup. Elma menahan air matanya untuk tidak terjun bebas. Lalu memeluk leher Hanum. "iya, gue terima ucapan terimakasih nya, lain kali bayarin belanjaan gue yak" tangan mulus Hanum mendarat di punggung Elma. Plakk, "cepat kembali ke meja mu. Sekertaris macam apa yang suka memanfaatkan keadaan" sindir Hanum yang ditanggapi gelak tawa oleh Elma.
*
Dewa melihat berita tentang skandal Ragil, awalnya dia tidak peduli. Tapi setelah melihat foto putrinya yang diblur di bagian wajah sontak saja dia mengeraskan rahangnya. "Tolong siapkan mobil, saya akan keluar sendiri" perintahnya lewat interkom. Dewa berencana menanyakan kejelasan hubungan putrinya. Jika sudah jelas dia bisa membuat keputusan langkah yang harus diambil untuk membantu menyelamatkan nama Hanum.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di agensi milik Rama. Beruntung lelaki yang sudah berteman dengannya puluhan tahun itu tengah berada di kantor nya. "ada apa, apa ini tentang berita pagi ini" Rama langsung bertanya saat Dewa sudah duduk di sofa. "jadi menurutmu aku datang ke sini, di saat jam sibuk untuk urusan lain" jawab Dewa sedikit kesal. Rama justru tertawa kecil sembari menuangkan teh ke cangkir teh. Lalu meletakkan di depan Dewa.
"kau pikir ini perkara gampang. kenapa malah tertawa" Dewa semakin kesal melihat respon dari Rama. "tenang, ini semua ulah Sinta" Ujar Rama santai. Melihat wajah Dewa yang masih bingung, Rama duduk bersandar di sandaran sofa. Kemudian menjelaskan rencana sang istri.
Kepulangan Dewa kembali ke kantor nya diiringi perasaan lega. Sekarang dia berada di depan pintu ruang Hanum. Berdiri dengan diam. Menolak sekretaris putrinya untuk memberitahukan kedatangannya. Setelah beberapa saat dia naik ke ruangan nya. Lalu kembali sibuk dengan tumpukan dokumen.
*
Seharian Ragil mencoba mencari pelaku yang menyebarkan berita kencannya. Dia akan menyangkal berita ini setelah mengetahui pelakunya. Tapi sayangnya, kerja keras seharian hingga lupa makan tidak membuahkan hasil. Hari sudah gelap, perutnya mulai tidak tahan. Tidak ingin mati kelaparan, Ragil memutuskan untuk keluar. Mengenakan Hoodie hitam hingga menutupi seluruh tubuhnya. Lalu masker yang menutupi sebagian wajahnya. Penyamaran adalah cara agar berada di luar tetap aman.
Baru saja keluar dari pintu apartemennya, seseorang yang berdiri di depan pintu lift mencuri perhatiannya. Hanum yang saat itu mengenakan setelan kerja tampak sangat berbeda. Tapi yang membuat Ragil heran, Hanum mengenakan sandal. Dan terlihat wanita itu akan turun ke bawah. Setelah Hanum masuk ke lift dugaan Ragil benar.
Sempat berpikir untuk naik lift berikutnya. Tapi perutnya sudah tidak bisa menunggu. Jadi dengan terpaksa dia ikut naik lift bersama Hanum. Yang pertama kali muncul di kepalanya adalah ekspresi Hanum yang biasa saja. sedangkan jantungnya berdetak tak karuan karena berada di dalam lift berdua dengan wanita yang sedang dikabarkan dekat dengan dia.
__ADS_1
Ragil perlahan menarik nafas lalu mengeluarkannya. Udara di dalam lift terasa sangat sedikit. Seolah dia sedang berebut oksigen dengan wanita itu. Tapi kenyataannya memang begitu. Apalagi Hanum yang berdiri di pojok belakang seperti mengawasinya. Tiba tiba saat dia masih sibuk dengan pemikirannya. Lift berhenti mendadak dan lampu lift juga padam. "astaga" begitu saja kata yang keluar dari mulutnya. Tangannya sibuk meraba saku Hoodie dan celananya, tapi tidak menemukan barang yang dia cari.
Lalu dia berbalik untuk melihat sosok yang berdiri di belakangnya, Tapi hanya bayangan sosok yang sedang duduk dengan memeluk lututnya. "hei, kau baik-baik saja" Tanya Ragil setengah khawatir. Namun tidak ada jawaban dari Hanum. Ragil berjalan perlahan dengan cahaya yang sangat minim untuk sampai di depan sosok yang sedang terdiam itu. Ragil mengangkat tangannya untuk menyentuh tubuh Hamun. Saat tangan itu merasakan tubuh Hanum yang bergetar hebat, dia tahu jika wanita itu takut gelap.
"hei, tenanglah. Aku ada di sini" Masih tidak ada respon dari Hanum. Dia berkali kali menggoyang tubuh itu. Tapi masih tetap tidak merespon. Karena semakin khawatir, Ragil menarik tubuh ramping itu ke dalam pelukannya. "shhhhttt tenanglah. aku ada di sini. jangan takut. tenanglah" Ragil membuat suara berbisik di dekat telinga Hanum. Menepuk pelan punggung Hanum. Setelah merasakan tubuh itu tidak bergetar lagi, Ragil sedikit lega. "di mana ponselmu, kau bawa ponselmu kan" kata Ragil sembari meraba lantai lift di dekat kaki Hanum.
Lalu menemukan benda pipih itu berada tak jauh dari kaki Hanum. Sepertinya terlempar saat wanita itu mulai merasakan ketakutan. Ragil menyalakan lampu sorot di ponsel Hanum. Kemudian meletakkan benda itu di atas telapak tangan Hanum. Beberapa saat kemudian lampu lift kembali menyala, Ragil yang masih berlutut dihadapan Hanum menatapnya begitu juga sebaliknya. Keduanya saling tatap tidak menyadari lift terbuka di lantai baseman.
Saat lift terbuka, entah datang dari mana beberapa wartawan pencari berita sudah berdiri dengan kamera yang mengarah ke arah mereka. Lalu mengambil gambar mereka berkali kali. Ragil berdiri, menutupi sebagian wajahnya yang tidak tertutup.
Ragil baru tersadar kamera sekarang berganti arah ke seseorang yang berdiri di sampingnya. Dia melihat ke samping, lalu menemukan wajah terkejut juga takut Hanum. Tanpa berpikir panjang, lengannya yang panjang membawa tubuh Hanum ke dalam pelukannya. Menutupi wajah cantik itu dengan bersembunyi di depan dada bidangnya. Ragil berjalan dengan membawa tubuh Hanum dengan cepat, tangan kirinya menekan tombol buka kunci. Lalu mobil berwarna hitam di depan mereka mengedipkan lampu nya. Sampai ke mobil miliknya, Ragil membantu Hanum duduk di kursi penumpang depan. Gerakannya yang cepat tidak menyadari jika Hanum memperhatikan wajah Ragil yang sangat dekat dengannya. Klik, setelah memasang sabuk pengaman. Ragil berjalan memutar ke bagian kemudi. Mereka berdua dengan tergesa-gesa meninggalkan gedung apartemen dan juga barisan para pencari berita itu.
"apa ada yang dapat wajah wanita cantik tadi" Seru seorang wartawan pria berusia 40 tahunan. "saya dapat" seru yang lain. "ingat, kita tidak boleh menunjukkan foto wanita tadi. tetap di samarkan" seru wartawan yang pertama. "baik" jawab wartawan lainnya kompak.
*
Hanum yang lupa membeli obat pereda nyeri terpaksa harus keluar lagi untuk pergi ke apotek. Tapi dia dibuat salah tingkah gara gara lelaki yang ditemui nya kemarin malam, keluar dari pintu apartemennya saat dia menunggu pintu lift terbuka. Hanum yang sudah biasa mengontrol emosinya bisa menutupi kegugupannya dengan baik. Meski sekarang mereka berdua berada di dalam lift yang sama. Aroma parfum yang maskulin menguar dari tubuh lelaki yang berdiri di depannya. Aroma yang lembut, membuatnya merasa nyaman.
Tiba tiba lift berhenti, lalu mendadak gelap. Hanum ingat dia jatuh terduduk. Kemudian tidak bisa mendengar juga melihat apapun. Dia sangat takut ruang gelap. Dia hanya akan duduk memeluk lututnya. Membenamkan wajahnya di atas lutut. Lalu tubuhnya bergetar hebat.
Saat tiba-tiba indra penciumannya bekerja lebih baik. Aroma yang membuatnya nyaman tiba-tiba berada sangat dekat. Seperti memenuhi indra penciumannya. Perlahan dia bisa mendengar suara seseorang seperti berbisik di telinganya. "shhhhttt tenanglah. aku ada di sini. jangan takut. tenanglah" lalu dia merasakan tangan yang menepuk punggungnya pelan. Di dalam gelap dia bisa melihat ke bayangan itu. Meski masih sangat susah untuk melihat di dalam gelap. "di mana ponselmu, kau bawa ponselmu kan" suara tadi membawanya kembali tersadar. Saat cahaya dari ponsel yang diletakkan di telapak tangannya, Hanum bisa melihat wajah Ragil yang tertutup masker. Ada perasaan yang tidak bisa dia jelaskan.
Beruntung lift kembali menyala dan lampu juga hidup lagi. Tubuh mereka berdua dibawa sampai lantai baseman. Baru saja pintu lift terbuka. segerombolan wartawan yang mengangkat kamera ke arah mereka berdua membuat Hanum tidak tahu harus bagaimana. Hingga tubuhnya yang kaku ditarik dengan cepat, kemudian menempel di tubuh Ragil. Dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Ragil. menghirup dalam-dalam aroma yang menenangkan itu. Dia baru tersadar sudah duduk di mobil saat melihat lelaki tampan itu dengan cepat memasang sabuk pengaman. Hanum meraba dada sebelah kirinya. Mendapati jantungnya berdetak kencang. perlakuan manis yang membuat pipinya merona. Dia dengan cepat memalingkan wajahnya saat Ragil melihat ke arahnya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Hanya deru pendingin yang memecah kesunyian di dalam mobil. Keduanya sibuk dengan isi kepala mereka masing-masing. Tidak lama mobil berhenti di
__ADS_1
taman kota. Tempat itu tidak asing lagi bagi Hanum. Ragil keluar terlebih dahulu, meninggalkan Hanum yang belum mengerti situasi nya. Tapi kemudian Ragil kembali dengan membawakan dua botol air mineral. Ragil membantu membuka segel, lalu memberikan pada Hanum. "minumlah" ujarnya saat Hanum tidak kunjung meraih botol dari tangannya, malah justru menatap nya lama.
Ragil membawa botol itu, juga menarik tangan Hanum. Lalu meletakkan botol air mineral di atas tangan Hanum. "terimakasih" Hanum langsung meminum air itu untuk menghilangkan rasa canggung. "maaf atas kejadian tadi" Ragil mengatakannya tanpa melihat ke arah Hanum.
"tidak masalah" Kali ini Ragil menoleh. "itulah kenapa aku tidak berniat menjalin hubungan dengan orang biasa. Pada awalnya mereka bilang tidak masalah. Tapi kemudian jadi kampungan. bukan kah begitu" Sindiran yang Ragil buat tidak membuahkan hasil apapun Karena pada kenyataannya Hanum tidak merasa seperti yang Ragil katakan. "apa pekerjaan mu telah merubah kehidupanmu juga. Kurasa satu satunya yang kamu punya hanya kesombongan" Hanum menatap Ragil dengan percaya diri. Ragil balas menatap Hanum. Keduanya kembali membisu. Hanya saling tatap.
"kesombongan itu yang akhirnya membawaku berada di titik sekarang. Jadi tolong kerja samanya. Aku tidak ingin menghancurkan karirku hanya demi pernikahan itu. Papaku akan menghargai setiap ucapanmu. Jadi katakan padanya kamu tidak ingin perjodohan ini. Dia pasti akan membatalkan jika kamu yang memintanya" ucap Ragil. Tapi Hanum hanya diam tidak menanggapi.
"kenapa, kamu menginginkan perjodohan ini. hahaha sudah kuduga. Siapa yang akan menolak menikah dengan seorang Idol. Hanya wanita bodoh yang menolak tawaran itu" ujarnya lagi. Lagi lagi tidak mendapatkan jawaban dari Hanum, membuat Ragil semakin kesal. Dia menyugar rambutnya ke belakang. Lalu mengusap wajahnya kasar. Menghela nafasnya kasar
"apa yang saya dapatkan jika saya menolak? bukankah saya harus mendapat keuntungan yang sama saat saya menolak tawaran besar ini. Saya bisa saja mengatakan pada pak Rama, jika putranya memaksa saya untuk menolak perjodohan ini. Lalu apa yang akan putranya itu dapatkan. Anda bisa pikirkan baik-baik" ujar Hanum dingin. Ragil menggertakkan giginya, dia mencengkram erat kemudi mobilnya. Mendengus kasar.
"kamu pikir apa yang bisa aku lakukan sekarang. saat hanya ada kita" ancaman Ragil membuat Hanum bergidik ngeri. Dia memegang erat sabuk pengaman di depan dadanya. Tapi tetap berusaha tenang. Seketika mobil melaju dengan kecepatan tinggi. beruntung jalanan sudah tidak ramai. Tak banyak mobil yang melaju di depan mereka. Tapi tetap saja Hanum ketakutan. Tiba-tiba nyeri kram perut yang sejak tadi dia coba tahan bertambah sakit. Sekarang kedua tangannya menekan daerah bawah perut berusaha mengurai rasa sakit. Tapi tetap tidak bisa.
Hanum melihat sekilas ke arah Ragil, sepertinya lelaki itu tidak berniat untuk berhenti jika dia minta tolong. Entah apa yang ada dalam pikiran lelaki itu tiba-tiba dia menepikan mobilnya. Hanum melihat ke luar jendela mobil. Mendapati di luar hanya gelap. Kedua mata indah itu membulat, dia memutar kepalanya. Menatap Ragil yang sedang tersenyum menakutkan itu. Hanum menggeleng lemah. Memegang erat sabuk pengaman. Berusaha mencari cara agar Ragil tidak melemparnya keluar. Tapi sial, tubuh kecilnya kalah telak. Dia sudah terduduk di aspal yang dingin. Dan mobil itu sudah melaju meninggalkannya sendirian.
Hanum memeluk tubuhnya sendiri, melihat ke sekeliling. Hanya ada lampu penerangan jalan yang cukup jauh dari tempatnya berdiri. Dia berjalan dengan cepat. Menuju lampu di depannya. Berusaha mengusir rasa takutnya dengan menutup sebagian matanya. Saat sampai di bawah lampu yang ternyata tempat menunggu bus. Halte bus yang sangat kumuh. Sepertinya tidak ada penumpang yang datang untuk menunggu bus di sini.
"aah" rasa sakit itu semakin parah. Hanum berjongkok memeluk perutnya yang semakin sakit. Keringat dingin sudah bercucuran. Ditengah rasa sakit yang luar biasa. Tiba-tiba suara sebuah motor mendekatinya. Pada awalnya dia ingin meminta tolong. Tapi saat melihat dua orang dengan senjata tajam di tangan salah satu orangnya. Hanum buru buru berdiri.
"wah ada barang bagus bro" "hahahaha" Kedua orang itu tertawa bersama. mereka berjalan semakin dekat dengannya. Hanum menggigit bibirnya, berjalan perlahan ke belakang. berusaha menghindari mereka berdua. "jangan takut sayang, main bareng sama kita pasti enak" salah satu lelaki itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh Hanum. Tapi gerakan Hanum yang menghindari sentuhan tangan lelaki itu memancing gelak tawa dari kedua orang itu. "wah beneran takut dia bro, langsung sikat aja bro" "siap bro" ketika kedua orang itu bersiap menangkap Hanum, Hanum berlari secepat mungkin ke tempat dia pertama kali di turunkan oleh Ragil. "sialan, tangkap dia" perintah salah seorang.
Hanum benar benar sangat ketakutan. Dia sesekali melihat ke arah belakang. memastikan dua orang itu tetap berada jauh darinya. Tapi karena tenaganya sudah cukup berkurang. Hanum hampir tertangkap. Namun berhasil lari lagi setelah menendang tulang kering salah seorang lelaki itu. "hai berhenti, dasar ******" umpat lelaki itu. "tangkap dia bodoh" pintanya pada kawannya.
"hei ******, jangan sok jual mahal deh lu. mending main sama kita. enak kok dari pada main kejar-kejaran gini cape" Teriak salah seorang lainnya. Hanum tidak peduli dia terus berlari. Berharap seseorang bisa menolongnya. "tolong, tolong" Hanum terus berteriak, berlari sembari menahan sakit. "hahaha, tidak ada yang akan dengar suara lu ******. ini daerah sepi" Saat itu juga lengan Hanum di tarik kuat. Hingga tubuhnya ikut tertarik dan jatuh ke aspal. "jangan saya mohon" pinta Hanum dengan pilu.
__ADS_1
"hahahah nggak akan sakit kok. lu pasti ketagihan" "langsung sikat aja bro, sebelum dia kabur lagi" ujar yang lain. "oke, lu nurut atau kita bawa dengan cara kasar" ancam lelaki dengan tato di wajahnya. Hanum jelas menggeleng, menolak dua tawaran itu. "angkat" "siap"
"tolong..."