Forever With You My Idol

Forever With You My Idol
bab 8


__ADS_3

Ragil datang ke lokasi syuting untuk sebuah iklan di tepi pantai. Saat ia sampai di sana ada pemandangan menarik yang membuatnya geram. Bahkan managernya ada di sana, tapi dia tidak diberitahu tentang apapun.


"Ragil, kok kamu ke sini" Chelsea cemas bukan main melihat kedua tangan Ragil yang sudah mengepal. "yo bro, ada urusan di sekitar sini kah" yang bertanya adalah seorang aktor baru di managementnya. Chelsea sedang menggantikan posisi manager aktor itu untuk beberapa hari.


Ragil melayangkan pukulannya tepat ke wajah sang rookie. Orang orang di sana langsung mencegah Ragil yang bersiap menyerang orang itu kembali. Termasuk Chelsea yang dengan sigap memeluk tubuhnya. "Ragil, tolong berhenti. tenangin diri kamu dulu ya" ujar Chelsea menenangkan dirinya.


"sorry Ragil, kalau lu mau ado jotos jangan di lokasi syuting gue deh. Bikin rugi tau nggak. Udah terima aja kalo peran lu digantiin orang yang lebih cocok" kata sang sutradara iklan itu.


Ragil yang masih emosi melepaskan paksa pelukan Chelsea. Kemudian meninggalkan lokasi itu menuju mobilnya yang terparkir di dekat jalan. ia membanting pintu mobil dengan sangat kuat. Dia memukuli kemudi untuk mengurangi emosinya. Saat akan menyalakan mesin mobilnya, suara ketukan terdengar.


Di luar mobilnya, Chelsea berdiri dan memohon agar dia membukakan pintu untuk dia. Setelah duduk dia meminta Ragil untuk tetap tenang. "tenangkan dirimu dulu ya, pulanglah. aku akan urus supaya mereka tidak ada yang membocorkan ke media" Ragil hanya diam saat Chelsea berbicara.


"kalau begitu aku kembali ke lokasi dulu. pulanglah" pamit Chelsea. Setelah wanita itu keluar dari dalam mobilnya. Dia dengan cepat pergi meninggalkan tempat itu. Melaju dengan kecepatan tinggi. Chelsea melihat kepergian Ragil dengan sedih. Bagaimana laki laki yang selalu bersikap lembut padanya berubah dalam beberapa hari. Dia kembali ke lokasi syuting dengan lesu.


*


Rama tersenyum melihat mobil anaknya yang terparkir di depan lobby. Dia hanya melihat dari jendela kantornya. Tapi sudah bisa membayangkan betapa marahnya sang putra. Saat pintunya dibuka dengan paksa, dia pun berusaha untuk tetap tenang. Dia hanya mengangkat kepalanya sebentar, lalu melanjutkan mengetikkan sesuatu di laptopnya.


"apa papa tidak berlebihan, melakukan itu semua agar aku mau menikah dengan wanita itu. Aku bahkan sudah bilang bersedia. Tapi wanita itu yang menolak ku. kenapa sekarang aku malah diboikot di mana mana" teriak Ragil setelah pintu hampir tertutup. Membuat karyawan Rama di lantai itu ikut mendengarkan pembicaraan yang seharusnya mereka tidak perlu tahu.


"papa, apa papa tidak mendengarku" tanya Ragil dengan geram. Dia membanting tubuhnya untuk duduk di sofa di ruang kerja Rama.


"pulanglah, kalau kedatanganmu hanya untuk membahas masalah ini. kau mengganggu papa" ujar Rama. Mendengar itu Ragil langsung bergegas ke luar dari kantor Rama dengan sangat kesal. Kemudian ia mengendarai mobil miliknya tanpa arah. Dia hanya ingin pergi saja dari tempat itu. Hingga tahu tahu mobilnya berada di daerah perkantoran milik Hanum. Seolah mengerti kenapa ini semua terjadi. Dia berhenti di tepi jalan tak jauh dari gedung Paradewa.


*


Waktu makan siang, kafetaria di kantornya pasti selalu penuh sesak. Hanum berpikir untuk makan di restoran di sekitar kantornya. Bersama dengan Elma dia keluar dari gedung kantornya menuju sebuah restoran gaya western. Sepanjang jalan dia terus mendengarkan Elma yang sibuk mengoceh masalah apapun. Hingga mereka tidak menyadari sedang diikuti oleh seseorang.


"wah, gue baru tahu ada restoran sebagus ini" celetuk Elma yang tampak tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. Bahkan mulutnya menganga. "apa tiap hari makan di kafetaria membuatmu seperti ini" pertanyaan dari dia yang terdengar sangat aneh. "apa" "setiap melihat tempat bagus akan seperti ini" sambung Hanum sembari menunjuk wajah Elma.


"ah, hahaha. Lu tahu mata gue emang selalu kaya gini. Bahkan ngeliat lu tiap hari, wah cantiknya" candanya sambil tertawa. Membuat orang orang yang berada di sana langsung menoleh ke arah mereka berdua.


"kamu membuat kita jadi bahan tontonan" Elma malah semakin tertawa melihat Hanum yang sedang sibuk menutupi wajahnya dengan buku menu.


"Hanum kan" mendengar suara itu seketika membuat Hanum mengeraskan rahangnya. Dia menurunkan buku menu yang menutupi wajahnya dengan cepat.


"hai... lama tidak bertemu. apa kabar mu" sapa seorang wanita yang memanggilnya tadi. Hanum tidak menjawab sapaan wanita itu, dia terpaku oleh seseorang yang berdiri di samping wanita itu.


"setelah kamu memutuskan untuk pensiun, hubungan kami berdua semakin dekat. Dan bulan depan kami akan menikah" wanita itu menautkan lengannya pada lengan lelaki di sampingnya yang sedang berusaha untuk mengalihkan pandangannya. Sedangkan senyum lebar yang kelewat lebar dia terus tunjukkan.


"ah, kalau begitu selamat" Hanum menyodorkan tangan kanannya. Dan langsung disambut oleh si wanita tadi. "terimakasih, bolehkan kita berdua duduk di meja ini bersama dengan mu" wanita itu semakin merasa menang melawan Hanum. Dia sepertinya ingin membuat Hanum cemburu.


"tentu" jawab Hanum datar. Wanita tadi tampak sangat senang. Sementara Elma menatap dua orang yang baru saja bergabung dengan wajah tidak suka.


"pelayan, saya dan calon suami saya pindah meja ya" kata wanita itu pada pelayan yang berada tak jauh dari mereka. "baik nyonya" jawab sang pelayan.


Melihat bagaimana wajah Hanum yang sangat menyeramkan, Elma tahu apa hubungan antara mereka bertiga. Tapi dia tetap diam, dan akan bertindak jika wanita itu menyerang sahabatnya. Selama makan hanya wanita tadi yang mendominasi pembicaraan.

__ADS_1


"bagaimana denganmu, di usia mu sekarang. apa kamu sudah punya pacar" pertanyaan yang menjadi pancingan untuk membuat Hanum semakin marah. "Tania, cukup" sela lelaki di sebelah wanita bernama Tania itu. "bukan pacar, tapi tunangan" Elma yang menyahut asal. Hanum menoleh ke arah Elma dengan tajam, seolah menyuruhnya untuk tidak ikut campur.


"oh ya, siapa namanya, apa pekerjaannya" sudah terlambat Tania sudah terlalu ingin tahu. Wajah Hanum tetap terlihat datar. Dia bahkan seperti tidak menganggap pertanyaan dari wanita yang pernah menjadi rivalnya. Dia terus saja mengunyah. Seolah tidak menganggap orang yang bertanya barusan ada.


"publik figur" Elma kembali menjawab. Hanum kembali menatap Elma dengan horor. Tania tersenyum tak percaya dengan ucapan dari teman Hanum itu.


"siapa namanya, mungkin saja aku mengenal orang itu" tanya Tania kembali. Sementara Elma sedang berpikir mencari jawaban yang masuk akal, saat dia akan kembali menjawab. Seseorang datang ke arah meja mereka, dan langsung berdiri di samping Hanum. Elma, Tania dan calon suaminya menatap laki laki yang mengenakan masker dan topi itu dengan tatapan bingung.


Sementara laki laki itu terus melihat ke arah Hanum yang tampak tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Baru saat dia selesai makan, dia ikut melihat ke arah sampingnya. Saat tangan orang itu menyentuh sudut bibirnya dengan lembut, dia ingin menghindar tapi dari ujung matanya dia bisa melihat tatapan iri dari Tania. Jadinya dia tidak menghindar. Dan membiarkan orang asing itu menyentuh sudut bibirnya. Dia baru tahu jika posisi orang itu satu tangannya di sandaran kursi dan ujung meja di sampingnya. Seakan sedang mengunci pergerakannya.


"apa kamu selalu makan dengan berantakan seperti ini" tanya laki laki itu. Hanum mengernyitkan dahinya, ia merasa mengenali suara itu. "ah, dia pasti tunangan mu kan" tebak Tania. Sedangkan laki laki itu menoleh sebentar ke arah Tania dan laki laki di sebelahnya yang menatapnya tidak suka.


"kamu tidak ingin mengenalkan ku pada mereka" tangan itu dengan lancang mengelus pipi sebelah kanan Hanum menggunakan ibu jarinya. Tapi dia tidak bisa menolak perlakuan manis dari laki laki itu. Mengerti karena Hanum yang terus menatapnya dengan kerutan di keningnya. Laki laki itu membuka masker dan juga topinya.


Sontak saja Tania dan Elma menutup mulut mereka yang terbuka karena terkejut. "kamu benar-benar bertunangan dengan publik figur" ujar Tania tak percaya.


Elma bahkan menatap ke arah Hanum, memintanya untuk berkata jujur. "hai perkenalkan, tunangan Hanum, Ragil Mahendaru" Ragil menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Tania. Sementara wanita itu dengan girang menyambutnya "namaku Tania". Tangan Ragil berpindah ke sisi Tania. Tapi laki laki di sebelah Tania tidak kunjung menyambutnya.


"dia calon suamiku, namanya Atala" kata Tania yang tidak enak melihat Ragil di cueki oleh Atala.


Ragil terus tersenyum, membuatnya semakin tampan. Orang orang yang berada di tempat itu sadar akan kehadirannya. Dan mulai membicarakan dirinya juga mengambil fotonya. Hanum mulai merasa risih dengan mata orang orang yang melihat ke arah mereka.


"pergilah" ujar Hanum dingin. "ah iya, aku sedang ada urusan lain. Kalau begitu aku pergi dulu ya" pamit Ragil. Sebelum pergi dia mengusap puncak kepala Hanum, dan tersenyum dengan sangat manis ke arahnya. Hanum meraba dada sebelah kirinya. Dan mendapati jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia menatap punggung Ragil yang semakin menjauh.


Setelah beberapa saat, Atala meminta izin untuk pergi ke toilet pada Tania. Sebenarnya dia tidak pergi ke toilet. Dia menyusul Ragil yang sedang menuju ke parkiran mobil. "tunggu" Atala menghentikan langkah Ragil.


"kenapa anda tidak menanyakan hal itu langsung pada Hanum. Daripada anda membuang waktu untuk mengejar saya ke sini" jawaban yang menohok itu membuat Atala kehabisan kata.


"maaf, saya pergi dulu ya" Ragil bergegas memasuki mobilnya dan pergi dari sana. Dia mengangkat tangan yang bekas menyentuh pipi Hanum. Lalu ia tersenyum tipis mengingat kejadian tadi. Siapa yang akan menyangka keputusannya untuk mengikuti Hanum, malah menjadikan ia sebagai tunangan Hanum di mata teman temannya. Entah kenapa dia sudah tidak lagi merasa kesal. Sekarang dia merasa tidak memiliki beban apapun.


*


"aku tidak menyangka wanita seperti kamu benar-benar memiliki tunangan seorang Ragil Mahendaru. Apa kamu tidak menggunakan hal mistis untuk memiliki seorang laki laki kaya dan tampan" sindir Tania.


"saya tidak seperti anda. Menggunakan cara busuk untuk mengambil apa yang saya miliki" kali ini Tania dibuat jengkel dengan ucapan Hanum. Dia melipat kedua tangannya di depan dada. Kemudian ia kembali menatap Hanum dengan tatapan mengejek..


"apa anda lupa, haruskah saya ingatkan anda kembali" Hanum menyeringai dengan sangat menakutkan bagi Tania. "tapi setidaknya sekarang Atala memilih ku bukan kamu. Dia tidak akan pernah memilih wanita rendahan seperti kamu. selera Atala sangat bagus. Sedangkan selera Ragil adalah wanita rendahan. Haruskah aku mengatakan pada Ragil, kalau kamu dulu menyukai Atala dan berusaha merebut dia dariku" Tania tertawa bahagia melihat wajah Hanum yang terlihat sangat tidak senang. Padahal dia sudah muak dengan Tania.


"eh lu pikir Hanum cewek rendahan kaya lu. Mulut sama hati sama sama busuk" kali ini Elma menyela. "kamu tidak perlu membela dia, kamu tidak tahu bagaimana wanita ini mencoba menggoda Atala dan semua laki laki"


"kayanya lu yang suka begitu deh. Hanum nggak perlu godain cowok orang. Dia bahkan punya laki laki dengan kasta tinggi. paling calon suami lu cuma karyawan kecil" kata Elma kembali dengan emosi.


"Elma, cukup" potong Hanum. "hahaha, kita buktikan nanti. kamu akan tetap menjadi tunangan seorang Ragil Mahendaru atau tidak" ancam Tania. Beruntung karena sudah jam masuk kantor, saat ini restoran sudah sepi pengunjung.


"sayang, kenapa kamu lama banget sih. Hanum mau pamit tuh" Tania menyongsong Atala dengan manis, seolah ingin menunjukkan kemesraan di hadapan teman lama. "kami permisi, waktu makan siang sudah hampir habis" yang bicara adalah Elma. Dia sudah tidak sabar ingin meninggalkan tempat itu sejak Ragil dan Atala tidak ada. Bagaimana mungkin wanita secantik Tania bisa seperti seorang nenek sihir.


"oh iya Hanum, kamu bekerja di mana. aku yang akan mengantarkan undangan pernikahan kami secara langsung untuk kamu" tanya Tania. "Paradewa" jawab Hanum singkat. Setelah itu dia berjalan meninggalkan tempat itu bersama Elma yang sudah sangat kesal.

__ADS_1


"ayo aku antar kamu pulang" Atala berjalan terlebih dulu, meninggalkan Tania yang berusaha mengejar nya dengan hati hati karena sepatu hak tinggi yang dia kenakan. "sayang tunggu aku dong" panggil nya yang melihat Atala tidak berhenti untuk menunggu nya.


*


Hujan turun dengan deras di akhir tahun. Seperti saat ini tiba tiba hujan turun dengan deras saat dia baru keluar dari kantornya. Dia sudah menolak tawaran Hoshi dan Elma yang berniat mengantarkan dia pulang. Entah kenapa dia berharap seseorang yang datang menjemputnya.


Bodoh, berharap hal yang tidak pasti, batinnya. "Bu presdir selamat malam" Hanum memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang menyapanya. "ah, selamat malam juga" sapanya balik pada seorang penjaga keamanan kantor nya yang tersenyum ramah.


"kenapa anda belum pulang" tanya petugas keamanan yang berusia diatas 50an. Hanum melihat ke nametag di bajunya, laki laki paruh baya itu bernama Burhan.


"lagi menunggu hujan reda pak Burhan. Saya mau cari taksi di depan" jawabnya dengan sopan.


"loh kenapa nyari taksi, mas yang di depan itu nungguin ibu dari tadi sore loh. katanya mau jemput ibu" tunjuk Burhan pada mobil yang terparkir tak jauh dari pos keamanan. Hanum mengikuti ke arah yang ditunjuk oleh Burhan. Sebuah mobil berwarna putih, yang dia kenal walaupun baru dua kali menaikinya.


"terimakasih pak Burhan. Tapi apa boleh saya pinjam payung pak" Katanya. "boleh bu, biar saya ambilkan dulu ya" ujar Burhan. Setelah itu lelaki paruh baya itu berlari menerjang hujan menggunakan kardus bekas yang sejak tadi dia pegang.


Sayangnya harapan Hanum ternyata tidak sejalan dengan kenyataannya. Burhan bukannya membawakan payung justru mengetuk kaca mobil itu. Tak lama seseorang keluar dari mobil dengan membuka payung. Kemudian berjalan ke arah Hanum. Sedikit demi sedikit dia mengikis jarak diantara mereka berdua.


Saat payung terangkat sedikit, wajah tampan Ragil terlihat. Hanum melihat penampilan Ragil yang tampak seperti baru bangun tidur. Rambut potongan undercut yang biasanya rapi, kali ini terlihat acak-acakan. Tapi justru semakin membuat laki laki itu semakin tampan.


"apa kau tahu, kalau aku dinobatkan sebagai idol pria tertampan. Kurasa julukan itu benar" kata Ragil dengan percaya diri, yang langsung membuat Hanum kembali tersadar.


"anda tidak perlu menunggu saya" "kenapa" sela Ragil sembari melangkah semakin dekat.


"eh, e saya bisa naik taksi" ucap Hanum tergagap yang semakin keras. Dia sedang mengontrol detak jantungnya yang berdetak kencang agar tidak terdengar oleh Ragil. Beruntung suara hujan bisamenyamarkan suara detak jantungnya.


Sementara Ragil tersenyum tipis, dia menarik tangan Hanum yang bebas. Hingga tubuhnya tepat berada dalam pelukan Ragil. Kemudian dengan hati hati dia membawa Hanum berjalan menuju ke mobilnya. Tanpa Hanum sadari, separuh tubuhnya basah kuyup. Karena Ragil tidak ingin Hanum yang basah, jadi dia membiarkan payung berada lebih banyak di sisi Hanum.


Usai menutup pintu mobil di bagian penumpang, Ragil berjalan cepat ke sisi lalu meletakkan payung yang sudah terlipat ke bangku belakang. Dia menyalakan mobilnya, dan meninggalkan tempat itu. Mereka kembali terdiam untuk waktu yang lama hingga tiba di apartemen mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, Hanum berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam lift. Disusul oleh Ragil setelahnya.


Ragil yang tubuhnya basah karena air hujan. Mulai merasakan gejala flu. Dia bersin berkali kali sejak masuk ke dalam lift. Hanum menoleh ke arah Ragil yang tampak sedang menyusut hidungnya. Lalu kembali mengalihkan pandangannya saat Ragil menyadari jika dia sedang melihat ke arah Ragil.


*


Sudah pukul 9 malam, tapi rasanya dia tidak bisa tidur. Entah kenapa dia terpikirkan wajah Ragil saat keluar dari lift tadi. Terlihat meski samar, laki laki itu pasti akan demam setelah ini. Dia memberanikan diri untuk menanyakannya lewat sambungan telepon. Tapi baru tersambung, Hanum sudah memutus sambungan teleponnya.


Dia meletakkan kembali benda pipih itu ke atas nakas. Lalu merebahkan tubuhnya kembali. Saat dia sedang mencoba untuk tidur, ponselnya bergetar. Dia tahu siapa yang sedang menghubungi dirinya.


"Hallo" suara berat dan serak yang terdengar sangat lemah. "apa kamu baik baik saja" tanya Hanum dengan pelan. Hampir tidak terdengar oleh Ragil yang mulai kehilangan kesadarannya.


"12345, tolong ke si..." Dia tidak lagi mendengar suara Ragil. "Halo, halo... bagaimana ini. Haruskah aku kesana" Tanya nya pada dirinya sendiri. Hanum menghitung sampai 10, ketika hitungannya selesai dia langsung menyibakkan selimut yang menutupi separuh tubuhnya. Kemudian berlari dengan cepat, membuka pintu apartemennya. Lalu berlari kembali ke depan pintu apartemen Ragil.


tok tok tok


Dia mengetuk pintu beberapa kali. Karena tidak kunjung ada yang membukakan pintu untuknya. Dia menekan pin yang diberikan oleh Ragil tadi. "12345, mudah sekali" katanya saat pintu berhasil dibuka.


Dia melangkah dengan waspada, dia melihat ke sekeliling apartemen yang sama luasnya dengan miliknya. Tapi interior dan juga kombinasi warna abu abu juga putih menunjukkan pemilik adalah seorang laki laki. Ia terus melangkah semakin ke dalam, melewati sofa yang tersusun rapi. Hanum melihat ke arah dapur. ketika dia tak sengaja melihat sebuah kaki yang terlentang.

__ADS_1


"Ragil..."


__ADS_2