Forever With You My Idol

Forever With You My Idol
bab 6


__ADS_3

Ragil terbangun karena mendengar suara air yang mengalir. Awalnya dia penasaran siapa yang sedang mandi di kamarnya, tapi kemudian mengingat kejadian semalam. Ragil tidak menemukan Hanum. Dia melihat pintu kamar mandi yang tertutup. Kaki panjangnya membawanya ke depan kamar mandi. Dia ingin mengetuk pintu itu, tapi ia mengurungkan niatnya.


Dia menyambar semua pakaiannya. Lalu memakainya sebelum seseorang mengetahui keadaannya yang tanpa busana. Setelah itu dia meninggalkan kamar itu dengan diam diam, kemudian kembali ke villa tanpa ada yang menyadari kedatangannya.


Kejadian itu berlalu sangat cepat. Keduanya tidak bertemu untuk waktu yang lama. Selama menyelesaikan syuting Hanum menolak untuk datang ke lokasi. Dia memilih untuk menyelesaikan semua pekerjaannya di kantor. Sedangkan Elma yang mendapat tugas untuk melihat proses syuting. Sering bersorak kegirangan karena bisa bertemu artis terkenal.


Setiap kali Elma datang, Ragil menunggu kedatangan Hanum juga. Tapi sepertinya dia tahu kenapa wanita itu tidak pernah datang lagi. Entah apa yang membuatnya merasa tidak nyaman jika tidak melihat wanita itu. Jika saja ini bukan dipuncak. dia akan mencari cara untuk melihatnya. Buru buru dia membuang pikiran itu dari kepalanya. Entah sudah berapa kali dia selalu memikirkan wanita itu.


*


Syuting sudah berakhir, semua kru dan pemain sudah kembali ke kota. Saat ini Ragil sedang berdiri di depan pintu apartemen Hanum. Sudah pukul 7 malam wanita itu pasti sudah berada di apartemennya. Tapi saat tiba-tiba lift terbuka, dia baru tahu jika wanita itu baru pulang. Wajahnya yang cantik tidak hilang meskipun karena lelah bekerja seharian. Dan lagi terlihat semakin cantik, karena anak rambut yang jatuh sembarangan di wajah putih itu.


"hai" Hanum mendongak. Sedikit terkejut tapi kemudian dia bisa mengendalikan dirinya. Terus berjalan ke depan pintu apartemennya.


"bisa bicara sebentar" tanya Ragil dengan perasaan was-was.


"maaf, saya lelah. mungkin lain kali" katanya sembari membuka pintu. Tangan Ragil reflek menghentikan tangannya yang sedang memutar mendorong pintu.


"ini tentang malam itu" matanya dan mata Ragil bertemu untuk beberapa saat. Kemudian dia memutus kontak mata itu. "tidak ada yang perlu dibicarakan" Hanum melepas cengkraman tangan Ragil di lengannya. Lalu membuka pintu lagi dan menutupnya dengan cepat.


Meski menolak berbicara dengan lelaki itu. Perasaan Hanum sudah hancur. Dia merasa seperti sudah dicampakkan. Bagaimana bisa lelaki itu meninggalkan nya saat sudah mengambil miliknya. Hanum melangkah menuju kamarnya. Setelah meletakkan tasnya, dia menuju kamar mandi. Menyalakan kran air di bathtub. Kemudian masukkan ke dalam bathtub tanpa melepas bajunya.


*


Promosi film yang mengharuskan Ragil juga para pemain pergi ke berbagai kota. Akhirnya membuat lelaki itu melupakan kejadian malam itu. Dia sangat lelah. Saat sampai hotel atau di apartemennya, dia akan langsung tertidur. Kegiatan yang padat itu juga yang membuat kesehatan Dewa menurun drastis.


Lelaki paruh baya itu terkena serangan jantung. Beruntung nyawanya masih bisa diselamatkan. Meski akhirnya dia harus di rawat dengan insentif. Berita tentang kesehatan ayahnya pun sudah sampai di telinga Hanum. Dan juga beberapa media yang menayangkan kejadian saat Dewa jatuh pingsan saat sedang promosi film.


Sempat merasa dikecewakan oleh ayahnya, tapi hatinya sakit saat mendengar kabar mengejutkan itu. Apalagi berita yang ditayangkan semakin membuat hatinya sakit.


Jadi di sinilah dia sekarang, duduk dalam diam di ruangan serba putih itu. Wajah ayahnya yang sangat pucat. Dia melihat tubuh itu di pasang alat alat medis. Yang membantu menunjang kehidupanan ayahnya. Hanum menghela nafasnya panjang. Dia tidak bisa memaafkan dirinya jika sampai ayahnya tidak tertolong. Meski dia membencinya, tapi hanya Dewa satu satunya keluarga yang dia miliki.


tok tok


Hanum menoleh ke arah seseorang yang berdiri di ambang pintu. "pengacara presdir ingin bertemu dengan anda" ujar asisten ayahnya. Hanum mengangguk lalu berjalan ke arah pintu.


Saat keluar dia sudah melihat lelaki paruh baya yang berdiri di sebelah asisten ayahnya. Wajahnya sangat ramah. Lelaki itu menjabat tangannya.


"perkenalkan saya Holden, pengacara tuan Dewa" Holden memperkenalkan dirinya. "saya Hanum" sahut Hanum.


"nona Hanum Paradewi, bisa kita bicara sebentar" tanya Holden. "tentu" jawab nya singkat. "kalau begitu mari ikut dengan saya" Holden memimpin jalan, sedangkan Hanum mengikuti lelaki seumuran ayahnya tanpa suara. Meski terkadang Holden berbasa basi.


Mereka berdua duduk di bangku kafetaria rumah sakit. Holden mengeluarkan map tebal berwarna biru beludru. kemudian menyerahkan map tebal itu kepada Hanum. "ini wasiat almarhumah Nyonya Deasy, juga surat yang beliau tulis untuk anda. Anda berhak tahu mengapa ayah anda meminta anda berhenti menjadi seorang atlet. Juga mengapa beliau menginginkan pernikahan anda dengan putra pasangan Rama dan Sinta. Semuanya dijelaskan di sini" Holden tersenyum ramah setelah mengatakan itu.

__ADS_1


Sedangkan kedua mata Hanum sudah berkaca-kaca. Dia memeluk map itu dengan erat. Seolah dia sedang memeluk ibunya. "saya berharap anda bisa membuka diri anda kembali. kalau begitu saya permisi" kata Holden berpamitan. "Terimakasih" ujar Hanum dengan tulus. Holden mengangguk lalu tersenyum ramah.


*


Karena ruangan sang ayah yang melarang seseorang berada di dalam terlalu lama. Akhirnya Hanum harus mengalah, asisten ayahnya yang sudah ia anggap sebagai kakak memaksanya pulang sore tadi. Jadi setelah makan malam, dia ingin membuka map tebal itu. Hanum meletakkan map itu di atas meja makan. Membukanya secara perlahan. Hanya ada beberapa lembar kertas. Yang dia tahu sebagian besar adalah sertifikasi kepemilikan. Tapi yang mencuri perhatiannya adalah amplop besar berwarna cokelat.


Kedua tangannya memegang amplop itu. Kemudian membukanya dengan hati hati. Ada foto dirinya saat sedang memenangkan pertandingan di olimpiade. Di saat Ibunya masuk rumah sakit. Dia membalikkan foto itu, di bagian belakang foto tertulis. 'putriku dan mimpinya' akhirnya kamu meyakinkan ibu dengan mimpimu selama ini yang menjadi nyata. Kamu berhasil sayang, i love you Hanum Paradewiku


Selanjutnya sebuah foto masa muda kedua orang tuanya bersama dua orang laki-laki dan perempuan. Lagi lagi dia membalikkan foto itu untuk membaca tulisan di balik itu. Sahabat ibu, Karena Sinta akhirnya ibu bisa bertemu dengan ayahmu. Dan karena Rama ibu bisa bertahan lebih lama untuk melahirkan juga membesarkan putri cantik ibu.


Hanum membuka amplop dengan logo rumah sakit. Itu adalah keterangan jika Rama memiliki sumsum tulang belakang yang cocok untuk ibunya. Seketika air matanya luruh. Dia menutup mulutnya, menahan tangisnya yang pecah. Selama ini dia tidak tahu ibunya sakit parah. Wajah yang selalu menatapnya penuh cinta, bibir yang selalu tersenyum itu ternyata memendam rasa sakit.


ddrrrrt ddrrrrt


Kedua tangannya mengusap air matanya dengan cepat. Lalu meraih ponsel di atas nakas. 'asisten ayah' nama yang tertera di layar ponselnya. Buru buru dia mengusap tanda jawab. "hallo" begitu dia mendengar suara di seberang sana. Suara yang terdengar sedang menahan tangis. Ponsel miliknya terlepas dari tangannya. Matanya kembali berkaca kaca. Seolah nafasnya tercekat. Hanum bergegas menyambar kunci mobilnya. Lalu keluar dari apartemennya.


Masuk ke dalam lift dengan cemas. Saat pintu lift terbuka dia berlari menuju mobilnya berada. Di saat sudah di depan mobilnya dia tak sengaja bertemu dengan Ragil. Tapi dia tidak memperdulikan Lelaki itu. Hanum melewati Ragil, kemudian masuk ke dalam mobilnya. Hanum mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membuat Ragil yang melihatnya terheran heran. Pasalnya wanita itu tidak mengenakan alas kaki.


Dan pada saat itu ponselnya berdering. "halo ma, Ragil di apartemen" jawabannya. Setelah dia mendengar ucapan sang mama, Ragil baru mengerti kenapa Hanum tampak sangat buru buru dan panik. "Ragil ke sana sekarang ma" usai memutuskan sambungan telepon, dia kembali masuk ke dalam mobilnya. Lalu bergegas melaju meninggalkan gedung apartemen. Dari jauh dia tidak melihat mobil milik Hanum. Sepertinya wanita itu mengendarai dengan kecepatan tinggi.


*


Saat tibanya di rumah sakit. Hanum langsung menuju ke ruang perawatan ayahnya. Dia tidak menyadari kakinya tidak mengenakan alas kaki apapun sejak keluar dari apartemennya. Sehingga yang melihatnya sedikit merasa aneh. Tapi Hanum tidak menyadari hal itu.


Dokter dan perawat segera meninggalkan ruangan itu setelah melihat kedatangannya. Hanum mendekat ke arah tubuh yang sudah ditutup kain itu. Tubuhnya bergetar hebat. Tangan nya meremas kain itu dengan kuat. Dia tidak mengerti kenapa tuhan dengan cepat mengambil kedua orang tuanya. Tangisnya tidak bersuara. Rasanya sangat sakit.


Sementara itu Ragil yang baru sampai harus pintar-pintar menyembunyikan jati dirinya. Tapi kemudian teringat sesuatu. Dia memutar tubuhnya kembali ke mobil miliknya, dan mengambil sesuatu. Kemudian Berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Menanyakan ruangan tempat Dewa dirawat. lalu berjalan dengan cepat ke tempat itu. Tubuhnya membeku saat melihat apa yang ada di depannya.


Hanum duduk dengan menunduk. Menyembunyikan air matanya. Sedangkan asisten sang ayah pergi mengurus administrasi. Dia seorang diri di depan ruangan ayahnya. Menunggu petugas rumah sakit yang sedang bersiap untuk memindahkan jenazah ayahnya. Ia tidak menyadari kedatangan seseorang. Hingga tangan seseorang menyentuh kakinya, lalu membantunya mengenakan sandal. Hanum melihat wajah itu. Lelaki yang coba dia hindari sedang berjongkok dan menatapnya tanpa ekspresi.


Cukup lama mereka berdua saling tatap. Sampai panggilan seorang wanita memutus kontak mata mereka. "Hanum" Elma memeluk tubuhnya yang tak berdaya. Sekretarisnya itu menangis cukup keras. Yang akhirnya membuat ia ikut menangis dengan keras juga.


Melihat kedua wanita itu saling berpelukan dan menangis bersama, Ragil berdiri kemudian duduk di kursi tak jauh dari tempat mereka berdua. Dia sedang menunggu kedua orang tuanya datang. Tidak lama Rama dan Sinta datang. Wanita paruh baya itu langsung membawa tubuh Hanum dalam pelukannya. Sedangkan Rama duduk di sebelah sang anak. Mereka tidak ada yang bersuara. Keheningan meliputi keduanya.


Acara pemakaman Dewa dihadiri hampir oleh orang orang penting di negara. Mereka satu persatu menyampaikan belasungkawa pada Hanum yang tampak tidak bernyawa. Ragil melihatnya dari kejauhan. Saat tiba giliran ia dan Chelsea yang menyalami pun Hanum hanya mengangguk. Wajah cantik itu seperti mayat hidup. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Selendang hitam menutupi kepalanya.


Saat semua orang sudah pergi. Hanum tidak menyadari orang orang masih menunggunya. Elma, asisten ayahnya juga kedua orang Ragil menunggu di belakangnya. Dia terdiam cukup lama di atas pusara sang ayah. Kemudian bangkit dan berjalan ke arah mobil miliknya dengan terhuyung. Sebelum tubuhnya menyentuh tanah, seseorang sudah menangkap tubuhnya. Hanum tidak sadarkan diri. Mereka yang berada di sana sangat khawatir.


Setelah meletakkan tubuh Hanum di dalam mobil, Ragil pamit. Dia menitipkan wanita itu pada Elma. Yang dia tahu pasti akan menjaga Hanum. Dia pergi bersama kedua orang tuanya. Meski khawatir, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanum akan marah jika dia ada di sana saat sadarkan diri.


Sementara itu, Elma dan asisten ayah Hanum membawa Hanum kembali ke rumah besar. Setelah itu memanggil dokter keluarga untuk memeriksa tubuh Hanum.


"tidak ada masalah yang berarti. Dia sepertinya tidak makan apapun dari kemarin. Karena itu saya memasang infus untuk memberikan nutrisi bagi tubuhnya. Pastikan setelah dia bangun, untuk makan ya. Kalau begitu saya permisi" jelas dokter itu pada Elma dan asisten ayah Hanum.

__ADS_1


"biar saya antar" ujar asisten itu. Sang dokter mengangguk. Mereka berjalan beriringan menuju ke pintu. Sedangkan Elma menggenggam tangan sahabatnya dengan erat. sayang sekali nasib baik belum berpihak pada wanita cantik ini.


*


Sudah 1 minggu semenjak sang ayah dimakamkan. Hanum sudah kembali ke kantor. Kembali bekerja seperti biasa. Meski masih berduka. Hari ini ada rapat direksi. Mereka akan menentukan siapakah yang pantas menempati posisi Presdir. Hanum tidak mengharapkan jabatan itu. Tapi dia adalah keturunan satu satunya Dewa. Meski Holden bilang dia akan membacakan wasiat terakhir ayahnya saat rapat hari ini.


Hanum dan seluruh jajaran direksi sudah berada di ruang rapat. Menunggu kedatangan Holden. Sementara asisten ayahnya berdiri di belakang kursi bekas sang ayah.


"maaf membuat kalian lama menunggu" Holden datang dengan dua orang lain di belakangnya. Setelah dia membuka tas dan mengeluarkan selembar kertas dengan cap milik Dewa semua orang yang ada di ruangan itu semakin dibuat penasaran.


"ini adalah wasiat yang seharusnya hanya boleh keluarga Tuan Dewa yang mengetahuinya. Tapi menurut beliau rekan kerja beliau di sini juga sudah dianggap sebagai saudara. Saya akan bacakan sekarang" Holden menatap ke arah Hanum dengan lembut.


"Saya August Paradewa, menulis wasiat ini dalam keadaan sehat dan tanpa tekanan dari pihak manapun. Saya akan mewariskan kerajaan bisnis saya pada anak semata wayang saya, Hanum Paradewi. Saat wasiat ini dibacakan di depan semua keluarga saya, berarti era saya telah berakhir. Demikian surat wasiat ini saya buat untuk dimengerti. Kota Xx tanggal 20 November 2021" lanjut Holden.


Semua orang menerima keputusan itu dengan baik. Mereka memberi selamat kepada Hanum yang sekarang menjadi presiden direktur mereka yang baru. "Nona, saya ingin menyampaikan sesuatu" Holden menghampiri dirinya. saat ini hanya tinggal ia dan Holden.


"silahkan pak" ujar Hanum mempersilahkan Holden berbicara. "panggil aku paman. Seperti Deasy yang selalu memanggilku kakak. Ayah dan ibumu sudah bahagia di sana. Mereka hanya ingin kamu bahagia di sini setelah mereka tidak ada. ayah dan ibumu berharap kamu bisa menikah dengan anak sahabat mereka berdua" ucap Holden. Sedangkan Hanum nampak sangat terkejut.


"yang kutahu kamu tidak menolak perjodohan itu waktu Dewa membawamu menemui anak dari sahabat nya. Tapi anak dari sahabat ayahmu yang menolak. Mungkin saat ini wasiat terakhir untuk sahabat kedua orang tua mu sudah sampai pada mereka berdua" tambah Holden.


"terimakasih sudah memberitahukan hal ini, tapi maaf. Mungkin aku tidak bisa menikah dengan lelaki yang sudah menolak perjodohan itu" kata Hanum.


"aku tahu. Tapi sekali lagi pikirkan tentang kedua orang tuamu. Dan ini adalah milikmu. Kuharap kamu akan mengerti" Holden menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang berwarna hitam. Hanum menerimanya dengan bingung, ia ingin bertanya tetapi Holden pergi begitu saja.


Dia duduk kembali, kemudian membuka kotak itu. Sebuah kunci dan amplop yang dia tahu pasti itu adalah surat. Hanum kembali menutup kotak itu. Kemudian keluar dari ruangan rapat menuju ke kantornya. Saat tiba di ruangan kantornya, Elma sudah menunggu di sana.


"ada apa, kenapa mukamu jelek banget" tanya Elma. Hanum menatapnya tajam, dia menyandarkan punggungnya di kursi. kemudian memejamkan matanya. "ah elah malah tidur, dia kira gue cuma pajangan" Elma menggerutu dengan keras.


"bisa tinggalkan aku sendiri dulu, aku butuh waktu untuk berpikir" pintanya dengan sopan. Elma kemudian pergi tanpa protes apapun. Mengerti masalah apa yang terjadi pada bosnya itu tidaklah mudah.


*


Sementara itu di rumah keluarga Prambudi. Rama Prambudi dan istrinya sedang duduk di ruang keluarga. Mereka berdua menunggu kedatangan putra mereka yang sedang dalam perjalanan pulang.


"kamu yakin dia mau" tanya Rama yang tampak tidak yakin, bukankah anaknya itu menolak dengan sangat soal perjodohan itu. Terdengar suara mobil datang, lalu berhenti.


"biar aku yang bicara" ujar Sinta saat bayangan tubuh putranya terlihat. "Ragil" panggilnya saat tubuh itu semakin mendekat. Sinta menyambut kedatangan putranya dengan hangat, berbanding terbalik dengan Rama yang selalu cuek.


"ada apa, mama bilang ada yang ingin dibicarakan" tanya Ragil langsung. "duduk lah dulu" Rama menatapnya dengan tajam. Ragil tidak berani menatap wajah Rama yang selalu mengintimidasinya.


"tolong dengarkan ini baik baik" pinta sang mama. Ragil mengangguk mengerti. "kami ingin kamu membantu mengabulkan keinginan terakhir sahabat kami. Lebih tetapnya sahabat mama" ucap Sinta. Sinta menghela nafasnya lalu menoleh ke arah Rama. Kemudian kembali menatap lekat putranya.


"menikahlah dengan Hanum. jika harus menyembunyikan pernikahan kalian juga tidak masalah. kamu akan tetap menjadi idola. Tidak perlu khawatir tentang berita apapun. Mama akan mengancam siapapun yang berani memberitakan tentang kalian berdua" jelas Sinta. "mama mohon" tambahnya.

__ADS_1


Melihat tidak ada reaksi apapun dari sang anak, kedua orang itu berharap harap cemas. Tapi kemudian Ragil mengangguk dengan tersenyum pada Sinta.


__ADS_2