
Irina melenggang masuk ke dalam ruangan VVIP di butik itu. Ia tersenyum senang melihat seseorang yang sedang duduk di sofa di dalam ruangan itu.
"tuan Ragil" mendengar namanya dipanggil, Ragil menoleh ke arah sumber suara.
"nona Irina" ucap Ragil dengan terkejut.
"anda sedang apa di sini"
"apa anda sedang bersama seseorang" Irina langsung berjalan ke arah ruang ganti. Lalu masuk ke dalam, sayangnya tidak ada siapapun di sana. Sementara itu Hanum langsung keluar lewat pintu karyawan setelah mendengar seseorang memanggil Ragil.
"tolong jangan katakan pada siapapun, siapa yang bersama dengan saya" Hanum mengeluarkan beberapa lembar uang pada pegawai yang berada di ruang VVIP tadi.
"baik nona" ujar pegawai itu dengan bingung. Masalah ia tidak tahu siapa pria tadi. Setelah Hanum menghilang ia kembali bekerja.
Irina memutar tubuhnya, lalu berjalan ke arah Ragil. "anda menunggu seseorang, tapi tidak ada siapapun"
Ragil terkejut, ia lantas memeriksa ruangan yang tertutup tirai itu. Ia bisa bernafas lega, setelah melihat tidak ada Hanum di sana.
"maaf saya harus pergi" kata Ragil sembari berjalan ke arah pintu.
"tunggu sebentar, tidak bisa kah anda luangkan waktu anda sebentar saja." cegahnya.
"maaf nona Irina, mungkin lain waktu. Saya permisi"
Setelah Ragil pergi, Irina bergegas menemui manager butik. "nona besar ada yang anda butuhkan" tanya sang manager.
"langsung saja, siapa yang baru saja masuk ruang VVIP" tanya Irina.
"eh, maaf nona. Saya tidak bisa memberikan informasi tentang tamu VVIP pada orang lain"
"apa aku orang lain untuk perusahaan milik papaku. Bahkan berkat otak dan tangan emasku, mereka bisa memakai design yang aku buat" ujarnya menyombongkan diri.
"tapi nona" sang manager tampak sangat tidak nyaman. "kau tidak ingin kehilangan pekerjaan mu kan, jadi lakukan apa yang aku minta" ancam Irina.
Dengan ketakutan sang manager memberitahukan siapa tamu yang masuk ruang VVIP dengan berbisik. Irina mengeluarkan semirk yang aneh setelah mendengarnya.
*
Alex diam diam keluar dari rumah menggunakan mobil milik istrinya yang terparkir di hutan dekat rumahnya. Alex bersembunyi di sebuah gudang tua. Ia juga meminta sang istri untuk menyembunyikan keberadaannya. Dari siapapun termasuk sang istri.
Sementara dunia maya sedang gaduh masalah yang menimpa Sahara. Ada orang yang melihatnya di rumah sakit. Dia memposting dengan judul 'sahara mencoba mengakhiri hidupnya'. Sontak saja orang orang ramai membicarakan hal itu. Mereka jadi semakin yakin, korban sutradara film itu adalah Sahara.
Gaby membaca berita tentang sang adik, dan menjadi semakin marah. Meski adiknya sudah keluar dari rumah sakit, dan tinggal di apartemen baru. Tapi kondisi mentalnya masih sangat rentan.
Ia harus lebih berhati-hati dalam menjaga Sahara. Apalagi jika sang adik mengetahui berita itu, bukan tidak mungkin dia akan mencoba mengakhiri hidupnya lagi.
*
Hanum menatap wajah Elma yang sedikit bengkak dengan kening berkerut "apa alergimu kambuh" tunjuk Hanum pada wajah Elma.
"hmmm, akhir akhir ini gue terlalu banyak makan daging" Elma menyentuh wajahnya dengan hati hati sembari menghembuskan nafasnya kasar.
"kenapa" selidiknya.
Apa yang harus gue bilang batin Elma menjerit. Tapi wanita itu hanya tersenyum menjawab pertanyaan sang sahabat.
"wajahmu sangat menakutkan" Elma mencebikkan bibirnya yang sedikit bengkak itu.
"tolong bibirmu jangan seperti itu, pulang lah sana. Kau benar-benar butuh istirahat dan minum obat" sarannya.
"nggak perlu, cepat tanda tangani ini" tolak Elma dengan kesal sembari mengibaskan map di tangannya.
"kamu cuma bisa menyimpan semuanya sendiri. Terus pelarian kamu ya makan, akhirnya kamu mengorbankan dirimu sendiri" tangan Hanum membubuhkan tanda tangan setelah membaca dokumen itu.
"atau coba deh bilang ke Hoshi" ledeknya.
"coba deh lu jujur sama gue, mungkin gue nggak akan banyak pikiran. Terutama mikirin lu dan juga masalah lu yang banyak itu. Terus terang deh akhirnya gue banyak makan daging, dan jadi begini ya gara gara mikirin lu" balas Elma.
"gue udah jadi sahabat lu bukan hitungan bulan Num. Bahkan dari kita di Sekolah Menengah Pertama. itu berarti udah belasan tahun. Dan gue masih nggak bisa tidur nyenyak kalau sahabat gue banyak masalah" keluh Elma.
Mendengarnya Hanum hanya diam, ia tidak bisa memberitahukan apa yang menimpa dirinya. Dia bangkit lalu memeluk Elma.
"maaf El, tolong tunggu waktu yang tepat" mohon Hanum.
Elma membalas pelukannya, "hmm, maaf kalau gue nggak banyak membantu apa apa"
Hoshi berpapasan dengan Elma di depan pintu ruangan Hanum. Hoshi yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan wajah Elma. Ia berbalik lalu dengan cepat menangkup wajah Elma. Memandangi wajah bengkak Elma dengan teliti. Jarak yang mampu membuat Elma susah bernafas.
"apa sih" Elma mencoba menyingkirkan tangan Hoshi.
"wajahmu. Apa yang terjadi" tanyanya sementara satu tangannya berusaha menyentuh wajah Elma. Elma langsung mundur dan berjalan dengan cepat, menghindari tatapan Hoshi yang sangat menakutkan baginya. Yang mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Elma bersembunyi di balik dinding, mengatur jantungnya.
"bisa bisa gue makin diabetes" keluhnya.
__ADS_1
Sedangkan Hoshi tampak sangat khawatir, tapi tidak berani menyusul Elma. Ia dengan ragu ragu melanjutkan tujuan awalnya yaitu ke ruangan kerja Hanum.
"Hoshi bagaimana perkembangan Alex, kudengar dia menolak untuk datang sendiri ke kantor polisi"
"seperti yang anda perkirakan, pria itu selalu punya alasan untuk mengundur kedatangannya"
"selidiki apakah benar dia tidak mencoba melarikan diri"
"baik nona"
"siang ini anda ada meeting dengan perusahaan hiburan dari negara I" Hoshi menyerahkan tab yang sejak tadi ia pegang.
Hanum meraih tab itu lalu membacanya, "bukankah seharusnya direktur pelaksana yang datang ke meeting ini"
"Presdir dari perusahaan itu secara khusus meminta agar anda yang menghandle pekerjaan ini"
"begitu, sekarang sudah pukul sebelas. Di mana tempatnya"
"salah satu anak perusahaan I di kota ini, R Entertainment" Hanum mengangkat kepalanya, ia mengingat ingat siapa Presdir dari perusahaan itu.
*
Tepat pukul satu siang, Hanum dan Hoshi sudah berada di lobby perusahaan R Entertainment. Hoshi berbicara dengan salah satu resepsionis, sedangkan Hanum duduk menunggu di sofa tak jauh dari Hoshi.
Hanum menoleh saat Hoshi menghampirinya, "mereka meminta kita untuk menunggu sebentar, presdir mereka sedang keluar makan siang" terang Hoshi.
"hmm, kita tunggu saja" Hoshi ikut mendudukkan dirinya di sofa lainnya.
Beberapa menit kemudian datang beberapa orang, di antara orang orang itu ada sosok yang mencuri perhatian Hanum. Pria tinggi dan juga tampan. Yang kali ini mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan bagian dalam baju rajut dengan kerah turle neck berwarna senada.
Pria itu tersenyum semakin lebar saat melihat Hanum juga. Ia berbisik pada Miko sang asisten. Setelah itu rombongan yang datang bersamanya pergi lebih dulu. Termasuk seorang wanita yang sedang menatap Hanum dengan tatapan tajam. Wanita itu adalah Irina, ia memutar matanya jengah. Lalu dengan cepat mendahului orang orang dari perusahaannya itu.
Melihat Ragil mendekat, Hoshi langsung bangkit lalu memberi hormat "maaf kamu pasti nungguin lama ya" Ragil menepuk pucuk kepala Hanum dengan lembut. Perlakuan manis Ragil membuat resepsionis yang melihatnya merasa iri. Mereka diam diam membicarakan sikap manis Ragil pada Hanum.
"tolong jaga sikap anda" ucap Hanum dengan kaku sembari melirik ke arah resepsionis yang masih membicarakan mereka.
"baiklah. Sebaiknya kita segera ke ruang rapat. Orang orang pasti sudah menunggu kita" ajak Ragil.
Kedatangan mereka bertiga membuat orang orang yang awalnya sedang berbincang santai, berubah menjadi lebih serius.
Apalagi setelah Hoshi dengan sigap membantu menarikan kursi untuk Hanum. Mata Ragil seperti mengeluarkan leser yang siap memotong apapun. Menyadari hal itu, Hoshi buru buru kembali ke tempatnya.
"selamat siang semuanya, perkenalkan ini adalah presdir dari Paradewa. Nona Hanum Paradewi. Mereka yang akan membuat iklan kerjasama R Entertainment dengan perusahaan F dengan tampilan yang lebih baik dari iklan kerjasama lainnya"
Sedangkan Irina tetap tidak suka keberadaan Hanum, meski dia mengakui jika cara Hanum menjelaskan presentasinya sangat bagus. Ia ikut bertepuk tangan ketika Hanum mengakhiri katanya. Walaupun ia tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang dekat dengan Ragil secepat ini.
"hai, aku Irina designer utama dari perusahaan F" Hanum melihat tangan Irina yang mengajaknya untuk berjabat tangan. Ia tersenyum lalu menyambut uluran tangan Irina. "sebuah kehormatan bisa berkerja sama dengan designer terkenal seperti anda"
"nggak kok, aku nggak seterkenal itu kok" ucap Irina merendah. "maaf ya, aku harus segera balik ke perusahaan. Biasalah, mereka tidak bisa tanpa aku" Hanum hanya tersenyum mengiringi langkah Irina. Siapa yang mengira wanita itu akan langsung pergi, nyatanya Irina berbelok ke tempat Ragil yang sedang berbincang dengan Hoshi di samping pintu.
Dan apa yang terjadi selanjutnya membuat Hanum dan Ragil terkejut. Irina mengecup pipi kanan Ragil dengan cepat. Tingginya yang sejajar dengan Ragil, membuat Irina dengan mudah mengecup pipi Ragil. Karena terkejut Ragil tidak bisa menghindar, hanya menatap ke arah Irina dengan marah.
Sedangkan Hoshi membuang pandangannya pada Hanum, ia bisa melihat wajah cantik Hanum yang berubah jadi sangat menyeramkan. Meski ia tahu, nonanya tidak pernah menginginkan pernikahan itu. Tapi saat ini ada cinta diantara keduanya.
"jangan marah hmm, besok malam papa mengundangmu untuk makan malam di rumah" jemari Irina dengan lembut hendak membelai pipi Ragil, tapi dengan cepat Ragil menghindarinya.
"aku akan memikirkannya" ucap Ragil dengan malas.
Irina bisa melihat kalau Hanum tampak tidak nyaman dengan interaksi antara dirinya dan Ragil. Jadi dia ingin melakukan sesuatu, agar Hanum menjauh. Dan menyadari bahwa Ragil akan menjadi miliknya.
"aku pergi ya, jangan lupa datang besok" dengan ujung matanya ia ingin memastikan lagi kalau Hanum sangat marah, tapi yang ia dapatkan hanya wajah datar Hanum. Sepertinya rencananya telah gagal, apalagi Ragil tidak sedikitpun merespon dengan baik.
"saya akan menunggu di luar" ujar Hoshi setelah Irina keluar. Ia langsung menutup pintu ruang rapat, meninggalkan Ragil dan Hanum di dalam ruangan itu.
Hening, untuk beberapa saat tidak yang mengucapkan sepatah kata pun. Ragil memulainya dengan melangkah mendekati Hanum. Ia merapihkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Hanum. Lalu menyelipkan anak rambut itu ke belakang telinga Hanum. Selama proses itu, tidak ada yang saling bicara.
Hanya mata mereka berdua yang saling tatap. Setelah dengan rambut Hanum, Ragil tersenyum sangat manis. "kenapa melihatku" tanya Hanum dengan jutek sembari menghindari tatapan Ragil.
"Aku merindukanmu"
"benarkah. Tapi aku tidak" Hanum berbalik untuk menyembunyikan senyumannya.
Ragil memeluk Hanum dari belakang, dan meletakkan dagunya di atas pundak Hanum. Nafasnya menyapu leher, telinga hingga pipi Hanum. Ia mencoba melepaskan pelukan Ragil. Tapi Ragil justru semakin mengeratkan pelukannya.
"aku sangat merindukanmu"
Hanum menoleh, membuat jarak wajahnya dan Ragil semakin dekat. "bukankah sudah ada wanita tadi, kamu bahkan diundang makan malam di rumahnya" kata Hanum.
Mendengar hal itu, Ragil langsung membungkam bibir merah Hanum dengan kasar. ********** lalu menyesapnya. Tangan Hanum menepuk lengan Ragil dengan keras. Meminta pria itu melepas ciumannya.
"kau hampir membunuhku" ucapnya dengan nafas yang tersengal-sengal karena ciuman Ragil.
"maaf, aku janji akan lebih lembut lagi" Ia mendekatkan kembali wajahnya, tapi Hanum mencegah dan mendorong bibir Ragil dengan pelan.
__ADS_1
"aku harus kembali" Ragil mencebikkan bibirnya dengan menggemaskan.
"maaf, tapi pekerjaan ku sangat banyak"
Ragil menganggukkan kepalanya sembari tersenyum lembut. Ia mengecup bibir Hanum singkat, membuat Hanum kesal lalu memukul dada Ragil.
"aku akan mengantarmu sampai lift"
*
Alex mendatangi apartemen Sahara, tapi tidak menemukan siapapun di dalam apartemen itu. Setelah kehilangan jejak wanita itu di rumah sakit, ia juga tidak bisa menemukan keberadaan Sahara dan keluarga nya. Ia juga sudah meninggalkan rumahnya beberapa hari ini. Dengan alasan apapun yang istri Alex berikan agar polisi percaya.
Ia mengendarai mobil milik sang istri, untuk mengelabui polisi dan juga orang orang yang mengenalnya. Saat ini ia berada di perusahaan Paradewa. Menunggu hingga orang orang meninggalkan tempat itu. Baru ia keluar dari tempat persembunyiannya.
Dengan menggunakan kartu akses miliknya, Alex berhasil masuk ke dalam gedung. Ia menaiki tangga darurat untuk sampai di lantai tempat ruangan Hanum berada. Begitu membuka pintu, tidak ada seorang pun di sana. Tapi ruangan Hanum cukup terang. Itu berarti presdir Paradewa ada di sana.
Sementara itu di dalam ruangan kerjanya, Hanum masih sibuk dengan pekerjaannya. Ia menerima panggilan dari Ragil.
"ayo makan malam bersama, aku sudah di bawah" Ragil memandangi gedung perusahaan Hanum.
"apa, tapi aku belum selesai" saat itu pintu kantornya terbuka. Hanum mengernyitkan keningnya saat melihat kedatangan orang yang sedang diburu oleh polisi.
Hanum menurunkan ponselnya, tapi tidak mematikanya. "apa kabar presdir" suara seseorang membuat Ragil mengingat-ingat kembali siapa pemilik suara itu.
"sutradara Alex, bagaimana hari anda" setelah Hanum menyebut Alex, Ragil dengan cepat langsung keluar dari mobilnya. Lalu masuk ke dalam gedung, dua orang penjaga keamanan melihat gerak gerik Ragil kemudian mengejar Ragil.
Alex berjalan dengan santai, menyentuh benda apapun di atas nakas. Ia juga melihat ke sekeliling ruangan itu. "kau seharusnya tetap diam, jangan mencoba untuk mengusikku"
"saya tidak bisa melihat orang lain hancur karena ulah anda"
"seharusnya kau tetap diam, seperti ayahmu. Kau beruntung masih lolos. Tapi ku pastikan sekarang kau tidak akan bisa lepas dariku hahaha"
Hanum berjalan mundur perlahan, ia meraih gunting dari atas nakas. Dan menyimpannya di belakang punggung.
Sementara itu Ragil tampak sangat tidak sabaran menunggu lift terbuka. Begitu terbuka, ia langsung berlari ke arah ruangan Hanum. Kedatangannya membuat Alex dengan cepat berusaha menyerang Hanum. Tapi Hanum berhasil menghindar, Alex kembali menyerangnya. Kali ini Alex melempar kursi ke arah Hanum. Karena mencoba menghindar, kursi itu pun mengenai punggung Hanum.
Ragil mencoba membuka pintu, tapi sayangnya Alex telah menguncinya tadi. Ia menendang pintu itu dengan kuat, hingga membuat pintu itu terpental.
Ketika ia melihat Hanum yang tampak kesulitan bernapas karena Alex mencekiknya. Ragil dengan sangat marah menendang pinggang Alex. Serangan yang mendadak itu membuat Alex tersungkur. Ia kembali menyerang Alex, membuat pria itu tidak bisa melawan.
Setelah melihat tidak ada lagi perlawanan dari Alex, Ragil bangkit lalu menghampiri Hanum. "kamu tidak apa apa" ia melihat setiap inci tubuh Hanum.
"aku baik baik saja" Hanum meyakinkan Ragil.
Karena lengah, Alex dengan mudah membalikkan keadaan. Ia memukul punggung Ragil dengan kursi. Hingga Ragil tersungkur, dan meringkuk karena rasa nyeri di punggung nya.
Melihat Alex menggenggam pisau lipat, Hanum bangkit untuk melindungi Ragil. Tapi gerakan Hanum yang bisa dengan cepat dibaca oleh Ragil. Ia memutar tubuh Hanum, dan menjadikannya tameng dari benda tajam itu.
Ragil merasakan benda dingin menyentuh lengan bagian atasnya. "aaagggrrhh"
"Ragil" ucap Hanum lirih begitu melihat wajah Ragil terlihat kesakitan. Meski begitu, kaki panjang Ragil kembali menendang ke bagian perut Alex. Ia bangkit dengan cepat menghajar Alex tanpa ampun. Disaat seperti itu iatidak menyadari Alex menggunakan kesempatan itu untuk menusukkan benda tajam itu ke bagian perutnya.
Saat itu juga dua penjaga keamanan masuk, dan melerainya. Hanum ikut melerai Ragil yang ingin kembali menyerang Alex. Ia memeluk pria itu dengan erat.
Tak lama Alex dibawa polisi, dan ruang Hanum yang berantakan itu di beri garis polisi. Di dalam ruangan itu bertugas kepolisian mencari senjata yang digunakan oleh Alex untuk melukai Hanum dan juga Ragil.
Hoshi juga ada di sana, langsung datang begitu Hanum memberitahu kedatangan Alex ke kantornya.
Sementara Ragil bersandar di dekat pintu, dengan pipi dan ujung bibir yang berdarah. Juga luka di lengan atasnya yang masih mengeluarkan darah. Yang mengalir hingga ke ujung jarinya. Meski baju rajut Ragil berwarna hitam, tapi Hanum bisa melihat tetesan darah itu.
Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, lalu dengan perlahan melipat kemudian mengikat luka Ragil dengan sapu tangan itu. Mendapatkan perlakuan manis dari wanita yang selama ini hanya bersikap dingin. Ragil menyentuh jemari tangan Hanum yang masih berada di lengannya.
Sebenarnya ia juga mendapatkan luka di bagian perutnya, tapi ia tidak ingin Hanum mengetahuinya. Tapi justru orang lain yang menemukan lukanya.
"tuan anda terluka" Hoshi menunjuk rembesan darah di bagian perutnya. Sontak Hanum ikut melihat ke arah perutnya.
Mereka membawa Ragil yang mulai kehilangan kesadarannya, mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi. "Hoshi, cepat. apa kamu tidak bisa lebih cepat lagi" teriakan demi teriakan dari mulut Hanum semakin membuat keadaan Ragil semakin parah. Bukan hanya lukanya yang sakit, telinganya juga ikutan sakit.
Saat mobil berbelok ke sebuah rumah sakit. Lalu berhenti tepat di depan pintu IGD. Ragil dengan pelan di bantu Hanum dan Hoshi di sisi kanan dan kirinya. Dia juga kesulitan berjalan karena kedua orang itu.
"kalian berdua, tolong lah. Aku bisa jalan sendiri" Ragil menghentikan langkahnya yang mulai tidak imbang gara gara kedua orang itu.
Melihat hal itu, Hoshi langsung bergegas kembali ke mobilnya. Untuk memindahkan mobil itu ke tempat parkir yang seharusnya. Sementara Hanum meraih tangan Ragil, lalu menggandengnya.
Ragil membuang nafas panjang. Ia lalu mengangkat tangan mereka berdua yang bergandengan. "apa kamu kira kita mau menyebrang"
"ya sudah sana masuk sendiri" ia dengan kesal melepaskan tangannya, lalu berbalik hendak pergi.
Tapi Ragil dengan cepat meraih lengannya.
"maaf, tolong jangan pergi"
Selama dokter memeriksa dan menangani Ragil. Tidak sedetik pun Hanum melepaskan genggamannya. Apalagi melihat Ragil yang berusaha menahan rasa sakit.
__ADS_1