
Hanum berkacak pinggang dan menggigit bibir bawahnya. Setelah itu dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia berpikir keras bagaimana cara memindahkan laki laki itu ke atas sofa yang ada di ruangan itu. Jaraknya memang tidak terlalu jauh.
Akhirnya satu satunya jalan adalah menyeret tubuh besar Ragil. Perlu beberapa puluh menit untuk bisa menyeret tubuh Ragil, lalu memindahkan tubuh itu kemudian terakhir kaki Ragil.
Dia membuang nafasnya panjang, sangat melelahkan. Sekarang ini sepertinya dia tidak memiliki tenaga yang tersisa. Saat melihat Ragil yang tampak sangat pucat. Ia menggunakan punggung tangannya untuk memeriksa perbedaan panasnya dan Ragil. Demam, hanya panas yang menyengat yang menyentuh punggung tangannya.
Hanum memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Mengambil obat penurun panas, dan juga pengukur suhu. Dia berlari kembali masuk ke dalam apartemen Ragil. Lalu memasukkan termometer ke dalam mulut Ragil. Menunggu dua menit sampai bunyi bip bip terdengar.
"39°c cukup tinggi" Gumamnya. Hanum meletakkan termometer itu ke dalam tempatnya lagi. Dia berjalan ke dapur, menuangkan air ke dalam gelas. Lalu kembali untuk membantu Ragil untuk minum obat. Dia mendudukkan tubuh Ragil dengan susah payah. Saat akan memasukkan sebutir obat ke dalam mulut Ragil, Dia tampak kebingungan. Pasalnya lelaki itu masih tak sadarkan diri. Tidak mungkin bisa menelan obat.
" sekarang bagaimana ini" Hanum berpikir sejenak. "hei sadarlah" teriaknya dengan keras di telinga Ragil. tapi sayang laki laki itu masih tak bergerak. Dengan perlahan ia menidurkan kembali tubuh Ragil. Dia mendekatkan wajahnya untuk memeriksa nafas Ragil. Saat tiba tiba dia merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menempel di bibirnya.
Hanum membulatkan kedua matanya, ketika dia akan menarik diri. satu tangan Ragil menahan tengkuknya, sedangkan yang lainnya berada di pinggangnya. Setiap dia berontak, Ragil menahannya semakin kuat. Membuat ia semakin menempel pada tubuh Ragil. Sehingga dia tidak bisa melepas ciumannya. Hanum tidak kehilangan akalnya. Dia menggunakan tangannya untuk memukuli Ragil.
Gerakan yang tidak terkendali itu membuat sesuatu di diri Ragil bangun dan mengeras. "tolong berhenti bergerak" katanya dengan bibir yang masih menempel di bibir Hanum. "lepas" Hanum kembali memberontak. Kali ini Ragil menangkap satu tangan Hanum. Lalu melepas pagutannya. Untuk beberapa saat mereka saling menatap. Tapi kemudian Ragil melepaskan genggamannya pada tangan Hanum.
Setelah dia bebas, Hanum berdiri dengan cepat. Yang malah membuatnya kembali terhuyung. Dan jatuh lagi ke atas dada Ragil. "apa kau belum puas" tanya Ragil dengan senyum menggodanya.
"saya tidak sengaja" ujar Hanum sembari kembali berdiri, kali ini dengan hati hati. Dia membuang wajahnya ke sembarang arah. Saat Ragil bangun kemudian mendudukkan dirinya di sofa. Laki laki itu mengulurkan tangan kanannya, menengadah ke arah Hanum yang masih salah tingkah itu.
"apa" Hanum memundurkan tubuhnya waspada. "bukankah kamu mau memberikan obat untuk ku tadi" Hanum mengernyitkan dahinya, menyadari sesuatu yang aneh. "bagaimana anda bisa tahu"
"bisakah kamu tidak menggunakan bahasa formal padaku. tentu saja aku tahu" kata Ragil seakan mengakui sesuatu.
"kamu berpura-pura pingsan" Hanum kembali dibuat kesal setelah ciuman yang dicuri oleh Ragil tadi.
"tidak, tapi terimakasih berkat suara mu itu berhasil membuat ku bangun" ucap Ragil lemah. Ragil menekan kepalanya yang masih terasa pusing.
"apa tidak perlu ke rumah sakit" tanya Hanum saat melihat Ragil yang kembali memejamkan matanya.
"tidak, mana obatnya" Ragil kembali menyodorkan tangan kanannya. Kemudian Hanum meletakkan sebutir obat di atas tangan itu.
"apa kau tidak ingin membantuku untuk minum obat" perkataan Ragil membuat Hanum mendelik mendengarnya.
"sekarang kan kamu sudah bisa minum obat sendiri" protes nya.
"sepertinya kedua tanganku lemas" Ragil menyeringai untuk menggodanya. Karena sudah sangat kesal, Hanum mengambil obat itu dengan cepat. Kemudian memasukkan obat itu ke dalam mulut Ragil. Setelahnya dia pergi begitu saja, sembari membanting pintu apartemen Ragil. Sedangkan laki-laki itu tersenyum tipis. Kemudian meraih segelas air di atas meja. Meminumnya dengan perlahan.
Lalu berdiri untuk mengambil selimut yang teronggok di lantai. Setelah itu kembali merebahkan tubuhnya, dan memejamkan matanya.
Sementara itu di apartemen Hanum. Dia masih sangat marah saat sampai di kamar nya. Ia bahkan langsung kembali menyembunyikan tubuhnya di balik selimut. Setelah mematikan lampu, dia berusaha untuk tertidur. Ponselnya kembali bergetar, ia tidak ingin memperdulikan siapa yang sedang menghubungi nya. Dia saat ini hanya ingin tidur. Akan tetapi sudah lebih dari satu jam dia tidak juga bisa tidur.
Ia kembali merubah posisi terlentang. Dia berusaha menghitung domba dari 1 sampai 100. Pada hitungan pertama matanya tidak kunjung terpejam. Dia terus menghitung, tapi masih belum ada.
Entah hitungan keberapa Hanum sudah terlelap. Begitu juga Ragil yang tertidur di sofa. laki laki itu meringkuk memeluk tubuh yang dilapisi selimut tebal itu. Dia sepertinya tidak berniat untuk tidur di kamar nya.
*
Saat terbangun dia tidak ingat pukul berapa dia tertidur semalam. Setelah mandi dia kembali mendapat panggilan di ponselnya. Hanum tertegun dengan nomor yang tertera di layar ponselnya. Hampir saja dia ingin berteriak kegirangan. Tapi saat menyadari ini buka lah 4 tahun lalu, dan juga status laki laki itu sekarang membuatnya sadar.
Ia menggeser tombol angkat. Kemudian menempelkan benda pipih itu ke telinganya. "hallo" sapanya.
"hallo, selamat pagi Hanum" Entah kenapa dia tidak merasakan perasaan seperti 4 tahun lalu saat mendengar suara orang itu. Dia hanya diam, tidak ingin menyapa balik orang itu.
"bisakah kita ketemu, makan siang nanti aku ingin meneraktirmu di tempat favorit mu" ujar Atala.
Hanum masih tetap diam, sekarang dia tidak begitu suka dengan tempat itu lagi. Tempat yang akan membuatnya kembali mengingat sesuatu yang paling dia sukai.
"aku mohon, aku ingin memberitahu mu tentang sesuatu. aku akan menunggu mu di sana nanti. sampai bertemu di sana. Bye" Atala mengakhiri sambungan teleponnya.
__ADS_1
Sementara Hanum kembali bersiap ke kantor. Dia tidak memperdulikan ucapan Atala. Dia melanjutkan sarapan dengan sandwich yang dibuat dengan cepat. Kemudian keluar apartemennya. Ketika dia melewati pintu apartemen Ragil yang sedikit terbuka. Dia tidak mendengar atau melihat apapun dari celah itu. Ia mengedikkan bahunya tidak perduli. Lalu kembali melangkah masuk ke dalam lift.
Sementara di dalam apartemen Ragil, Sinta sedang membujuk anaknya. "kamu ngalah deh sama papa ya. Papamu bahkan berencana untuk blokir semua kartu kredit kamu"
"loh, kan Ragil yang nyari uang sendiri ma. Kenapa papa mau blokir kartu ku juga sih" keluh sang anak.
"makanya lamar Hanum langsung. nggak usah nunggu dia buka hati deh" pinta Sinta. Dia sudah tidak sabar membawa Hanum ke dalam keluarga nya. Kemudian memiliki cucu yang cantik seperti ibunya.
"mama enak banget ngomongnya. dia aja kaku kaya kayu. Mau langsung dilamar. Ragil aja udah ditolak. Mereka yang mau balas budi, masa aku yang harus berkorban juga" sekali lagi Ragil protes.
"ini kan salah kamu, gara gara kamu nolak dia waktu pertama kali ketemu. Harusnya nggak akan serumit ini, Ragil" ujar Sinta mengingatnya.
"iya iya, nanti Ragil coba" Sinta masih menatap anak nya itu dengan serius. Dia sangat khawatir dengan Hanum, makanya ia bersikeras memaksa Ragil. Jika biasanya dia akan mengikuti kemauan sang anak.
*
Hanum melirik ke jam dinding, sudah hampir jam sebelas siang. Atala bahkan sudah menghubungi dirinya berkali kali. Menelpon juga mengirimkan pesan. Dia enggan meladeni orang itu lagi. Tapi tidak memiliki cukup banyak alasan untuk membuat laki laki itu berhenti memintanya untuk datang.
"aku akan menunggu mu" begitu bunyi pesan terakhir dari Atala. Hanum mengotak atik ponselnya, saat tiba-tiba panggilan dari seseorang membuatnya memiliki ide.
"hm, bisakah aku minta tolong padamu" katanya langsung, dan dia tidak menunggu orang diseberang sana berbicara dulu.
"aku ini bukan orang sembarangan, bayaran ku mahal" ujar Ragil dengan sombongnya. Hanum menatap jendela tinggi dan besar di sisi meja kerjanya.
"oke kita bicarakan nanti malam" "sekarang atau tidak sama sekali" sela Ragil.
"baik, katakan berapa bayaran yang anda minta" tanya Hanum dengan sopan.
"bukankah sudah kubilang, jangan bicara terlalu formal padaku" Ragil mengatakannya dengan kesal.
"ah maaf, jadi berapa" berusaha mengganti topik.
"maaf, tapi" "maaf, tapi aku tidak mau membantu mu lagi. seharusnya kamu yang mengejar-ngejar ku di sini. kedua orangtuamu lah yang memiliki hutang budi. tapi kenapa sepertinya kamu bahkan tidak berniat membalaskannya" Hanum kembali tertampar oleh perkataan yang Ragil ucapkan. Dia terdiam untuk beberapa saat.
"aku akan memikirkan tentang hal ini nanti" katanya. Dia kembali terdiam.
"kalau begitu aku juga akan memikirkan tentang menolongmu nanti juga" putus Ragil.
Hanum bukan wanita yang gampang melupakan sebuah janji, atau permintaan dari orang tuanya. Dia tidak juga menerima perjodohan itu sekarang karena sudah disakiti oleh Ragil. Dia seperti telah dibuang malam itu. Hanum meremas tangannya sendiri. Tapi dia tidak ingin mengemis tanggung jawab dari laki laki itu.
Saat ini dia juga tidak ingin bertemu dengan Atala. Biar saja laki laki itu terus menunggu dirinya. Dia tidak ingin berhubungan dengan orang orang di masa lalu yang sudah membuatnya cedera.
*
Siang ini Hanum dan Elma kembali makan siang di luar. Mereka berdua kembali ke restoran yang mereka kunjungi tempo hari. Ketika tiba tiba Atala berdiri di depan mereka berdua dengan tersenyum, membuat Elma menghentikan makannya dan menatap Atala dengan tajam. Elma bahkan langsung menghentikan tangannya yang sedang menyendok spaghetti.
"apa boleh ikut duduk di sini" Atala tersenyum dengan ramah. Sementara Elma yang mengingat siapa Atala tampak tidak menyukainya.
"maaf tidak bisa" ujar Hanum dengan datar. Tapi Atala tidak mendengarkannya, dia malah duduk di samping Hanum. "lu tuli ya, barusan temen gue kan bilang maaf tidak bisa. Malah duduk lagi" tegur Elma dengan kasar.
"ah, maaf tapi aku dengar dia bilang boleh" Atala tersenyum kembali. Sedangkan Elma memutar matanya jengah, dia baru tahu kalau laki laki itu sangat menyebalkan sama seperti calon istrinya.
"saya sudah selesai, saya duluan" Hanum berdiri, menyingkirkan kursi yang menghalanginya. Menyisakan makan yang tinggal separuh di piringnya. Lalu berjalan menjauh. Elma ikut menyudahi makannya, kemudian menyusul Hanum dengan setengah berlari.
Sedangkan Atala menatap kepergian mereka berdua dengan tersenyum tipis. Dia pun ikut bangkit, kemudian berjalan ke lantai dua. Siapa yang mengira dia adalah pelanggan biasa. Nyatanya Atala adalah pemilik restoran itu. Jadi saat Hanum datang, dia langsung tahu karena pada saat itu dia melihat Hanum berjalan ke arah restoran. Atala menunggu sampai mereka berdua makan, baru saat itu dia datang mendekati mereka.
Dia menyandarkan punggungnya di kursi. Menyugar rambutnya kebelakang, kemudian memijat pelipisnya. Masalah yang terjadi akhir-akhir ini membuatnya sangat pusing. Terlebih karena sikap Tania yang mulai terlihat setelah menjelang pernikahan mereka.
Dan bertambah ketika dia bertemu kembali dengan Hanum. Wanita yang dulu memiliki perasaan padanya. Tapi nyatanya 4 tahun sudah berlalu, tidak mungkin dia masih menyimpan perasaan padanya. Atala menghela nafasnya panjang. Lalu menyalakan laptopnya, menegakkan punggungnya. Dan kembali tenggelam dalam pekerjaan yang bisa mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
*
Pulang kantor kali ini Hanum menerima tawaran Hoshi. Ikut mobil yang dulu selalu digunakan untuk mengantar jemput ayahnya. Hanum meraba jok mobil di sampingnya. Dia tiba tiba merindukan ayahnya.
Hoshi berhenti tepat di depan lobby. "sudah sampai, nona" ujarnya ketika Hanum yang terlihat masih melamun tidak juga tersadar.
Hoshi kemudian turun dari mobilnya, berjalan ke sisi luar Hanum, kemudian membukakan pintu untuknya. Hanum tersentak kaget, ternyata dia sudah lama melamun sampai tak sadar sudah sampai.
Ketika seseorang juga baru kembali dari kantor managementnya. Mereka sempat bertemu tatap. Kemudian Hanum buru buru mengalihkan pandangannya pada Hoshi.
"terimakasih, maaf merepotkan kakak" ucap Hanum ketika Hoshi menutup pintu mobilnya. Sementara Hoshi mengerutkan keningnya, lalu dia mengangguk hormat. Setelah itu dia kembali masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkan gedung apartemen Hanum.
Ia berjalan dengan cepat saat melihat pintu lift akan tertutup. Tapi tiba tiba pintu itu tidak tertutup. Hanum melihat tangan seseorang yang menahannya. Ia masuk ke dalam lift, kemudian bersandar di belakang. Meski hanya mereka berdua yang ada di dalam lift. Nyatanya tidak ada satupun dari mereka yang ingin memulai berbicara terlebih dulu. Saat pintu lift terbuka, mereka berdua heran ada beberapa orang yang berdiri di depan pintu apartemen mereka.
"paman Holden" Hanum memanggil pria paruh baya yang sedang berbincang dengan kedua orang tua Ragil. Holden tersenyum padanya begitu juga dengan Rama dan Sinta. Hanum menghampiri pria paruh baya itu.
"ada apa paman, kenapa datang ke sini tanpa memberitahu ku terlebih dulu" tanya Hanum. "ada yang harus saya tanyakan padamu" jawab Holden.
"kita bicara di dalam saja" ujar Hanum saat menatap orang orang di sana. Holden mengangguk kemudian mengikuti Hanum masuk ke dalam apartemennya.
"duduk paman, mau minum apa"tanya Hanum sembari berjalan ke arah dapur.
"tidak perlu, aku ke sini untuk menanyakan sesuatu padamu nona" Hanum menghentikan langkahnya yang sedang menuju dapur. Dia menatap Holden penuh tanya.
"apa kamu menolak untuk menikah dengan putra Rama Prambudi" tanya Holden dengan serius. Hanum hanya diam tidak berniat untuk menjawabnya.
Holden menghela nafasnya sebentar, lalu membuka map yang sejak tadi dia pegang. Kemudian menyerahkan selembar kertas berisi perjanjian antara Dewa dan Rama.
"ini perjanjian antara ayahmu dengan Rama Prambudi. Seharusnya kamu sudah membaca salinannya. Tapi sepertinya kamu tidak pernah menyentuh brangkas itu. Di sana tertulis dengan jelas, jika kamu menolak menikah dengan putra Rama. Semua saham atas nama Dewa dan Hanum akan menjadi milik Rama. itu berarti perusahaan akan diakuisisi" jelas Holden dengan sangat serius.
"kenapa paman baru memberitahuku" tanya Hanum yang terlihat tidak senang dengan isi surat perjanjian itu.
"aku tidak pernah menyimpan surat itu, kamu telah memilikinya. Setelah ayahmu meninggal dia menitipkan kunci juga kombinasi angka untuk brangkasnya. Aku sudah memberikan itu pada mu, saat menyerahkan posisi presiden direktur kepadamu. Tapi sepertinya kamu tidak pernah menemukan surat perjanjian ini" imbuh Holden menjelaskan.
"kapan batas waktunya" wajah Hanum kembali datar, dia sedang berpikir.
"1 bulan setelah kematian ayahmu. itu berarti sekarang kamu harus menyerahkan semuanya pada tuan Rama. Akan tetapi, tuan Rama menginginkan hal lain. dia tetap ingin kamu menjadi menantunya seperti wasiat mendiang Deasy, ibu nona. Jika anda bersedia, petugas dari kantor urusan agama akan langsung mendaftarkan pernikahan kalian malam ini" Terang Holden kembali.
"bisakah beri waktu saya untuk berpikir, sebentar saja" Holden mengangguk kemudian berlalu keluar dari apartemennya. Setelah kepergian pengacara ayahnya itu, dia berlari ke dalam kamar. Membuka laci meja kerjanya, lalu menekan beberapa kombinasi angka untuk membuka brangkas miliknya.
Dia sebelumnya sudah memindahkan semua dokumen penting milik ayahnya ke dalam brangkas pribadinya.
Kemudian sebuah map berwarna merah dengan cepat dia buka. Dan map itu ternyata hanya berisi selembar kertas perjanjian ayahnya dengan Rama. Dia mencocokan kertas itu dengan kertas yang ditunjukkan oleh Holden tadi. Hasilnya sama persis. Ia terduduk dengan lemas mengetahui kenyataan pahit ini.
Tapi semua pilihan ada di tangannya. Jika dia menolak berarti satu satunya milik ayahnya akan menjadi milik orang lain. Tapi jika menerima, dia harus mengorbankan dirinya.
Saat dia sedang
*
Sudah satu jam Holden menunggu bersama dengan yang lainnya di apartemen Ragil. di ruang tamu itu ada lebih dari 8 orang. Di antara orang itu ada Hoshi yang langsung datang begitu Holden memintanya datang. Dia bahkan baru saja memarkirkan mobilnya tadi, tapi saat Holden memberinya kabar tentang perjanjian itu. Dia langsung menyalakan mobilnya lagi.
"maaf pak Rama, apa tidak sebaiknya besok saja" ujar petugas dari kantor urusan agama. "tunggu sebentar lagi" pinta Rama. Dia tidak ingin masalah ini berlarut-larut. Mau apapun keputusannya, dia akan menerimanya dengan lapang dada.
Tepat di saat itu Hanum masuk, sembari membawa selembar kertas perjanjian tadi. Wajah cantiknya terlihat sangat lelah. Mata sembab dan basah sudah menjelaskan apa yang terjadi. Sinta meremas lengan suaminya yang dibalut jas mahal itu. Mengerti akan kegelisahan istrinya, Rama menepuk pelan tangan Sinta. Perlakuan manis Rama membuat Sinta sedikit tenang. Dia mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah Hanum dengan senyuman manisnya.
Orang orang menatap ke arah Hanum penuh dengan tanda tanya. Sedangkan Hanum juga sedang melihat ke arah mereka, mencoba mencari jalan keluar lewat tatapan dengan dia. Tapi semua benar benar berharap dia menerima perjodohan itu.
"saya bersedia"
__ADS_1