
Ragil merutuki kebodohannya. Dia mengurung dirinya di kamar. Tapi ia selalu teringat apa yang baru saja terjadi. Apalagi wajah Hanum yang sedang menatapnya bingung justru terus muncul di otaknya.
Dia mulai kehabisan akal karena tidak ada satupun cara yang bisa menghilangkan bayang bayang wanita itu. Jadilah ia membuka media sosial miliknya. Untuk mengalihkan perhatiannya dari wanita itu.
Awalnya Ragil hanya ingin melihat lihat. Tapi kemudian beritanya saat memberikan jas miliknya untuk Hanum beberapa kali muncul di media sosialnya. Bahkan jadi berita utama di beberapa berita infotainment.
Beberapa akun fansnya memposting ulang berita yang sama berkali-kali. Dia tanpa sadar tersenyum, saat melihat wajah cantik Hanum yang terlihat terkejut dan bingung. Entah bagaimana ia tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari wanita itu. Bukankah ia bermaksud untuk mengalihkan pikirannya dari bayangan sosok cantik itu.
Tapi kenapa ia malah semakin menggali dalam perasaanya. Saat tidak sengaja ia membaca caption dari sebuah foto mereka berdua. Ia sedikit takut. Perlahan senyumnya menghilang. Bagaimana jika mereka tahu hubungan antara Ragil dan Hanum, batinnya.
"bagaimana kalau penggemar fanatikku menyerang Hanum" ujarnya dengan ngeri.
"tapi wanita itu pasti tidak akan mudah diancam" katanya optimis.
Ragil memutuskan untuk melakukan siaran live di medsosnya. Awalnya hanya beberapa orang yang ikut bergabung. Tapi dimenit berikutnya sudah hampir sepuluh ribu orang menonton.
"hai, semua" sapanya dengan riang.
"bagaimana kabar kalian, kabarku sangat baik"
"terimakasih untuk kerja keras kita semua, terutama kalian yang sudah menonton mv comeback ku kali ini"
Ia terus membaca komentar penggemarnya, lalu menjawab beberapa pertanyaan yang ia bacakan. Ragil menikmati siaran langsung itu. Karena tidak ada komentar negatif, atau komentar yang membahas sikapnya pada Hanum.
*
ding dong
ding dong
Hanum terseok-seok menuruni tangga. Lalu berjalan setengah berlari menuju pintu rumah yang terus di ketuk dengan keras itu. Dia membukanya dengan cepat.
"mama" Sinta tersenyum padanya lalu ia tidak ingat sejak kapan tubuhnya sudah berada di dalam pelukan ibu mertuanya itu.
"apa yang terjadi, kenapa lenganmu harus di gips" tanya Sinta dengan cemas.
"eh, anu" Hanum menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Ragil di mana" sela Sinta sembari melangkah masuk ke dalam rumah.
"Ragil, Ragil" Sinta berjalan dengan cepat menaiki anak tangga. Dari raut wajahnya bisa dilihat jika mertuanya itu sangat marah. Hanum berjalan cepat menyusul sang mertua. Tapi dia tetap kalah cepat dibandingkan Sinta yang sudah berada di depan pintu kamar Ragil.
"ma, Ragil mungkin sedang istirahat. bisakah kita bicara sebentar" ucapnya berusaha menenangkan sang mertua.
"tunggu di kamarmu. saat ini mama ingin Ragil mengatakan yang sebenarnya" kata Sinta dengan tegas.
"tapi, ma. tidak ada yang terjadi antara aku dan Ragil" belanya.
Dari dalam kamarnya Ragil mendengar suara orang sedang berbicara di luar. Karena ia sedang mengenakan earphone jadi tidak terlalu jelas. Tanpa mematikan siaran livenya, ia bergegas membuka pintu.
"mama" wajahnya tampak terkejut melihat kedatangan Sinta.
"apa yang sedang kamu lakukan sejak tadi, kenapa kamu tidak juga membuka pintu kamarmu dari tadi" Sinta tidak lagi bisa menahan amarahnya.
"aku, sedang. oh sial" umpatnya saat mengingat ia tidak mematikan siaran livenya. Dengan terburu-buru ia kembali ke dalam kamarnya. Sampai terjungkal karena tidak melihat apa yang ada di depannya. Kemudian ia meraih ponselnya, lalu memutuskan sambungan siaran langsung.
Dia tidak sadar, orang yang menonton siarannya sudah melihat Sinta dan seseorang yang berdiri di samping ibunya itu. Mereka langsung memposting tangkapan layar siaran langsung Ragil. Meski tidak terlalu jelas, tapi sesuatu yang sangat mencolok bisa mereka kenali itu sebagai Hanum.
"siapa wanita itu"
"bukankah itu wanita yang sama"
"pacarku mengencaninya"
"bukankah dia adalah presdir Paradewa, wanita di acara Yasmine"
"lengannya digips, dia wanita yang sama"
"mungkin saja mereka masih saudara"
"dia bukan orang sembarang, presdir Paradewa"
Foto Hanum saat menghadiri acara talk show dan ia yang hanya muncul sebagian di livenya Ragil dibandingkan. Seketika namanya langsung menduduki tranding di berbagai aplikasi media sosial.
"mereka sudah bertunangan" Tiba-tiba Tania ikut berkomentar di salah satu akun penggemar Ragil.
"beberapa bulan lalu, saat skandal Ragil. Ragil pernah mengakui bahwa dia adalah istrinya. Bukankah wanita itu sama dengan wanita sebelum nya. Aku tidak akan pernah lupa saat itu" tulis akun lainnya.
Dan berkat komentar itu, jiwa detektif para penggemar Ragil langsung berkerja. Mereka ingin membuktikan bahwa berita yang mereka baca adalah salah. Sebagian lagi ingin berita itu benar dan menjatuhkan karir Ragil yang sedang berada di puncak.
__ADS_1
*
"jelaskan, apa yang sudah kamu lakukan pada istri mu" tanya Sinta yang sudah sangat marah itu.
"apa" Ragil nampak bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh ibunya itu.
Hanum memberinya isyarat dengan mengangkat lengan yang di gips. Ragil mengerti, ia lalu menghampiri Sinta. Mengelus lengan wanita yang sudah melahirkannya itu dengan lembut.
"kemarin malam ada maling. Terus dia kena pukul" jelasnya singkat.
"apa kamu pikir mama akan dengan mudah percaya, kalau buat cerita yang logis " tegur Sinta
"ma, kita sudah buat laporan ke polisi. dan pelakunya sudah ditangkap saat kejadian" sela Hanum dengan lembut.
"apa itu benar" Hanum mengangguk sambil tersenyum. Sinta terdengar menghela nafas lega.
"syukurlah, itu bukan karena Ragil yang sudah menganiaya kamu. mama sudah berpikir yang tidak-tidak" ucap Sinta lega.
"apa mama berharap aku melakukannya" sindir Ragil sembari memijat pelipisnya.
"awas saja kalau kamu sampai berani melakukan kekerasan pada istri mu" gertak sang ibu.
"iya iya" "lagian emang kamu ke mana, kenapa bukan kamu yang kena pukul" tanya Sinta curiga.
"eh, aku ada. aku juga kena kok nih" Ragil menunjuk sudut bibirnya yang sobek.
"ya ampun, kenapa enggak sekalian kepala kamu yang digetok. Biar normal dikit"
"mama ih, aku normal kok. Kalau digetok malah jadi geser otaknya, emang mau anaknya geser dikit"
Bukannya menanggapi sang anak, Sinta malah memeluk Hanum. "mama mau langsung pergi ya, kamu hati hati sama orang ini. kayaknya bibirnya ikut geser" pamit Sinta pada Hanum.
"loh, kan baru datang ma"
"mama nggak sengaja lewat, karena ada urusan di dekat sini. liat mobil kalian ada, jadi mama langsung berhenti. Mama khawatir liat lengan kamu yang di gips" jelasnya dengan lembut.
"aku baik baik aja kok, ma"
"mama pergi ya. Ragil antar mama sampai depan pintu"
Dengan terpaksa ia mengikuti sang ibu. Tepat di depan pintu, Sinta berbalik dan tersenyum senang. Membuat Ragil mengernyitkan keningnya.
Ragil menggeleng kencang, membuat Sinta langsung cemberut. "kenapa? bahkan orang orang sedang membicarakan sikap manis kamu sama Hanum. Bukankah ini kesempatan bagus" ujarnya.
"apa mama lupa, aku menginginkan pernikahan ini tetap rahasia" tegas Ragil.
"kalau begitu, jangan sekali-kali membuat Hanum menaruh harapan padamu. kalau sampai kamu menyakiti hati Hanum, orang pertama yang akan kamu hadapi adalah mamamu sendiri" ancam Sinta dengan tegas.
Setelah mengatakannya Sinta bergegas masuk ke dalam mobilnya. Lalu dengan cepat pergi dari pelataran rumah Ragil. Meninggalkan Ragil yang tampak sangat kesal. Ia mengacak-acak rambutnya, lalu menendang dinding di hadapannya.
Ia kembali masuk ke dalam rumah, dengan perasaan yang tidak baik. Ketika tiba tiba perhatiannya teralihkan pada sosok yang sedang menyuapkan es krim dalam jumlah banyak ke dalam mulutnya. Lalu wajah cantik Hanum yang terlihat sangat menikmati es krim nya, selalu tersenyum ketika makanan dingin itu masuk ke dalam mulutnya.
Hingga tak sadar sisa sisa es krim menempel di bibirnya. Ragil seperti terhipnotis oleh bibir ranum yang terlihat sangat manis itu. Ia terus berjalan ke arah Hanum yang masih menghabiskan sisa es krim terakhirnya. Sampai wanita itu terkejut karena kedatangannya yang tiba tiba.
Lalu sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ragil meletakkan tangannya di belakang tengkuk Hanum. Dengan cepat bibir Ragil menempel di atas bibir penuh sisa es krim itu. Hanum membeku di tempatnya. Ia bahkan tidak berani bergerak.
Entah kali ini apa yang membuatnya tidak bisa menolak Ragil. Sentuhan laki laki itu di bibirnya seolah menjadi candu. Bahkan matanya terpejam dengan sendirinya. Kemudian Ia dengan alami membuka sedikit mulutnya. Seolah mendapat persetujuan dari Hanum. Lidah Ragil menyelinap masuk ke dalam mulut Hanum. Menyesapi rasa manis dari es krim yang tertinggal di sana.
Terakhir ia menjilati bibir merah merona itu. Sebelum Hanum tersadar akan perbuatannya yang sudah melewati batas. Ragil menarik dirinya, lalu memandang wajah Hanum yang tampak sangat cantik.
Sementara Hanum mulai sadar, karena Ragil tidak lagi menciumnya. Dia membuka matanya dan mendapati Ragil tengah menatapnya. Tiba-tiba ia merasa jantungnya berdetak lebih kencang. Sesuatu membuat pipinya memerah. Ia buru-buru meletakkan bekas es krim ke atas meja. Kemudian ia berlari ke lantai dua dengan cepat. Saat ini ia hanya ingin menghilang.
Bagaimana ia dengan bodohnya menerima Ragil. Padahal ia sangat membenci laki laki itu. Hanum terus merutuki kebodohannya hingga ia menghilang di balik pintu kamarnya.
"agggh dasar bodoh" gerutunya sembari menutup pintu kamarnya.
Ragil tersenyum melihat kepergian Hanum. Ia dengan lembut membersihkan sisa es krim yang menempel di bibirnya. Lalu ia ikut menyusul Hanum ke lantai dua. Dengan riang ia berjalan kembali ke kamarnya.
Saat ia baru masuk ke dalam kamarnya, ponselnya berdering berkali kali. Membuatnya sedikit gusar. Di layar ponselnya tertera nama Chelsea. Dengan cepat ia menggeser tombol hijau. Lalu meletakkan benda itu di telinganya.
"tolong lihat pesan yang aku kirim" ujar wanita itu dengan suara panik. Tanpa menunggu sambungan teleponnya terputus.
Ragil langsung memeriksa ponselnya. Lalu mengklik link yang dishare oleh Chelsea. Dia melihat sebuah postingan dari salah satu akun media sosial penggemar fanatiknya. Itu adalah tangkapan layar dari siaran langsung nya tadi.
Yang dengan sangat jelas memperlihatkan seorang wanita dengan gips di lengannya. Juga sebagian tubuh ibunya. "mereka wanita yang sama" dari caption yang ditulis di sana.
"sial, mereka kenapa bisa jadi detektif gini sih. Gimana kalau Hanum sampai tahu" Gumamnya sembari mengacak-acak rambutnya dengan emosi.
Sebuah pesan kembali masuk. Itu dari Gio, "jangan buat penjelasan apapun, tetap diam" Pesan singkat dari bosnya itu menyulut emosi Ragil.
__ADS_1
"kami akan mengurusnya untuk mu. Jadi tetaplah bersikap baik" bunyi pesan berikutnya dari Gio.
"sial, gue benar benar sial" Gumamnya dengan kesal.
Prangg
Ponselnya melayang dan mendarat di dinding kamarnya dengan keras. Ragil yang sedang sangat kesal memang sangat sulit menenangkan dirinya. Ia masuk ke dalam kamar mandi, lalu menutup pintu dengan keras. Hingga menimbulkan suara dan getaran yang cukup keras.
Hanum menoleh ke arah dinding kamarnya yang menjadi pembatas kamar. Dia berpikir Ragil marah karena ia pergi begitu saja. Tanpa mengucapkan apapun, padahal keduanya tahu hubungan mereka tidak dalam keadaan yang baik. Ia yang harusnya marah, karena Ragil menciumnya dengan tiba-tiba.
Dengan perlahan Hanum merebahkan tubuhnya. Lalu tidak butuh waktu lama, ia sudah tertidur nyenyak.
*
Keesokan harinya, Hanum yang belum bisa membawa mobilnya sendiri masih menggunakan jasa taksi. Seorang supir taksinya tampak sedikit terkejut, karena wanita yang sedang ramai dibicarakan oleh orang orang naik taksi nya.
Beberapa kali supir taksi itu melihat ke arah Hanum yang sedang memainkan ponselnya lewat kaca tengah. Hanum yang menyadari hal itu, awalnya tidak peduli. Tapi kemudian ia mulai waspada.
Saat mobil taksi itu berbelok ke arah kompleks perkantorannya, ia tidak lagi melihat sang sopir meliriknya. Mungkin saja orang itu tahu jika Hanum sudah mempergoki dirinya.
Hanum yang baru turun dari taksi melihat keramaian di depan lobby utama. Segerombolan wartawan juga penggemar Ragil berkumpul di halaman kantornya. Mereka semua menunggu kedatangan dirinya. Awalnya Hanum tidak tahu, orang yang sedang mereka tunggu sejak tadi adalah dirinya.
Setelah turun dari taksi, ia terus berjalan sampai tidak sadar para wartawan itu bersiap memberondong dirinya dengan banyak pertanyaan. Hanum masih belum menyadarinya.
Sampai kilatan cahaya flash dari kamera milik para wartawan menyilaukannya. Lalu ia dikepung oleh orang orang itu. Dia berusaha melewati barikade para wartawan dan penggemar Ragil. Tapi usahanya sia sia. Ia justru semakin di tahan oleh mereka. Ia merasa seseorang mulai menarik dan juga mencubit lengannya.
Tapi Hanum tidak bisa melakukan apapun, pergerakannya seolah terkunci.
"Presdir apa benar anda dan Ragil memiliki hubungan"
"Presdir tolong konfirmasi nya"
"apa anda dan Ragil tinggal serumah"
"apakah benar kalian bertunangan"
"bagaimana pendapat anda tentang skandal ini"
Pertanyaan dari wartawan tidak berhenti di situ saja. Tapi Hanum seolah tak bisa mendengar apapun karena banyaknya orang yang bertanya padanya. Pandangannya mulai kabur, ia hampir terhuyung. Ia meremas tali tasnya dengan kuat, ketika ia mulai merasa akan terjatuh.
Dari balik kerumunan, Hoshi dan juga para bodyguardnya mulai membuka jalan. Ia menerobos ke dalam kerumunan orang itu. Lalu saat melihat Hanum yang mulai kehilangan keseimbangan, ia berjalan cepat ke sana.
Hanum beberapa kali mengedipkan matanya untuk kembali fokus. Tapi ia tidak berhasil, kepalanya mulai pusing. Namun sebelum ia benar-benar limbung, seseorang menutupi kepala hingga ke wajahnya menggunakan jas. Lalu memegangi kedua bahunya dengan kuat.
"tolong beri jalan" suara keras dan tegas Hoshi membuatnya sedikit lebih tenang.
Ia hanya melihat beberapa orang berdiri membuka jalan untuknya. Hanum menoleh ke arah orang yang sedang melindunginya dari mata lensa para wartawan. Benar orang itu adalah Hoshi. Rahangnya tampak mengeras. Wajahnya juga terlihat sangat dingin, terlebih matanya yang menatap tajam ke arah depan.
Hanum membawa dirinya ke dalam pelukan Hoshi. Lalu mengeratkan genggamannya pada jas Hoshi, ketika seseorang tiba-tiba berusaha menyerobot blokade orang orang Hoshi.
Kedatangannya membuat semua karyawannya berkumpul di lobby utama. Mereka tampak tidak peduli orang yang sedang mereka jadikan tontonan ada pemilik perusahaan. Hingga Hoshi mengedarkan pandangannya pada orang orang yang berkumpul di sana. Dengan mata tajam nya yang mampu mengintimidasi tanpa harus berbuat kejam.
Semua orang bubar tanpa menunggu diminta. Hoshi kembali menuntun Hanum yang masih bergetar itu ke dalam lift.
"tetap waspada" perintahnya pada salah seorang bodyguard.
"baik tuan" sahut mereka.
Ia memberi isyarat pada para bodyguard untuk kembali ke tempat mereka tadi. Dan orang orang berpakaian serba hitam itu mulai berdiri di depan pintu utama juga lift khusus.
Setelah pintu lift tertutup, ia melepaskan tangannya dari bahu Hanum. Lalu menarik jasnya dengan perlahan.
"anda sudah aman" ucap Hoshi.
Hanum hanya diam, dia hanya mengangguk untuk merespon ucapan Hoshi. Saat pintu lift terbuka. Ia bisa melihat wajah khawatir Elma yang sedang menunggunya.
Tapi saat ini ia tidak ingin mengatakan apapun. Jadi setelah menyapanya singkat ia buru buru masuk ke dalam ruangannya. Saat sudah sampai di ruangannya pun, Hanum tidak banyak bicara. Ia melihat ke bawah, pada kerumunan orang yang masih banyak. Kemudian ia mendudukkan dirinya. Sedangkan Hoshi memutuskan untuk keluar dari sana. Ia tidak ingin Hanum terbebani dengan banyak pertanyaan.
Dia dan Elma saling tatap. Lalu ia mengangguk, agar wanita itu tidak terlalu khawatir. Pagi tadi ia dapat berita tentang Hanum dari Elma. Karena itu ia memutuskan untuk menyiapkan bodyguard.
Hoshi berjalan ke arah ruangannya dengan perlahan. "apa berita itu benar" suara Elma menghentikan tangannya yang sedang memutar kenop pintu.
"untuk sementara jangan katakan apapun, kau hanya perlu tetap berada di sampingnya" begitu ia mengatakan itu, Hoshi kembali memutar kenop pintu. Kemudian masuk ke dalam. Laki laki itu mengangkat kedua tangannya. Ia yang tidak pernah menyentuh wanita manapun, sedikit aneh ketika menyentuh tubuh Hanum yang ternyata sangat kecil itu.
Hatinya terasa sakit, saat melihat wajah cantik itu terlihat pucat pasi. Ia hampir ingin melepaskan tinjunya pada orang orang yang sedang menatap Hanum rendah. Ia yang sudah berjanji akan terus menjaga Hanum, apapun yang akan terjadi padanya. Ia akan tetap melindungi putri kesayangan bosnya itu.
Sementara Elma tampak sedikit kecewa, lantaran ia belum tahu kebenaran tentang berita itu. Tapi dia tidak ingin Hanum tertekan. Ia meraih ponselnya, lalu menyalakan benda itu.
Elma menghela nafasnya panjang, ia meletakkan kembali benda persegi itu. Tanpa menutup layar ponselnya yang sedang menunjukkan sebuah foto. Ia kembali sibuk dengan pekerjaannya.
__ADS_1