
Hanum menghentakkan tangannya kuat, hingga tangan Alex ikut terhentak. Dia berdiri di depan Gaby, menghalangi pandangan Alex pada wanita itu.
"bukankah akan terlalu mencolok untuk orang seperti anda melakukan kekerasan pada seorang wanita di tempat seperti ini" sindir Hanum.
Sedangkan Alex mulai gusar dan kesal, Ia menunjuk nujuk tepat di depan mata Hanum.
"anda tidak perlu ikut campur" gertaknya.
"saya berusaha menjaga nama baik Paradewa, bukan mencampuri urusan anda" balas Hanum.
"anda hanya pemain baru, perusahaan berada di titik sekarang ini karena kinerja saya. Sebaiknya anda pergi, atau saya benar benar akan sangat marah dan melukai anda" ancam Alex.
"apa yang bisa anda lakukan" tantang Hanum.
Ketika Alex menarik paksa kerah kemeja Hanum. Ia masih menatap nyalang ke arah Alex. Namun, ia kalah cepat saat tangan besar Alex meninju perutnya. Bahkan ia merasa isi perutnya ingin keluar semua. Sangat sakit dan juga mual. Hanum menekan kuat perutnya. Ia menekuk Tubuhnya.
Alex akan kembali menghujani tubuh kurus Hanum dengan tinjuan. Tapi seseorang menangkap lengannya. Lalu memutarnya ke belakang punggungnya.
"aaagggrrhh" teriak Alex.
"apa anda baik baik saja, nona" Gaby ikut panik, dia terus menerus melihat ke arah Hanum yang masih memegangi perutnya. Ia takut jika Hanum terluka karena sudah membantunya.
Sementara Alex dibawa keluar secara paksa oleh Hoshi. Ia benar-benar marah karena Alex telah melukai nona besarnya. Hoshi mendorong Alex, hingga orang itu jatuh tersungkur.
"saya ingin memberi saran pada anda, sebaiknya cepat tanda tangani surat itu. Jika anda ingin hukuman anda lebih ringan" seru Hoshi.
Dengan tertatih Alex berdiri, dia memandang ke arah Hoshi dengan amarah. "gue nggak akan tanda tangan" ucapnya dengan keras. Setelah itu ia pergi dari sana.
Gaby membantu Hanum duduk dengan perlahan. Ia kemudian ikut duduk di sebelah Hanum.
Keduanya duduk di depan ruangan perawatan Sahara. Setelah merasa jauh lebih baik, Hanum memperbaiki duduknya.
"anda tidak ingin diperiksa dulu"
"tidak, saya baik baik saja" Hanum tersenyum untuk menenangkan Gaby.
"syukurlah, saya sangat khawatir orang itu bisa saja melukai anda lagi. Seharusnya anda tidak perlu menolong saya"
"bagaimana kabar ibu anda" tanya Hanum dengan lembut.
Gaby menoleh sejenak, lalu kembali menunduk. "beliau sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa adik saya" jelas Gaby.
"saya benar-benar minta maaf, seharusnya saya memecatnya sejak awal" ucap Hanum tulus.
"anda tidak perlu minta maaf nona, orang itu memang sangat keterlaluan. Saharalah yang memiliki nasib buruk, harus berurusan dengan pria seperti itu"
"bagaimana dengan laporan polisi"
"mereka bilang akan memprosesnya secepatnya"
"sebaiknya kamu memindahkan adikmu ke rumah sakit lain. Tidak ada yang akan tahu apa yang akan terjadi. Tapi Alex bukan orang yang akan dengan mudah menyerah. Kalau kamu bersedia, asistenku akan mengurusnya sekarang juga" kata Hanum bertepatan dengan kedatangan Hoshi.
Gaby melihat ke arah Hoshi yang baru datang lalu balik menatap ke arah Hanum. Ia tidak mengatakan apapun, kepalanya terlalu banyak berpikir. Masalah akhir akhir ini benar-benar membuatnya sangat frustasi.
"saya akan bicarakan ini dengan ibu saya dulu, nona"
"kalau begitu, ini kartu nama saya. Kamu hanya tinggal katakan bersedia, maka semuanya akan dilakukan dengan cepat. Tetap jaga kesehatan ibu dan dirimu"
"terimakasih nona" Gaby menggenggam erat kartu nama milik Hanum di tangannya. Ia tidak menyangka akan mendapatkan tawaran bantuan dari dua perusahaan besar. Tapi ia tidak yakin apa yang harus ia ambil.
Setelah pulang Hanum merebahkan tubuhnya. Rasanya nyeri di sekitar perutnya masih belum sepenuhnya sembuh. Dering di ponselnya membuat Hanum kembali bangkit. Hanum meraih ponselnya, lalu mengangkat panggilan itu.
"hallo, iya dengan saya sendiri"
Beberapa saat kemudian ia sudah berada di rumah sakit tempat Sahara di rawat. Hoshi terlihat sibuk mengatur Gaby dan juga ibunya masuk ke dalam ambulans bersama seorang petugas. Ia pamit pada Hanum, lalu pergi dengan mobilnya mengikuti Hanum.
Tidak jauh dari sana, Ragil sedang membantu Rayya duduk di kursi rodanya. Kemudian seorang perawat mendorong kursi roda itu masuk ke dalam ruangan IGD.
Ia tanpa sengaja melihat seseorang yang ia kenal. Perlahan ia terus mendekati orang itu untuk memastikan lagi.
Hanum sadari, seseorang melihatnya seorang diri di depan pintu rumah sakit. Ragil berniat menghampirinya. Tapi perawat sang kakak memanggilnya. Terpaksa ia harus pergi menyusul Rayya dan perawat itu.
Sementara itu setelah ambulans pergi, Hanum berniat kembali ke mobilnya. Tapi nyeri di perutnya kembali datang. Hanum hampir terjatuh, tapi seseorang dengan cepat menangkapnya.
"terimakasih" ucap Hanum buru buru melepaskan dirinya.
"ada apa dengan wajah mu" suara itu membuat Hanum dengan cepat mendongak untuk melihat siapa yang berbicara.
"Ragil, apa yang kamu lakukan di sini" ucap Hanum tergagap.
"ada apa, apa aku tidak boleh di rumah sakit" tanya Ragil.
"bukan seperti itu, aku hanya bertanya" elaknya.
"kalau begitu, ada dengan wajah mu yang pucat itu" Hanum berusaha membuang wajahnya untuk menutupinya. Tapi Ragil dengan cekatan selalu berhasil melihat wajahnya.
"mungkin karena haidku" jawab Hanum asal.
Ketika Ragil ingin mengatakan hal lainnya, perawat sang kakak menghampirinya. Dan memintanya untuk segera bertemu dokter.
"maaf ya, aku harus masuk ke dalam" pamit Ragil
"tunggu dulu, siapa yang sakit" Tapi Ragil tidak menjawabnya, ia langsung berjalan dan masuk ie dalam ruangan IGD.
Hanum berjalan di belakangnya dengan penasaran. Ia melihat lihat semua bangsal. Matanya menangkap sosok cantik yang sedang terbaring. Dengan perlahan ia mendekati sosok itu.
"kak Rayya" sosok cantik itu menoleh dan langsung bertemu tatap dengan Hanum.
__ADS_1
Detik berikutnya Rayya langsung membuang pandangannya. Hanum semakin mendekat, kemudian berdiri di samping Rayya.
"apa kakak sakit" tanya Hanum dengan lembut.
Tak ada jawaban dari Rayya, ia masih mengunci mulutnya rapat-rapat. Hingga perawat datang. Menyadari kedatangan perawat, Hanum mundur untuk memberikan ruang pada perawat itu.
"nona, untuk beberapa hari ke depan anda harus di rawat. Sekarang anda akan dipindahkan ke ruang perawatan" jelas sang perawat sembari merapihkan selang infus.
"kakak" Ragil berhenti berbicara saat melihat keberadaan Hanum di sana. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Hanum, bahkan sudah jelas wanita itu sangat marah. Karena ia seperti sedang membohonginya.
Sementara Hanum langsung berbalik dan pergi begitu Ragil tidak bisa mengatakan apapun padanya. Rasanya sudah cukup ia merasa tidak dihargai. Ketika sudah mendekati mobilnya. Hanum berbalik hanya untuk melihat Ragil berada di sana. Nyatanya pria itu tidak menyusulnya.
Hanum memejamkan matanya sebentar. Ia kemudian membuka pintu mobil, lalu mendudukkan dirinya di sana dalam diam.
Ragil berlari ke arah parkiran, saat mobil yang dikendarai oleh Hanum melaju dengan kecepatan tinggi lalu menabrak pembatas pintu. Kemudian berhenti saat menabrak pagar.
Ia langsung menghambur ke sisi mobil, dan dengan kuat mencoba membuka mobil. Berkali kali ia menggedor-gedor kaca mobil itu, berharap Hanum bisa membukanya. Beberapa orang di sana ikut mengerumuni mobil Hanum. Para wanita yang ikut mengerumuni, menyadari jika ia adalah seorang mantan idol. Mereka mulai berbisik bisik dan juga mengambil foto tanpa izin.
"Hanum buka..." Ragil memanggil sang istri yang mulai terjaga.
Dengan lemah Hanum menekan tombol kunci. Saat itu juga Ragil membuka pintu mobil, dan memperbaiki posisi duduk Hanum. Setelah itu ia menggendong Hanum ala bridal, dan membawanya menuju ruang IGD.
Kedatangan Ragil yang membawa Hanum, sontak membuat para perawat mengikutinya untuk membantu merawat Hanum. Setelah beberapa saat di lakukan pemeriksaan, Hanum tidak perlu menginap di rumah sakit. Setelah ia bangun dan tidak melihat keberadaan Ragil di sana.
"suster" panggil Hanum.
"ya nona" "saya ingin melakukan visum" Entah bagaimana ia mendapatkan ide untuk melakukan hal itu. Tapi yang jelas ia ingin menuntut seseorang dengan alat bukti itu. Hanum langsung pulang setelah melakukan beberapa tes kesehatan.
"minta rekaman cctv di depan ruangan Sahara tadi saat Alex memukul ku" perintahnya pada seseorang lewat sambungan teleponnya. Setelah itu Hanum langsung mengendarai mobilnya.
Ragil pergi sebentar untuk memeriksa keadaan Rayya, lalu kembali ke tempat Hanum saat wanita itu sudah tidak ada. Ia mencoba menghubungi nomor Hanum, tapi tidak ada jawaban. Dengan panik ia mencari Hanum. Sampai ia bertemu seorang perawat.
"permisi mau tanya, di mana pasien yang di sini tadi" tanyanya.
"pasien itu sudah pulang, tuan" terang perawat di ruangan itu.
"Kalau begitu terimakasih suster" ucap Ragil. Ia kembali ke ruangan Rayya dengan lesu. Banyak pikiran tentang Hanum menghantui isi kepalanya. Tapi Ragil tidak berani meninggalkan Rayya seorang diri, sedangkan perawatnya sudah pulang sejak tadi.
"ada apa" Suara Rayya membuatnya menoleh ke arah sang kakak.
"tidak ada, kakak istirahat lah" ujar Ragil dengan disertai senyuman.
Rayya kembali terdiam, ia memilih memejamkan kedua matanya kembali. Sedangkan Ragil duduk dengan punggung menyandar di sofa.
*
Beberapa hari telah berlalu, produksi film benar benar berhenti. Meski Alex menolak untuk memutuskan kontrak, polisi tetap memanggilnya dengan tuduhan lain. Ia menyesal telah meninju perut Hanum, ternyata wanita itu menggunakan hal itu untuk menuntutnya. Jika pelecehan terhadap Sahara tidak memiliki bukti, maka kali ini Hanum benar benar menyiapkan semuanya dengan matang.
Alex mendorong apapun yang ada di atas meja kerjanya dengan keras. Bunyi dari barang barang jatuh membuat istri dari pria itu tergopoh-gopoh masuk ke dalam.
"apa yang kamu lakukan" tanya sang istri.
"keluar!!!" gertak Alex
Melihat sang suami yang sangat marah, ia buru-buru keluar dari sana. Kembali ke dapur, dan berdiam diri di sana. Ia takut Alex akan berbuat nekad jika ia tetap di sana tadi.
Alex dengan gusar mendudukkan dirinya. Lalu memijat kepalanya dengan satu tangan. Sedangkan tangannya yang lain meremas pegangan kursi. Matanya menatap ke arah selembar kertas di atas lantai. Itu adalah surat panggilan dari polisi.
Lu nggak akan bisa memaksa gue keluar dari tempat itu, atau nama gue bukan Alex batinnya.
*
Akhir pekan di rumah keluarga Prambudi. Rayya hanya duduk di kursi rodanya sembari membaca buku di taman belakang. Sedangkan sang perawat duduk tak jauh dari tempatnya. Sesekali mengawasi sang majikan, sesekali bermain ponselnya.
Merasa jenuh dengan buku, Rayya menutup bukunya dengan keras. Ia melihat sang perawat dengan ujung matanya. Menyadari sang perawat sedang asyik dengan ponselnya, ia mulai menggerakkan kursi roda otomatisnya.
Akhir pekan membuat pekerja di rumah itu berkurang. Dan penjagaan tidak terlalu ketat. Ia bisa melewati taman lalu ke halaman depan, kemudian dengan berhati hati melewati pagar tanpa diketahui oleh orang lain.
Rayya menggerakkan kursi roda otomatisnya menuju taman kompleks. Di sana ia bisa melihat beberapa orang yang sedang duduk duduk, anak anak yang sedang bermain. Juga keluarga yang sedang menikmati piknik bersama. Kursi roda Rayya terus bergerak, dan tanpa sengaja menabrak seorang pria.
"maaf" ucap Rayya sembari memundurkan mesin itu.
Pria itu berbalik, melepas earphone nya lalu mengangguk pada Rayya. Rayya terpaku pada sosok di depannya. Pria dengan tinggi lebih dari seratus tujuh puluh lima itu mengenakan pakaian olahraga yang memeluk tubuhnya. Wajahnya yang tampan dengan hidung mancung. Rambut yang acak acakan, juga tetesan keringat yang membasahi wajah dan leher pria itu. Membuat Rayya dengan susah payah menelan ludah.
Baru saja ia ingin bersuara, pria tadi sudah kembali berlari. "ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama kan" gumam Rayya sembari menyentuh dada kirinya.
Puas berkeliling taman kompleks, ia tidak terkejut dengan kedatangan Ragil dan sang perawat. Ia tidak langsung mendatangi Ragil, melainkan berjalan ke arah sebaliknya.
"kakak" panggil Ragil.
"aku hanya bosan di rumah" Ragil langsung menyalip kursi roda Rayya. Dan menghentikannya, ia berlutut dihadapan Rayya.
"kakak bisa pergi dengan perawat, atau kakak bisa katakan ingin ke mana pada Ragil. Aku akan mengantarkan kakak ke manapun kakak mau, hmmm... Tapi tolong jangan pergi seorang diri, aku tidak mau kakak terluka" Ragil mengatakannya dengan sangat lembut. Berharap Rayya tidak akan salah paham.
Nyatanya Rayya hanya mengangguk. Setelah itu Ragil berdiri dan berada di belakang kursi roda Rayya. Seolah sedang mendorongnya, padahal benda itu bergerak dengan mesin.
"Apa kakak ingin belanja" tanya Ragil antusias.
Rayya menghentikan kursi rodanya, membuat tubuh Ragil terbentur bagian belakang kursi roda. "ada apa kak"
"bawa saja pakaian baru ke rumah, aku tidak suka belanja" kata Rayya.
"baiklah, secepatnya pakaian model terbaru akan tiba di rumah" Ragil kembali mendorong kursi roda di
Tak jauh dari sana, ada sebuah mobil yang terparkir di sisi jalan. Dengan kaca gelap yang menyulitkan orang untuk bisa melihat ke dalam mobil. Hanum memakai kacamata hitam dan juga mengenakan Hoodie hitam duduk di balik kemudi sembari mengawasi Ragil dan juga Rayya.
"nona, bisakah saya berganti baju dulu" protes Hoshi yang mulai risih dengan pakaian olahraga yang penuh keringat itu.
__ADS_1
Hanum hanya membuang nafasnya kesal, sudah beberapa kali sang asisten mengeluh hal yang sama. Ia mengeluarkan black cardnya, kemudian melemparkannya tepat di atas pangkuan Hoshi.
"belilah pakaian olahraga model terbaru, sepertinya tugas menyamar lebih cocok untuk mu"
Setelah Ragil dan Rayya sudah tidak terlihat, Hanum melepas kacamata hitamnya. Kemudian menjalankan mobil Hoshi, meninggalkan tempat itu.
Flashback on
Dua jam yang lalu
Hanum menjemput Hoshi yang baru saja selesai lari pagi.
"apa sebaiknya saya ganti baju dulu, nona" Hanum melihat ke arah sang asisten yang masih mengenakan setelan olahraga dan juga penuh keringat.
"tidak perlu, cepat masuk" Hoshi mengangguk lalu masuk ke dalam mobil. Duduk di samping Hanum yang sedang fokus mengemudi.
Mereka sampai di kompleks perumahan keluarga Prambudi. Untuk masuk ke sana, Hanum harus memiliki kartu akses. Beruntung ia bisa meminta Hoshi yang punya banyak kenalan untuk mengurusnya.
Lebih dari satu setengah jam mereka hanya duduk diam di dalam mobil. Tapi tidak ada satupun orang yang keluar dari pagar besar rumah itu.
"nona, bisakah saya berganti baju dulu. Saya takut anda tidak nyaman dengan keringat saya" ucap Hoshi dengan tak enak hati.
Hanum melihat pintu pagar rumah itu terbuka. Ia bisa melihat Rayya keluar dari sana dengan kursi rodanya. "sekarang keluarlah" perintahnya.
"hah, untuk apa nona" tanya Hoshi dengan bingung.
"sejak kapan kamu berubah menjadi asisten yang tidak peka seperti ini"
"maaf nona" Hanum menghela nafasnya panjang, ia lalu menunjuk pada Rayya yang terus berjalan di jalanan depan gerbang rumahnya.
"ikuti dia, jaga jarak kalau perlu kau berpura-puralah sedang lari pagi" ia menunjuk pakaian olahraga yang dikenakan sang asisten.
"baik, nona" tak butuh waktu lama Hoshi sudah mulai mengikuti Rayya. Dengan jarak yang cukup jauh, Hoshi juga harus kembali berlari dengan kecepatan lambat. Agar Rayya tidak curiga dengannya.
Tapi saat Rayya sampai di taman komplek, ia kehilangan jejak Rayya. Alhasil ia harus berputar putar untuk mencari Rayya. Dan tanpa ia duga, Rayya menabraknya.
Flashback off
*
"Nona" panggil Hoshi kembali "ada apa asisten Hoshi, bisa cepat katakan" ucap Hanum kesal.
"maaf, tapi anda sepertinya salah ambil jalan" Hanum melihat ke arah jalanan di depannya. Ternyata benar, ia salah mengambil jalan.
"aku sengaja melakukannya" Kata Hanum dengan keras. Kemudian ia menepikan mobil itu, lalu dengan cepat keluar. Berjalan ke arah sisi lain mobil. Mengerti apa yang akan Hanum katakan, Hoshi buru buru keluar, kemudian berlari ke arah kemudi.
Selama sisa perjalanan pulang ke rumah Hanum lebih banyak diam. Ia terlalu sibuk dengan banyak pertanyaan di kepalanya.
Saat tiba di rumah, ia langsung masuk ke dalam kamarnya. Lalu mencuci wajahnya kemudian mengganti pakaiannya. Hanum duduk di balik meja kerjanya, memeriksa beberapa email juga pekerjaan yang tertunda. Matanya tak sengaja menemukan sesuatu diantara tumpukan dokumen.
Sebuah undangan, hanya undangan acara penghargaan yang awalnya ingin ia berikan pada Elma. Tapi wanita itu dengan keras kepala menolak. Ia melihat tanggal acara itu hanya berjarak beberapa dari hari ini.
Dia membuka lemari besar di ruangan pakaiannya. Setelah tidak menemukan gaun yang sesuai dengan tema acara. Hanum memutuskan untuk pergi ke butik langganannya.
"selamat datang presdir" ucap salah satu pramuniaga di butik itu.
"selamat siang" jawab Hanum datar.
"ada yang bisa saya bantu, ada membutuhkan gaun atau setelan jas seperti biasanya"
Hanum melihat ke sekeliling, hanya ada satu pelanggan di ujung ruangan. "bisakah kau tunjukkan gaun yang cantik, elegan tapi juga terlihat menggemaskan saat dipakai" tanya Hanum dengan lirih.
Wanita itu tersenyum mendengar permintaan dari Hanum. Ia meminta Hanum untuk menunggu seperti biasa sambil pegawai tadi menyiapkan apa yang dicari oleh Hanum.
Selang beberapa saat pegawai tadi mengajak Hanum ke ruangan yang sudah berisi gaun gaun cantik. Hanum terpukau dengan jajaran gaun itu. Ia melihat dengan seksama setiap gaun.
"anda bisa mencobanya satu persatu nona" seru sang manager butik yang baru datang.
"maaf, saya sedang melayani pembeli yang lainnya tadi. Sampai tidak menyadari kedatangan anda" imbuh sang manager.
"tidak masalah, anda bisa melanjutkan pekerjaan anda. Ada pegawai anda yang membantu saya" Sang menager itu tersenyum masam. Ia yang dengan cepat menyelesaikan pekerjaan, hanya untuk mencari muka di hadapan salah satu pelanggan tetapnya. Justru harus menelan pil pahit.
Hanum beralih ke gaun yang menurutnya sangat cantik. Ia memandangi gaun itu cukup lama. Sebelum suara seseorang mengejutkannya.
"cantik, kau akan sangat cantik mengenakan gaun itu" Hanum menoleh ke arah sumber suara itu.
"bagaimana kamu ada di sini" tanyanya dengan lirih, ia melihat ke sekeliling ruangan itu. Tapi tidak menemukan siapapun selain dirinya dan Ragil.
Pria itu tersenyum lebar, ia lalu berjalan cepat ke arah Hanum. Dan memeluk wanita itu dengan erat.
Hanum dengan susah payah menggerakkan kepalanya. Ia mendongak untuk melihat ke arah wajah Ragil "tolong lepaskan, atau akan ada yang melihat kita"
Tapi Ragil semakin mengeratkan pelukannya, tidak lupa kecupan kecupan kecil di pucuk kepala Hanum. "maaf ya, aku tidak mengunjungimu dan juga tidak mengirimimu pesan. beberapa hari ini aku sangat sibuk" katanya dengan penuh penyesalan.
"hmm, aku tahu" gumamnya.
"kenapa kamu ke sini, apa kamu mengikutiku" tanya Hanum.
"ya aku mengikutimu. Lebih baik daripada kamu yang memata-mataiku hanya untuk melihatku. Aku hampir meledakan mobilmu tadi, tapi saat melihat itu kamu. Aku tidak jadi melakukannya"
"hah, bagaimana bisa kamu melihatku. Padahal kaca mobil itu tidak bisa melihat ke dalam" keluhnya.
Ragil melepaskan pelukannya, lalu menangkup wajah Hanum dengan kedua tangannya yang besar. "aku bisa merasakannya" ujar Ragil sembari tersenyum.
"benarkah" kening Hanum mengkerut, mata indah Hanum sangat bulat. Juga bibir merah itu membuatnya terlihat sangat lucu.
"hmm, kenapa kamu sangat menggemaskan seperti ini. aku jadi ingin menggigitmu" kata Ragil. Ia langsung menghujani wajah Hanum dengan kecupan.
__ADS_1
"ah tolong berhenti lah" bukannya berhenti Ragil semakin senang melakukannya. Lalu terakhir mengecup bibir Hanum lama.
Setelah itu Ragil kembali memeluknya dengan erat.