Forever With You My Idol

Forever With You My Idol
bab 31


__ADS_3

Ragil melambai dengan senang saat melihat Hanum keluar dari lobby perusahaannya. Ia buru-buru menghampiri Hanum, lalu menggandengnya. Agar memudahkan wanita itu untuk berjalan lebih nyaman.


"kenapa pakai heels"


"kakiku sudah sembuh"


"tapi kan lebih baik pakai flatshoes atau sneaker saja"


"kamu bilang mau mengajakku ke suatu tempat kan, jadi aku berusaha untuk tampil elegan"


"tidak perlu seperti itu, bagiku kamu tetap cantik"


"kamu sekarang sedang memujiku"


"hahaha...


Ragil membawa Hanum ke sebuah butik terkenal. Saat baru keluar dari mobil, ia mengernyitkan keningnya ketika melihat Miko juga ada di sana.


"semua sudah siap tuan" begitu Miko mengatakannya, Ragil langsung membawa Hanum ke ruangan yang sudah disiapkan khusus untuk mereka.


Jejeran gaun yang tertata rapi sudah disiapkan untuk Hanum, juga sepatu flatshoes dengan berbagai merk dan juga model terbaru.


"kenapa gaun gaun ini memperlihatkan bagian bahunya" protes Ragil yang melihat manekin dengan gaun yang memiliki design kerah off shoulder.


"ini, bukankah dia akan kedinginan karena punggungnya terlalu terbuka" tunjuknya dengan marah pada salah satu gaun.


Miko tampak tidak bisa menjawab pertanyaan Ragil. Dia juga bingung dengan model pakaian seperti apa yang Ragil inginkan. Padahal yang mengenakan adalah wanitanya.


"apa lagi ini, belahannya sangat tinggi" Hanum memutar matanya jengah. Ia langsung menutup mulut Ragil yang bersiap ingin mengomentari gaun lainnya.


"saya mau coba yang ini" Hanum menunjuk gaun yang sangat cantik.


Salah seorang pegawai butik itu mengantarkan Hanum ke ruang ganti. Sedangkan satunya lagi membawa gaun itu. Ragil hanya tersenyum melihat pilihan gaun Hanum. Ia dengan sabar menunggu sampai wanita itu selesai mengenakan gaun itu.


Saat pertama kali melihat Hanum mengenakan gaun itu, ia sekali lagi tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Hanum. Semuanya paket sempurna baginya. Apalagi setelah dipoles dengan makeup tipis. Cantik alami yang sangat mempesona.


*


Irina tidak sabar menunggu seseorang datang. Ia berkali-kali melihat bayangannya di pantulan kaca.


"apa papa yakin sudah mengundang dia" tanyanya dengan tak sabar.


"tunggu sebentar lagi, dia pasti akan datang"


Irina mendengus, ia memilih duduk di salah satu sofa. Sedikit kesal karena ia harus menunggu lama untuk bertemu dengan seseorang. Acara makan malam yang disiapkan untuk memperingati ulang tahun pernikahan kedua orangtuanya terasa membosankan.


Irina menoleh ketika suara beberapa derap langkah kaki terdengar. Senyumnya mengembang saat melihat sosok yang sedang ia tunggu kehadirannya. Tapi langsung meredup begitu melihat orang itu menggandeng seorang wanita.


Ia menoleh ke arah sang ayah, yang justru tampak sangat senang dengan kehadiran mereka. Bahkan ayahnya menyambut baik wanita itu. Irina mengepalkan tangannya kuat, ia lalu pura pura tersenyum. Kemudian ikut menghampiri kedua orang tamu itu.


"terimakasih anda sudah bersedia datang ke acara makan malam sederhana ini" sayup sayup sang ayah berucap.


"anda tidak perlu sungkan, suatu kehormatan bagi saya untuk bisa hadir di acara anda" tutur Ragil.


"hahaha, dan juga bagaimana bisa anda mengajak presdir Paradewa. Saya bahkan sangat sulit menghubungi nona Hanum"


"papa" Mereka bertiga langsung menoleh ke arah sumber suara.


"sayangku Irina, kemarilah"


Selama acara makan malam berlangsung, tidak ada yang aneh yang Ragil rasakan. Ia sesekali memperhatikan Hanum yang duduk di sebelahnya. Mengajaknya bicara atau sekedar memperbaiki anak rambut yang berantakan.


Semua sikap manis Ragil tidak lepas dari mata Irina. Ia semakin tidak menyukai wanita yang menjadi saingannya itu. Dia pamit ke toilet pada ayah nya yang duduk di ujung meja. Lalu menghilang untuk beberapa saat.


Kemudian ia kembali, dengan senyum yang selalu dia berikan pada Ragil. Tidak ada yang melihat perlakuan Irina aneh. Mereka semua masih asik dengan rekan bicara mereka masing-masing. Termasuk Hanum dan Ragil. Lalu di susul seorang pelayan yang mengantarkan minuman pada para tamu. Termasuk Ragil dan juga Hanum.


Melihat Hanum minum tanpa rasa curiga, Irina menyunggingkan senyum smirik.


Selesai menikmati makan malam, mereka masih di jamu dengan penampilan seorang pemain piano terkenal. Dan di saat itulah, Hanum mulai merasa kepalanya berat. Pandangannya mulai kabur. Ia mencengkram dengan kuat lengan Ragil yang menjadi pegangannya.


Sementara itu, Ragil dengan respon cepat. Menyadari ada yang tidak beres dengan Hanum. Ia mendekatkan wajahnya untuk melihat pada wajah Hanum. "pusing"tebaknya. Hanum mengangguk lemah.


"bisa kita pulang sekarang" bisik Hanum yang tiba-tiba merasa kepalanya semakin berat.


"hmm, sekarang kita pulang" Ragil merangkul Hanum. Menjaga wanita itu agar tidak terjatuh. Ragil hanya mengkode Miko yang berdiri tak jauh dari mereka. Kemudian pria itu langsung menemui pemilik acara. Sedangkan Ragil terus menuntun Hanum keluar dari tempat itu.


Kepergian Ragil dan Hanum membuat Irina tersenyum senang. Ia berharap Ragil akan melihat sisi lain dari Hanum. Makanya dia memberikan sesuatu ke dalam minuman yang diminum Hanum tadi.


Selama menuju ke tempat parkir, Hanum yang tadinya pusing tiba-tiba mulai memeluk tubuh Ragil dengan erat. Sedangkan tangannya mulai menyentuh tubuh pria itu secara acak.


Ragil menahan tangan Hanum yang mulai menyelinap di antara kancing kemejanya. Ia melihat ke dalam kedua mata Hanum. Lalu ia mengeraskan rahangnya karena menyadari apa yang telah terjadi pada Hanum.


"Ragil" panggil Hanum dengan nada serak.


"tidak di sini" ucapnya. Kemudian ia kembali menuntun Hanum. Dan membantu wanita itu masuk ke dalam mobil. Sedikit kewalahan karena Hanum menolak menggunakan sabuk pengaman. Pada akhirnya ia tetap memakaikan Hanum sabuk pengaman.


Ia berpikir sebentar, lalu menghubungi seseorang. "tolong siapkan kamar di hotel ini sekarang juga"


Tak lama ia dan Hanum sudah di dalam kamar presidential suite. Ia tidak ingin menolong Hanum dengan cara yang sama seperti dulu. Jadi setiap kali Hanum menyerangnya ia terus menghindar. Sebisa mungkin ia menjauhkan tangan Hanum yang terus berusaha menggapainya.

__ADS_1


Setelah berhasil membuat Hanum berhenti. Ia kembali menelan pil pahit setelah melihat apa yang sedang Hanum lakukan.


"Ragil aku panas" dengan gerakan cepat Hanum berusaha melepaskan gaun yang ia kenakan. Saat itu lah Ragil membawa Hanum ke dalam kamar mandi. Lalu menyiram tubuh Hanum dengan shower.


"dingin dingin" jerit Hanum.


Tapi tidak membuat Ragil menghentikan tangannya yang mengarahkan shower pada Hanum.


"bertahanlah ini hanya sebentar"


*


Miko menunduk tak berani menatap wajah Ragil yang sangat menyeramkan. Baju bosnya berantakan dan juga separuh basah. Ia tidak bisa membayangkan apa yang sudah mereka lakukan di dalam sana.


"Carikan pakaian ganti untuk nona dan juga untuk ku" pintanya singkat.


"baik tuan"


"ah, setelah itu aku ingin tahu siapa orang yang dengan beraninya menaruh sesuatu ke dalam gelas Hanum" tambahnya.


"apa itu yang membuat nona jadi lemas" tanya Miko penasaran.


"Miko. lakukan saja apa yang kuperintahkan"


"ba baik tuan"


Ragil kembali masuk ke dalam kamar mandi, dan mendapati Hanum sedang memandangi dirinya dengan tubuh yang menggigil kedinginan.


"maaf aku terpaksa melakukannya" ujar Ragil penuh sesal. Ia lantas mematikan shower, lalu berjongkok di depan Hanum.


"apa kamu sudah tahu siapa orangnya"


Ragil menggeleng lemah, "jangan khawatir, tidak ada yang tahu tentang ini. Aku sudah memastikannya" hibur Ragil.


"bisa tolong bantu aku berdiri" Hanum mengarahkan kedua tangannya ke depan. Yang justru terlihat seakan sedang menggoda. Ragil mengambil jarak dengan memundurkan tubuhnya. Menyadari hal itu Hanum terus berusaha mengerjai pria itu.


"Ragil, aku tidak bisa berdiri" katanya dengan nada manja.


Sontak Ragil langsung berdiri, "apa obat itu belum sepenuhnya hilang" tanya Ragil panik.


"apa sih, tolong bantu aku berdiri"


Ragil menarik tangan Hanum, setelah membantu wanita itu berdiri ia langsung keluar dari kamar mandi. Lalu menutup pintu itu dengan cepat.


"Ragil"


"di sana ada bathrobe dan handuk, kamu bisa gunakan itu sampai pakaian yang baru datang" ucap Ragil panik.


*


Begitu juga Hanum, ia terus memperbaiki posisi duduknya. Berharap pria di depannya tidak menyadari sesuatu. Saat ia tidak sengaja melihat rahang Ragil yang mengeras, juga jakun pria itu yang bergerak dengan pelan saat sedang minum. Hanum hampir menjatuhkan rahangnya sendiri karena terpesona dengan pemandangan seperti itu.


"ehem, kenapa lama sekali" katanya dengan pura pura terbatuk.


"aku akan menanyakan pada Miko" belum sempat Ragil menghubungi Miko, seseorang sudah mengetuk pintu hotel.


Dengan cepat Ragil membuka pintu, ia bernafas lega ketika melihat Miko menenteng dua paper bag. "kau terlalu lamban" Ragil merebut dua paper bag dari tangan Miko dengan cepat.


Sementara itu Miko hanya berdiri mematung, tidak berani menyanggah ucapan sang bos. Setelah kepergian Ragil dengan dua paper bag yang ia bawa tadi, Miko tersadar jika sang atasan tidak menutup pintu kamar hotelnya lagi. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu dengan perlahan menarik gagang pintu dan menutupnya dengan hati hati.


"maaf tuan, mataku masih polos" ucapnya lirih.


Hanum berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan dada saat Ragil dengan senyum mengembang kembali masuk.


Ragil mengangkat salah satu paper bag, lalu bergantian dengan yang satunya lagi "aku tidak tahu mana yang punyamu" katanya bingung.


"biar kutebak, yang ini" Hanum dengan yakin mengambil salah satu paper bag dengan ukuran yang lebih besar.


Kemudian ia mengintip ke dalam paper bag, lalu tersenyum menyadari tebakannya benar.


"kalau begitu aku akan berganti di kamar lain" ujar Ragil.


"kenapa" tanya Hanum.


"aku akan menunggumu" ralat Ragil.


"begitu lebih baik, setidaknya kamu harus berhemat. Ada istri yang perlu kau nafkahi" gerutu Hanum sembari berjalan ke kamar mandi.


Mendengar ucapan Hanum, Ragil tersenyum tipis. "bahkan uangmu jauh lebih banyak dariku"


*


Irina menghentakkan kakinya kesal, ia melemparkan tatapan tajamnya pada seorang pria dengan setelan pelayan. Lalu beralih pada seorang pria lainnya dengan setelan sama.


"ya sudah sana kerja lagi" usir Irina dengan kesal.


Dua orang pria itu menunduk hormat, lalu dengan cepat pergi karena takut sang nona akan kembali mengamuk karena pekerjaan yang diminta khusus oleh Irina telah gagal.


Sedangkan Irina masih berusaha meredam emosinya, sebelum kembali masuk dan bertemu sang ayah.

__ADS_1


*


"aku langsung pulang ya" kata Hanum saat Ragil baru keluar dari kamar mandi.


"hm, biar kuantar" usulnya.


Begitu mereka berdua keluar, Miko menyambut keduanya dengan wajah yang panik. Menyadari hal itu, Ragil buru buru bertanya. Miko hanya berbisik, tapi raut wajah Ragil langsung berubah tak seperti tadi.


"ada apa" tanya Hanum penasaran.


"maaf, biar Miko yang mengantarmu. Aku harus ke suatu tempat" Ragil merapihkan anak rambut di wajah Hanum. Seolah tak ingin membuat wanita itu khawatir.


"iya, pergi lah" setelah itu mereka masuk ke dalam lift. Dan berpisah di baseman.


sepanjang perjalanan pulang, Hanum ingin menanyakan kemana perginya Ragil pad Miko. Tapi begitu ia sampai di depan rumah, ia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menanyakan hal itu pada Miko. Bahkan pria itu langsung pergi begitu menutup pintu mobil untuknya.


Di salah satu rumah sakit, tubuh Rayya terbaring di atas tempat tidur. Dengan selang oksigen yang membantu pernafasannya. Ragil tiba begitu dokter selesai memeriksa keadaan Rayya.


Perawat pribadi Rayya tampak sangat khawatir dan juga takut, ia tak berani menatap wajah Ragil saat pria itu masuk ke dalam ruangan.


"apa yang terjadi" Ragil memindai wajah pucat Rayya.


"maafkan saya tuan. Saya lalai tidak memperhatikan nona saat mengonsumsi obat tidur dengan dosis berlebih tuan"


"bagaimana dia bisa menggunakan obat itu"


"saya sudah mencoba memperingatkan nona, tapi nona bersikeras. Nona selalu marah setiap kali susah tidur. Tadi waktu saya kembali untuk mengantar minum, saya sudah menemukan nona dengan gejala overdosis tuan. Saya sungguh minta maaf tuan" jelas wanita itu sembari terisak-isak.


*


Keesokan harinya, Hanum tidak menemukan Ragil di depan gedung perusahaannya. Atau sekedar mengiriminya pesan. Pria itu seperti menghilang sejak malam tadi. Hanum sedikit khawatir, jadi dia mengirim pesan singkat pada pria itu.


Tak disangka, Ragil langsung menghubungi dirinya. "maaf, setelah selesai dengan urusan ini aku akan menemui mu" lalu sambungan teleponnya terputus.


Sedari pagi Hanum selalu uring uringan. Ia marah pada staf yang tidak sengaja berbuat salah. Padahal biasanya ia bisa mengontrol emosinya. Hingga Hoshi juga ikut terkena imbasnya.


"lu lagi datang bulan ya" Hanum hanya melirik Elma yang baru masuk ke ruangannya. Sedangkan tangannya sibuk memijat pelipisnya.


"bukannya mereka semua orang orang berpengalaman. Seharusnya mereka tahu job desk mereka dengan baik" ucapnya marah.


"kayaknya bukan karena itu deh lu marah" tebak Elma.


"bisa tolong pesankan makanan ekstra pedas. aku perlu mengeluarkan amarahku"


"tapi lu kan nggak biasa makan makanan yang pedas banget"


"kali ini aku mau"


Tak sampai setengah jam, tepat saat jam makan siang pesanan yang diminta oleh Hanum sudah tersaji di atas meja. Sementara itu, Elma menatap ngeri ke arah makanan yang berwarna merah gelap itu. Juga aroma pedas yang langsung menusuk indra penciumannya.


"lu yakin mau makan itu" tunjuknya pada makanan pedas itu.


"hmm, kamu mau" tawar Hanum.


Buru buru Elma menolak, ia lantas membuka makanannya sendiri. Lalu mulai menyendokkan nasi dan juga lauk ke dalam mulutnya. Melihat hal itu, Hanum mulai menikmati makanan pedasnya. Sesekali ia menyusut hidungnya, juga meneguk air mineral untuk menghilangkan rasa yang membakar di mulutnya. Tapi tetap saja Hanum terus memakan makanan itu hingga habis.


Puas dengan makanan pedas itu, Hanum menyandarkan punggungnya. Sedangkan Elma mulai membereskan sisa makan mereka berdua.


"Kamu tidak perlu melakukan itu" ucap Hanum dengan mulut yang masih kepedasan. Hanum menahan Elma yang ingin merapihkan bekas makannya juga.


"engga apa apa, gue sekalian buang bekas gue juga"


*


Sore harinya sebelum pulang, Hanum dan juga Hoshi menyempatkan untuk bertemu dengan Irina di butik tempat Irina berada. Tapi kedatangannya seolah tak dipedulikan oleh Irina. Bahkan Hoshi mulai kesal karena designer sombong itu menyuruh mereka untuk terus menunggu. Jika bukan karena pekerjaan yang sangat penting itu, ia sudah menarik paksa wanita itu untuk menemui presdirnya.


"sudah berapa lama" gumam Hanum yang duduk di sofa tunggal di depannya.


"hampir setengah jam, haruskah saya menanyakan pada sekertaris nya lagi" usul Hoshi.


Hanum hanya mengangguk, ia lantas kembali memeriksa hasil iklan di tablenya. Tak lama Hoshi datang bersama dengan seorang wanita cantik yang ia tahu adalah sekertaris Irina.


"maafkan saya presdir, Nona Irina benar benar sedang sangat sibuk. Beliau meminta anda untuk datang esok hari" ucap sang sekertaris dengan ketakutan.


Hanum mematikan tabletnya, lalu mendongak untuk melihat wanita itu. Ia tersenyum tipis, kemudian bangkit. "baiklah, tolong sampaikan pada nona Irina. Saya akan datang esok hari"


Di tengah perjalanan pulang, Hanum merasa perutnya tiba tiba sakit. Ia lantas meminta Hoshi untuk mengantarnya ke rumah sakit terdekat. Sampai di rumah sakit, ia sangat menyesal karena keputusannya makan makanan pedas siang tadi justru membuat lambungnya bermasalah.


Setelah menerima obat dan juga menyelesaikan administrasi Hanum dan Hoshi kembali ke parkiran mobil. Namun tiba-tiba seseorang yang baru saja keluar dari loby rumah sakit mengejutkan Hanum.


Ragil berdiri di depan lobby dengan masih menggunakan pakaian semalam. Berarti pria itu belum pulang ke rumah. Tampak raut wajahnya yang sangat lelah. Juga rambutnya yang ia biarkan berantakan. Hanum sedikit iba melihat pria itu, tapi logikanya masih bisa mencegahnya untuk menemui pria itu.


Hoshi menghentikan tangannya yang sedang membuka pintu mobil. Ia ikut melihat ke arah pandangan Hanum. Setelah beberapa saat, ia kembali melanjutkan membuka pintu mobil. Kemudian Hanum masuk ke dalam.


Ia tidak langsung menjalan mobilnya, Hoshi masih menunggu Hanum yang masih terus menatap ke arah Ragil.


"ayo pulang" ucap Hanum dengan berat.


Ia lalu menekan pedal gas, dan mobil melaju meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan, rasa sakit di perutnya tidak membuat ia berhenti memikirkan apa yang Ragil lakukan di rumah sakit. Meski sebenarnya ia tahu kemungkinan terbesar adalah urusan Rayya.

__ADS_1


Sementara di tempat tadi, Ragil sedang memikirkan Hanum dan juga keadaan sang kakak yang kritis. Ia merindukan wanita itu, tapi setiap kali ingin menghubungi Hanum. Ragil selalu tak berani, karena ia pasti akan membuat Hanum semakin khawatir padanya.


__ADS_2