
"hmmm"
"tunggu sebentar"
Hanum mendorong wajah Ragil dengan keras disaat keduanya sedang berciuman. Ia lalu bangkit dan berlari ke dalam kamar mandi. Menyisakan Ragil yang membeku di tempatnya dengan wajah penuh tanda tanya. Padahal tadi dia sudah siap menyerang, kalau saja Hanum tidak mendorongnya.
"hampir saja" keluhnya sembari menjatuhkan tubuhnya.
Sementara di dalam kamar mandi, Hanum mulai memeriksa sesuatu. Ia menggigit ujung jarinya saat melihat ada bercak darah di ****** ********. Sepertinya tamu bulanannya datang lebih cepat. Ia mencari sesuatu di sana. Tapi tidak menemukan apapun.
Ia baru ingat ini kamar mandi di dalam kamar Ragil. Hanya ada handuk dan juga peralatan mandi milik pria itu. Sepertinya ia harus keluar dan pindah ke kamar mandinya sendiri. Tapi ia takut Ragil pasti bertanya-tanya tentang dirinya.
Pada akhirnya ia tetap harus ke kamarnya. Meski ragu ragu, ia berhasil membuka pintu. Kepalanya melongok untuk melihat di mana Ragil berada.
"apa yang membuat kamu terlalu lama di dalam" Suara Ragil mengejutkannya, hingga membuat celana yang ia pegang jatuh bebas ke lantai. Pria itu berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Ia melirik pada kain yang terbungkus oleh celana bahan Hanum. Walaupun hanya terlihat sedikit, ia buru-buru memalingkan wajahnya.
"bukan apa-apa, aku hanya ingin membersihkan diriku dulu"
Sedangkan Hanum mengambil kembali celananya, dan dengan cepat berlari keluar. Menuju ke kamarnya sendiri. Hanum memegang erat celananya. Ia menghela nafas lega.
Tapi ia kembali kecewa, saat persediaan pembalutnya telah habis tak tersisa.
"kenapa harus lupa beli sih, sekarang bagaimana" rengeknya.
Ia melihat jam di dinding, sudah sangat malam. Jika ia keluar dan mencari mini market dua puluh empat jam pasti tidak akan cepat ketemu. Ia mengacak-acak rambutnya dengan kesal.
Hanum berjalan ke kamar Ragil lagi. Ia dengan canggung berdiri di ambang pintu. Ketika pria itu menyadari kedatangannya, Hanum mencengkram erat handuk di pinggangnya.
"ada apa" tanya Ragil dengan cemas.
"ah, bisa minta tolong" ucap Hanum dengan lirih. Ragil mendekat, "tentu, katakan"
"antar aku ke mini market, ada yang harus aku beli" Ragil mengerti kemana arah ucapan Hanum. Ia lantas mengelus pipi Hanum dengan lembut.
"kamu tunggu di sini. Akan kubelikan untukmu" Hanum mengangguk patuh.
Ragil meraih kunci mobil Hanum dari tangan wanita itu. Ia lalu berlari. Tanpa bertanya apa yang ingin Hanum beli.
"emangnya dia tahu" gumamnya.
*
Di depan mini market, Ragil memarkirkan mobil. Dengan tergesa-gesa ia masuk ke dalam tempat itu. Tanpa mengenakan masker. Beruntung tidak banyak orang di sana. Kini ia berdiri di depan tumpukan pembalut dengan berbagai merk dan juga ukuran. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"berapa ukuran dia" ia mengambil satu pak pembalut dengan ukuran besar. Lalu meletakkannya lagi. Orang yang ada di sana mulai memperhatikan Ragil. Ia yang tidak menyadarinya tetap fokus dengan jejeran merk pembalut wanita itu. Karena tidak tahu harus beli yang mana. Ia memutuskan mengambil satu persatu merk dengan ukuran yang berbeda-beda.
Seorang kasir pria memandangi tumpukan pembalut itu dengan heran. "anda ingin membeli semuanya" tanya orang itu untuk kedua kalinya.
"iya, cepatlah" jawab Ragil sembari menutup separuh wajahnya.
Meski bingung, kasir itu dengan cekatan menscan dan memasukkan benda itu ke dalam kantong plastik. Kemudian mentotal semuanya. Setelah memberikan uang, Ragil langsung pergi dengan membawa tiga kantong besar berisi pembalut.
Sama halnya dengan kasir di mini market, Hanum juga tampak heran. Tanpa bertanya lagiIa langsung ambil ketiga kantong itu, dan langsung membawanya ke dalam kamar.
Setelah selesai, ia lantas menyimpan benda itu ke dalam lemari. Hanum mulai merasakan rasa nyeri di perutnya seperti biasanya saat sedang datang bulan. Ia berbaring dengan menekan bagian perutnya.
tok tok
Dengan lesu ia berjalan ke arah pintu, dan membukanya. Melihat Ragil membawakan secangkir minuman , ia mengernyitkan keningnya. "teh chamomile, kak Rayya sering minum ini waktu datang bulan" jelas Ragil sembari menggaruk tengkuknya.
"aku sudah mencari tahu manfaatnya, dan itu bagus untuk mengurangi rasa nyeri saat datang bulan" tambahnya.
"oh oke, terimakasih" Hanum menerima cangkir teh itu.
"kalau begitu aku kembali ke kamarku" pamit Ragil.
"eh tunggu, masuklah" pintanya.
"tidak, aku akan kembali. Kau sebaiknya istirahat, lagian ini sudah larut malam" ujar Ragil salah tingkah.
"tapi aku ingin kamu masuk" Hanum susah payah menahan agar tidak tertawa, saat melihat wajah bingung Ragil.
"kamu ini bagaimana sih aku ini laki-laki, jangan mengundang laki laki masuk ke dalam kamar mu. Apalagi tengah malam" katanya dengan tergagap.
"tapi kan kamu suamiku" Ragil tersenyum sembari bertingkah seolah ingin menggigit tangannya sendiri mendengar ucapan dari Hanum.
"masuklah" Ia bergeser sampai menyisakan celah untuk Ragil masuk.
Meski awalnya ragu, tapi pada akhirnya Ragil masuk ke dalam kamar Hanum. Duduk di sofa bersama Hanum yang sedang menikmati tehnya.
"kamu mau" tanya Hanum sembari menyodorkan cangkir teh.
Ragil menggeleng, "itu kubuatkan khusus untukmu"
__ADS_1
"apa kau tahu" Ragil menatapnya dengan tatapan hangat. "ini pertama kalinya aku menikmati teh chamomile untuk meredakan nyeri haidku sejak kematian ibuku" ucap Hanum.
"apa selama ini kamu selalu kesakitan saat datang bulan. maaf aku seharusnya tidak menanyakan ini" ralatnya cepat.
Hanum menggeleng dengan ringan. Ia menggenggam cangkir dengan dua tangannya. "aku masih bisa menghadapi rasa sakit yang setiap bulan datang. Dibandingkan kehilangan ibuku"
"bagaimana kamu bisa melewati ini semua"
Hanum menghela nafasnya panjang, ia lalu memandang ke arah atas. "pada awalnya aku tidak bisa menerima kematian ibu. Apalagi ayah memaksaku untuk masuk ke perusahaan. Asal kau tahu aku membenci ayahku untuk waktu yang lama. Hanya seorang Elma yang dengan tekun dan perhatian mengingatkanku dan juga menemaniku. Tapi setelah ayahku pergi, akulah orang yang paling egois. Mereka berharap aku hidup bahagia, tapi selama mereka hidup aku adalah orang yang banyak melukai hati mereka berdua" tutur Hanum dengan suara yang mulai bergetar.
"aku harus kuat, untuk membuat mereka berdua tenang di sana" imbuhnya.
Dengan hati hati ia menarik bahu Hanum, agar semakin dekat dengannya. Setelah itu ia merangkul pundak Hanum. Membuat wanita itu dengan sendirinya meletakkan kepalanya di bahu Ragil.
"sekarang kamu punya aku, kamu tidak sendirian lagi. Jadi jangan bersedih" ucap Ragil mencoba menghibur. Ragil melepaskan tangannya dari pundak Hanum. Kemudian menatap wanita itu dalam.
"aku juga sama seperti mu, kehilangan kedua orang tuaku dalam waktu bersamaan. Lalu harus melihat keadaan kak Rayya yang tidak bisa berjalan. Secara tiba-tiba aku harus melepaskan dunia yang sudah kubangun dengan jatuh bangun, untuk menyelamatkan dan menjaga apa yang ditinggalkan oleh Papa dan mama"
"maaf karena aku tidak pernah mencoba menghubungimu. Ada banyak masalah di perusahaan yang harus aku selesaikan. Orang orang licik selalu menjadi duri dalam daging. Aku bekerja siang malam, agar orang orang yang menggantungkan hidup mereka pada perusahaan itu tidak kehilangan pekerjaan"
"untuk beberapa waktu kita akan sulit bertemu, tapi aku akan usahakan untuk selalu menghubungi kamu" Ragil membawa Hanum ke dalam pelukannya. Lalu mengecup pucuk kepala Hanum dengan lembut.
"lalu bagaimana mana dengan perjanjian kita" tanya Hanum.
"tolong, jangan bahas itu sekarang hmmm"
Hanum mendongak, ia mengangguk sambil tersenyum. Melihat itu Ragil bergegas menciumnya dengan sangat lembut. Tangannya menahan tengkuk Hanum. Ciuman keduanya semakin dalam dan bergairah.
Sementara di apartemen Sahara. Wanita itu membuka lemari pakaiannya. Memilih sebuah gaun berwarna putih yang sangat cantik. Lalu mengenakan gaun yang panjang menjuntai ke lantai itu. Ia duduk di depan meja rias yang memiliki banyak lampu di sisi cermin. Bayangan wajah cantiknya yang terlihat sangat lelah. Karena terlalu sering menangis dan juga kelelahan.
Sahara mulai memoleskan makeup ke wajahnya dengan tangan gemetaran. Menggambar alisnya yang memang sudah tebal. Diakhiri dengan lipstik berwarna merah darah. Ia menyisir rambut panjangnya yang sangat berantakan itu. Ia duduk termenung di depan cermin. Memandangi pantulan dirinya di sana.
Sahara adalah bintang rookie yang kurang beruntung bertemu dengan seseorang seperti Alex. Sahara mulai menangis tanpa bersuara di depan cermin. Dia membuka laci, kemudian mengambil gunting kecil. Ia berjalan dengan lemah sembari menyeret gaun cantiknya itu ke arah kamar mandi. Ia menyalakan air di dalam bathtub, hingga air itu tumpah dan membasahi lantai kamar mandi.
Sahara memasukkan satu kakinya ke dalam bathtub. Kemudian kaki lainnya, sampai ia berada di atas bathtub. Dengan perlahan ia mulai mendudukkan dirinya di dalam bathtub berisi air itu. Lalu ia mengeluarkan gunting yang sejak tadi digenggamannya.
Dengan perlahan benda tajam itu menyentuh kulit pucat di pergelangan tangan Sahara. Ia memejamkan matanya saat rasa perih mulai terasa. Setelah selesai dengan gunting itu, Sahara membaringkan tubuhnya. Hingga tubuh dan kepalanya masuk ke dalam bathtub. Terlihat gelembung udara dari nafas Sahara. Tak lama air di dalam bathtub sudah berwarna merah.
Di luar pintu kamar Sahara, sang kakak yang sedang berjalan ke dapur memandang ke arah pintu dengan firasat yang tidak baik. Ia lantas mengambil palu dari laci nakas. Kemudian dengan kuat memukulkan ke arah pintu kamar Sahara. Beberapa kali, hingga suara itu membuat sang ibu ikut terbangun.
Setelah terbuka, sang kakak langsung menarik pintu itu dengan paksa. Dan langsung menerjang masuk. Tidak mendapati Sahara di atas tempat tidur, ia langsung pergi ke kamar mandi.
Matanya membulat sempurna, ketika melihat air berwarna merah darah dari bathtub. Ia buru-buru melihat ke sana. Menyadari Sahara lah penyebab warna merah itu. Dia langsung menarik tubuh sang adik dengan histeris.
Kedua wanita itu membawa tubuh Sahara dengan tertatih. Setelah memasukkan tubuh sang adik ke dalam mobilnya. Ia langsung membawanya ke rumah sakit terdekat.
Sampai di rumah sakit, orang orang melihat ke arah Sahara dengan iba dan juga ngeri. Tidak ada yang tahu apa yang sedang menimpa wanita itu. Hingga nekat memotong urat nadinya sendiri. Mereka hanya berpikir, urusan asmara yang menjadi alasannya.
Tangis pilu sang ibu di depan ruang IGD, menjadi bukti sakitnya ibu jika sang anak tengah terbaring lemah di sana. Ia tidak bisa berbuat banyak diusianya yang menjelang senja. Hanya mampu berdoa untuk keselamatan sang putri.
Sedangkan wanita cantik yang sedang berlarian mengurus keperluan sang adik dengan pakaian basah itu. Memiliki dendam teramat sangat pada orang yang sudah membuat sang adik memilih jalan yang salah. Ia akan memastikan hukuman yang setimpal untuk orang itu. Apapun bayarannya, bila perlu dia akan mengorbankan nyawanya sendiri.
*
Cahaya matahari malu malu mengintip dari jendela. Sinarnya yang menyilaukan membuat seseorang di atas tempat tidur mulai terusik. Hanum membuka matanya dengan perlahan. Ia tersenyum dengan lembut, menyadari lengan Ragil masih menjadi bantalnya sejak semalam.
Sedang satu tangan pria itu berada di atas perutnya. Hanum mengelus lembut tangan itu. Membuat si pemilik tangan menggeliat. Hanum berbalik, dan langsung menabrak dada Ragil. Ia balik memeluk Ragil. Dengan kuat menghirup aroma khas dari pria itu.
"menjauhlah" gumam Ragil dengan mata yang masih tertutup.
Hanum mendongak, melihat pria itu masih terpejam. Ia kembali menyeruakkan wajahnya ke dada Ragil. Di balas pelukan Ragil.
"tetap seperti ini" ucap Hanum.
"pukul berapa sekarang" Ragil meraih ponselnya di atas nakas. Dengan mata setengah terbuka, ia melihat jam yang menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
"aku harus segera berangkat" Ragil menyingkirkan lengan Hanum yang sedang memeluknya. Ia lantas berlari ke kamarnya sendiri kemudian masuk ke kamar mandi, lalu menutupnya. Sepeninggal Ragil, Hanum pun ikut bangkit. Ia masuk ke kamar mandinya sendiri.
Selang tiga puluh menit kemudian, Hanum sedang membuat sandwich. Ragil datang dengan tergesa-gesa. Ia menyambar satu buah sandwich dari tangan Hanum. Lalu mengecup kening wanita itu singkat.
"aku pergi dulu" pamitnya
"hem, hati hati di jalan" ucap Hanum sembari melambaikan tangannya.
Baru beberapa langkah Ragil kembali, dan langsung memeluk Hanum. Setelah itu ia langsung pergi tanpa menoleh lagi.
Ia menatap punggung pria itu dengan tersenyum tipis, tapi lama-lama senyum itu pudar. Hanum menyatap sandwich yang tersisa dengan cepat. Ia langsung pergi setelah membereskan sisa makan nya.
*
Sesampainya di Perusahaan, Hoshi telah menunggunya di lobby dengan gelisah. Ia menangkap gelagat mencurigakan dari mata pria itu.
"nona" begitu ia sampai Hoshi langsung menggiringnya ke lift khusus. Di dalam lift Hoshi menjelaskan apa yang terjadi.
__ADS_1
"jadi korban mencoba bunuh diri, bagaimana dengan pria bajingan itu" tanya Hanum antusias.
"dia terus menyangkal telah melakukan pelecehan pada aktris tersebut. Sekarang film kita terancam gagal tayang" Hanum menghentikan langkahnya saat lift terbuka.
"atur pertemuanku dengan korban" ujar Hanum sembari memijat pelipisnya.
"ah, urus masalah ini secepatnya. Dan juga urus bajingan itu, kalau perlu pecat saja dia" pesannya sebelum kembali berjalan ke arah kantornya.
Hoshi mengangguk paham, setelah melihat Hanum masuk ke dalam ruangannya dia langsung menghubungi beberapa orang kenalannya.
Sementara itu Ragil bergegas menuju ke rumah sakit saat mendengar kabar aktris dibawah naungan labelnya mencoba bunuh diri. Ia tidak bisa menemuinya, hanya sang ibu yang masih terduduk lesu.
"anda baik baik saja, bu" tanya Ragil.
Tapi ibu dari Sahara hanya menggeleng dan kembali diam. Tak jauh dari tempatnya, kakak Sahara berlarian ketika melihat kedatangan Ragil dan Miko.
"maaf presdir, sudah membuat anda terlalu lama menunggu" katanya sembari menghampiri sang ibu.
"tidak masalah, bagaimana dengan adik anda" Wanita itu terlihat sangat sedih, dari wajahnya sudah tergambar jelas.
"saat ini dia berhasil selamat, tapi dia pasti akan terus berusaha mengakhiri hidupnya" ujar wanita itu dengan air mata yang mulai menggenang.
"saya minta maaf karena tidak bisa menjaga adik anda dengan baik" ucap Ragil penuh penyesalan.
"anda tidak perlu merasa bersalah presdir, seharusnya pria itu lah yang merasa bersalah. Saya akan pastikan dia mengakui perbuatannya"
"tapi Alex bukan orang yang akan dengan mudah dijatuhkan, anda harus lebih berhati-hati" pesan Ragil .
"setelah adik saya pulih, saya akan urus semuanya. Saat ini kesembuhan adik saya jauh lebih penting"
"kalau begitu jika anda butuh bantuan, anda bisa hubungi asisten saya Miko. Dia akan mengatur semua yang anda butuhkan. Maaf siapa nama anda?"
"saya Gaby. Sebelumnya terimakasih banyak presdir" wanita bernama Gaby itu membungkuk sebentar.
"anda tidak perlu sungkan, saya pamit" Ragil menoleh pada Miko, melihat hal itu Miko mengangguk singkat.
Di ruangan rapat di perusahaan Paradewa. Alex duduk di sana bersama Hoshi. Pria itu diundang khusus oleh presdir Paradewa. Dia yang sedang berusaha menghindari panggilan polisi, sedikit bernafas lega karena ada alasan untuk mengundur kedatangannya.
"di mana presdir" tanya Alex ia melihat ke arah pintu berkali-kali.
Sedangkan Hoshi tetap santai menanggapi Alex yang mulai gusar. "anda bisa menunggu sebentar lagi tuan"
"lu pikir gue nggak punya kerjaan apa disuruh nunggu. Syuting jadi tertunda karena gue ada di sini"
"produksi film sedang dihentikan, jadi anda tidak perlu khawatir tentang hal itu. Lagi pula itu semua karena ulah anda sendiri"
"ulah apa, gara gara laporan bohong cewek ****** itu. Dia cuma pengen panjat sosial, pura pura jadi korban. Padahal dia cuma mau simpatik dari orang orang "
"anda yakin"
"gue udah di dunia hiburan lebih dari dua puluh tahun. Orang kaya dia cuma mau cara instan untuk terkenal"
"bagaimana kalau ternyata tuduhan wanita itu benar" pancing Hoshi dengan nada datar.
"siapa yang akan percaya omongan orang yang ingin terkenal"
"tuan Alex, presdir menginginkan kontrak anda dengan paradewa berakhir" Hoshi mendorong map ke depan Alex.
Alex membuka map itu, lalu tertawa keras "hahaha, itu berarti kalian siap dengan denda yang harus kalian keluarkan buat gue"
"anda akan menerimanya, dengan syarat"
"kalau begitu, jangan harap kontrak ini berakhir dengan mudah" Alex berdiri dan memandang ke arah Hoshi dengan tajam. Setelah itu ia langsung keluar dari tempat itu dengan kesal.
Sepeninggal Alex, Hoshi menghubungi seseorang. "jalankan rencana selanjutnya" perintahnya pada orang di seberang sana.
*
Sore hari saat pulang dari kantor, Hanum sengaja mengunjungi rumah sakit tempat Sahara di rawat. Ia datang sendiri ke rumah sakit. Siapa yang mengira, kedatangannya bertepatan dengan kehadiran seseorang di sana. Hanum sulit mengenali orang itu.
Alex menggunakan masker berdiri dengan tangan mengepal di hadapan seorang wanita. Ia tidak mengenal wanita itu, hanya wajah wanita itu terlihat sangat marah.
"cepat cabut laporan anda. Atau hidup adik anda benar-benar akan berakhir" ancam Alex.
"saya tidak takut dengan ancaman anda, anda juga harus tahu satu hal. Saya tidak akan pernah mencabut laporan saya" gertak wanita itu.
"saya juga tidak takut dengan laporan itu, saya hanya ingin anda menjaga adik anda dengan baik. Jika publik tahu apa yang menimpa adik anda, apa yang akan mereka pikirkan. Jika saya memutar balikkan fakta dan memainkan sedikit peran" ujar Alex dengan seringai menakutkan dari balik maskernya.
"saya punya bukti, yang akan menyeret anda ke penjara. Apa pun yang akan anda lakukan, tidak bisa mengembalikan keadaan adik saya. Hidungnya sudah sangat hancur, dia bahkan mencoba mengakhiri hidupnya karena perbuatan anda" gertak Gaby dengan keras.
"halah, gue udah coba ngomong baik baik sama lu. Dasar ******" Alex mengangkat kepalan tangannya dan bersiap menampar wajah cantik Gaby. Tiba tiba sebuah tangan menghentikan tangan Alex. Membuat Alex menatap tajam ke arah Hanum.
"Anda masih berani menemui keluarga korban, setelah perbuatan yang Anda lakukan" sindir Hanum.
__ADS_1