Forever With You My Idol

Forever With You My Idol
bab 12


__ADS_3

Hari hari semakin sibuk bagi Ragil. Ia lebih sering tidur di mobil atau di dorm, dari pada pulang saat ia dalam keadaan mengantuk. Yang justru akan semakin membahayakan keselamatannya. Makan di lokasi syuting atau terkadang di kafetaria perusahaan. Ia belum mendapat manager pengganti. Meski berkali-kali ia meminta, tapi managementnya tidak memiliki kandidat yang cocok untuknya. Jadilah ia dengan berat hati, membiarkan Chelsea yang masih dengan setia menemaninya.


"kerja bagus, comeback kali ini pasti sukses besar" puji CEO di managementnya yang bernama Gio. "terimakasih atas pujiannya" ucap Ragil dengan tulus.


Gio menggerakkan tangannya, "harusnya aku yang bilang terima kasih. kau sudah bekerja dengan sangat keras demi kesuksesan comebackmu kali ini" ujar Gio diiringi dengan tawanya.


"saya masih banyak kekurangan, tentu saya akan bekerja lebih keras lagi" ujar Ragil rendah hati.


"hahaha, tentu. Istirahatlah untuk hari ini dan besok. Supaya penampilanmu lusa nanti jauh lebih segar" Gio menepuk pundak Ragil sekali.


"terimakasih, saya pasti akan memanfaatkan waktu luang yang anda berikan untuk saya" Ragil dan Gio tertawa bersama.


"ah, untuk managermu yang baru. aku akan usahakan secepatnya"


Ragil memutuskan untuk kembali ke apartemennya sebentar. Dia tidak masuk ke dalam apartemennya. ia hanya berdiri di depan pintu apartemen Hanum. Mengetuk beberapa kali, setelah tidak mendapatkan jawaban dari dalam. Ia kembali pergi meninggalkan gedung apartemen. Menuju suatu tempat.


Hari masih siang saat ia sudah sampai di halaman rumah besar milik ia dan Hanum. Ragil tidak menemukan mobil Hanum terparkir di halaman. Ia masuk ke dalam dan langsung menuju kamar yang memang sudah disepakati untuk ia tiduri.


Ia langsung merebahkan tubuhnya. Dan tidak lama ia sudah terlelap. Tubuhnya yang sangat lelah. Memudahkan dia untuk cepat terlelap meski dalam keadaan di dalam mobil yang tidak nyaman.


*


Ragil terbangun saat ia merasa badannya basah karena keringat. Juga kamarnya yang gelap, karena hari sudah malam juga karena ia tidak menyalakan lampu saat datang tadi. Ragil meraba-raba di sekitar tubuhnya. Menemukan benda yang ia cari ternyata adalah ponselnya.


Krruuuukkk


Suara raungan cacing di dalam perutnya, membuatnya bergegas bangkit. Lalu menyalakan lampu, kemudian berjalan ke kamar mandi. Ia mencuci wajahnya di wastafel. Untuk beberapa saat ia termenung di depan cermin.


Tapi kemudian ia menyalakan shower, dan berdiri di bawah shower tanpa membuka satupun pakaiannya. Saat keluar dari kamar mandi, ia merasa dirinya benar benar sangat segar.


Karena rasa laparnya yang sudah tidak lagi bisa ia tahan. Ragil buru buru mengenakan pakaian miliknya. Dan dengan cepat turun ke lantai satu, berjalan ke arah dapur. Ketika sampai di dapur, ia tidak menemukan makanan yang bisa langsung ia makan kecuali buah. Ragil mendesah panjang.


Tapi saat melihat ke atas meja makan, ada sesuatu yang semakin membuatnya kelaparan. Sebuah mie dalam kemasan cup, yang sepertinya sedang direndam dengan air panas. Ragil menggerakkan kepalanya melihat ke sekeliling, untuk melihat apakah Hanum ada di sana.


Ia terus mengawasi sekeliling, tapi tidak menemukan siapapun di sana. Tangannya menggapai mie cup itu, lalu Ragil membuka penutup mie cup. Aroma khas dari mie itu semakin membuatnya tidak bisa lagi menahan rasa laparnya. Dia mencari sendok garpu di atas meja tapi tidak menemukannya, lalu mengambil benda itu di dalam laci.


Kemudian menyendok mie itu dalam jumlah besar. Memasukkan ke dalam mulutnya sampai mulutnya terisi penuh oleh mie. Ia dengan cepat mengunyah lalu menelan mie, sembari bergerak ke sana ke mari. Memastikan tidak ada satupun orang di sana. Ketika ia ingin memasukkan suapan kedua ke dalam mulutnya. Ia menghentikan tangannya yang sedang menyuapi mulutnya dengan mie.


Hanum berdiri dengan wajah dinginnya, ia menggenggam sendok garpu di satu tangannya. Sedangkan tangannya yang lain, memegang ponselnya. Ia menelan salivanya dengan susah payah, ketika Ragil berusaha menelan dan mengunyah mie miliknya itu.


"uhuk uhuk" Ragil bersusah-payah menelan mie disaat dia sedang tersedak. Hingga dia tidak bisa menghindari rasa panas yang langsung memenuhi hidungnya.


"mie ku" Hanum meraih cup di tangan Ragil. Dengan kecewa menyadari sudah tidak ada lagi mie yang tersisa. Sementara itu Ragil yang sedang berusaha menghindar, langsung mendapat tatapan tajam.


"mau ke mana kau" tanya Hanum dengan dingin. Ragil bergidik ngeri melihat wajah cantik Hanum yang sedang menatapnya dengan tajam.


Ia dengan sedikit takut, kembali berdiri dengan tegak. "maaf, biar ku belikan yang baru" sesalnya dengan wajah memelas.


Hanum membuang nafasnya dengan kasar. Dia berjalan ke arah Ragil. Mengangkat tangannya yang sedang terkepal. Ragil memejamkan kedua matanya, seolah bersiap menerima pukulan darinya.


Tapi saat ia merasa sebuah tangan yang bergerak melewati wajahnya. Ia membuka matanya, lalu melihat ke tangan yang menjulur ke samping kepalanya. Kemudian matanya berpindah pada sosok yang sedang berdiri di depannya dengan wajah yang sangat dingin. Tapi juga sangat berbeda. Wajah cantiknya yang sangat natural tanpa riasan apapun.


Ia tersadar Hanum sedang mengambil sesuatu di dalam lemari penyimpanan. Lalu membuka lemari yang berada di bagian atasnya. Lemari berisi beberapa mie instan. Ia menjangkau sebuah mie dalam kemasan cup yang berada di barisan paling depan. Selama prosesnya itu, Ragil melihatnya diam diam.


Hanum kembali menuang air panas yang tersisa ke dalam cup mie yang sudah di buka. Setelah itu membawanya pergi meninggalkan dapur. Ragil termenung melihat kepergiannya. Ia ikut pergi dari dapur setelah mencuci sendok dan gelas bekasnya tadi.


Dia terus berjalan ke lantai dua, mengikuti Hanum yang juga memilih naik ke lantai dua. Lalu membanting pintu dengan keras di hadapan Ragil. Sementara Ragil juga kembali ke dalam kamarnya. Dia mendudukkan dirinya di sofa. Menyalakan ponsel yang sejak tadi ia kantongi. Ia mulai berseluncur di dunia maya. Melihat video fancamnya di YT . Juga membaca beberapa artikel yang menyangkut tentang persiapan comeback nya.


*

__ADS_1


Ragil terbangun karena mendengar suara teriakan dari seseorang. Ia terduduk di sofa dengan kepala yang pusing. Mencoba mengingat kembali sejak kapan ia tertidur di atas sofa, mungkin setelah bermain ponselnya tadi. Ragil memeriksa jam di ponselnya. Sudah pukul 1 pagi, ia coba untuk mendengarkan suara teriakan itu lagi. Tapi sepertinya ia hanya sedang bermimpi tadi.


Ia berjalan menuju ke lantai satu, untuk mengambil sebotol air mineral. Lalu kembali lagi ke lantai dua. Saat tiba tiba ia kembali mendengar suara teriakan, kali ini disertai juga dengan tangisan.


Ragil buru buru mendekati pintu kamar Hanum. Ia memastikan suara itu memang berada dari dalam kamarnya. ia berusaha membuka pintu kamar Hanum yang ternyata tidak di kunci.


Kamar yang sangat gelap, hanya ada cahaya remang remang dari lampu di balkon kamar. Dia mencoba mencari saklar lampu. Ketika sekali lagi Hanum merintih juga menangis. Dia berjalan ke arah Hanum yang sedang berbaring di bawah selimut itu. Menyentuh selimut yang menutupi hingga ke wajahnya.


Ragil terkejut saat melihat Hanum masih memejamkan matanya. Ia menekan tombol lampu tidur. Untuk memastikannya lagi. Ketika lampu tidur menyala, ia bisa melihat keringat yang membasahi kening Hanum.


Tubuh Hanum kembali bergerak gelisah, sepertinya ia sedang bermimpi. "ibu" Hanum berteriak lalu terduduk dengan nafas yang memburu. Sementara Ragil berusaha menyentuh Hanum. Tapi wanita itu justru menepisnya, dan kembali berteriak memanggil sang ibu.


"ibu, ibu tolong Hanum bu" ucapnya dengan panik. Ragil membeku saat melihat Hanum seperti ketakutan. Ia berusaha keras membawa tubuh Hanum yang bergerak gelisah itu ke dalam pelukannya.


"sshhhttt, tenanglah" Ragil mendekap tubuh Hanum dengan kuat.


"lepaskan aku, dasar bajingan" Tangan Hanum memukul apapun agar Ragil melepaskannya. Tapi tenaganya kalah kuat dengan tenaga lelaki itu. "jangan menyentuhku, br******" amuknya lagi.


"kau sudah mengambil semua nya dariku, tolong kali ini jangan ganggu aku lagi. kau laki laki paling tidak bertanggungjawab yang pernah kutemui. Kau sudah mengambil semua milikku huhuhu" Hanum kembali meracau di tengah tangisnya yang terdengar sangat pilu. Kali ini tubuhnya mulai melemas. Meski suara tangisnya masih terdengar.


"maaf, aku memang b*******. kamu berhak menghukumku. aku akan menerimanya sebagai gantinya" ujar Ragil lirih di dekat telinga Hanum.


Tapi bukannya tenang, Hanum kembali mendorong tubuh Ragil. Kali ini ia berhasil melepaskan dirinya dari pelukan Ragil, dan langsung berdiri. Dia menatap nyalang ke arah laki laki itu. Dengan nafas yang masih berantakan, karena ia masih menangis.


"keluar!!!" Ragil bersiap untuk menyanggah perintah Hanum, tapi ia mengurungkan niatnya. Ia berdiri lalu berbalik. "ingat, apapun yang terjadi di dalam kamar ini. Jangan pernah berpikir untuk masuk ke dalam kamar ini. Pernikahan kita hanya sebatas perjanjian. Jangan menggunakan pernikahan untuk jadi alasan, kau dengan bebas melanggar privasi orang lain" teriaknya berusaha mengancam Ragil.


"kau pikir aku mau masuk ke dalam sini, dasar wanita gila" Ragil bergegas keluar lalu membanting pintu dengan keras.


Sementara itu Hanum langsung terduduk di lantai. Tubuhnya masih gemetaran, ia mengalami mimpi buruk itu hampir setiap malam jika ia kelelahan. Semua terjadi setelah kejadian malam itu. Ia jadi susah tertidur setelah bermimpi buruk.


*


Paginya Hanum tidak berniat untuk sarapan di rumah, karena tidak ingin bertemu dengan Ragil. Ia langsung pergi menggunakan mobilnya setelah selesai bersiap. Sedangkan Ragil yang sedang berdiri di balkon, melihat kepergian mobil Hanum dengan menghela nafas panjang. Ia kemudian kembali masuk ke dalam kamarnya.


Dia menuruni anak tangga, berjalan ke arah dapur. Lalu menyadari jika Hanum tidak membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Itu artinya wanita itu memilih tetap pergi tanpa sarapan. ia mengambil sekotak sereal dan juga susu cair. Setelah memanaskan susu, ia segera menuangkan susu itu ke dalam mangkuk berisi sereal. Dan menghabiskannya dalam waktu singkat.


Dia kembali ke dalam kamarnya, untuk membersihkan dirinya. Setelah itu ia berlatih di ruangan khusus yang sudah ia siapkan sebelumnya. Ruangan yang memiliki luas tidak terlalu besar, dan memiliki dinding yang dilapisi kaca. Sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya, saat ia sedang berlatih.


Dia menghentikan gerakannya, lalu mematikan musik. Kemudian mengangkat sambungan teleponnya itu. "hallo, kenapa ma" tanya Ragil langsung dengan nafasnya yang terengah-engah.


"mama mau main ke rumah sore nanti, kamu di rumah kan" jawab Sinta di seberang sana.


Ragil berpikir sejenak, lalu seringai aneh muncul di bibirnya. "iya, aku di rumah kok. mama nginep juga ya" pintanya.


"nggak janji ya, tapi mama mau ke sana nanti" sambung Sinta.


"oke" katanya singkat. "udah dulu ya, mama lagi bikin kue. bye" putus Sinta tanpa menunggu jawaban dari Ragil. Sedangkan Ragil mengeluarkan seringai menakutkan di wajahnya.


Kemudian ia menghentikan sesi latihannya. Lalu bersantai di ruang keluarga sembari menonton berita.


*


Elma sedang menunggu Hanum menyelesaikan tanda tangan yang dia minta. Ketika sesuatu terbang berkeliaran di ruangan itu. Matanya melihat sosok kecil berwarna hitam menempel di dinding atap.


"kecoak" teriaknya dengan keras. Membuat Hanum ikut terkejut dan langsung berdiri. "di mana" tanya Hanum sembari melihat ke sekelilingnya.


"itu tu tu" tunjuk Elma tergagap. Serangga itu terbang ke arah mereka berdua. Dan langsung membuat mereka berdua berteriak histeris. Mencoba menghindari serangga yang ternyata lebih dari satu ekor itu.


Hoshi yang sedang berdiri di depan pintu kantor Hanum, langsung mendobrak pintu dengan kuat. Bahkan sebelah pintu sampai terlempar, karena terlalu kuat. Dua wanita yang sedang berdiri di atas sofa, menatap ke arah Hoshi dengan horor. Jika Elma menggenggam lengan Hanum dengan kuat. Hanum malah menjadikan high heels nya untuk senjata. Mengarahkan benda itu ke depan.

__ADS_1


Melihat keadaan yang sangat langka itu. Membuat Hoshi berusaha dengan keras menahan dirinya untuk tidak tertawa. "apa yang terjadi, nona" tanyanya sembari menutup mulutnya dengan cepat.


"di sana" Hoshi melihat ke arah yang ditunjuk oleh Hanum. "hanya karena kecoak" gumamnya hampir tidak terdengar yang lainnya. Dia menggulung lengan kemeja hitamnya hingga kesiku. Melihat ke sekeliling, mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata untuk memukul serangga itu.


Hoshi meraih vas bunga yang tergeletak di lantai. Lalu berjalan perlahan menuju tempat serangga itu berada. Namun baru saja ia mengangkat vas bunga itu, mahluk kecil beserta temannya kembali terbang.


"aaagggrrhh" dua wanita itu berteriak sembari menuruni sofa. Kemudian keluar dari kantor Hanum. Meninggalkan Hoshi yang sudah tidak lagi bisa menahan tawanya. Meski hanya tertawa pelan.


"gue ke toilet dulu deh" pamit Elma sembari melambai pada Hanum yang sedang mendudukkan dirinya di kursi Elma.


Tak lama Hoshi keluar, "saya akan panggilkan petugas kebersihan sekarang" lapornya. Hanum hanya mengangguk, ia sedang menyandarkan punggungnya.


"kalau begitu anda ingin masuk ke dalam atau menunggu sampai petugas kebersihan datang" pertanyaan dari nya langsung mendapat tatapan tajam dari Hanum. Mengerti ia tidak perlu bertanya lagi, ia menunduk sebentar lalu pergi kembali ke ruangan kantornya.


riiing ringg


Hanum langsung mengangkat telepon intercom yang berbunyi, tidak menunggu sampai pemilik kursi datang.


"selamat siang ibu Elma, saya dari bagian resepsionis lobby utama. Ingin memberitahukan seseorang bernama Tania Ruslan ingin menemui Presdir"


"suruh dia datang ke sini"


"baik, terimakasih"


"kenapa lu angkat telepon di meja gue" tanya Elma yang baru datang dari kamar mandi. Sedangkan Hanum hanya mengedikkan bahunya tanda tidak peduli.


"gih balik ke kantor lu" usir Elma yang sudah berdiri di samping Hanum. "pinjam sebentar" Hanum semakin merapatkan kursinya ke arah meja .


"idih pinjam" ucap Elma dengan aneh.


ding


Keduanya menoleh kearah lift yang sedang terbuka. Elma heran karena orang yang ke lantai ini biasanya adalah orang penting. Biasanya juga dia akan diberitahukan kedatangan orang itu. Ketika seorang wanita cantik yang mengenakan dress selutut berwarna merah mencolok yang sangat menyakiti mata itu keluar. Ia memutar kepalanya melihat ke arah Hanum. Tidak mengerti apa yang sebenarnya akan wanita itu lakukan.


"hai" sapa Tania dengan riang. Dia berjalan dengan sangat anggun, sembari menenteng tas bermerek di lengannya. Senyum terus mengembangkan di bibirnya.


"jadi ini kantor kamu" ia melihat ke sekeliling. "ternyata kamu cuma sekretaris presdir" sambungnya saat melihat papan nama sekretaris di atas meja.


Elma bersiap membantah ucapan Tania, namun dengan cepat Hanum memberi isyarat untuk tetap diam. Hanum beralih melihat ke arah Tania dengan datar. Ia tidak berniat untuk beradu argument dengan wanita itu. Baginya peringatan kecil kemarin sudah cukup untuk membuat Tania sedikit harus lebih berhati-hati dengannya.


"kamu tidak ingin tahu kenapa aku datang ke sini" Tania melipat kedua tangannya di depan dada dengan angkuh. "tidak" jawab Hanum singkat. Elma melepas tawanya sedikit. Membuat Tania sedikit kesal.


"aku ke sini karena ingin memberimu sesuatu" Kata Tania sembari tangannya merogoh sesuatu di dalam tas jinjing miliknya. Dia mengeluarkan selembar kertas bermotif bunga berlapis plastik, lalu menyodorkan kertas yang sepertinya undangan pada Hanum.


"undangan pernikahanku, minggu depan datanglah dengan tunangan mu"


Hanum menerima undangan itu, ia melihat sekilas. Kemudian meletakkannya di atas meja. Seolah tak peduli dengan benda itu. Tania mengartikan sikap Hanum yang menurutnya tidak menghargai pemberiannya. Ia ingin kembali membuat Hanum marah, dengan menyinggung perasaan Hanum.


"datanglah sebagai seorang teman lama, kau bisa menggandeng tunanganmu. Atau kau bisa gunakan wajahmu untuk merayu bosmu untuk menemanimu. Kalau kamu bisa, aku akan berhenti mengganggu mu" Tania merasa telah membuat Hanum kembali marah.


Nyatanya Hanum hanya mengedipkan matanya, dan wajahnya masih datar. Sementara Elma sudah tidak tahan untuk mengumpat wanita itu dengan kasar. "heh, cantik cantik ternyata tukang bully. mulut lu nyatanya emang pedes ya. mau ditutupi kaya apa pun nggak akan bisa. nggak nyangka banget" sindir Elma yang berhasil membuat Tania naik pitam.


"diam kamu, ini bukan urusan mu" gertaknya sembari menghentakkan kakinya. "Hanum, aku akan menunggu kedatangan mu. kalau begitu aku pergi dulu ya. Persiapan pernikahan sedang menunggu ku" pamitnya.


Tania langsung berbalik, lalu berjalan menuju ke arah lift. Ketika tiba-tiba Hanum bersuara. "kukira Atala membatalkan pernikahan kalian" mata indah itu melirik dengan tajam.


Sedangkan Tania kembali menghentakkan kakinya dengan keras, lalu melanjutkan langkahnya menuju lift.


"wah, gue udah pengen garuk muka dia tadi" umpat Elma dengan kesal.

__ADS_1


"kecoak di dalam lebih ingin ku lempar ke wajahnya" untuk pertama kalinya Elma mendengar Hanum berniat tidak baik. Ia tertawa bahagia dengan sikap temannya itu.


"wah, ternyata lu banyak berubah" ia bertepuk tangan dengan riang sembari tertawa. "mau tahu rasanya saus tomat" ujar Hanum dengan datar. Elma dengan panik menggeleng cepat. "nggak, terimakasih" ucapnya panik. Ia benci dan sangat takut dengan saus tomat. Jadi ia tidak ingin membuat Hanum kembali membahas saus tomat.


__ADS_2