
Ragil mengemudikan mobilnya dengan kesal. Siapa yang menyangka wanita cantik yang terlihat polos itu bisa membuatnya kesal setengah mati. Dia kembali menyugar rambutnya, lalu menyandarkan punggungnya. Mengurangi kecepatan mobilnya saat masuk ke kawasan padat penduduk. ddrrrrt ddrrrrt, terdengar getaran ponsel yang dia tahu bukan miliknya. Kepalanya menoleh ke bangku penumpang. Menemukan benda pipih itu berada di sana. Bergetar berulang kali. Ragil mendengus, lalu menepikan mobilnya. Sempat ragu, tapi kemudian meraih benda itu. Saat akan menggeser logo hijau, panggilan berakhir. Tapi kemudian nama yang sama memanggil lagi.
'Sekretaris Elma' nama yang tertera di layar ponsel itu. Dia berpikir akan memberitahu keberadaan Hanum agar sekretarisnya datang menjemput wanita itu. "Halo, kenapa nggak diangkat dari tadi sih. Ini gue udah di depan lobby. Bawain obat anti nyeri buat lu" cecar Elma saat dia menjawab panggilan itu. apa wanita itu sakit, "hallo, Hanum. lu dengerin gue nggak..." tuuutt tuuutt.
Ragil menyalakan mesin mobilnya. Kemudian menginjak pedal gas. Dia berbelok dengan cepat, membuat orang yang berada di dalam mobil lain terkejut lalu memakinya. Ragil tidak memperdulikan makian orang orang padanya. Dia harus kembali ke tempat tadi. Tiba-tiba dia merasakan perasaan seperti takut kehilangan. Dia Kembali ke tempat itu, tapi hanya menemukan sebuah motor yang terparkir di bawah tiang lampu. Matanya mencari keberadaan Hanum. Kakinya tidak sengaja menginjak sesuatu. Itu adalah sebelah sandal yang dia yakini milik Hanum.
Dari tempatnya berdiri, tiba tiba terdengar suara wanita berteriak meminta tolong. Tanpa berpikir panjang. Ragil berlari ke arah sumber suara itu. Cukup sulit mencari seseorang di malam hari tanpa penerangan yang cukup. Hanya bergantung dengan suara. "tolong" Lagi suara itu terdengar lalu disusul suara orang tertawa, kali ini tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ragil menajamkan kedua matanya, lalu menangkap pergerakan di arah semak belukar. Ragil langsung bergegas mendekati suara itu. Semakin dekat dia bisa melihat Hanum yang sedang berusaha berjalan di tengah semak, sedangkan di belakangnya dua orang lelaki sedang tertawa bersama. Sudah siap menangkap tubuh Hanum.
Ragil berlari secepat mungkin ke arah dua lelaki itu. mengangkat tendangannya ke arah salah satu orang. buuk, Membuat orang itu jatuh tersungkur cukup keras. Sedangkan orang satunya lagi terkejut, lalu berbalik untuk melihat siapa yang melakukan itu. Tapi gerakannya kalah cepat. Tinju dari tangan Ragil tepat bersarang di bagian mata kirinya. lelaki itu terhuyung tapi tidak sampai terjatuh. "brengsek, siapa lu" maki lelaki yang ditendang Ragil tadi sembari berdiri. Belum sempat berdiri tegak, tubuhnya kembali ditendang Ragil. Dua orang itu melawan Ragil dengan gerakan yang tidak terarah. Namun terbaca jelas oleh Ragil. Bunyi benda seperti tulang patah terdengar. Saat Ragil menendang tangan lelaki dengan tato di wajahnya. "aaagggrrhh"
"bro cabut bro" temannya yang lain sudah berlari menjauh. Kemudian lelaki dengan lengan yang patah ikut menyusul temannya dengan terseok-seok. Ragil memutar tubuhnya, untuk mencari Hanum di semak. "Ha Hanum" Dia mendengar suara isak dari balik pohon. Tak menunggu lama Ragil sudah berdiri di hadapan Hanum yang sedang meringkuk di bawah pohon. Ragil mengeluarkan ponsel milik Hanum, lalu menyalakan lampu di ponselnya.
"maaf" Hanum masih terisak terlihat samar dari bahunya yang bergerak naik turun. Ragil membawa tubuh Hanum ke dalam pelukannya. Membuat wanita itu memberontak. Tapi Ragil tidak membiarkan Hanum bergerak. Dia terus memeluk tubuh Hanum. "maaf, seharusnya aku tidak meninggalkanmu" Ujarnya lirih. Tubuh itu mulai melemas, tidak lagi bergerak atau mendorong tubuhnya. Hanum sepertinya jatuh pingsan. Ragil menyelipkan satu tangannya di bawah lutut Hanum. sedangkan satu tangannya lagi di punggungnya. Dengan sekali angkat tubuh Hanum sudah berada di dalam gendongannya.
Ragil meletakkan tubuh Hanum dengan perlahan, lalu memakaikan sabuk pengaman. Dia memandang wajah Hanum yang tampak sangat berantakan. Rambutnya yang basah oleh keringat sedikit menempel menutupi wajah cantiknya. Tangan Ragil terulur, merapihkan rambut yang menutupi wajah Hanum. Saat pandangannya turun ke bibir indah itu. Dia melihat cukup lama. apa yang sedang kamu pikirkan, Ragil. cepat sadarlah. Dia buru-buru menarik tangannya. Saat akan menutup pintu mobil, matanya menangkap sesuatu di bagian perut Hanum. Ragil melihat kemeja putih itu berlumuran noda darah di bagian perut. Tadi karena gelap dia tidak bisa melihat ada darah di sana.
Tanpa berpikir panjang, dia berlari ke arah kemudi langsung mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat itu. Matanya melihat kiri dan kanan jalan, berusaha mencari keberadaan rumah sakit. Sesekali ia melirik ke arah Hanum yang tampak tertidur sangat lelap. Isi kepalanya sibuk merutuki kebodohannya karena meninggalkan Hanum seorang diri tadi. Saat ini Ragil yang biasanya bersikap tidak peduli pada orang lain justru terlihat sangat khawatir. Beberapa kali dia mengacak rambutnya. Dia membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Menyalip beberapa mobil dengan cepat. Membuat para pengemudi lain geram dibuatnya. Ragil tidak peduli. saat ini dia harus membawa Hanum ke rumah sakit.
*
Setelah memarkirkan mobilnya di depan pintu IGD, Ragil langsung mengangkat Hanum. Membawanya langsung masuk, kemudian meletakkan tubuh Hanum dengan hati hati di atas tempat tidur. "dokter tolong" teriaknya saat orang orang hanya memandangi dia dengan terkejut. Suster dan dokter jaga yang tersadar, langsung memeriksa keadaan Hanum. Beberapa orang yang berada di ruangan itu tampak berbisik. Mereka melihat Ragil dengan ekspresi tidak percaya. Ada yang mengambil fotonya diam diam.
Beberapa menit dia berdiri dengan tegang. Hingga seseorang menegurnya. "anda walinya" seorang dokter wanita yang tadi mameriksa Hanum menghampiri Ragil. "iya dok" jawabnya. "mari ikut dengan saya" Ragil mengikuti dokter tadi sampai di ruangan khusus, yang sepertinya ruangan dokter jaga.
"sebelumnya maaf apa hubungan anda dengan pasien" pertanyaan dokter itu seolah ingin menegaskan jika informasi yang akan dia sampaikan bersifat rahasia. "saya suaminya" dokter tadi tampak terkejut tapi kemudian dia kembali tersenyum ramah. "baiklah kalau begitu. Pasien sekarang dalam kondisi yang cukup serius. Luka tusuk di bagian perut sudah kami jahit. Beruntung benda yang menusuk perut istri anda tidaklah dalam, sehingga tidak sampai mengenai bagian vitalnya. Tapi karena kondisi istri anda yang sedang datang bulan. Juga darah yang keluar cukup banyak karena robekan pada bagian perut yang tertusuk lumayan besar. Kami akan memeriksa apakah istri anda membutuhkan transfusi darah atau tidak. Untuk sementara hanya itu yang saya sampaikan. Pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan. Untuk itu silahkan anda kebagian administrasi untuk mengurus prosedur rawat inap" Jelas dokter wanita itu dengan sopan.
Ragil mendengarkan penjelasan dokter itu dengan seksama. Seolah takut dia akan tertinggal hal penting. Setelah mengetahui keadaan Hanum, Ragil sedikit merasa tenang. "kalau begitu terimakasih dokter, saya permisi" Dokter itu mengangguk lalu tersenyum ramah pada Ragil.
"jadi skandal itu benar adanya, sayang sekali" gumamnya saat Ragil sudah pergi.
Kamar VIP
Tubuh Hanum sudah mengenakan pakaian rumah sakit. Terbaring di atas tempat tidur. Tangan kanannya terpasang jarum infus. Wajahnya yang putih, semakin putih pucat. Jadi membuatnya terlihat seperti mayat. Ragil yang baru datang berdiri di sebelah tempat tidur itu. Dia memeriksa jam tangannya. sudah pukul 1 malam. Dia berpikir untuk menghubungi keluarga Hanum. Tapi dia mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Rasanya tubuhnya sangat lelah. Dia berjalan ke arah sofa. Kemudian merebahkan tubuhnya di sana. Tidak butuh waktu lama matanya terpejam. Nafas yang teratur terdengar darinya. Ragil tertidur di atas sofa dengan kaki yang menjuntai ke lantai. Posisi itu sangat tidak nyaman.
*
Keesokan paginya, saat Hanum terbangun yang pertama kali dia lihat adalah wajah Elma yang sangat khawatir. "Sudah bangun, sekarang apa yang lu rasain, ada yang sakit. Gue panggilin dokter ya. Atau lu mau minum atau mau makan" Elma langsung mencecarnya dengan banyak pertanyaan.
Hanum menggeleng, dia menggunakan tangannya membentuk kepalan lalu mengarahkan ke mulut. Seperti seseorang yang sedang minum. Saat bangun tadi tenggorokannya terasa kering. Kedua tangannya menopang tubuhnya, berusaha untuk duduk. Dibantu Elma akhirnya dia bisa duduk."oh minum, tunggu sebentar" Elma menyambar gelas berisi air putih yang sudah terisi air. Lalu menyodorkan gelas itu dihadapan mulut Hanum. Dia memegang gelas itu, kemudian meneguknya sampai tandas.
"mau minum lagi" tanya Elma. "tidak, sudah cukup" jawab Hanum. Kali ini dia melihat ke sekeliling. Mendapati tempat asing yang dia lihat. "ini dimana" Elma mengikuti kemana mata Hanum melihat. "bukankah ini rumah sakit" Kali ini tebakannya membuat Elma menggaruk tengkuknya.
"lu nggak tahu kenapa di bawa ke sini' Lagi lagi Hanum menggeleng. Mata indahnya menatap Elma lekat. "tertusuk benda tajam di bagian perut, terus ada orang baik yang bawa lu ke rumah sakit" Jelas Elma. "Orang itu siapa" Elma mengedikkan kedua bahunya, Dia sudah berusaha bertanya pada pihak rumah sakit. Tapi tidak mendapatkan apa-apa.
"lu kenapa bisa begini. Lu itu orang yang paling hati hati kalo menurut gue. Apa lu punya musuh. Atau gara gara berita lu itu, ada orang yang berusaha nyerang lu" Elma berusaha berspekulasi dengan kejadian semalam.
"aku hanya terjatuh, lalu tidak sengaja menimpa sesuatu yang tajam" ucapan Hanum tidak sepenuhnya berbohong. Hanum mengingat kejadian semalam. Saat dia berlari masuk ke dalam semak belukar. Dia menabrak apapun yang dia lewati. Luka yang dia dapat karena saat terjatuh dia menimpa sesuatu yang tajam. Tapi dia tidak tahu benda apa itu. Karena Hanum kembali berdiri untuk melarikan diri dari kejaran dua lelaki yang mengejarnya.
"terus luka ini karena nggak sengaja nginjek kaca" Hanum mengikuti arah tangan Elma yang menunjuk telapak kakinya yang terbalut perban luka. "gue mungkin cuma bisa khawatir. Tapi gimana kalo presdir yang liat. Dia pasti cari siapa pelakunya" ujar Elma.
"bokap lu dari semalam telepon gue. Dia bilang tiba tiba punya perasaan engga enak. oh gue inget lu lagi datang bulan. Tapi Dia tetap minta gue buat telepon lu. Dari pulang kantor gue hubungin lu, sampai dateng ke apartemen lu. Malah pagi pagi dapat telepon dari rumah sakit. pas bokap lu telepon gue, kondisi gue lagi panik. ya udah gue keceplosan. maaf ya" Elma mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya.
bruukkk
Dua wanita itu melihat ke arah pintu yang dibuka dengan kasar. Seorang lelaki paruh baya yang masih mengenakan piyama tidur mendekati mereka berdua. Di susul seorang lelaki berusia 30an yang ikut masuk ke dalam. "apa kamu baik baik saja" pertanyaan itu diiringi nafasnya yang terengah.
Hanum melirik lelaki di belakang ayahnya. "Presdir langsung datang ke mari" menjelaskan pakaian yang dikenakan ayahnya. Kali ini mata Hanum fokus pada ayahnya. Rambut yang berantakan, wajah bangun tidur ayahnya yang tetap berkharisma. Dulu dia selalu melihat penampakan ayahnya yang seperti ini.
Hanum baru sadar jika Elma dan asisten sang ayah sudah tidak ada di ruangan itu. "ayah tidak perlu sampai datang ke sini, aku baik baik saja" Hanum meremas kedua tangannya di balik selimut. Wajah ramah ayah nya seketika menggelap. "apa ayahmu tidak berhak khawatir setelah mendengarmu terluka" teriak Dewa dengan keras. Otot di wajahnya terlihat jelas jika lelaki itu sangat marah.
"aku bisa menjaga diri ku sendiri ayah, bukankah selama ini ayah tidak peduli" Satu kalimat yang kembali menyulut api emosi Dewa. Tapi kali ini Dewa bisa mengatasinya. "Apa salah jika ayah hanya ingin kamu bahagia" kata Dewa dengan lembut.
"apa yang ayah tahu tentang bahagia, memaksaku berhenti dan meninggalkan hobiku. setelah itu ibu meninggalkanku karena keegoisan ayah" kali ini Hanum yang berteriak. Dua orang di luar pintu terkejut. pasalnya baru kali ini mereka mendengar Hanum meninggikan suaranya.
"Hanum" "sudah cukup, ayah. aku akan berperan sebagai putrimu dengan baik di depan semua orang. tapi mulai sekarang jangan memintaku untuk mengikuti semua keinginanmu" gara gara ayah, Ragil meninggalkan ku di tempat gelap dan sepi. lalu dua orang brengsek membuatku ketakutan ayah. Hanum mengatakannya dengan terisak. yang semakin lama semakin kencang.
__ADS_1
Dewa yang melihat putrinya enggan melihat kedatangannya memutuskan untuk keluar ruangan. meninggalkan Hanum yang masih menangis. Dia melihat ke arah Elma. " tolong tetap bersama Hanum" pintanya. yang dibalas anggukan oleh Elma meski sedikit bingung. Selanjutnya dia beralih pada lelaki di samping Elma.
"kamu tidak perlu mengantarku. tetap di sini" perintahnya, lalu berjalan menjauhi mereka berdua. Elma menatap punggung bosnya dengan iba. Hubungan anak dan ayah yang sudah semakin renggang membuatnya ikut bersedih. "masuklah, saya akan di sini" perkataan seseorang memutus lamunannya.
"hm, gue masuk dulu kak" pamitnya. Lelaki itu mengangguk dan tersenyum sopan. Saat masuk Hanum tidak lagi menangis. Sahabatnya itu sedang berbaring dan memejamkan kedua matanya. Tidak ingin menganggu Hanum, Elma memutuskan untuk duduk di sofa. Dewa tidak sebenarnya pergi dari rumah sakit. Dia menunggu seseorang di lobby, tidak lama orang itu menghampiri dia.
"sudah lama" Dewa mendongak, lalu berdiri. "bisa bantu aku" orang itu terkejut, alasannya karena teman lamanya ini jarang meminta bantuan apapun darinya. "tentu, katakan saja" kata lelaki seumuran dengannya yang mengenakan jas putih. "putriku di rawat di sini, aku ingin menemui dokter jaga yang menangani dia saat pertama kali datang ke sini. tapi perawat bilang dia sudah pulang" "ah, kau ingin dokter jaga itu atau kau ingin tahu siapa yang membawa putrimu ke sini" sela dokter itu. Dewa mengangguk wajahnya sangat serius. "ikut aku" ujar dokter itu tak kalah serius.
*
Ragil baru saja keluar dari gedung management nya. Berita skandalnya semakin heboh. Foto dirinya dan Hanum saat keluar dari lift tersebar luas. Untung tidak ada satu pun wajah Hanum yang terlihat. Karena itulah management memintanya segera menyelesaikan masalah ini. Dia duduk di dalam mobilnya. Kemudian memeriksa ponselnya. Saat tiba tiba ada panggilan masuk dari Sinta.
"hallo" begitu sapanya. "di mana" suara Sinta terdengar sangat ketus. "di perusahaan, kenapa" dengar helaan nafas yang keras dari Sinta. Hingga membuat Ragil mengernyitkan dahinya. "bisa antar mama jenguk seseorang" Ragil mengangguk "oke, Ragil jemput mama sekarang" Sinta tak mengatakan apapun, langsung memutus sambungan telepon. Ragil berpikir ibunya masih marah tentang kejadian malam itu. Sampai dugaannya salah besar.
Ketika sampai di rumah orang tuanya. Kedua orang tuanya sedang duduk di ruang tamu dengan seseorang yang Ragil cukup tahu orang itu. "duduk" Rama menunjuk sofa di depan nya dengan menggerakkan dagunya. Ragil coba mencari jawaban dari Sinta. Tapi mamanya itu membuang muka. Tanpa menyela perintah papanya, Ragil duduk di tempat yang ditunjuk Rama.
"dia sudah di sini, Wa. silakan tanyakan langsung" Ragil melihat wajah pria yang dia tahu adalah ayah Hanum tampak sangat marah.
"kamu dan Hanum, apa yang kalian lakukan semalam" Dewa menekan dua kata terakhir. wajah Ragil berusaha tetap tenang.
"tidak melakukan apapun yang om khawatirkan. aku hanya membawanya keluar dari gedung apartemen. lalu berpisah dengan dia di jalan" jawab Ragil dengan tenang.
"bagaimana dengan luka di perut Hanum" Kali ini Ragil menoleh ke arah sang mama. Tapi sekali lagi wanita yang telah melahirkannya itu membuang muka. "Ragil, tidak tahu om" Ragil menunduk.
"lalu kenapa kamu mengaku sebagai suami Hanum" Kali ini pertanyaan itu datang dari sang ibu. Lidah Ragil tiba-tiba kelu, dia tidak berhasil menyangkal apapun.
"kamu yang membawa Hanum ke rumah sakit, lalu mengakui dia sebagai istrimu kan. Bahkan seseorang di rumah sakit membuat postingan tentang kalian berdua. berita yang langsung mendapat tempat no 1 itu. Berasal dari mulut mu sendiri. Sekarang hancurnya karirmu bukan karena papa. Tapi karena ulahmu sendiri. Kami menghendaki kalian untuk menikah. Sebelumnya, kalian menolak perjodohan itu. Tapi apa yang membuatmu mengakui Hanum istrimu" Rama ikut menambahkan.
"apa yang sudah kamu lakukan, tolong katakan sekarang. papa akan membuat keputusan setelah mendengar jawaban dari mu" Kali ini Ragil dibuat benar benar tidak berkutik. "aku tidak melakukan apapun pa" ucap Ragil meyakinkan Rama yang tampak sangat marah.
"kalau begitu nikahi Hanum, itu keputusan papa" Jelas Ragil menolak. Tapi melihat 3 orang paruh baya yang menatapnya dengan tatapan tajam dia tidak berani menyela. "aku tidak bisa menikahi dia, pa. aku mohon"
"kenapa" Ragil tidak bisa menjawab pertanyaan dari Dewa dan kedua orang tuanya. Entah apa yang sebenarnya menjadi alasan dia tidak mau menikah Hanum.
__ADS_1