Forever With You My Idol

Forever With You My Idol
bab 13


__ADS_3

Hanum pulang dari kantornya lebih awal, ia begitu lelah karena pekerjaannya sudah selesai dengan cepat. Ia juga tidak ingin serangga yang masih bersembunyi di kantornya menyerangnya dengan tiba-tiba. Siapa yang mengira, petugas kebersihan tidak ada yang berani membersihkan kantornya. Hanya karena ia sedang berada di kantor. Kalau menurut Elma, para pekerjanya segan melihat wajah cantik Hanum. Yang terkesan sangat dingin.


Saat mobilnya sampai, ia melihat ada mobil lain terparkir di sebelah mobil milik Ragil. Ia tidak ingin terlalu mencari tahu pemilik mobil tersebut. Jadi setelah keluar dari mobilnya, ia langsung masuk ke dalam rumah.


"sayang, kamu sudah pulang" suara seseorang yang tidak asing untuk nya membuatnya berhenti berjalan. Kemudian menoleh ke arah sumber suara. Hanum menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis.


"mama, kapan datang" tanyanya yang melihat Sinta sedang menata sesuatu di atas piring. Sembari berjalan mendekat.


"mama baru banget datangnya, kamu ganti baju dulu deh. mama siapin ini dulu" pinta Sinta yang sedang sibuk dengan makanan di depannya.


Hanum hanya mengangguk, ia kemudian berbalik dan kembali berjalan ke lantai dua. Membersihkan dirinya lalu berganti pakaian. Setelah itu ia menuruni tangga menuju ke dapur. Ketika dia melihat pemandangan yang sangat membuatnya merindukan seseorang.


Di sana, Ragil sedang memeluk ibunya dengan manja sembari tertawa bersama dengan sang mama. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, sampai tidak menyadari kedatangan Hanum.


"ehem" Hanum berusaha memberitahu keberadaannya dengan berdehem. Ketika mendengar deheman seseorang, Ragil melepaskan pelukannya. "sini sayang, mama udah buatin makanan kesukaan kamu tadi sebelum ke sini" ucap Sinta sembari menyambutnya.


Hanum mengikuti ibu mertuanya itu, untuk melihat menu makanan yang sudah tersusun rapi di atas piring. Dia mengelus perutnya yang sepertinya mulai tidak sabar untuk segera diisi.


"Ragil, makannya pakai nasi" perintah Sinta yang melihat sang putra hanya memakan sayur tanpa nasi.


"aku diet, ma" kilah Ragil yang melihat Sinta sedang menyodorkan nasi ke atas piringnya.


Kedua wanita itu menatapnya tak percaya. "kenapa harus diet segala" selidik Sinta.


"besok comeback, setidaknya penampilan ku harus bagus" ucap Ragil meyakinkan.


Sinta kembali menarik tangan yang sedang memegang tempat nasi. Lalu meletakkannya kembali ke atas meja. Hanum melihat wajah mertuanya yang sedikit sedih. Untuk itu dia mengangkat piring nya yang masih kosong. Dan mengarahkan benda itu ke arah Sinta.


Sementara sang mertua langsung tersenyum. Ia juga langsung meraih piring Hanum. Mengisinya dengan nasi, kemudian mengambil lauk kesukaan sang menantu.


"terimakasih" ucap Hanum saat Sinta menyerahkan piring yang sudah berisi itu padanya. Sinta tersenyum membalasnya.


Mereka bertiga makan dalam diam. Setelah selesai makan, mereka bergeser ke ruang keluarga. Karena hari yang sudah malam, juga karena hujan yang tiba-tiba turun dengan deras. Ragil meminta Sinta untuk menginap di sana.


"mama nginep ya" usul Ragil. "nggak lah, mama nggak mau ganggu pengantin baru" goda Sinta.


Tapi pada akhirnya ia tetap menginap. Saat Hanum dan Ragil hanya berdua di ruang keluarga. Tanpa ada Sinta di sana. Ragil mulai mengutarakan pendapatnya.


"mama biar tidur di kamarku, nanti aku tidur di ruang latihan" usulan yang langsung dapat persetujuan dari Hanum.


"oke" Hanum bangkit. Kemudian naik ke lantai dua. Menyusul sang mertua yang sedang membersihkan dirinya di dalam kamarnya. Dia menunggu di atas ranjang, sembari memeriksa ponselnya.


"mana Ragil" Hanum mematikan ponselnya lalu mendongak ke arah Sinta yang baru keluar dari kamar mandi.


"dia masih di bawah, ma" Sinta mengangguk mengerti. Dia ikut duduk di atas ranjang berukuran besar itu.


"apa kalian tidak tidur di kamar yang sama" tanya Sinta.


Deg


Hanum seperti telah tertangkap basah oleh sang mertua. Dia hanya menggeleng lemah. Tidak berniat membohongi sang mertua lebih jauh. Sedangkan Sinta justru tersenyum melihat kepolosan sang menantu. Dia membelai surai Hanum dengan lembut.


"apa kamu masih belum yakin dengan Ragil"Sinta kembali bertanya, namun Hanum tidak menjawabnya. "tidak apa-apa, mama mengerti. kamu pasti tidak akan mudah membuka hatimu untuk dia"


"Hanum, tidak yakin Ragil bisa menerimaku ma. Hanum punya banyak kekurangan" ujar Hanum lirih.


Sinta tersenyum dengan lembut, "bagaimana kalau ternyata Ragil yang memiliki banyak kekurangan. Dia bahkan pria yang manja" hiburnya. Dia sudah membuangku, ma. batin Hanum.


"kami dulu menikah juga karena terpaksa, tapi mama belajar banyak hal ketika memutuskan untuk menjadi seorang istri yang baik" Hanum menundukkan kepalanya dalam.


"bahkan mama mendapatkan kebahagiaan yang tak pernah mama dapatkan dari orangtua mama. Yaitu kedua anak mama" lanjut Sinta. Ia terus menenangkan perasaan sang menantu.


Maafkan Hanum, ma. Batinnya ingin sekali berteriak, memberitahu semua yang sudah terjadi padanya. Tapi dia tidak ingin menghancurkan perasaan mertua yang sangat baik itu.


*


Ketika tengah malam, Sinta terbangun karena mendengar suara rintihan seseorang. Dia menyalakan lampu tidur. Lalu terkejut saat melihat Hanum sedang terisak. Sinta buru buru mendekati Hanum. Tapi dia hanya melihat mata yang tengah terpejam.


"Hanum, Hanum" panggil nya ketika sang menantu tidak kunjung membuka matanya. Dengan panik ia berusaha membangunkan Hanum. Berhasil, Hanum tersadar.


Hanum yang terbangun dengan mendadak, membuatnya masih mengingat dengan jelas mimpi buruknya itu. Dia meringkuk dalam keadaan duduk. Menyadari ada yang tidak beres dengan sang menantu, Sinta langsung memeluk Hanum.


"shhhhttt tidak apa-apa, itu cuma mimpi" ucap Sinta menenangkan. Bukannya tenang Hanum justru menangis dengan keras di dalam pelukan Sinta.


Cukup lama Hanum menangis, lalu kembali tertidur pulas setelah selesai menangis. Sinta tidak kembali tidur. Dia memandang wajah tenang sang menantu yang sedang tertidur. Ada jejak jejak air mata di wajahnya.

__ADS_1


Memikirkan bagaimana bisa wanita setangguh Hanum memiliki pengalaman buruk. Sampai membuatnya mengalami mimpi buruk. Dia memutuskan untuk ke dapur. Ingin mengambil minum untuk dia sendiri.


Ketika sampai di dapur, ia terkejut mendapati sang putra sedang termenung di meja makan. "Ragil, kamu belum tidur" tanyanya sembari menepuk pundak Ragil.


Ragil mendongak, "cuma mau minum ma, habis ini juga tidur lagi"


"hm, tidur lah. mama ke atas lagi ya" ujar Sinta setelah mendapatkan segelas air minum untuk dia.


"ma" panggil Ragil.


Sinta menghentikan langkahnya, lalu berbalik. "selamat malam" kata Ragil. Meski tahu yang ingin dikatakan Ragil, Sinta memilih untuk tetap diam. Dia tersenyum untuk membalas salam sang anak. Lalu kembali ke kamar Hanum.


*


Tepat pukul 4 sore di hari minggu, video musik milik Ragil di tayangkan. Sejak ditayangkan lagunya langsung mendapat perhatian dari para penggemarnya. Tranding 1 di situs berbagi video YT. Dalam waktu singkat, Ragil berhasil menduduki tangga lagu.


Karena itu lah, beberapa hari setelah comeback-nya ia kembali sibuk. Menghadiri jumpa penggemar, lalu wawancara dengan beberapa stasiun televisi.


Sedangkan Hanum juga sibuk dengan proyek baru di perusahaan miliknya. Setelah 2 hari ke luar kota, ia kembali ke rumah di saat menjelang pagi. Rumah yang dia tinggalkan dalam keadaan lampu menyala. Masih dengan keadaan yang sama.


"apa laki laki itu tidak pulang ke rumah" tanyanya pada diri sendiri, saat melihat tidak ada perubahan pada perabotan di rumah itu.


Dia melanjutkan naik ke kamarnya. Tubuhnya sudah benar-benar lelah. Saat dia sudah merebahkan tubuhnya, dia langsung terlelap.


Ia terbangun saat matahari sudah berada di tengah tengah. Yang artinya sudah siang hari.


Hanum memeriksa ponselnya, teringat akan sesuatu setelah melihat tanggal hari itu. Hari ini adalah hari pernikahan Tania dan Atala.


Dia menghubungi seseorang, "apa kamu bebas hari ini" tanyanya langsung.


"sorry, Num. gue lagi sakit gigi" jawab Elma di seberang sana.


"oh, semoga lekas sembuh" doanya. Ia kemudian memutus sambungan teleponnya.


Lalu menekan nomor lainnya. "jam 7 malam ini, di hotel Y" katanya singkat.


Seolah tak ingin mengecewakan teman lama. Hanum memutuskan datang ke acara pernikahan itu. Dia tidak mungkin membawa Ragil ke sana. Banyak wartawan yang siap menyebarkan berita tentangnya dan Ragil jika datang bersama.


Dan di sinilah dia sekarang, di sambut oleh Hoshi yang sigap membukakan pintu mobil untuknya. Hoshi berbisik di telinga Hanum sebentar. Lalu ia menoleh untuk melihat jajaran karangan bunga yang berjajar rapi di halaman hotel Y. Ada karangan bunga darinya, juga dari jajaran direksi di perusahaan miliknya. Siapa sangka ayah Tania adalah salah satu direktur di perusahaan miliknya. Bahkan dia juga mendapat undangan dari ayah Tania.


Senada dengan Hanum, Hoshi juga mengenakan setelan jas yang biasa digunakan saat berkerja. Jika tidak ada yang tahu, mungkin beranggapan mereka adalah pasangan kekasih.


Kedatangan mereka cukup menyita perhatian para tamu undangan, juga Tania yang langsung kesal melihat Hanum. Justru respon ayah Tania jauh lebih senang kedatangan orang penting di perusahaan. Pria paruh baya bernama Ruslan itu langsung menyambut kedatangan Hanum dengan sangat baik.


"selamat atas pernikahan putri anda" Ujar Hanum singkat.


Sedangkan Greta juga Tania memandang perlakuan Ruslan dengan jengkel. "terimakasih atas kedatangan anda, nona. saya benar benar sangat beruntung" ucap Ruslan dengan riang.


Hanum hanya mengangguk, ia dan Hoshi kemudian di antar ke meja tamu oleh Ruslan. Setelah itu Ruslan membawa istri dan anak juga mantunya untuk menyapa Hanum. Pada awalnya kedua wanita itu menolak. Namun karena paksaan dari Ruslan, akhirnya mereka menurut.


"nona, perkenalkan ini istri dan anak juga menantu saya" kata Ruslan yang y kembali datang bersama ketiga orang itu yang.


Hanum kembali berdiri, dia tetap mengeluarkan ekspresi wajah datarnya. Di susul Hoshi yang ikut berdiri. "siapa laki laki ini" tanya Tania penasaran.


"Tania, jaga bicaramu" gertak Ruslan.


"ah, bukankah tunangannya itu seorang idol" tambah Greta yang sudah mengetahui fakta itu dari Tania.


Hanum melihat ke arah kedua ibu dan anak itu dengan malas. Lalu kembali duduk dalam diam. Yang malah semakin membuat Tania jengkel.


"apa kau berselingkuh dengan laki-laki ini, wah bukankah ini berita yang sangat bagus, benarkan ma" mendengar ucapan sang anak, Ruslan menatap Tania dengan tajam.


"Tania, cukup. Jangan membuat ulah lagi. Atala, tolong bawa istri mu kembali" pinta Ruslan. Sementara Atala dengan enggan, ia menarik Tania dengan setengah paksa. Disusul Greta yang pergi dengan wajah angkuhnya.


"maafkan kelakuan anak dan istri saya, nona. saya benar benar menyesal" sesal Ruslan. Dia bahkan membungkuk sebelum pergi menyusul keluarganya.


Sepeninggal Ruslan, Hanum hanya diam. Wajahnya menggambarkan keadaannya yang tidak baik. Hoshi menyadarinya, ia menyodorkan segelas air putih yang berada di tengah meja itu.


"Hoshi" panggil Hanum. "ya nona"


"kita pulang" perintahnya.


Sebelum dia meninggalkan meja itu, seseorang sudah memanggilnya. "Hanum" panggil seorang perempuan dari arah belakang Hanum. Dia berhenti melangkah. Menunggu orang tersebut yang menghampirinya. Hanum memicingkan matanya ketika melihat orang tersebut. Ia tidak pandai mengingat orang apalagi yang sudah lama tidak bertemu.


"apa lu nggak ingat gue" perempuan itu melihat Hanum yang tidak merespon ucapannya. Malah cenderung hanya diam saja.

__ADS_1


Tapi bukannya Hanum menjawab, ia malah melanjutkan jalannya. Dan itu semua membuat wanita tadi kesal.


"hei, teman teman lihat ada Hanum Paradewi di sini" teriak wanita itu pada segerombolan wanita tak jauh dari tempatnya.


Sontak saja semua orang mengalihkan perhatiannya pada wanita tadi yang sedang menunjuk Hanum. Bagi yang tidak mengenal Hanum, mereka tidak lagi memperhatikannya. Tapi untuk orang orang yang mengenalnya, mereka langsung mengerumuni Hanum.


Hoshi melihat tak ada tanggapan dari bosnya. Dia melihat ke sekeliling, pada segerombolan wanita yang mengenakan dress dengan sangat minim bahan itu.


"wah lama nggak ketemu ya" ujar salah seorang wanita dengan dada yang super besar.


Sementara yang lainnya memandang rendah ke arah Hanum. Mereka seperti sedang membicarakan dirinya secara terang-terangan. Tapi bagi Hanum yang sudah biasa dengan perlakuan orang orang itu, hanya perkara kecil. Mereka tidak tahu dia yang sekarang, tidak akan mudah diinjak lagi.


Dari kejauhan Tania tersenyum penuh kemenangan. Tujuannya mengundang Hanum ke pernikahannya, agar Hanum kembali ditindas oleh teman temannya.


Sedangkan Hoshi sudah siaga ketika seorang wanita dengan dada besar tadi mulai mendekati Hanum. Dia yang awalnya berdiri di belakang Hanum, maju dan berdiri menghalangi wanita itu yang sudah semakin dekat.


"minggir, atau lu tau akibatnya" ancam wanita itu dengan kesal. Sementara Hoshi hanya diam. Dia yang memiliki tinggi 185 seperti sesuatu yang menjulang tinggi ke langit bagi wanita itu. Bahkan dia harus mendongak untuk melihat wajah Hoshi.


"ada apa ini" tiba-tiba Ruslan datang dengan tergopoh-gopoh ketika melihat Hanum dan Hoshi yang sedang berhadapan dengan salah satu teman Tania.


Seketika wanita itu tampak bingung harus melakukan apa. Melihat peluang tersebut, Hanum berjalan melewati Hoshi. Lalu berjalan dengan santai melewati wanita tadi. Sebuah tangan menahan lengannya. Ia berbalik dan mendapati wanita tadi yang mencengkram lengannya dengan kuat.


Tapi Hanum sama sekali tidak memperlihatkan rasa sakit. Padahal orang orang bisa melihat dengan jelas, tangan itu meremas dengan kuat lengannya.


"tunggu, saya hanya ingin menyapa teman lama. Apa itu salah" ujar wanita itu dengan nada memelas.


Seketika orang orang yang berada di sana bergunjing. Membicarakan Hanum yang tidak bersikap baik kepada teman lamanya. Hanum mendengar suara orang orang yang menjelekkannya. Tapi dia tidak merasa takut, apalagi malu.


Dengan perlahan dia melepas lengannya dari cengkeraman wanita itu. Kemudian menghempaskan tangan wanita itu dengan keras. Hingga membuat wanita itu sedikit terhuyung. Matanya yang indah berubah menjadi menyeramkan. Kedua matanya menatap tajam ke arah wanita itu.


"maaf saya tidak mengenal anda" Hanum memutar tubuhnya lalu berpindah ke arah Ruslan. Ucapan Hanum semakin menyulut emosi wanita itu.


"sekali lagi selamat atas pernikahan putri anda direktur" Hanum melirik ke arah wanita tadi dengan ujung matanya. Dia bisa melihat wanita itu meraih gelas penuh minuman di atas meja. Lalu bergerak dengan cepat ke arahnya.


Ketika suara seseorang berteriak, membuat orang orang yang melihat ke arah mereka terkejut. Hanum tidak perlu melihat apa yang terjadi. Dia tahu Hoshi sedang mencengkram dengan kuat telapak tangan wanita itu.


Dengan tubuh yang gemetar, Ruslan menyambut uluran tangan Hanum. Kemudian dia melihat teman Tania yang sedang meringis memegangi telapak tangannya.


"terimakasih, nona" Ruslan melepas jabatan tangan nya dan Hanum.


Tanpa mereka sadari, dua pasang mata melihat ke arah mereka dengan antusias. Rama berusaha dengan keras menahan sang istri, yang sejak tadi ingin menghampiri mereka.


"pa, lepas ih" gerutunya.


"jangan deh, biarin aja"


*


Ketika suasana masih sangat mencekam, suara teriakan histeris justru datang dari pintu masuk ballroom. Kerumunan orang menghalangi pandangan Hanum pada seseorang yang sedang menjadi pusat perhatian.


Ketika tiba tiba matanya bertemu dengan mata elang milik seseorang di sana. Yang langsung mengunci pergerakannya. Hanum membeku di tempatnya.


Ruslan dan yang lainnya juga tidak kalah terkejutnya. Mereka kini beralih pada sosok lelaki yang mencuri perhatian itu.


Sedangkan sosok lelaki itu adalah Ragil Mahendaru. Yang langsung berjalan ke arah panggung. Kemudian bernyanyi di sana. Meski sedang lelah, ia tetap harus profesional.


Dia yang baru saja selesai dari stasiun televisi, mendapat perintah langsung dari sang bos. Harus bernyanyi di pernikahan putri seorang pejabat. Pada awalnya ia menolak, tapi pada akhirnya ia sampai di tempat ini.


Ketika tiba tiba ia dengan tanpa sengaja melihat seseorang di tengah kerumunan para tamu undangan. Sejak saat itu ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari wanita itu. Cantik, berulang kali batinnya mengatakan itu.


Padahal hanya dia wanita yang mengenakan setelan jas. Sedangkan semua wanita yang ada di sana dibalut dengan gaun pesta. Saat ia memejamkan matanya sebentar, kemudian membukanya kembali ia tidak berhasil menemukan keberadaan Hanum.


Entah apa yang terjadi pada dirinya. Dia merasa kehilangan juga takut diwaktu yang sama. Setelah menyelesaikan sebuah lagu. Dia langsung berusaha mencari keberadaan Hanum. Meski harus menerobos segerombolan orang yang ingin berfoto dengannya.


"kamu mau kemana" Chelsea menghadangnya tepat saat ia berhasil keluar dari ballroom.


"pulang" ujar Ragil tak peduli.


"tapi kamu masih harus menyanyikan 1 lagu lagi" Chelsea memegang lengan Ragil, wajahnya memelas. Ia berusaha menahan Ragil untuk tidak pergi.


Pada akhirnya Ragil harus mengalah. Ia berbalik dengan kesal, lalu di susul oleh Chelsea. Masuk kembali ke dalam ballroom. Tanpa mereka tahu, seseorang melihat adegan yang sebenarnya biasa saja. Tapi mampu membuat api amarahnya kembali tersulut.


Hanum berjalan ke arah lift dengan cepat. Tubuhnya menghilang seiring dengan pintu lift yang akan menutup. Ketika tiba tiba sebuah tangan menjulur. Menghentikan pintu lift yang akan tertutup itu. Hanum terkesiap untuk beberapa detik. Namun berhasil menetralkan perasaannya.


Di depannya, Ragil sedang mengatur nafasnya yang berantakan. Ragil tersenyum padanya. Sesuatu yang sanggup membuat debaran jantungnya kembali berdetak kencang.

__ADS_1


Keduanya hanya saling memandang. Mereka lupa akan pintu lift yang kembali tertutup. Dan membuat mereka berdua tidak lagi bisa melihat satu sama lainnya.


__ADS_2