
Ragil mendengus melihat dirinya mengenakan pakaian khusus untuk pasien. Juga selang infus yang terpasang di salah satu punggung tangannya. Dengan malas ia melirik Hanum yang masih sibuk berbicara dengan asistennya. Dia merebahkan tubuhnya dengan sedikit kasar, yang akhirnya membuat ia harus merasakan nyeri di bagian perutnya.
"aaagggrrhh"
Hanum segera bangkit begitu ia mendengar suara rintihan Ragil. "kenapa, apa itu sakit" tunjuknya pada bagian perut Ragil.
"sebelah sini" tangan Ragil menyentuh bagian jantungnya dengan wajah memelas.
Melihat hal itu Hanum lantas menghembuskan nafasnya panjang. Ia menepuk pelan kepala Ragil, lalu mengelus surai sang pasien. Diperlakukan dengan lembut membuat Ragil sangat senang. Ia menarik narik kain celana Hanum dengan pelan.
"aku masih harus bicara dengan Hoshi"
"hanya sebentar saja" Ragil mengangguk dengan patuh.
Setelah bicara sebentar, Hoshi pamit untuk mengurus sesuatu. Kepergian Hoshi membawa angin segar untuk Ragil. Ia bahkan tersenyum lebar begitu pria itu pergi.
"kenapa, kayaknya kamu senang Hoshi pergi"
"enggak, aku senang karena itu berarti hanya ada kita berdua"
"bukankah itu sama saja"
Ragil menggeser posisi tidurnya, lalu ia menepuk sisi di sebelahnya. " ke sini" Hanum menggeleng, ia malah memilih duduk di sofa. "aku ingin istirahat" ujar Hanum menjelaskan kenapa ia memilih di sofa.
"tapi di sana kan nggak nyaman" protes Ragil ketika Hanum merebahkan dirinya.
"hmm, ini jauh lebih nyaman dari perkiraan mu" ucap Hanum dengan mata terpejam.
Ragil membuang nafas nya kasar, ia melihat ke arah Hanum yang berbaring di sofa dengan gusar. "apa kamu sudah tidur" tanyanya.
"hemm" jawab Hanum singkat "apa itu nyaman"
"hemmm"
Ragil bangkit, ia berjalan sembari menyeret tiang infus. Lalu berjongkok tepat di depan Hanum yang sedang tiduran dengan posisi menyamping di atas sofa.
"sana tidur, kamu juga butuh istirahat" Gumam Hanum dengan mata terpejam.
"tidak, kalau kamu tidak ikut tidur di sana" kekehnya.
Hanum membuka matanya, "tapi aku akan melukaimu kalau tidur bersamamu" Hanum menggunakan dagunya untuk menunjuk luka Ragil.
"tidak akan, percaya padaku"
"kenapa kamu selalu memaksaku, hubungan diantara kita hanya sebatas perjanjian. Karena kita belum mengakhirinya, bukan berarti kamu bisa dengan mudah memberikan harapan palsu" keluh Hanum.
"kenapa kamu selalu mengaitkan hal ini dengan perjanjian kita" tanya Ragil dengan nada tinggi.
"karena seorang wanita butuh kepastian"
Ragil mengeraskan rahangnya, ia lalu bangkit dan hendak berjalan kembali ke tempat tidurnya. Sebelum Hanum kembali berbicara. "kita hanya harus mengakhiri ini secepatnya" Ragil melanjutkan langkahnya dengan cepat. Entah kenapa ia sangat marah mendengar ucapan Hanum tadi.
Keduanya sama-sama terpejam, tapi sebenarnya tidak ada satupun diantara mereka yang tertidur. Hujan deras disertai petir tiba-tiba turun. Ragil mengintip Hanum yang masih berbaring di atas sofa. Sejak kecil bahkan ia sangat ketakutan jika mendengar suara petir, apalagi bercampur ada kilatan.
Ragil menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Tapi tidak membuat suara petir lantas menghilang. Ia lalu meringkuk sembari menutupi telinganya. Gerakannya yang terburu membuat tiang infus bergerak. Suara itulah yang akhirnya membuat Hanum membuka matanya. Ia melihat ke arah tempat tidur Ragil, lalu menghubungkannya dengan kilatan petir.
Apa dia takut petir, batinnya. Hanum bangkit lalu duduk. Ia memperhatikan Ragil setiap ada suara petir. Kemudian ia melangkah dengan pelan ke tempat tidur Ragil. Ketika tubuh Ragil bereaksi dengan suara petir, ia yakin Ragil takut dengan suara itu.
"Ragil" Pria itu diam di balik selimutnya. "Ragil" panggil Hanum lagi.
Dengan perlahan Ragil menyibakkan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. "apa" tanya Ragil.
Dari banyaknya keringat di kening Ragil sudah menunjukkan jika pria itu memang benar-benar takut. Hanum langsung memeluk Ragil begitu kilatan petir terlihat lagi. Ia bersembunyi dibalik dada bidang Ragil. Anehnya ketika suara petir terdengar sangat keras, justru kali ini Ragil berhasil mengatasi rasa takutnya. Hanya karena sebuah pelukan dari seorang wanita yang sedang ketakutan.
"tidak apa apa ada aku" hibur Ragil meski ia bingung dengan dirinya sendiri.
Hanum mendongakkan kepalanya, "maaf aku akan kembali ke sofa" tapi Ragil mencegahnya, "maaf karena menggertakmu tadi"
Hanum mengangguk pelan, ia ingin melepaskan dirinya tapi tiba-tiba lampu di ruangan itu mati. Hanum yang pobia kegelapan mencengkram erat lengan Ragil.
"sepertinya hanya lampunya yang mati" Ucap Ragil yang melihat peralatan elektronik lainnya masih menyala.
Setelah menghubungi perawat Ragil membalikkan badannya untuk melihat keadaan Hanum. Ia tersenyum miris, pasalnya mereka berdua saling menguatkan. Jika ia takut petir, justru ia harus kuat untuk membuat Hanum tidak takut dengan gelap.
"apa masih lama" Hanum menarik narik baju Ragil dengan mata yang terpejam kuat.
Ragil menggenggam tangan Hanum dengan lembut "sebentar lagi mereka akan datang, sekarang berbaringlah" Hanum menuruti perintah Ragil. Ia berbaring dengan posisi menyamping, menyembunyikan wajahnya dengan bersembunyi di lengan Ragil.
"apa kamu masih takut" tanya Ragil penasaran "hmm"
"ingat yang terakhir kali kulakukan untuk membuatmu tidak takut gelap lagi" godanya.
Pukulan kecil mendarat di perut Ragil. Dan membuat pria itu merintih kesakitan. Menyesali hal itu, Hanum ingin bangkit. Tapi Ragil mencegahnya.
"maaf" sesalnya.
"hmm, aku tidak apa apa. Hanya sedikit nyeri"
Hoshi menutup kembali pintu ruangan VIP tempat Ragil di rawat. Ia mengulum bibirnya setelah melihat pemandangan di dalam. Tadi ia panik saat beberapa petugas hanya berdiri di depan pintu. Begitu ia tahu masalahnya, mereka segera bekerja dan langsung pergi setelah selesai memasang lampu yang baru.
Malam sudah semakin larut, ia memutuskan untuk pulang. Sementara di dalam ruangan VIP itu, Hanum tertidur di tempat tidur bersama Ragil. Ia tidur dengan posisi menyamping, agar Ragil tidak terganggu lagi. Tapi saat Ragil terbangun, ia bergeser lalu dengan hati hati mengubah posisi tidur Hanum.
Ragil menatap wajah Hanum dalam. Ia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Hanum. Terakhir ia mengecup kening Hanum lama. Hanum menggeliat, lalu mengangkat tangannya dan meletakkan di atas perut Ragil. Setelah itu ia kembali berbaring dengan nyaman meski Hanum meletakkan tangannya di bagian perut yang sakit.
*
Pagi harinya, Rayya sudah tiba di rumah sakit. Awalnya ia sedikit kesal melihat sang adik sedang tidur dengan seorang wanita. Tapi setelah mengetahui wanita itu adalah Hanum, ia memilih untuk tidak membangunkan mereka berdua.
Ia memilih untuk menunggu mereka di luar ruangan. Membaca buku tentang kedokteran di temani salah satu perawatnya yang sedang asyik dengan ponselnya.
tak tak tak (suara sepatu)
Dari kejauhan tampak Hoshi yang sedang berjalan. Ia yang sudah rapi datang dengan pakaian yang dipesan oleh Hanum. Awalnya ia sedikit terkejut melihat keberadaan Rayya. Lalu dengan cepat ia kembali merubah ekspresi wajahnya.
__ADS_1
Suara bising dari sepatu Hoshi mengganggu aktivitas membaca buku Rayya. Ia melirik dengan ujung matanya untuk melihat siapa yang datang. Seperti pernah melihat orang itu, tapi Rayya tidak terlalu mengingatnya.
Begitu Hoshi mengetuk pintu ruangan Ragil, ia semakin penasaran. Apalagi setelah Hoshi masuk ke dalam. Dan keluar dengan cepat.
Padahal pria itu harus segera sampai di kantor, karena urusan pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan oleh Hanum. Setelah memastikan sang nona menerima pakaian itu, ia langsung pergi ke kantor.
*
Elma terheran-heran saat melihat pintu ruangan Hanum berbeda dengan sebelumnya. ia berbalik tapi seseorang membuatnya terkejut. Lalu orang itu menguncinya tepat di daun pintu ruangan Hanum.
Orang itu adalah Hoshi, ia mengamati wajah Elma yang sudah tidak bengkak lagi. Setelah memastikan itu, ia menarik tangannya.
Di depan pintu lift yang terbuka, Hanum membulatkan kedua matanya sempurna. Ia lalu pura pura baru keluar dari lift. Dan berjalan dengan mata yang fokus pada layar ponselnya. Seharusnya ia tidak buru buru berangkat ke kantor tadi. Padahal ia ingin menyapa Rayya, tapi karena pertemuan penting dengan perusahaan besar ia melewatkan kesempatan itu.
"selamat pagi, nona" sapa Hoshi di depan ruangan kerjanya.
"hmm, selamat pagi" ia hanya melambaikan tangannya. Lalu kembali berjalan, kali ini dari ujung matanya ia bisa melihat wajah terkejut Elma.
*
Siang harinya setelah mendengar Ragil terluka, Irina langsung bergegas ke rumah sakit. Dia membawa buket bunga dan juga buah buah di tangan sang asisten. Begitu masuk ke dalam ruang perawatan Ragil, ia harus sedikit kecewa karena di dalam ada beberapa orang lainnya yang sedang menjenguk Ragil.
"nona Irina datang" Miko berbisik begitu Irina masuk ke dalam. Ragil melihat dengan ujung matanya. Lalu memerintahkan Miko untuk mengakhiri pembicaraan dengan orang orang itu.
Begitu rombongan yang dibawa Miko pergi, Irina langsung berjalan ke sisi tempat tidur Ragil. Ia meletakkan buket bunga di atas nakas di samping tempat tidur. Lalu buah buahan juga yang diletakkan oleh asisten Irina. Setelah mendapatkan isyarat untuk keluar dari Irina, sang asisten buru buru keluar dari ruangan itu.
"bagaimana kondisi anda" tanya Irina.
"saya baik baik saja"
"kamu mau makan buah, atau ingin sesuatu. Atau ingin minum"
"tidak tidak, saya sudah minum tadi" tolaknya saat Irina mengangkat gelas minum.
Dengan kecewa Irina meletakkan kembali gelas itu, ia mengeluarkan ekspresi wajah memelas. Tapi Ragil sama sekali tidak meliriknya.
"apa kamu tahu, aku khawatir waktu mendengar kabar kalau kamu masuk rumah sakit. Bahkan papa minta aku untuk stay di sini, untuk merawat kamu" jelas Irina sembari menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya.
"eh, sebenarnya anda tidak perlu melakukannya. Ada asisten saya di sini" pinta Ragil tulus.
"tapi bagaimanapun juga aku harus menunjukkan ketulusan ku sama kamu"
"hah, tapi"
Sementara itu Hanum keluar dari mobilnya, lalu masuk ke rumah sakit tempat Ragil di rawat. Tapi saat is sampai di depan pintu ruangan Ragil. Seorang pria yang ia tahu adalah asisten Ragil menghalangi dirinya masuk.
"maaf tapi anda tidak boleh masuk, sebelum ada persetujuan dari presdir terlebih dahulu" ujar Miko.
"kamu tahu siapa saya"
"tentu saja, anda adalah presdir Paradewa. Tapi saat ini persetujuan tuan saya jauh lebih penting" tegas Miko.
Ia berdiri tepat di depan pintu, saat Miko mengetuk lalu membuka pintu. Dan dari situ ia bisa melihat tubuh seorang wanita yang sedang berdiri membelakangi dirinya. Miko buru buru menutup kembali pintu setelah ia masuk.
Begitu pintu terbuka, sosok wanita itu ternyata Irina yang tersenyum melihat kedatangan Hanum. "silakan nona" wajah Miko terlihat tertekan sekali. Ia tidak tahu jika wanita yang ia halang halangi ternyata wanita milik tuannya.
"terimakasih"
"ternyata seorang presdir perusahaan besar, bisa keluar di jam kerja ya. Pengaruh seorang presdir memang berbeda" sindir Irina.
Sementara Ragil yang melihat wajah Hanum sangat menyeramkan, mulai berdoa di dalam hati. Ia tidak berani mengangkat kepala begitu Hanum menatapnya. Ia mengutuk Miko sang asisten yang tidak bisa membaca kodenya tadi.
"bagaimana kondisi anda presdir, sepertinya anda sudah jauh lebih baik " ucapan Hanum penuh dengan penekanan. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, dan menunjukkan wajah datarnya.
"tuan Ragil sudah merasa lebih baik. Seharusnya anda tidak perlu repot-repot meluangkan waktu berharga anda untuk hal ini"
"ah, apa anda juru bicaranya"
"hah, kamu datang cuma mengganggu. Seharusnya tahu diri, kedatanganmu sangat menganggu" Irina mulai muak dengan tingkah sok baiknya.
"apa benar begitu tuan Ragil" Hanum menyeringai dengan sangat menyeramkan. Melihat hal itu nyali Ragil langsung menciut.
"tidak benar, nona Irina hanya ingin menjenguk" belanya.
Irina langsung membulatkan kedua matanya, ia menatap Hanum dengan kesal. "tuan Ragil, kalau begitu aku harus kembali. Beberapa design pakaian untuk kerja sama kita perlu perhatian khusus dariku. Setelah kamu keluar rumah sakit nanti, ayo kita pergi makan bersama"
"eh, terimakasih karena anda sudah menyempatkan untuk melihat keadaan saya. untuk tawaran makan bersama, saya akan memikirkannya"
Irina tersenyum senang, ia mengecup pipi Ragil singkat. Lalu menatap nyalang ke arah Hanum. Setelah itu ia berbalik dan pergi.
Hanum menghempaskan tubuhnya di atas sofa dengan kasar. Membuat ponselnya terjatuh ke sisi bagian dalam sofa.
"memikirkannya, apa setiap wanita yang mengajakmu pergi makan kamu akan memikirkan wanita itu"
"apa tadi, dia bahkan menciummu" omelnya.
"hah" Ragil tidak bisa menyusun kata kata setelah melihat Hanum cemburu. Ia ingin tersenyum, tapi melihat mata tajam Hanum ia hanya bisa diam. Ia memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rasa senangnya.
Beberapa detik kemudian, Hanum bangkit lalu keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia benar-benar kesal, bagaimana bisa Ragil tidak mengatakan apapun padahal ia sangat marah.
Sedangkan Ragil sangat bingung dengan sikap wanita itu. Ia ingin mengejarnya tapi tidak memungkinkan.
"hah dia benar benar menggemaskan"
*
Malam harinya Ragil tampak gelisah, ia berkali-kali mencoba menghubungi Hanum. Tapi tidak mendapat jawaban. Ia juga mengiriminya pesan, tapi tidak satupun dibaca. Ragil yakin bahwa Hanum masih marah karena kejadian siang tadi.
Ia bangun dan berjalan dengan menyeret tiang infus. Lalu berdiri di depan dinding kaca. Ia kembali menghubungi Hanum, tapi justru mendengar suara getaran ponsel di dekat dirinya berdiri.
Ragil mendekati sofa, ia meraba sampai ke samping sofa. Lalu menemukan benda yang ternyata adalah ponsel milik Hanum. Terlihat jelas namanya yang sedang memanggil di ponsel itu.
"bagaimana dia bisa melupakan ponselnya" gumamnya.
__ADS_1
Sementara itu di ruangan Hanum. Ia sedang mencari ponselnya di tas juga di semua tempat di ruangannya. Tapi tidak menemukan ponsel itu.
tok tok
Elma datang dengan tasnya yang sudah terpasang di bahunya. Ia melihat ke ruangan Hanum yang sedikit berantakan itu. "apa yang terjadi" tunjuknya pada barang barang yang berantakan itu.
"ponselku hilang" jawab Hanum sembari merapihkan kembali barang barang itu.
"kok bisa, sejak kapan. lu nggak coba hubungi nomor lu" Hanum menggeleng lemah. "kemarikan ponsel mu, aku tidak ingat nomorku" ucapnya dengan sedih.
"hah. perasaan lu punya nomor itu udah tahunan. Tapi masa nggak ingat sama sekali" Hanum tidak mendengarkan omelan Elma, Ia langsung menyambar ponsel di tangan sang sahabat.
"apa nama nomorku"
"Putri salju" ucap Elma dengan nada bercanda.
"jangan bercanda" "hahaha gue serius"
Ponsel milik Hanum kembali bergetar di tangan Ragil. Ia membaca nama kontak yang tertera di layar. 'El Mavina' Ragil sedikit ragu, tapi karena ponsel itu kembali bergetar akhirnya ia menerima panggilan itu.
"Hallo" Suara Hanum terdengar jelas oleh Ragil.
Sedangkan di ruang kantor Hanum, Elma terus menerus menanyakan di mana letak ponsel milik Hanum. "ketinggalan di mana, siapa yang pegang"
"di restoran, waiters nya yang pegang" jelas Hanum berbohong.
"beruntung banget ponselnya nggak diambil orang" ucap Elma bersyukur.
"hmm"
"mau kuantar" Hanum menghentikan tangannya yang sedang merapikan barang-barang di atas meja. Lalu menoleh ke arah Elma.
"tidak, aku bisa sendiri. kamu pulanglah"
Elma memperhatikan Hanum yang sedang merapikan barang itu. Ia rasa sahabatnya terlalu banyak menyimpan rahasia seorang diri. Ia keluar dari ruangan Hanum dengan lesu. Lalu berjalan menuju lift. Dan langsung masuk ke sana. Begitu pintu lift hampir tertutup, seseorang menghentikan benda itu menutup dengan tangannya.
"maaf" ujar Hoshi tulus. Dari pintu ruangan Hanum, ia juga keluar dan berlari mengejar pintu lift yang masih terbuka.
Kedatangan Hanum membuat Elma sedikit lega. Ia tidak bisa berada di tempat itu hanya dengan Hoshi. Aroma pria itu seolah mengisi seluruh ruangan itu. Hingga membuat Elma merasa sesak nafas.
"apa aku keluar saja" bisiknya pada Elma bermaksud ingin menggoda sang sahabat.
Elma mencebikkan bibirnya kesal, ia mencubit lengan Hanum. Setelah itu dengan sengaja Hanum berpindah ke sisi lainnya. Menjadikan Elma dan Hoshi berdekatan.
Elma melirik dengan tajam ke arah Hanum yang sedang menggodanya itu. Sementara Hoshi tidak peduli dengan tingkah kedua wanita itu. Ia pura pura tidak mendengar atau melihat apapun di sana.
Begitu pintu lift terbuka di lantai satu, Elma langsung berjalan dengan cepat keluar dari sana. "Elma, mau diantar Hoshi tidak" teriak Hanum.
Elma justru semakin mempercepat langkahnya. Ia terlalu malu untuk sekedar menoleh ke belakang. Apalagi sampai harus sampai ikut menumpang di mobil Hoshi.
Hanum menoleh ke arah Hoshi yang terlihat biasa saja. Ia memutar matanya jengah dengan sikap Hoshi.
"sudah berapa lama kamu hidup sendirian"
Hoshi nampak bingung dengan pertanyaan Hanum yang terdengar sangat ambigu.
"ah, maksudku apa kamu tidak pernah pacaran" dengan polos Hoshi mengangguk.
"apa, seumur hidupmu tidak pernah pacaran. maksud ku seorang Hoshi" ucap Hanum dengan dramatis.
Ia menilai penampilan sang asisten dari bawah lalu ke atas, tinggi dan tampan itu sudah pasti. Lalu apa lagi yang membuatnya tidak menarik. Hanum tidak mengerti apa yang membuat pria itu tidak pernah pacaran.
"selain bekerja, saya hanya sibuk belajar" jelas Hoshi singkat.
"kamu bekerja di perusahaan ini sejak kapan" tanya Hanum penasaran.
"sejak tuan besar mengangkat saya dari jalanan, dua puluh tahun yang lalu" imbuhnya.
"wah, kenapa aku baru tahu"
"karena anda baru bertanya"
Hanum menghela nafasnya panjang, ia lalu membuangnya dengan kasar. "bagaimana dengan kencan buta, aku akan mengaturnya untukmu" tawarnya.
Hoshi menggeleng, "saya sudah bersumpah akan selalu ada untuk tuan besar dan juga penerusnya. kebahagiaan anda adalah prioritas utama saya"
"kalau begitu aku memberimu perintah untuk pergi kencan buta dengan seseorang yang sudah kusiapkan"
"tapi nona" Hanum melenggang pergi begitu saja. Ia tidak ingin melanjutkan obrolannya dengan Hoshi yang membuat kepalanya sakit.
*
Ragil tersenyum senang melihat kedatangan Hanum. Sementara wanita itu justru sangat tidak nyaman dipandang seperti itu oleh Ragil. Ia seperti mangsa yang siap dilahap oleh Ragil.
"ehem, mana ponselku" Hanum menengadahkan tangannya.
"kemarin lah"
"aku harus segera pulang" tolaknya
"kalau begitu tidak ada ponselmu" Ragil semakin senang menggodanya.
Tidak ada pilihan lainnya, ia terpaksa harus melakukan apa yang Ragil minta. Begitu ia sampai di sisi tempat tidur, Ragil menarik lengannya. Membuatnya terduduk dengan jarak yang terlalu dekat dengan Ragil.
Hanum membulatkan matanya, ia mencoba menarik diri. Tapi Ragil menahannya.
Ketika salah satu tangan besar Ragil menangkup pipinya, ia tidak memiliki kekuatan untuk menolaknya.
"tolong jangan marah lagi, hemmm" kata Ragil dengan lembut. Kedua mata mereka saling bertemu.
Untuk beberapa saat Hanum tidak merespon ucapan Ragil. Ia lalu memalingkan wajahnya, kemudian Ragil kembali menarik wajah Hanum. Dan membawanya semakin dekat dengan wajah Ragil.
"aku tidak akan melakukannya, kalau kamu tidak menginginkannya" nafas hangat Ragil menyapu seluruh wajah Hanum. Ia seperti terhipnotis oleh suara indah sang mantan idol itu.
__ADS_1
Ia masih ragu dengan keputusannya, tapi berikutnya justru Hanum yang melakukannya lebih dulu.