
Setelah tiga hari berada di negara I, Hanum dan Hoshi memutuskan kembali. Mereka tidak menemukan di mana Rayya di rawat, juga tidak bisa menghubungi Ragil. Atas dasar itulah, mereka akhirnya kembali. Meski kecewa, tapi Hanum tidak bisa lagi meninggalkan pekerjaannya.
Saat tiba di rumah, Hanum tidak menemukan keberadaan Ragil. Tidak ada tanda-tanda laki-laki itu kembali ke sana. Ia sedikit khawatir dengan keadaan laki-laki itu. Ketika kedua orangtuanya pergi untuk selamanya, bisa jadi laki-laki itu sangat hancur. Dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
"kamu ada di mana" Gumamnya.
Hanum beberapa kali menghubungi nomor Ragil, tapi nomor itu sudah tidak lagi aktif. Ia berganti menghubungi nomor Rayya, hasilnya pun sama. Selang beberapa hari, management tempat Ragil bernaung selama ini membuat pernyataan khusus tentang Ragil.
...*Hai, Kami QManagement...
...Sangat di sayangkan sejak kontrak Ragil Mahendaru habis dua bulan lalu, ia tidak lagi memperpanjang kerja sama dengan management lagi. Ia juga sedang bersedih karena kehilangan orang yang paling dia sayangi. Saat ini Ragil ingin fokus merawat kakaknya, keluarganya satu satunya. Juga bertanggung jawab dengan peninggalan sang ayah....
...Terus berikan cinta dan dukungan untuk Ragil kita...
Dari pernyataan itu ia tahu, Rayya masih hidup. Tapi kenapa Ragil harus merawat Rayya. Bukankah wanita itu saat ini adalah dokter. Hanum benar-benar bingung. Ia mematikan ponselnya, dan menggenggam benda itu dengan erat.
Kemudian Hoshi membukakan pintu mobil untuknya, setelah itu ia keluar. Hanum melihat ke gedung tempat syuting film yang sedang berlangsung. Orang orang tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Ia berjalan menuju tempat di mana para pemain sedang beristirahat. Ada Hoshi yang mengekor di belakangnya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, tiba-tiba ada orang yang langsung berdiri di hadapannya.
"selamat datang Presdir" Alex dan juga asisten sutradara film itu menyambutnya. Alex bahkan menjulurkan tangannya untuk menyalami Hanum, tapi Hanum tidak merespon nya.
"bagaimana proses syutingnya" Hanum langsung bertanya sembari melihat ke sekeliling.
Alex menarik kembali tangannya, "semua berjalan lancar Presdir. anda tidak perlu khawatir"
"syukurlah, kalian semua sudah bekerja sangat keras. Setelah selesai syuting hari ini. Aku akan pesankan restoran untuk kalian semua"
"terimakasih banyak atas kemurahan hati anda. Saya dan yang lainnya pasti akan datang"
Hanum mengangguk, ia lalu berpamitan pada Alex. Sepeninggal Hanum, Alex mengeluarkan seringai aneh. Lantas ia kembali ke kursi kebesarannya sebagai sutradara.
Malam harinya, orang orang mulai berkumpul di sebuah restoran yang sudah di pesan oleh Hanum. Mereka bersenang-senang, menikmati makanan yang tersaji. Alex mendekati seorang wanita yang sedang asyik berbincang dengan para rekan pemain film itu.
Ia mendudukkan dirinya tepat di samping wanita itu. Wanita yang berusia di awal dua puluhan itu tampak sangat segan pada Alex. Ia merapatkan dirinya pada teman di sebelahnya saat tangan Alex mulai bergerak ke sana kemari.
Wanita itu berusaha menghalangi tangan Alex yang semakin berani. Tapi ia tetap tidak memiliki keberanian untuk meminta Alex berhenti.
Ia pamit ke toilet, yang justru membuat Alex ikut menyusulnya. Tempat yang berada jauh di belakang restoran, juga jauh dari orang orang yang berlalu-lalang. Di ruangan kecil itu, Alex mengancam dan juga melecehkan dirinya. Ia hanya bisa menangis di sudut toilet saat pria itu menjamahnya. Setelah Alex pergi ia tidak berani keluar dari tempat itu. Terlebih lagi kancing kemejanya telah lepas, akibat tangan Alex yang dengan kuat melepas kemejanya.
Ia duduk bersimpuh di lantai, dengan gemetaran memunguti kancing yang bertebaran di atas lantai. Setelah ia merasa tidak ada lagi orang di sana. Dengan perlahan ia keluar. Dan pergi dari tempat itu.
Sebulan telah berlalu
Tanpa Hanum tahu, kehidupan Ragil berubah seratus delapan puluh derajat. Ia kini menjabat sebagai presdir di perusahaan peninggalan sang papa. Sibuk dengan pekerjaannya membuat Ragil tidak memiliki waktu luang. Ia juga tidak berani kembali ke rumah itu. Meski sering ia merasa rindu pada seseorang di rumah itu.
Ia juga sudah kembali dari luar negeri, tapi ia tidak ingin tinggal di rumah keluarga besar Prambudi lagi. Terlalu banyak kenangan kedua orangtuanya di rumah itu. Ragil tinggal di rumah keluarga Prambudi di tempat lainnya. Rumah yang tidak kalah besar dari rumah sebelumnya. Ia juga membawa serta Rayya. Sang kakak yang sudah bangun dari tidur panjangnya.
Tapi wanita itu enggan melihat dunia luar kembali, dan hanya mengurung dirinya di kamar. Beruntung Ragil memiliki para asisten rumah tangga di rumah sebelumnya yang bisa diandalkan. Mereka mengurus Rayya juga rumah itu dengan baik. Saat ia tidak ada di rumah.
Rayya tidak lagi bisa berjalan. Ia hanya terbaring seharian di dalam kamarnya. Atau duduk di atas kursi roda membaca buku tentang kedokteran. Itulah yang membuat warna kulitnya semakin pucat.
"kakak" Rayya menoleh saat Ragil menghampiri Rayya yang sedang membaca buku di atas kursi rodanya.
"kau belum pergi" Ragil berlutut di hadapan Rayya sembari merapihkan selimut di atas paha Rayya. Lalu mendongak untuk menatap wanita itu.
"setelah menyapa kakak aku akan berangkat" ujar Ragil sembari tersenyum.
"pergilah sana" Rayya menekan tombol gerak otomatis di kursi rodanya. Hingga beberapa langkah di depan Ragil lalu berhenti. Melihat Rayya menghindar darinya lagi, Ragil tidak langsung pergi. Ia membujuk tirai penutup jendela. Sampai Rayya menutup matanya karena silau.
"tutup lagi" pintanya.
Tapi Ragil tidak mengindahkan permintaan Rayya.
*
Karena pekerjaan dengan brand fashion ternama, Ragil terpaksa harus mengiyakan ajakan makan siang dengan anak pemilik perusahaan itu. Ia tahu tujuan dari pemilik perusahaan itu adalah menjodohkan dirinya dengan putrinya. Apalagi setelah ia memberitahukan kepada publik tentang hubungannya dengan Maura hanyalah settingan.
Ragil memeriksa jam di tangannya, ketika wanita itu tidak kunjung datang. Padahal ia sudah berada di sana sejak tadi. Tak lama seorang wanita dengan pakaian yang sangat seksi berjalan ke arahnya.
"Ragil Prambudi" Tebak wanita itu.
Ragil mengangguk, "Hai, aku Irina Gunawan" wanita itu menjulurkan tangan kanannya. Ragil bangkit, lalu menyambut jabatan tangan dari wanita bernama Irina itu.
"senang bertemu dengan anda, nona Irina. Silakan duduk" ucap Ragil sembari kembali duduk.
Melihat Ragil tidak menarikkan kursi untuknya, Irina sedikit kesal. Ia lalu menarik kursi dengan sedikit kuat lalu tersenyum saat Ragil melihat ke arahnya. Kemudian duduk dengan menyilangkan kakinya, membuat paha mulusnya terlihat.
"anda ingin pesan apa" tanya Ragil sembari mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan.
Lagi lagi Ragil yang tidak melihat ke arahnya saat berbicara, membuat Irina merasa tidak dihargai. Ia mulai tidak suka dengan pria yang tidak tertarik memandangi dirinya. Padahal ia sudah mengenakan pakaian yang irit bahan. Berharap pria yang sedang duduk di hadapannya tertarik padanya.
Tanpa Ragil sadari, ada beberapa orang yang masuk. Lalu duduk di meja makan belakangnya. Dan di antara orang itu ada Hanum yang duduk tepat di belakangnya. Jarak mereka bahkan kurang lebih dua meter.
"tuan Ragil, berapa usiamu" tanya Irina disela-sela makannya.
"30 tahun, anda sendiri" jawab Ragil yang sedang asyik menikmati makanan yang tersisa di mulutnya tanpa mengangkat kepalanya.
"waw, anda benar-benar hebat. Diusia anda yang terbilang sangat muda, anda sudah menjalankan bisnis besar dengan baik" kata Irina.
"saya hanya meneruskan perusahaan milik papa saya" ucap Ragil merendah.
__ADS_1
"bukankah sama saja, Papa saya bahkan tidak memberikan tanggung jawab besar pada saya. Sebagai gantinya papa hanya memberikan sedikit sahamnya untuk saya"
"wah, bukankah itu jauh lebih baik dari pada tidak mendapatkan apapun" sindirnya.
"saya bisa memberikan saham saya untuk semakin memperkuat bisnis anda" godanya. Tapi ia harus kecewa karena Ragil sama sekali tidak meliriknya. Dengan kesal ia pergi ke toilet, untuk melampiaskan rasa marahnya.
"dasar laki laki macam apa sih dia, gue yang seksi gini nggak dilirik" gerutunya sembari membenahi makeup-nya.
Hanum yang sedang mencuci tangannya, sedikit tertarik dengan ucapan wanita itu. Dia melihat penampilan wanita itu dari pantulan cermin di depannya. Gaun merah dengan bagian dada yang sedikit terbuka dan panjang selutut. Gaun yang memeluk dan membentuk tubuh wanita itu dengan sempurna. Ditambah sepatu hak tinggi membuat kaki wanita itu terlihat jenjang.
Ia membandingkan penampilan wanita itu dengan dirinya sendiri. Wanita karir yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan juga sibuk mencari tahu keberadaan suaminya. Ah ralat, mungkin sekarang bukan lagi suaminya.
Setelah wanita itu keluar, Hanum ikut keluar. Ia berjalan tepat di belakang wanita itu. Ketika tiba-tiba ia menangkap sosok pria yang duduk tepat di meja depan orang yang sedang makan siang dengannya. Ia salah tingkah saat Ragil melihat ke arahnya. Tapi detik berikutnya saat wanita di depannya mengambil tempat duduk di depan Ragil. Ia sangat sedih.
Tapi dengan cepat ia bisa menutupi perasaan kecewanya. Hanum terus berjalan, lalu melewati tempat duduk Ragil. Mencoba tidak peduli dengan wajah pria itu yang tampak sangat terkejut.
"maaf terlalu lama" ucap Hanum sembari duduk. Ia dan Ragil duduk saling membelakangi. Yang membuat Ragil semakin terkejut. Ia juga tidak tahu sejak kapan Hanum dan orang orang itu datang. Jika ia tahu, mungkin ia akan langsung pergi dari sana.
"tuan Ragil" panggil Irina.
"iya"
"terimakasih atas waktu yang anda berikan. Saya sangat senang bisa makan siang dengan anda" Irina mulai memainkan rambutnya, dengan memutar mutarnya menggunakan satu jari.
"saya juga senang bisa bertemu dengan perwakilan dari perusahaan F. Semoga kerjasama diantara kita berjalan lancar" ucap Ragil dengan nada sedikit keras. Ia melirik dengan ujung matanya, ke tempat duduk Hanum.
Tapi sayang ia tidak bisa melihat ke arah Hanum, yang duduk tepat di belakangnya. Sementara itu dari tempatnya duduk, Hanum susah payah menahan bibirnya untuk tidak tersenyum, ia sedikit lega dengan hubungan antara Ragil dengan wanita itu.
Irina sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, "ah, kalau begitu bisakah kita bertemu dilain waktu. Maksud saya, diluar urusan pekerjaan" Pintanya.
"maaf, mungkin akan sangat sulit. Tapi jika itu tentang kerja sama kita, saya akan usahakan untuk bertemu" tolak Ragil dengan
Irina terlihat mulai kesal, ia yang sudah berusaha keras menggoda Ragil. Namun, orang itu justru tidak tertarik padanya. Dengan keras ia kembali duduk dengan benar.
Bagaimana bisa laki-laki itu tidak tertarik padanya, batin Irina. Ia meraih tas mahalnya di atas meja, lalu berdiri"maaf saya harus pergi"
"tunggu sebentar" Ragil mendongak. "hati hati di jalan" tambahnya.
Irina langsung berbalik dan pergi. Ia menghentakkan hak tingginya dengan keras. Menandakan bahwa ia sangat kesal.
Sedangkan Ragil menghela nafas lega. Ia sedikit menoleh ke arah orang orang di belakangnya. Sepertinya mereka juga bersiap untuk pergi.
Ketika orang orang itu melewati tempatnya duduk. Ragil menunggu saat yang tepat. Saat Hanum berjalan di sampingnya. Ia meraih tangan itu. Terkejut, tapi Hanum tahu siapa orang yang sedang menggenggam tangannya dengan erat.
Ia juga rindu, tapi pertemuan mereka bukan kah seharusnya tidak seperti ini. Dan seharusnya Ragil menjelaskan apa yang sudah ia alami akhir akhir ini. Hanum menarik tangannya dengan perlahan, sampai genggam tangan Ragil terlepas. Ia lalu berjalan cepat menyusul Hoshi dan yang lainnya.
Meninggalkan Ragil yang tidak siap dengan kepergian Hanum.
*
tok tok
Elma berdiri di ambang pintu yang terbuka dengan canggung. Ia lalu masuk ke dalam, dan menyerahkan sebuah undangan yang ia bawa.
"apa yang terjadi" Elma menunjuk wajah Hanum.
"tidak ada" jawab Hanum sembari melihat ke arah undangan di atas meja. Lalu membolak-balikkan kertas berwarna merah maroon itu.
"menurut mu haruskah aku datang" ia menunjuk undangan ditangannya.
"hmm, lu emang wajib datang sih. Paradewa masuk lima nominasi. Kalau nih ya, satu saja keluar jadi peraih penghargaan. Bukankah itu bagian lu sebagai presdir"
"Hoshi jauh lebih baik di atas panggung, dan kamu jadi partner dia" Titahnya.
"tapi gue kan belum pernah ikut acara bergengsi kaya gini" protes Elma. "apalagi bareng Hoshi" imbuhnya lirih.
Hanum mengulum bibirnya, "gunakan kesempatan bagus ini untuk lebih dekat dengan dia"
"apa lu pikir gue suka sama dia. Ih dia itu kayak kotak freezer. Dingin banget" seloroh Elma.
tok tok
Kedua wanita itu melihat ke arah Hoshi yang tampak sangat canggung. Mungkin saja pria itu mendengar ucapan mereka berdua. Hanum semakin melebarkan senyumnya. Ia menggoda Elma terus menerus. Hingga membuat sang sahabat salah tingkah dibuatnya.
Elma langsung memberikan isyarat dengan tangannya, ingin segera meninggalkan ruangan Hanum. Tak ingin membuat Elma semakin gugup dan salah tingkah, Hanum mengangguk lalu melambai padanya. Dengan cepat, Elma menyelinap di belakang Hoshi. Sampai sampai pria itu dibuat heran dengan tingkah lakunya.
"ada apa, kau tidak sedang menguping pembicaraan kami kan" tebak Hanum.
"ah, maaf saya tidak mendengar apapun" sanggah pria itu.
"kalau pun dengar, aku tidak masalah. Tapi mungkin Elma yang akan mendapat masalah" ucap Hanum.
Hoshi tidak mengerti kemana arah pembicaraan sang atasan. Dia hanya diam saja saat Hanum tidak bisa menyembunyikan senyum gelinya.
"ada masalah" sedetik kemudian Hanum telah berubah kembali menjadi bos dingin.
"ah, ada masalah dengan film baru yang sedang diproduksi oleh perusahaan kita. Salah satu kru film melakukan pelecehan pada seorang pemain wanita di tempat lokasi syuting. Yang lebih parahnya lagi, orang-orang yang melihat kejadian itu seolah takut dengan kru tersebut. Saat ini dari pihak pemain wanita itu sudah melaporkan kasus ini pada pihak kepolisian"
"siapa kru yang kamu maksud"
"sutradara film itu, Alex"
__ADS_1
Hanum teringat dulu iya juga hampir dilecehkan oleh orang bernama Alex. Tapi ingatan lainnya tiba tiba muncul. Di malam yang sama, saat Ragil mencoba menolong dirinya dari jebakan pria itu. Yang pada akhirnya membuat Hanum kehilangan sesuatu yang paling berharga untuknya.
Lalu dia membenci pria itu. Tanpa tahu sebelum Ragil merebut mahkotanya, ia hampir dilecehkan oleh Alex.
"ganti orang itu dengan yang lainnya"
"kalau kita menggantinya, kita akan kehilangan banyak uang untuk membayar pinaltinya"
Hanum menghela nafasnya panjang, "lalu bagaimana dengan laporan wanita itu" tanya Hanum lagi.
"aktris itu berasal dari agensi terkenal. R Entertainment" Hanum membulatkan kedua matanya mendengar ucapan Hoshi.
"segera hubungi pengacara ayah. Lalu kita akan rundingkan ini setelah bertemu dengan paman Holden"
"baik nona"
*
Di sebuah apartemen seorang aktris cantik yang menjadi korban pelecehan oleh sutradara film yang ia sedang bintangi. Wanita cantik itu hanya berdiam diri di dalam kamarnya. Sementara ibu juga sang kakak terus menerus memintanya untuk makan.
"Sahara, buka pintunya sayang" ibu dari wanita itu terus menerus memanggil sang putri.
"kakak sudah melaporkan orang itu, meskipun kamu melarangnya" seru sang kakak.
Mendengar hal itu, wanita bernama Sahara kembali menangis. Sedangkan ibunya yang mendengar suara tangisannya, menjadi semakin panik.
"Sahara..."
*
Hanum pulang larut malam, ia dan Hoshi usai menemui pengacara almarhum sang ayah untuk meminta bantuan. Siapa yang mengira, waktu berjalan sangat cepat. Meski mereka baru berdiskusi sebentar.
Ia membuka pintu rumah, dan terheran heran dengan lampu yang tidak menyala sama sekali di dalam rumah. Padahal ia tidak pernah mematikan lampu di ruangan yang sering ia lewati. Ia mulai waspada ketika tiba tiba ia mendengar suara nafas seseorang.
Hanum meraba dinding di samping, untuk menemukan letak saklar lampu. Tepat saat itu, tangan seorang menyentuh tangannya yang sudah menemukan saklar lampu. Ia menyalakan lampu dengan cepat. Lalu orang di hadapannya menyipitkan kedua matanya karena silau. Juga menghalangi wajahnya dengan tangan.
"siapa di sana" Hanum melangkah ke belakang dengan hati hati.
Sementara orang itu mulai menyingkirkan tangannya dari wajahnya. Saat itu juga, Hanum merasa marah. Ia meraih vas bunga di atas nakas. Lalu melempar benda itu ke arah Ragil yang sedang berjalan mendekat ke arah Hanum.
"berhenti di sana" teriak wanita itu. Ia kembali melempar apapun di dekatnya ke arah Ragil.
"kenapa kau harus datang" Hanum mulai terisak.
Melihat itu, Ragil langsung bergegas meraih tubuh Hanum. Lalu memeluknya dengan erat. Sedangkan Hanum berusaha melepaskan dirinya.
Tapi ia tidak berhasil melakukannya, Ragil tidak membiarkan dirinya lepas. Untuk beberapa saat ia menangis di dalam pelukan pria itu.
"lepas. tolong lepaskan aku" pinta Hanum.
Dengan perlahan Ragil melepaskan pelukannya. Namun berikutnya, Hanum menamparnya dengan kuat. Hingga membuat pipinya memerah.
"itu untuk satu bulan tanpa kabar" Ia lalu berbalik dan berjalan.
"maaf" Hanum berhenti melangkah.
"bagaimana dengan mu, apa kamu baik baik saja" tanyanya tanpa berbalik.
Ragil mengangkat kepalanya, ia tidak bisa mengatakan apapun tentang kejadian itu. Jadi ia memilih diam. Tapi respon dari Hanum membuatnya tidak bisa menahan air matanya lagi. Hanum berbalik lalu menghambur padanya dan memeluknya. Mengelus punggung Ragil dengan lembut.
Seolah menyalurkan kehangatan yang dia rindukan. Ragil balas memeluk Hanum. Ia menghentikan tangisnya, dan dengan perlahan menghirup aroma tubuh wanita yang ia rindukan selama sebulan terakhir.
"kenapa tidak memberitahuku" Hanum meletakkan teh hangat di depan Ragil. Saat ini mereka sudah berada di dapur.
"aku tidak bisa membagi rasa kehilangan ku dengan orang lain"
"apa aku juga orang lain bagimu"
"maaf, tidak seharusnya aku membuatmu khawatir. Tapi orang orang akan mulai membicarakan dirimu jika kamu bersamaku"
"bagaimana keadaan kak Rayya, aku bahkan tidak tahu bagaimana keadaan dia. Kamu menutup semua akses tentang dirimu dan juga kakak mu. Padahal aku sangat khawatir"
Ragil kembali diam, "lain kali akan aku ceritakan"
"kenapa, kau tidak ingin membagi beban mu dengan ku. Apa karena kau tidak yakin padaku"
"Kau tahukan seharusnya pernikahan kita sudah berakhir, seharusnya aku juga tidak perlu khawatir tentang dirimu" Ucap Hanum marah.
"besok pagi aku akan mengurusnya, setelah itu aku akan meninggalkan rumah ini. Dan juga hidup mu" kata Hanum dengan emosi. Setelah itu ia langsung pergi meninggalkan Ragil yang sedang menahan amarahnya.
Ia akhirnya menyusul Hanum yang sudah berjalan sampai di ujung tangga. Dengan cepat ia sudah menggapai lengan Hanum. Membuat wanita itu terkejut. Dan hampir terjatuh, jika bukan karena Ragil mencegahnya.
"apa lagi, pergilah" Ragil langsung membungkam mulut Hanum dengan bibirnya.
Sempat terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh Ragil, tapi Hanum tidak menolak sentuhan lembut yang diberikan oleh Ragil. Ia berjalan mundur di ujung tangga, sempat kehilangan keseimbangan. Tapi dengan cepat Ragil menangkap tubuhnya dengan bibir yang masih berpagutan. Sedangkan Ragil tidak melepaskan pagutannya. Hingga tubuh Hanum terbentur dinding.
Hanum menepuk dada Ragil dengan cepat, saat ia mulai kehabisan nafas. Ragil buru buru melepas ciumannya saat itu juga. Ia menempelkan keningnya di kening Hanum. Mereka saling pandang untuk beberapa saat.
Hanum tersentak, ketika tiba-tiba ia sudah digendong oleh Ragil ala bridal. Hanum memalingkan wajahnya karena malu.
"tolong turunkan aku" pintanya dengan pelan.
__ADS_1
Tapi Ragil tidak mendengarkannya. Ia membuka pintu kamarnya dengan punggungnya. Sedangkan Hanum mulai terpesona dengan rahang tegas yang dimiliki oleh pria itu. Sampai tidak menyadari, ia sudah berada di atas tempat tidur. Sementara Ragil duduk di sampingnya, mengelus pipinya dengan lembut.
Entah sejak kapan, mereka kembali berciuman. Kali ini lebih dalam dan juga Hanum mulai bisa mengimbangi permainan Ragil.