
Pagi tadi saat ia baru bangun dari tidurnya. Ponselnya bergetar beberapa kali, seseorang sedang menghubunginya lebih dari lima kali. Tapi tidak ada nama siapapun di sana. Di saat ia ingin mengangkat panggilan dari nomor tidak dikenal itu, sebuah pesan masuk dan tidak ada lagi panggilan telepon berikutnya dari nomor itu.
Elma kehabisan kata-kata, ia tidak bisa mencerna maksud orang itu mengirimkan foto buku nikah padanya.
"Hanum Paradewi, Ragil Mahendaru Prambudi. Oh Hanum" ejanya pelan. "apaaaa!!!" teriaknya kencang karena terkejut. Dia terkejut karena nama dari orang yang tertera di sana. Adalah nama sahabatnya sendiri.
braakkk
Suara pintu yang terbuka dengan paksa membuat Elma melihat ke arah pintu.
"ada apa, kenapa kamu berteriak" tanya seorang wanita paruh baya. Ibu Elma berdiri di ambang pintu sembari menggenggam centong sayur di tangannya. Nafasnya terengah-engah karena sehabis berlari dari dapur setelah mendengar Elma berteriak.
Menyadari sang ibu tidak boleh tahu kenyataan bahwa penyanyi kesukaannya telah menikah. Dengan cepat ia menyembunyikan ponselnya.
"Kucingnya teman Ema lahiran bu, Ema kaget kan kucingnya laki ya. kok bisa lahiran" katanya mencari alasan sembari menghampiri ibunya.
"ibu pikir ada apa, kamu sampai bikin ibu jantungan" tangan ibunya menoyor kepala Elma karena kesal. Sedangkan Elma hanya tersenyum lebar sambil memeluk sang ibu dengan manja.
"maaf deh, oh iya ibu lagi masak apa. pasti enak deh" katanya manja sambil mengangkat centong sayur ditangan sang ibu.
"astaga, sop ibu" wanita paruh baya itu berlari kembali ke arah dapur, sembari bergumam karena kecerobohannya sendiri. Membuat Elma terkikik lucu atas tingkah sang ibu.
Setelah sang ibu tidak terlihat, ia kembali masuk ke dalam kamarnya. Lalu menghubungi seseorang.
"kak, ada orang kirim sesuatu ke gue" katanya langsung.
"apa" tanya Hoshi singkat.
"gue kirim sekarang"
"kenapa tidak mengatakannya saja"
Tapi ia tidak mendengar ucapan Hoshi, dan langsung mengirimkan foto itu pada Hoshi. Setelah foto terkirim, dan Hoshi melihatnya. Tak butuh beberapa detik, Hoshi menghubungi dirinya.
"jangan tanyakan apapun pada Nona. Saya akan urus ini" pinta laki laki itu.
"tapi" Lalu ia tidak lagi mendengar suara Hoshi, sepertinya laki-laki itu langsung mematikan sambungan teleponnya. Elma bergerak cepat ke arah kamar mandi, tak lama ia sudah mengenakan setelan kerjanya. Kemudian ia mengendarai sepeda motor kesayangannya dengan cepat. Membuat sang ibu berteriak di balik jendela dapurnya.
"Ema, jangan ngebut ngebut. Kamu tidak makan sarapanmu lagi ya" teriakan ibunya tidak lantas membuat Elma menghentikan motornya.
"dasar anak itu, setidaknya pamitan pada ibu dulu ck" ucap ibu Elma dengan kesal.
Sementara Elma hanya ingin segera sampai ke kantor. Firasatnya tak baik sejak tadi.
Benar saja, saat baru memasuki gerbang utama. Kumpulan orang yang sedang duduk-duduk di halaman kantornya, sangat menarik perhatiannya.
"mereka semua wartawan" katanya saat melihat orang orang itu membawa kamera dan juga microfon.
Ia buru-buru menghubungi Hoshi, dengan suara bergetar ia memberitahukan hal itu pada Hoshi. "ada wartawan di depan kantor. Ada banyak wartawan."
"jangan khawatir, saya akan mengurusnya" ucap Hoshi dengan tenang.
Dia dengan sangat berhati-hati masuk ke dalam gedung kantornya. Lalu ia berdiri di dekat kaca untuk memantau situasi. Ketika tiba tiba seseorang menepuk pundaknya.
"astaga, lu ngagetin gue aja" teriaknya sembari menekan dadanya karena terkejut.
"apa yang sedang kau lakukan" tanya Hoshi datar.
"jaga jaga kalau Hanum datang, aku bisa bantu dia masuk ke dalam sini"
"cepat kerja"
"aih, bentar doang kok" pintanya sembari kembali melihat ke arah luar. Tapi karena wajah Hoshi yang tidak ramah, membuatnya dengan berat hati pergi dari sana. Meski berkali kali ia menoleh, ingin memastikan jika Hoshi berubah pikiran. Nyatanya laki laki itu hanya diam berdiri di tempatnya tadi.
Karena terus melihat ke arah luar lobby, ia sampai tidak sengaja menabrak seseorang. "maaf" ujarnya sopan.
"tidak apa apa nona" kata seorang laki-laki dengan pakaian serba hitam. Lengannya terlihat sangat berotot, dan laki laki itu tidak sendirian.
Elma sampai tidak bisa menutup mulutnya karena terkejut. Ia buru-buru menyingkir dari sana ketika ia melihat orang dengan pakaian yang sama lebih dari 10 orang.
"pak, bapak bodyguard ya" tanya Elma dengan polosnya pada salah seorang di dekat lift.
Laki laki itu hanya meliriknya sekilas, lalu kembali fokus melihat ke depan. Elma bergidik ngeri menatap 10 orang itu yang terlihat lebih menyeramkan dari pada orang orang di luar sana.
Ia kembali berjalan, kali ini lebih cepat. Lalu masuk ke dalam lift. Ia akan menunggu kedatangan Hanum di ruangan kerjanya saja.
*
Tak lama setelah ia sampai di lantai 25 kantornya. Elma langsung berlari ke arah dinding kaca. Untuk melihat pemandangan di bawah sana. Orang orang masih terlihat berdiam di tempatnya semula. Mata Elma beralih ke sebuah taksi yang berhenti tidak jauh dari kerumunan orang itu.
Ketika penumpang taksi itu keluar, ia tahu dari ciri cirinya orang itu adalah Hanum. Dengan cepat ia meraih ponselnya di dalam tas punggungnya. Lalu menghubungi Hoshi. Tapi sepertinya laki-laki itu tidak ingin mengangkat panggilan darinya.
Sedangkan Hoshi yang sudah melihat kedatangan Hanum. Memerintahkan orang orangnya untuk cepat melindungi Hanum. Tapi ternyata para wartawan lah yang lebih cepat mengerumuni nonanya itu.
"apa yang kalian lakukan, cepat buka jalan" perintahnya pada bodyguard yang tampak kewalahan dengan banyaknya orang di sana.
Dari balik kerumunan, Hoshi dan juga para bodyguardnya mulai membuka jalan. Ia menerobos ke dalam kerumunan orang itu. Lalu saat melihat Hanum yang mulai kehilangan keseimbangan, ia berjalan cepat ke sana.
Ia bisa melihat Hanum beberapa kali mengedipkan matanya untuk kembali fokus. Tapi sepertinya wanita itu tidak berhasil melakukannya. Dia mengambil langkah lebar lebar untuk menggapai Hanum. Beruntung sebelum Hanum benar-benar limbung, Hoshi sudah menggapainya lalu menutupi kepala hingga ke wajahnya menggunakan jas. Dan memegangi kedua bahunya dengan kuat.
Hoshi melihat tidak ada satupun wartawan yang membiarkannya lewat. Bahkan bodyguardnya saja sampai beberapa kali mendorong sekelompok orang itu.
"tolong beri jalan" teriak Hoshi. Seketika para wartawan terdiam, mereka sedikit takut karena suara keras dan tegas Hoshi.
Dari ujung matanya, ia memantau kondisi Hanum. Saat tiba tiba Hanum menoleh ke arahnya, ia dengan cepat kembali fokus ke depan.
Siapa yang mengira Hanum malah membawa dirinya ke dalam pelukan Hoshi. Lalu mengeratkan genggamannya pada jas Hoshi, ketika seseorang tiba-tiba berusaha menyerobot blokade orang orang Hoshi.
Kedatangan Hanum membuat karyawannya berkumpul di lobby utama. Mereka tampak tidak peduli orang yang sedang mereka jadikan tontonan ada pemilik perusahaan. Hingga Hoshi mengedarkan pandangannya pada orang orang yang berkumpul di sana. Dengan mata tajam nya yang mampu mengintimidasi tanpa harus berbuat kejam.
Semua orang bubar tanpa menunggu diminta. Hoshi kembali menuntun Hanum yang masih bergetar itu ke dalam lift.
__ADS_1
"tetap waspada" perintahnya pada salah seorang bodyguard.
"baik tuan" sahut mereka.
Ia memberi isyarat pada para bodyguard untuk kembali ke tempat mereka tadi. Dan orang orang berpakaian serba hitam itu mulai berdiri di depan pintu utama juga lift khusus.
Setelah pintu lift tertutup, ia melepaskan tangannya dari bahu Hanum. Lalu menarik jasnya dengan perlahan.
"anda sudah aman" ucap Hoshi.
Hanum hanya diam, dia lalu mengangguk untuk merespon ucapan Hoshi. Saat pintu lift terbuka. Ia bisa melihat wajah khawatir Elma yang sedang menunggunya.
Tapi saat ini ia ingin sendiri dulu. Jadilah sejak kedatangannya tadi hingga makan siang, ia tidak pernah memanggil Elma maupun Hoshi. Ia juga hanya membuka media sosial, untuk melihat beberapa postingan tentangnya. Menutupnya lagi dan membukanya kembali. Hanum sesekali akan melihat ke arah luar jendela, pada langit yang sedang cerah itu.
Meski begitu, sang sahabat yang sangat khawatir sejak tadi tidak bisa tenang. Elma membawakan makanan dari cafetaria untuk Hanum, karena wanita itu tidak juga keluar saat makan siang.
"Presdir, bolehkah saya masuk" ucap Elma dengan susah payah di depan pintu kantor Hanum.
"masuklah"
Setelah mendapat persetujuan dari Hanum, ia bergegas membuka pintu. Lalu masuk ke dalam.
"gue bawain makan siang buat lu" katanya sembari meletakkan bungkusan makanan di atas meja kerja Hanum.
Mendengar makanan sepertinya cacing di perut Hanum sangat senang. Ia menghentikan tangannya yang akan membuka lembaran berkas di atas meja kerjanya. Lalu tanpa menunggu lama, ia sudah menyantap makanan itu sampai tandas.
Elma sampai tersenyum melihat Hanum yang sangat rakus itu. Menyadari sang sahabat tengah menatapnya, Hanum buru buru membereskan tempat makanan itu.
"aku sedang datang bulan" katanya.
"hah, oh oke" ucap Elma bingung.
"terimakasih"
"iya, gue keluar ya" Elma bangkit, lalu meraih bungkusan makanan di atas meja Hanum. Dia bersiap untuk meninggalkan ruangan Hanum.
Namun tiba-tiba Hanum mengatakan seseorang.
"maaf, aku akan menceritakan semuanya pada suatu hari nanti"
Elma berbalik, "iya, sampai lu siap. gue akan tunggu hari itu"
*
Sinta berjalan dengan cepat, di susul asistennya yang kemudian membukakan pintu sebuah ruangan rapat untuknya. Ia memperhatikan orang orang yang berada di tempat itu dengan tajam.
"siapa yang berani membuat berita tentang anakku" gertaknya.
Orang orang di dalam ruang rapat itu tampak sangat tertekan. Mereka yang sudah mengenal Sinta Prambudi tidak akan ada yang berani menentangnya. Namun Sinta biasanya tidak terlalu peduli dengan berita putranya.
"bukankah biasanya anda tidak perduli dengan berita kencan putra anda" ucap salah seorang pimpinan kantor berita.
Sinta menatap pria paruh baya yang baru saja bersuara. "tarik orang orang kalian dari kantor Paradewa, sekarang juga. Atau kalian akan tahu akibatnya menentangku" ancam Wanita yang memiliki saham terbesar di masing-masing kantor berita itu.
"anda siapa"
"anda bukanlah pimpinan kami, anda hanya pemegang saham. Lakukan sesuatu agar pimpinan kami mau menghentikan berita ini"
Sinta sangat geram, ia duduk dengan gusar. Lalu matanya yang tajam menatap orang tadi.
"siapa pimpinan kalian"
Mereka nampak saling berbisik, tapi dari raut wajah orang orang itu. Sinta bisa menebak jika mereka sedang diperalat oleh seseorang. Tapi ia tidak ingin gegabah lagi. Ia akan menyusun rencana dengan baik, bagaimana pun kedua anaknya tidak boleh ada yang menyakiti.
*
tok tok
Elma berdiri di ambang pintu sembari tersenyum. Setelah Hanum melihat kedatangannya, ia lantas berjalan mendekati Hanum.
"lu belum mau pulang"
"sebentar lagi" ucap Hanum dengan mata yang masih fokus menatap ke arah layar laptopnya.
Elma mengangguk, "mau mampir ke rumah gue nggak, pasti ibu seneng liat lu mampir"
Hanum menghentikan tangannya yang sedang mengetik sesuatu di keyboard. Ia menoleh ke arah Elma, lalu mengangguk sekali. Wajahnya berubah menjadi cerah.
"cepat bersiap, kita pulang sekarang" ujar Elma sembari meninggalkan ruangan Hanum.
Wanita itu tahu kegundahan Hanum yang membuatnya tidak juga pulang. Padahal jam pulang kantor sudah dari satu jam yang lalu. Elma melihat kerumunan orang di pelataran kantor yang masih ada.
Ia menghela nafasnya panjang, lalu melanjutkan langkahnya ke meja kerjanya. Meraih tas miliknya. Kemudian duduk menunggu Hanum keluar dari ruangan kerjanya.
Hoshi keluar dari ruangan miliknya, lalu menghampiri Elma yang sedang berdiam tidak seperti biasanya.
"belum pulang" Elma seperti mendapatkan ide karena pertanyaan dari Hoshi.
"tolong pinjam kunci mobil mu" ucap Elma dengan girang sembari menjulurkan tangan kanannya.
Sementara Hoshi hanya mengerutkan keningnya. Meskipun begitu, ia tetap memberikan kunci mobilnya pada wanita itu.
"terimakasih, ini kunci motor gue" Elma meletakkan kunci miliknya ke atas tangan Hoshi yang masih tergantung karena memberikan kunci mobilnya tadi.
"kakak bisa bawa motor kan" tambahnya.
Hoshi menggeleng, ia tidak mengerti kenapa wanita itu membuatnya harus mengendarai motor. Padahal ia memang tidak bisa.
"apa! apa selama ini kakak nggak pernah naik motor" tanyanya tak percaya
"tidak pernah mengendarai" ralat Hoshi
__ADS_1
"sama aja kali"
"tidak, naik dan mengendarai sesuatu hal yang beda"
"sama" ujar Elma setengah ngegas.
"ehem, bagaimana kalau dia yang antar" usulan dari Hanum sedikit membuat Elma kecewa. Dia ingin sekali mengendarai mobil mewah milik Hoshi, saat ini harapannya sudah gagal.
"motor gue gimana" keluhnya dengan wajah sedih.
Tapi Hanum dan Hoshi malah mengabaikan dirinya. Mereka berdua berjalan menjauh dan masuk ke dalam lift. Elma dengan kesal menyusul keduanya dengan cepat.
Ketika di baseman, Elma yang sedang menjulurkan tangannya untuk mengembalikan kunci mobil Hoshi membulatkan kedua matanya. Ia dibuat heran karena laki laki itu malah berjalan ke sisi lain.
"kalo lu di situ, siapa yang nyetir"
Hanum dan Hoshi menunjuk ke arah dirinya dengan tak peduli. Sepertinya mereka tahu keinginannya. Jadilah ia dengan sangat senang berjingkrak jingkrak di samping mobil.
"yes, yuhuuu"
Mobil mereka keluar dari gerbang perusahaan tanpa ada wartawan yang menyadarinya. Karena Hanum yang menunduk, jadi tidak ada yang melihat keberadaannya.
"oh iya, ngomong ngomong motor gue gimana" Elma sangat penasaran dengan nasib motor kesayangannya itu.
"kendaraan roda dua itu akan tetap di sana" Elma menatap ke arah Hoshi dengan kesal.
Sementara Hanum sibuk dengan pemikirannya. Ia melihat keluar jendela mobil. Melihat lampu lampu yang menerangi jalanan malam itu. Tiba tiba sebuah pesan masuk ke dalam ponsel nya.
Ia membuka benda pipih itu, lalu membaca pesan singkat yang baru saja masuk.
"kamu di mana"
"jangan pulang"
"ada beberapa orang yang sedang ngawasin rumah"
Ragil mengiriminya pesan berturut turut. Sepertinya laki-laki itu sedikit takut jika ia kembali. Lalu orang orang yang sedang mengawasi rumah mereka, mengetahui hubungan sebenarnya antara dirinya dan Ragil.
Padahal orang orang itu adalah bodyguard suruhan dari Hoshi. Ia tidak ingin Hanum atau Ragil mendapatkan masalah. Jadilah ia menempatkan beberapa orang di sekitar rumah itu.
Tapi ia tidak berniat membalas pesan Ragil. Setelah mobil memasuki daerah perumahan Elma, ia mematikan ponselnya lalu memasukkan benda itu ke dalam tasnya.
Ia turun dari mobil setelah Elma dan Hoshi turun. Melihat Hoshi yang ikut masuk ke dalam gerbang, sepertinya laki laki itu ingin ikut bertamu bersama dengannya. Tapi dugaannya salah, laki-laki itu hanya memastikan Hanum dan Elma masuk ke dalam rumah. Lalu ia pergi dengan mobilnya.
"ibu, bu ada tamu" teriakan Elma menggema di seluruh ruangan.
Mendengar teriakkan Elma, wanita paruh baya yang sedang asik menonton siaran televisi itu mendongak. Wajah ibu Elma terlihat sangat senang menyambut kedatangan Hanum.
"ya ampun Hanum. udah lama nggak main ke rumah. Ayo sini sini duduk" Hanum tersenyum mendapat sambutan hangat dari ibu sahabatnya itu. Ia bahkan dituntun ke sofa yang menjadi tempat wanita paruh baya itu duduk tadi.
"kamu sudah makan belum, ibu siapin makan malam ya" ujar ibu Elma sembari menuju ke dapur yang menyatu dengan ruang keluarga.
"bu, anaknya kok nggak di sambut sih" keluh Elma dengan sedih.
"jangan manja, sana ganti baju"
"iya bu"
"boleh numpang ke kamar mandi" Elma mengiyakan permintaan Hanum. Mereka berdua berjalan bersama ke lantai dua, tepatnya ke kamar Elma.
Sembari menunggu Elma selesai berganti baju, Hanum menyalakan kembali ponselnya. ketika ponsel kembali hidup, beberapa pesan masuk ke ponselnya. Ragil, sang mertua, Hoshi dan juga beberapa orang penting di perusahaan miliknya.
Ia memilih menghubungi Hoshi, ketimbang orang lainnya. Saat dering pertama di dengar, Hoshi langsung mengangkat panggilan darinya.
"hallo"
"apa anda baik baik saja"
"tentu, ada apa"
"tidak ada apa apa, nona. saya hanya ingin memastikan keadaan anda"
"ini baru beberapa menit setelah mobil mu pergi, jangan terlalu mengkhawatirkan ku. Pulang lah dan istirahat" pintanya, lalu tanpa menunggu Hoshi menjawabnya. Ia sudah mematikan sambungan teleponnya.
Sementara itu Elma sedikit curiga, ia hanya mendengar ucapan Hanum yang terakhir. Tapi ini pasti menyangkut soal permasalahan sang sahabat.
"gue udah selesai nih, lu mau sekalian pinjam baju gue nggak"
"tidak, terimakasih. Aku pinjam kamar mandi mu ya"
"hmm, kalau gitu gue turun duluan ya" Setelah Hanum masuk ke dalam kamar mandi. Dia buru-buru mencari ponsel miliknya. Untuk mencari tahu apa yang coba disembunyikan oleh Hoshi.
Tidak butuh waktu lama, ia bahkan sampai terkejut membaca artikel terbaru dari management Ragil.
*Selamat malam,
Kami dari management Ragil Mahendaru meminta maaf untuk kabar yang sempat beredar di kalangan masyarakat.
Kami ingin memberikan kabar bahagia, juga permintaan maaf untuk orang yang sudah dirugikan selama beberapa hari terakhir.
Kabar bahagianya, idol kami Ragil Mahendaru sudah mengkonfirmasikan pada kami jika ia sedang berkencan dengan salah seorang dari kalangan selebriti.
Permintaan maaf kami tujukan untuk para penggemar Ragil. Maaf kalian pasti sedikit kecewa. Tapi secara langsung Ragil ingin kalian ikut bahagia dengan kabar kencannya*.
"Ema, ajak Hanum makan malam"
"iya, bu"
Dari balik pintu kamar mandi, Hanum mendengar suara Elma yang masih di dalam kamarnya. Ia mencuci tangannya, kemudian membasuh wajahnya. cukup lama dia hanya berdiri di depan cermin. Ingin memastikan bahwa Elma sudah tidak lagi ada di dalam kamarnya. Barulah ia keluar dari kamar mandi.
Ketika ia tiba di dapur, ternyata ibu Elma sedang melihat berita tentang Ragil di salah satu stasiun televisi. Elma yang menyadari kedatangan Hanum, dengan tergesa-gesa mematikan televisi.
__ADS_1
Tapi usahanya seperti percuma, karena Hanum sudah melihatnya