
Selama di perjalanan Hanum tidak berhenti memikirkan senyum Ragil. Dia bahkan tidak sadar sudah sampai di depan rumahnya. Hoshi bahkan tidak berani mengatakannya lagi. Dia ikut diam di kursi kemudi.
Ddrrrrt ddrrrrt
Getaran di dalam pouch Hanum membuat ia sadar. Dia melihat ke luar jendela. Lalu melihat ke kursi depannya.
"sudah berapa lama" katanya.
"10 menit, nona" ujar Hoshi menginfokan.
Hanum menghela nafasnya panjang, kemudian bersiap untuk turun dari mobil. Dia tidak menunggu Hoshi membukakan pintu mobil untuknya. Setelah mobil Hoshi melesat pergi. Ia buru buru masuk ke dalam rumah.
Saat masuk ia merasa ada sesuatu yang aneh. Dia merasa seseorang sudah masuk ke dalam rumah. Hanum sedikit waspada, karena ia yakin orang itu bukanlah Ragil. Alasannya karena pria itu tidak mungkin sampai lebih dulu darinya.
Perlahan dia melihat ke sekeliling. Memastikan tidak ada seorang pun di lantai satu. Lalu menaiki anak tangga dengan hati hati. Setelah sampai di lantai dua. Hanum melihat pintu kamar miliknya dalam kondisi terbuka sedikit. Padahal ia tidak pernah membiarkan pintu kamarnya tertinggal dalam keadaan terbuka.
Hanum melepas kedua high heelsnya. Dan menjadikan benda itu sebagai senjata. Dia sempat ragu ingin masuk ke dalam kamarnya. Perlahan ia mendekati pintu itu. Ketika tiba tiba ia mendengar suara seseorang dari dalam kamarnya. Hanum langsung bersembunyi dibalik tirai besar yang menutupi jendela.
Sosok lelaki berbadan besar berdiri di ambang pintu. Pria itu membawa benda berukuran panjang, seperti sebuah linggis. Nampak sedang memperhatikan sekitar. Lalu berjalan ke arah kamar Ragil. Dengan sekali hentak, pintu itu terbuka dengan paksa oleh linggis.
Hanum hanya melihat dengan samar. Dia tidak berani keluar dari persembunyiannya.
*
Ragil memarkirkan mobilnya tepat di sisi mobil Hanum. Laki laki itu tersenyum tipis ketika mengingat ekspresi wajah Hanum di lift tadi. Dengan riang ia masuk ke dalam rumah. Semua berubah ketika melihat Hanum yang berdiri di balik tirai. Juga bayangan sosok yang lain di sana.
Lalu ia berjalan semakin dekat, dan menyadari ada yang sedang tidak beres. Dengan berhati hati ia menaiki tangga. Ia melihat pintu kamar Hanum dan miliknya yang terbuka. Kemudian dengan cepat dia menghampiri Hanum yang sedang bersembunyi dengan ketakutan.
Saat ia sedikit membuka tirai, ia bisa melihat wajah ketakutan juga terkejut wanita yang selalu bersikap dingin padanya itu. Ragil mengelus kedua pipi mulus Hanum. Menatap tepat ke mata indah Hanum. Menyalurkan rasa aman padanya.
"di mana" bisik Ragil.
"kamar kamu" jawab Hanum tidak kalah pelan.
Ragil melihat ke arah pintu kamarnya yang terbuka itu. "sekarang turunlah, dalam 5 menit. Kalau aku tidak muncul segera telepon polisi" ucap Ragil dengan yakin.
Hanum menggeleng cepat, "percaya sama aku" Ragil menggenggam tangan Hanum yang sedang memegang sepatu heels miliknya.
Kali ini Hanum mengangguk, dia turun dengan cepat. Sempat berhenti di tengah anak tangga. Menoleh ke arah Ragil yang sedang memberi isyarat kepadanya untuk segera turun.
Dengan terpaksa ia melanjutkan langkahnya. Hanum berdiri dengan cemas di depan pintu masuk rumah. Dia berkali-kali melihat ke arah ponselnya. Memastikan bahwa waktu yang di berikan oleh Ragil tidak terlewatkan.
Sementara itu Ragil bergegas masuk ke dalam kamarnya dengan perlahan. Dia melihat seorang laki-laki berbadan besar sedang mencari sesuatu di lemari penyimpanan miliknya. Menyadari ada yang datang. Orang itu langsung berdiri sembari mengangkat linggis miliknya.
Ragil yang melihat orang itu membawa senjata sedikit menciut. Tapi kemudian dia kembali memberanikan dirinya.
"nyari apa lu di rumah gue" tanya Ragil dengan sarkasme.
Tanpa mengatakan apapun, orang itu langsung menyerang Ragil menggunakan linggis. Beruntung ia bisa dengan cepat menghindari setiap serangan yang datang bertubi-tubi. Keahliannya dalam bela diri membuahkan hasil. Meski sempat mendapat perlawanan, nyatanya perampok itu jatuh ditangannya.
Dia mendengar suara seseorang berjalan ke arah nya, dia tahu itu pasti Hanum. Ketika ia melihat wanita itu datang dengan membawa sapu, Ragil tersenyum tipis dengan nafas yang memburu. Tanpa dia sadari, perampok tadi merangkak sembari meraih senjata miliknya. Lalu melayangkan benda itu ke arah Ragil yang belum menyadarinya.
Hanum berlari cepat dengan panik. Lalu berdiri melindungi Ragil dari ayunan senjata yang sedang di gunakan perampok itu. Ketika benda keras tadi mengenai lengannya dengan kuat. Ia hanya meringis, dan memeluk Ragil semakin kuat.
Sementara Ragil menyadari apa yang sedang terjadi pada Hanum. Dengan cepat dia menendang perampok itu yang akan kembali memukulkan linggis ke arah Hanum.
"Hanum" ucap Ragil lirih. Hanum menjawabnya dengan gelengan lemah, wajahnya sudah sangat menggambarkan rasa sakit di lengannya. Kemudian ia kembali menyerang perampok tadi. Menendang orang itu hingga terpental, lalu menghajarnya bertubi tubi di wajah. Hingga orang itu terkapar. Ia benar-benar sangat marah, dan tidak membiarkan perampok itu melawan.
Ketika ia ingin meninjunya untuk kesekian kalinya, Hanum memeluknya dengan erat. "jangan, kumohon" ujarnya.
Ragil menurunkan tangannya, "siapa yang mengirimmu" tanya Ragil pada perampok yang hampir kehilangan kesadarannya itu.
Tapi sayang nya perampok itu langsung pingsan sebelum menjawabnya. Hanum mengendurkan kedua tangannya, dia merasakan sakit di lengan yang terkena pukulan. Dia menarik diri lalu menyandarkan tubuhnya sembari menyentuh pergelangan tangannya yang sakit. Tidak berdarah, tapi sangat sakit.
"Hanum, apa ini sangat sakit" Ragil bertanya dengan panik. Dan dia hanya bisa menjawab dengan gelengan. Agar Ragil tidak terlalu khawatir padanya.
Tak lama polisi datang, kemudian membawa perampok itu. Juga mengamankan barang bukti. Tak ada barang berharga yang diambil. Hanya beberapa barang yang berantakan.
Usai meminta keterangan terakhir pada Hanum. Mereka langsung kembali ke kantor polisi. Setelah kepergian polisi, Ragil menghampiri Hanum. Lalu menyentuh lengan yang tertutup kain jas itu dengan sedikit meremas. Menyebabkan rasa sakit itu terasa lebih sakit.
"agh" Hanum meringis sembari mengelus lengannya.
"kita ke rumah sakit" pinta Ragil yang sangat khawatir. Ia melupakan keadaan dirinya sendiri. Darah di sudut bibirnya yang sudah mengering. Juga luka lainnya.
*
Mereka berdua duduk di bangku taman rumah sakit. Lengan Hanum di gips, karena pukulan yang menggunakan benda keras membuat lengannya retak.
"terimakasih" ucap Hanum lirih.
Ragil menolah ke arah Hanum, lalu kembali menunduk. "tidak perlu sungkan padaku, jika itu orang lain aku juga akan menolongnya" kata Ragil.
Meski sempat berharap lebih, nyatanya sikap alami seorang manusia adalah menolong orang lain. Tidak memandang status hubungan.
"bagaimana kamu tahu orang itu tidak sedang mengincar barang berharga di rumah itu" tanya Hanum penasaran.
Ragil menghela nafas panjang, "aku hanya menebak, lagian orang itu keburu pingsan"
"ah, begitu" gumam Hanum.
Ragil berdiri dari duduknya. "nah, ayo pulang" ajaknya sembari mengulurkan tangannya.
"saya bisa jalan sendiri" tolak Hanum, lalu ia berjalan mendahuluinya.
"aku berharap kakimu yang retak" gumam Ragil kesal.
"saya mendengarnya" ujar Hanum. Dia terus berjalan tanpa henti, meninggalkan Ragil yang sedang kesal.
"hei tunggu" teriak Ragil sembari berlari menyusul Hanum.
*
__ADS_1
Selama dalam perjalanan kembali ke rumah, mereka berdua hanya diam. Jarak rumah sakit dan rumah yang tidak terlalu jauh. Tapi terasa sangat lama bagi Hanum.
"bagaimana kamu bisa datang ke acara pernikahan itu" tanyanya untuk mengurangi rasa bosannya.
"hm, karena undanganlah" jawab Ragil santai.
"bukan, maksud saya bagaimana mereka bisa mengundang idol yang sedang sangat sibuk ini" sindirnya.
"karena uang lah" ujar Ragil.
"tapi bukannya sudah kubilang ya" Ragil menghentikan ucapannya untuk melihat ke arah Hanum sebentar. "jangan bicara terlalu formal padaku" imbuhnya.
"apa kamu selalu seperti ini jika sedang bersama wanita lain. Termasuk orang yang sudah kau campakan"
Ragil membanting setir nya ke kiri, lalu menghentikan mobilnya. Dia menatap tak percaya pada Hanum.
"apa maksudmu, haruskah ku ulangi lagi. Kau yang menolakku di saat aku ingin bertanggung jawab. Kenapa sekarang kau berlagak jadi korbannya" gertak Ragil dengan keras.
kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, batin Ragil.
Setelah tidak ada jawaban dari Hanum, Ragil membuka pintu mobilnya. Kemudian membanting pintu mobilnya dengan keras. Hingga membuat Hanum terkejut dengan sikap Ragil. Setelah pria itu menghilang dari balik pintu.
Dia ikut keluar dari dalam mobil, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Menyusul Ragil yang berjalan cepat menuju lantai dua.
"tunggu" teriaknya saat Ragil hendak menutup pintu kamar miliknya.
Tapi Ragil pura pura tidak mendengarkannya. Dia kembali membanting pintu di hadapan Hanum. Dia benar benar kesal. Ketika tidak ada lagi suara dari luar, Ragil bergegas ke kamar mandi.
Dia membuka Hoodie hitam yang dia kenakan sejak tadi. Lalu kaos hitam polos. Tangannya meraba luka goresan panjang di perutnya. Dia tidak menyangka akan sampai parah seperti ini. Padahal ia sudah berusaha menghindari pisau lipat yang coba disembunyikan perampok tadi.
Rasa perih yang sejak tadi coba ia tahan, tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya kali ini. Ia yang sudah berusaha berbuat baik kepada Hanum, nyatanya masih harus menelan pil pahit. Akibat dari perbuatannya beberapa bulan lalu.
*
Hanum memunguti barang barang yang berserakan di lantai. Dia sangat kesulitan karena tangan satunya tidak bisa digerakkan. Meski begitu ia tetap merapihkan kertas yang berserakan.
Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu di atas meja. Dia berjalan dengan cepat, lalu menemukan buku nikah mereka tergeletak di atas meja. Seperti dengan sengaja di taruh di atas meja.
Matanya membulat, dia mendapatkan firasat tidak baik tentang ini. Dengan cepat dia meraih ponselnya di dalam pouch. Lalu menghubungi seseorang.
"selamat malam, Nona" sapa Hoshi.
"pastikan tidak ada satupun berita tentang pernikahanku" perintahnya pada Hoshi.
"pastikan itu, atau kau tahu akibatnya" tambahnya, kemudian ia memutuskan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Hoshi.
Dengan panik ia kembali merapihkan buku nikah dan juga barang lainnya. Meski akhirnya usahanya sia sia, karena kertas yang dia pegang malah pada berjatuhan.
"kenapa malah jadi seperti ini" ucapnya kesal. Ia yang sejak awal tidak menyimpan buku nikah itu di brankas, malah membuatnya mendapatkan firasat tidak baik.
*
Saat pertama kali turun dari mobil taksi, para karyawan melihat lengannya yang di gips dengan heran. Juga penampilan Hanum kali ini yang sangat natural. Jauh lebih segar dan cantik dari sebelumnya. Mungkin karena efek lengan yang sakit. Hanum tidak bisa bersiap dengan maksimal.
"emang lu kepentok apa si, ini retak loh. engga mungkin lu sengaja benturin ke besi kan" selidiknya dengan antusias.
"berhentilah bertanya, karena itu akan membuat mu semakin penasaran" elak Hanum yang sudah bosan.
"makanya kasih tahu dong, gue khawatir nih" ucap Elma frustasi.
Hanum mengangkat wajahnya, dia meletakkan kembali pena yang sedang dia pakai. "kembalilah bekerja, atau minggu depan kau ke kota M seorang diri" ancam Hanum. Yang berhasil membuat mulut Elma menutup semakin rapat. dia langsung memberi jarak antara dirinya dan Hanum.
"lu kalau galau jangan benturin tangan ke besi ya. Bilang langsung aja sama ayank beb nya. oh gue tahu. Si tunangan lagi sibuk ya" ledek Elma sembari meninggalkan Hanum.
"Elma, kau sudah bosan hidup ya" gertak Hanum.
"gue bosen jadi jomblo, Num. hehehe" teriaknya di ambang pintu sembari melambai.
Karena terlalu asyik menggoda Hanum, dia tidak menyadari Hoshi sedang berdiri di belakangnya. Ketika Elma berbalik, tubuhnya langsung membentur tubuh tinggi Hoshi.
Jika Elma tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Hoshi. Yang membuatnya enggan menjauh. Itu berbanding terbalik dengan Hoshi yang langsung mendorong Elma di keningnya dengan pelan.
"maaf" kata Hoshi dingin.
"eh iya" Elma berjalan menjauh. Lalu duduk di meja kerjanya.
Sementara Hoshi langsung masuk ke ruang Hanum. Meninggalkan Elma yang sedang sibuk mengipasi pipinya yang tiba-tiba panas.
"apa yang terjadi dengan lengan anda, nona" tanya Hoshi khawatir.
Sedangkan Hanum mulai kesal dengan pertanyaan itu yang sudah ia dengan puluhan kali. "bagaimana tugas yang kuberikan" kata Hanum mengalihkan topik pembicaraan.
"tidak ada satupun berita tentang pernikahan anda, nona. Semua berita kebanyakan tentang suami anda" jelasnya.
"berita tentang comeback nya bukankah sudah jadi tranding sejak kemarin" tanya Hanum.
Hoshi menggeleng, " Ragil Mahendaru kedapatan menutupi perutnya dengan plaster luka saat sedang live performance tadi pagi. Juga seseorang yang mengatakan ia melihat Ragil dengan wanita di rumah sakit tempat kerjanya semalam" imbuh Hoshi.
"luka apa" ia lebih tertarik dengan luka di perut Ragil ketimbang berita tentang kedekatan suaminya itu dengan seorang wanita.
"tidak dijelaskan secara langsung, hanya sebuah foto yang terlihat sangat jelas itu adalah plaster luka" Hoshi menunjukkan sebuah artikel yang berisikan foto Ragil.
Hanum melihat foto Ragil yang sedang menari, lalu tangan yang sedang mengangkat ke udara. Tidak lupa juga bagian perut nya yang tertutup plaster luka. Berbanding dengan kondisi Ragil sehari sebelumnya.
"mungkin dia ingin menyembunyikan abs miliknya" ucap Hanum dengan datar.
"perihal wanita semalam, dia sudah mendapatkan peringatan kecil. Setidaknya dia tidak akan berani keluar rumah untuk beberapa hari"
"hmm"
"beberapa wanita yang pernah ditipu oleh wanita itu datang secara bersamaan. Mereka menginginkan uang mereka kembali, atau mereka akan melaporkan wanita itu ke polisi" Hoshi menyodorkan beberapa bukti kejahatan wanita yang sudah menyinggung dirinya semalam.
__ADS_1
"jangan terlalu keras padanya, dia hanya alat" Hoshi mengangguk. "kau boleh pergi"
Hoshi kembali menunduk memberi hormat, ia kemudian keluar dari kantor Hanum. Sebelum kembali ke ruangan miliknya, ia melihat ke arah Elma yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Lalu ia melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja nya.
*
Gio meminta penjelasan dari Ragil perihal luka di perutnya. Namun sang Idol hanya diam. Dia juga mempertanyakan foto dirinya dengan wanita di rumah sakit. Beruntung wajah wanita itu tidak terlihat.
"apa kau mendapatkan luka itu karena wanita ini" tanya Gio untuk kesekian kalinya.
"anda tidak perlu repot-repot mencari tahu tentang luka ini. Saya hanya melakukan pembelaan" ucap Ragil.
"jadi siapa wanita ini, dia yang melukai kamu. Lalu dia membawamu ke rumah sakit. Dan berusaha bertanggungjawab" cecar Gio dengan emosi.
"bos wanita itu cuma teman Ragil" sela Chelsea.
"diam, kau bahkan tidak ada di sana. seharusnya kamu tahu apa yang terjadi pada artismu" Gio menyandarkan punggungnya. Dia kemudian memijat pelipisnya.
Ragil mulai kehilangan kesabarannya. Lalu ia berdiri, "fokus saja pada comeback ku, tidak perlu mengurusi urusan pribadi ku. Kontrakku dengan perusahaan ini akan berakhir dua bulan lagi. Setidaknya jangan terlalu banyak menuntut ku" pinta Ragil.
Setelah mengatakan itu ia menarik lengan Chelsea. Untuk keluar dari ruangan itu. Sepeninggal Ragil, Gio kembali memijat pelipisnya. Kemudian ia dengan emosi membanting cangkir teh miliknya.
"Ragil, aku minta maaf karena tidak membantu apapun" ucapan Chelsea membuat Ragil berhenti berjalan. Ia melepaskan cengkeramannya pada lengan wanita itu.
"kau pulang saja, setelah dari stasiun televisi aku juga akan pulang" kata Ragil.
"tapi" "aku ingin sendirian dulu" sela Ragil.
Chelsea dengan terpaksa harus mengiyakan perkataan Ragil. "kalau begitu sampai ketemu besok" pamit Chelsea dengan enggan.
"hm, hati hati di jalan"
*
Rumah produksi terbesar di kota itu, yaitu Paradewa PH. Sedang melakukan promosi untuk film terbaru mereka. Hanum mendapatkan undangan dari sebuah stasiun televisi swasta. Dia datang sebagai bintang tamu di acara talk show, untuk membahas tentang film drama musikal yang akan diproduksi oleh perusahaan miliknya.
Dia datang lebih awal ditemani oleh Hoshi, untuk proses makeup juga briefing dengan produser acara tersebut. Kedatangannya dengan gips di lengannya membuat beberapa kru juga produser acara itu menanyakan kondisi nya.
"apa anda baik baik saja" tanya produser bernama Tomi.
"tentu, ini hanya luka kecil" jawab Hanum dengan riang.
"syukurlah, kalau anda baik baik saja. Ini pertanyaan yang akan ditanyakan oleh pembawa acara nanti. Silakan anda pelajari, kalau ada pertanyaan silakan tanyakan saja. Setelah ini, asisten saya Dwi akan mengantarkan anda ke ruang makeup" Tomi menunjuk wanita manis di sampingnya.
Sedangkan Dwi tersenyum ramah pada Hanum. "mari silahkan Presdir ikut saya" ajak Dwi.
Dengan patuh ia mengikuti arahan Dwi. Duduk dengan nyaman di sofa ruang makeup sembari menunggu gilirannya. Sementara Hoshi menunggu di ruang tunggu bintang tamu seorang diri.
Ia tertarik dengan obrolan seorang aktris cantik dengan seorang penata makeup. Mereka sedang membicarakan bintang tamu yang akan datang.
"kudengar Ragil Mahendaru datang kali ini" ucap aktris cantik yang sedang dimakeup.
"iya, dia benar benar ganteng. gue jarang liat idol yang gantengnya kelewatan" puji sang MUA.
"hahaha, lu aja yang jarang keluar ruangan" canda aktris itu.
"sumpah, doi udah ganteng juga sopan banget. nah, lu udah kelar. mending basa basi sama Ragil di ruang sebelah. Siapa tahu doi tertarik sama lu" usulnya.
Aktris cantik itu hanya tersenyum, setelah selesai dimakeup ia langsung berdiri. Melihat keberadaan Hanum, aktris itu tersenyum lalu menyapa. Usai menyapanya, wanita itu keluar dari ruangan bersama dengan sang MUA.
"Presdir, maaf saya terlambat" seseorang datang dengan membawa tas makeup. Sepertinya dia yang akan mendandani Hanum.
"tidak masalah" ucap Hanum dengan sopan.
"terimakasih Presdir, silakan Presdir" Wanita itu menarik kursi yang tadi sempat di duduk aktris tadi.
Hanum mendudukkan dirinya dengan perlahan. Ketika akan bersiap MUA itu terlihat begitu terpesona dengan wajah Hanum.
"maaf apa anda tidak mengenakan make-up apapun" tanya ragu.
Hanum tersenyum tipis, "hanya pelembab dan lip gloss" jawabnya sembari mengangkat gipsnya.
"ah, maaf kan saya Presdir" ujar wanita itu dengan sungkan.
"tidak apa-apa, tidak perlu terlalu sungkan padaku" pintanya.
Wanita itu tersenyum, lalu ia dengan berhati hati mengikat rambut Hanum yang tergerai itu. Kemudian mengenakan headband masker. Dengan sangat perlahan, seolah ia tidak ingin melukai wajah cantik Hanum.
Ketika tiba tiba pintu terbuka, wanita tadi melihat ke arah pintu. Hanum yang sedang memejamkan matanya tidak ikut melihat ke arah pintu.
Ragil mengangkat jarinya, lalu menaruhnya di depan bibir. Memberi isyarat untuk tetap diam pada wanita itu. Mengerti isyarat dari seorang Ragil, dia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sementara Ragil mendudukkan dirinya di sofa, sembari menunggu Hanum dimakeup.
"apa ada yang datang" tanya Hanum.
"ah, iya. sepertinya dia ingin memperbaiki makeup nya" jawab wanita itu dengan tergagap.
"oh, apa saya sudah selesai. mungkin dia harus melakukan nya dengan cepat" katanya.
"ah, sebentar lagi Presdir. Anda tidak perlu khawatir dengan keadaan orang itu"
"baiklah, saya mengerti" ujar Hanum polos. Dia tidak menyadari ketika ia membuka matanya, ada sosok yang sedang menatapnya dengan tatapan hangat. Hanum berdiri lalu memutar tubuhnya, saat ia baru sadar Ragil ada di sana. Dia tidak tahu harus berbuat apa, karena ada orang lain di ruangan itu.
Ragil ikut berdiri, ia melihat Hanum yang tampak sangat cantik. Dengan perlahan ia mendekati Hanum. Lalu tersenyum dengan lembut.
"apa"
"awas kau menghalangi jalan ku" ucap Ragil tak peduli. Dengan cepat Hanum menghindari laki laki itu. Setelah meraih tas miliknya, ia keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Ragil yang tersenyum puas.
"ada apa" pertanyaan dari wanita itu menyadarkan tujuannya datang ke ruangan itu.
__ADS_1
"tidak jadi"