
pagi hari yang cerah dikediaman Johnson. Banyak orang-orang berdatangan kemansion megah itu, untuk ikut berduka atas kepergiannya suami istri tersebut. Bahkan banyak sekali para pengusaha dari luar maupun dalam negeri ikut hadir disana. Seluruh keluarga besar Danayla pun turut serta, banyak yang tidak menyangka bahwa orang sebaik mereka akan pergi begitu cepat, karena semua orang tau bahwa sepasang suami-istri tersebut sangat lah baik, tidak pernah membedakan antara atasan dan bawahan. Bahkan banyak yang merasa kehilangan mereka.
di kamar wanita cantik, putri tunggal keluarga Jhonson itu, sedang berdiri didepan balkon kamarnya bersama kedua sahabat setianya. Tidak ada raut kesedihan maupun air mata yang ia perlihatkan, hanya raut muka datarnya saja yang ia perlihatkan. Kedua temannya pun sampai terheran dengannya.
"Lo enggak ikut berduka atas kepergian kedua orangtua lo Nay?" tanya salah satu temannya yang sedari tadi memperhatikan ekspresi Danayla.
sedangkan yang ditanya hanya diam, tidak menjawab apapun. Bahkan untuk sekedar menoleh saja tidak.
"Ck! lo sudah terlihat seperti mayat hidup Nay" celetuk temannya yang lain, mengundang tawa mereka berdua tetapi tetap saja Danayla tidak merespon apapun.
"Shut up!" ujar Danayla.
seketika kedua temannya langsung terdiam, kamar itupun menjadi sepi karenanya. Tak lama setelah itu, suara ketukan sepatu dan lantai terdengar nyaring dari arah luar kamar, dan ketukan pintu pun terdengar dari luar.
"TOK"
"TOK"
"TOK"
"Nona, sekarang sudah waktunya untuk memakamkan tuan dan nyonya Johnson. Para tamu juga sudah bersiap, nona" ujar asisten Jo dari luar kamar. "Dan saya harap anda hadir disana"
asistennya itupun langsung pergi meninggalkan kamar Danayla. Tak lama setelah itu, pintu kamar Danayla terbuka dan keluarlah ke-3 wanita cantik dari kamar tersebut.
"Jangan menyembunyikan kesedihan mu sayang, kau boleh memperlihatkannya kepada abuelo mu ini" jelas sembari tersenyum manis kepada cucunya, anak dari putrinya Olivia Johnson.
dipeluknya erat-erat ibu dari Mommynya itu, menyembunyikan kepalanya diceruk leher abuelonya.
"Aku sekarang sendiri abuelo, Mommy dan Daddy sudah meninggalkanku sendiri disini" ucapnya lirih. "Apa Mommy dan Daddy sudah tidak sayang denganku lagi abuelo?" sambungnya lagi.
"Tidak ada yang namanya orangtua yang tidak sayang dengan anak mereka. Bagaimana pun sifat kita kepada mereka, yang namanya orangtua, pasti akan selalu memaafkan kesalahan anaknya" jelasnya sambil mengelus surai panjang cucunya.
"Mari antarkan Mommy dan Daddy mu ke peristirahatan terakhir mereka sayang" ajaknya sambil melepaskan pelukan keduanya.
Danayla hanya bisa tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan abuelonya itu. Diikuti dari belakang oleh kedua temannya dan seluruh keluarga besar Mackenzie dan juga Olivia Johnson.
__ADS_1
sesampainya di pemakaman khusus keluarga mereka, kedua peti itu diletakkan bersebelahan, karena pesan dari Mackenzie agar tidak terpisahkan oleh istrinya.
"Aku pasti akan selalu merindukanmu Mommy, dan juga Daddy" gumam Danayla dalam hati.
kedua teman Danayla memeluknya dari sisi samping kanan dan kiri untuk menguatkannya. "Selamat jalan uncle dan auntie, kami akan menjaga putri kesayangan kalian apapun yang terjadi" gumam kedua sahabatnya dalam hati.
dilain sisi, tepat dibelakang ke-3 wanita cantik itu. Seorang pria tampan dengan menggunakan kacamatanya, sedang berdiri memperhatikan mereka ber-3.
(anggap saja ini outdoor ya, dan aku gak ada visual karena siapapun pasti aku pakek disini, jadi terserah kalian mau bayangkan visualnya siapa saja 🙂)
"Apakah semua para wanita seperti itu? jika bersedih pasti saling berpelukan" cetusnya langsung kepada asisten pribadinya yang selalu setia menemani dirinya dimana pun dan kapanpun itu.
"Namanya juga wanita Sir" jawab asistennya langsung.
"Apakah ibu anda termasuk Sir? bukankah ibu anda seorang wanita?" ucap asistennya sambil menaikturunkan alisnya menggoda bosnya itu.
menatap sinis asistennya dari samping, dan memalingkan wajahnya. "Apa kau mau berada didalam peti mati itu, untuk menggantikan tuan Johnson? aku dengan senang hati mengabulkannya" sambungnya lagi sambil tersenyum tipis.
"Tidak Sir! nanti jodoh saya kesulitan untuk mencari saya"
"Kau itu jomblo abadi, mana ada jodoh untuk laki-laki seperti mu? yang selalu mengikuti ku sepanjang waktu, jangan-jangan kau menyukai ku ya? mengakulah" menoleh dan manatap tajam asistennya itu.
"Saya seperti ini juga karena anda Sir! jika bukan karena digaji dengan sangat fantastis oleh Mr Dewson, saya juga tidak akan mau berkerja menjadi asisten anda. Saya masih normal, untuk menyukai anda? saya rasa, saya masih waras Sir" sungutnya langsung.
"Kau..." menunjuk asistennya dengan jari telunjuknya tetapi, ucapannya terpotong oleh ucapan seorang wanita yang ada didepan mereka.
"Disini tempatnya untuk berduka! bukan untuk adu mulut" ucap Annabelle, saat menolehkan kepalanya kebelakang.
"Not your business" jawab seorang Gabriel Dirgantara tersebut.
__ADS_1
"Tidak bisakah anda menghargai orang yang sedang berduka? cukup diam dan lihat" ucapnya kesal.
"guest is king!" celetuk Gabriel.
"Shut up! tidak bisakah kalian jangan membuat masalah?" suara dingin dari Danayla, mengalihkan atensi keduanya.
"Silahkan pergi dari sini jika masih ingin melanjutkan pembicaraan kalian" menatap tajam kearah Gabriel dan juga Annabelle.
seketika kedua orang itu langsung terdiam, karena ucapan Danayla.
"She looks so sexy" gumam pelan Gabriel.
"Who?" sahut Frans Alferd.
dia adalah asisten setia yang selalu menemani seorang Gabriel Dirgantara Dewson.
"She's standing right in front of me" sahutnya cepat.
"That's the woman who scolded you earlier, boss" ujarnya cepat sambil memutar bola matanya malas. "Dan jangan menargetkan dia untuk menjadi mangsamu selanjutnya! karena jika itu terjadi, kau akan terkena masalah dengan keluarga Johnson" berbisik pelan didekat telinga Gabriel.
"Menjauhlah" sentaknya keras.
serentak, semua orang yang sedang menundukkan kepalanya menoleh kearah dimana Gabriel dan asistennya berdiri sekarang.
Dan yang menjadi tersangkanya hanya memasang raut wajah datarnya saja.
"Akan ku potong gaji mu
70 persen" kata terakhir yang keluar dari Gabriel, dan setelah itu ia berlalu pergi meninggalkan asistennya, diam mematung menatap punggung tegapnya yang perlahan menjauh dari keramaian.
"Cepatlah kemari! aku ingin segera pulang sialan!" ujarnya saat sambungan ponselnya terhubung ke asistennya itu.
"Laksanakan Sir!" ujar Frans.
setelah beberapa jam, akhirnya proses pemakaman dan tanda penghormatan terakhir telah selesai. Semua para tamu sudah meninggalkan tempat satu persatu, dan hanya tersisa keluarga inti saja yang masih berdiri disana.
__ADS_1