
sekarang keduanya sudah berada di lokasi proyek dan sedang melihat, bagaimana jalannya kerja. Karena pembangunan resort ini bersamaan dengan musim dingin, oleh karena itu proyek ini harus secepatnya selesai sebelum badai salju mendahului.
Wanita itu memperhatikan jalanan menanjak yang akan membawanya ke salah satu resort yang tengah dibangun. Terlihat unik dengan bebatuan yang disetiap pinggirnya berwarna emas mengkilat, dibuat sebagai anak tangga sedemikian rupa.
"Bagus bukan?" ucap Gabriel disebelah Danayla yang terlihat tengah menatap intens wanita itu.
"Gue baru melihat tangga nya saja, dan lo langsung bertanya? yang benar saja" decak Danayla kesal dengan Gabriel kemudian melangkah menaiki anak tangga itu satu persatu dengan diikuti oleh Jonathan dari belakang serta Gabriel yang senantiasa mengikuti disebelahnya.
Beberapa jam setelah menghabiskan waktu sekaligus bertanya banyak hal soal pembangunan resort
yang masih berlangsung. kini keduanya kembali kedalam mobil, menuju satu-satunya resort yang telah siap dihuni.
untungnya jalanan tidak ada halangan apapun, walupun hujan salju telah turun dan udara semakin dingin. Danayla tidak mencemaskan hal itu, karena ia sudah sigap dengan menggenakan pakaian tebal sebelum ke resort sebagai antisipasi.
Danayla mendekatkan dirinya pada kaca besar yang ada di dalam resort, memperhatikan view untuk bisa melihat keindahan dari atas resort.
"Beautiful" gumamnya sambil tersenyum manis.
Gabriel kemudian mengangguk dan berjalan mendekati Danayla, Meraih wajah wanita itu agar menatapnya kemudian mendekatkan wajahnya keduanya. "a beautiful sight is when we see it up close, and this sight is less beautiful than someone that is you, Danayla" bisik Gabriel kemudian memiringkan wajahnya, menyatukan bibir keduanya dengan perlahan kemudian ********** begitu lembut.
...----------------...
Danayla memakan makanan miliknya dengan kasar lalu meneguk air mineral miliknya cepat.
"Stop looking at me like that"
ucap Danayla kesal. Entah bagaimana caranya pria itu bisa menghabiskan makanannya dengan cepat, kemudian menatapnya intens secara terang-terangan. Jelas saja jika Danayla tidak suka diperhatikan sebegitu intens nya? ia bahkan sungguh risih, bukannya merasa senang yang ada dirinya tidak nyaman bila diperhatikan saat makan dengan oleh orang lain. Dan ini Gabriel pula yang menatapnya?
Gabriel terkekeh pelan. "Kenapa, hm?" tanya pria itu yang dibalas putaran bola mata malas Danayla.
"Kamu masih malu soal ciuman tadi?" tanya Gabriel membuat Danayla melototkan matanya. Pria satu ini benar-benar...argh!
"Keep your word" ucap Danayla yang lagi-lagi membuat Gabriel terkekeh pelan. Padahal Danayla berusaha mati-matian untuk tidak mengingat hal itu tetapi Gabriel malah mengingatkannya lagi dengan wajah tanpa dosanya.
__ADS_1
Gabriel berdiri dari duduknya kemudian menarik tangan Danayla pelan ke arah ruang utama resort itu, kamar tidur.
Membiarkan Danayla melihat view resort yang semakin menakjubkan ketika malam hari. Menikmati malam yang dingin ini dengan saling menghangatkan di perapian, apalagi salju yang turun masih terlihat.
"Kayaknya kalau malam hari bagus banget view nya" ucap Danayla menatap sekeliling dengan takjub.
Gabriel melangkah dengan pelan kemudian memeluk erat tubuh Danayla dari belakang. Tangan Danayla refleks menyentuh tangan Gabriel yang membelit perutnya.
"Gabriel Jang..."
"View nya bakalan lebih bagus kalau ada bintang, tapi sayangnya tidak ada. Mungkin karena sekarang memasuki musim dingin" potong Gabriel sambil meletakkan dagunya diatas pundak Danayla. Menghirup wangi wanita itu dari ceruk lehernya dalam-dalam dengan mata terpejam. Danayla menghembuskan nafasnya kemudian kembali memperhatikan pemandangan gelap didepan sana yang diselimuti oleh kabut karena salju.
"Perlu aku nyalain perapiannya? sepertinya udara bakal lebih dingin karena salju" tanya Gabriel yang mulai merasakan dinginnya udara meski tidak menyentuh kulitnya secara langsung.
Danayla menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, Gabriel. Kata uncle Jo, resort yang ini tidak akan kamu jual. Kenapa?" ucap Danayla mengalihkan pembicaraan mereka.
Gabriel memilih tidak menjawab pertanyaan Danayla, sebaliknya ia mengarahkan tubuh Danayla yang masih berada di pelukannya ke tengah-tengah
ruangan kemudian menjatuhkan diatas ranjang.
"Shut up! resort yang ini untuk kita" potong Gabriel dengan ujung hidung keduanya yang saling menyentuh.
wanita itu mengerutkan dahinya. "Untuk apa?" tanya Danayla membuat Gabriel menghembuskan nafasnya pelan.
"Menurut kamu aku akan biarkan orang lain tidur ditempat yang sama seperti kita? of course not" ujar Gabriel mengusap wajah Danayla dengan buku jarinya.
"Terus resort yang lain?" tanya Danayla bingung dengan jalan pikir pria ini.
"Resort ini hanya untuk kita. Tapi kalau kamu mau, aku bisa belikan seluruh resort yang masih dibangun ini buat kamu" jawab Gabriel manatap Danayla dengan tersenyum tampan.
Danayla terkekeh pelan mendengarnya. "Untuk apa aku punya 200 resort?" ejek Danayla masih tertawa dengan jawaban Gabriel.
Gabriel mengangkat bahunya
acuh. "Mungkin saja bukan? aku hanya ingin, kalau aku bisa bahagiakan kamu. Danayla" ucap Gabriel dengan suara yang serak membuat Danayla memfokuskan pandangannya kepada Gabriel. Selama beberapa detik keduanya saling bertatapan, hingga Danayla menyadari bahwa posisi keduanya sangat intim.
__ADS_1
"Gabriel lo bisa bangun sebentar? gue...emhh"
Gabriel langsung membungkam bibir Danayla dengan ciuman panas. Akhirnya. Gabriel sejak tadi menahannya, seolah bibir Danayla mengejeknya karena tidak berhasil menciumnya.
"Shh..." lirih Danayla meremas rambut Gabriel yang kini sudah bersembunyi diceruk lehernya. Mengecup dan menggigitnya disana.
"Stop it Riel"
Gabriel menatap wajah cantik Danayla yang memerah dengan pandangan berkabut kemudian kembali menyatukan bibirnya keduanya dengan ciuman tak kalah panas dengan yang sebelumnya. Dan tangan yang lainnya menggoda tubuh Danayla.
"Gabrielhh."
akhirnya Gabriel bisa mendengar suara Danayla yang mendesahkan namanya.
"I want you, Danayla" lirih Gabriel serak kemudian meremas paha Danayla pelan dibalik gaun pendek yang wanita itu kenakan. Lalu tangan nakal Gabriel menggoda milik Danayla lembut dengan jaru hingga lipatan sempit itu semakin basah dibawah sana.
"You're wet, baby"gumam Gabriel menatap Danayla yang justru semakin membuatnya tergoda malam ini.
Danayla mengkerutkan keningnya, mencengkeram kuat lengan Gabriel ketika milik pria itu masuk dibawah sana kemudian bergerak tanpa jeda.
"Riel...this hurts"
"Jangan didalam, Gabriel" lirih Danayla memeluk erat tubuh Gabriel bersamaan dengan tubuhnya bergetar sempurna karena menyemburkan cairannya bersamaan dengan Gabriel.
Gabriel tersenyum miring mendengarnya, justru semakin menekan kuat kejantanannya didalam kewanitaan Danayla.
"I'm fucking love you, my love" bisik Gabriel tepat ditelinga Danayla lembut kemudian mengecupnya sensual.
.
.
.
.
.
__ADS_1
hahahaha sumpah aku nulis nya aja geli, apalagi kalian yang baca ya?🤣 yang cukup umur gak masalah tapi yang belum aku saranin skip aja deh gak baik buat kesehatan mental 🤣🤣