
walaupun sudah beberapa kali ia coba untuk membangunkan istrinya, tetapi tidak ada pergerakan. Hanya suara EKG yang terdengar nyaring. Bahkan ia tidak menyadari sedari tadi pintu ruangannya, telah terbuka lebar dan banyak orang yang melihat ia menangis meraung-raung disamping brankar istrinya.
2 orang dokter berjalan mendekati EKG, untuk melihat dengan jelas lagi. Dan beberapa suster mengikutinya dari belakang. "Catat tanggal kematiannya, pada pukul 05.00"
"My wife is not dead" sentaknya, saat seorang dokter ingin menutupi wajah istrinya dengan kain.
"Jo! katakan ini tidak benar bukan? Oliv ku pasti sedang beristirahat sebentar, dia hanya kelelahan Jo. Aku yakin dia hanya tertidur saja" menggenggam erat tangan istrinya yang tidak terdapat selang infus, karena sudah dilepas oleh suster disana.
"Jangan seperti ini tuan! jika anda terus menahan nyonya, ia pasti akan terus tersiksa dengan rasa sakit" sembari menahan tubuh tuannya agar menjauhi brankar istrinya.
"Tapi dia istriku Jo... bagaimana aku bisa membiarkan dia pergi begitu saja? aku tidak bisa hidup tanpanya hiks hiks" berusaha melepaskan diri dari asistennya itu.
"Kehilangan adalah cara terbaik untuk belajar ikhlas tanpa batas" menatap punggung lebar Mackenzie Johnson dari belakang.
"Tapi aku tidak akan pernah bisa, belajar untuk mengikhlaskannya" ucapnya sambil memeluk erat tubuh istrinya yang sudah mulai mendingin.
"Terkadang kita hanya perlu sedikit saja redam dan tenang, karena tiada jawaban yang lebih baik dari rencana Tuhan" ucapnya geram. Karena tidak tahan melihat MacKenzie yang kehilangan separuh nyawanya, setelah kehilangan istrinya.
__ADS_1
"Lakukan perintah terakhir yang ku berikan kepada mu Jo!" menjeda ucapannya. "Lakukan sekarang"
"Tidak akan pernah tuan! walupun nyawa saya taruhannya, saya tidak akan pernah mau melakukan hal seperti yang anda perintahkan" ucapnya tegas.
tak ada yang tau, apa yang dilakukan oleh MacKenzie Johnson. Bahkan tanpa sepengetahuan mereka semua yang ada didalam ruangan itu, ia mengeluarkan senjata api yang selalu ia bawa disaku jas yang ia kenakan sekarang. Tanpa sepengetahuan dokter, suster, bodyguard dan juga asisten pribadinya yang tepat berdiri dibelakangnya saja, tidak ada yang sadar akan pergerakan kecil yang dilakukan oleh tuan mereka.
tiba-tiba saja mereka mendengar suara letusan pistol, yang entah dari mana asalnya, semua yang ada disekitar sana panik dan bingung menjadi satu. Tetapi tidak dengan asisten Jo, ia langsung memfokuskan pandangannya kepada punggung tegap MacKenzie yang mulai menodongkan senjatanya ke kepalanya sendiri, dan.....
"DOR"
"DOR"
asistennya itu sesegera mungkin menangkap tubuh tegap MacKenzie, agar tidak terjatuh di lantai rumah sakit.
"Uhuk"
darah segar keluar dari mulutnya, jangan lupakan, didada kirinya juga mengeluarkan darah yang sangat banyak. Bahkan kepalanya pun tak luput dari darah segar itu.
__ADS_1
"Tu-tuan an-anda?.." ucapnya terbata.
"A-aku...aku ti-tidak a-apa-apa Jo..a-aku Uhuk.. a-aku ingin be-bersama de-dengan o-oliv Jo...aku ti-tipkan Da-danyla ke-kepa-pada mu.." ucapnya dengan suara yang sangat pelan, bahkan sangat pelan seperti bisikan.
"Da-danyla..a-adalah pu-putriku, da-darah dagingku..ja-jadi a-aku mohon..tolong jaga di-dia de-dengan baik Jo...ka-karena di-dia Johnson yang se-sungguhnya..." sambungnya.
"A-aku pergi...se-setelah ini, tidak ada la-lagi yang mengganggu waktumu dengan istrimu..ta-tapi jangan pernah kau lupakan a-anakku Uhuk..rawat dia sepenuh hati, seperti anak sendiri.." ucapnya terakhir, setelah itu ia mulai kehilangan kesadarannya.
"Sir! You're not kidding? You think once you leave, everything just disappears? You even gave me very self-incriminating orders, sir" teriaknya.
"I do not agree with your orders, sir. Have mercy on your son, Danayla still needs you as a backup. You can't transfer your work to me sir, I can't. And can never be what you want sir" ucapnya sambil mengecek denyut nadi Mackenzie Johnson.
"Sangat kecil! semoga masih bisa terselamatkan" ucapnya dalam hati.
mendongakkan kepalanya melihat sekitarnya. "Apa yang kalian semua lihat? Cepat berikan pertolongan kepada tuan Johnson. Jika terlambat semenit saja, nyawa kalianlah yang akan ikut menemaninya disana" ancamnya tak main-main.
"Ye-yes Sir" ucap para dokter dan suster disana.
__ADS_1
seketika, semua orang yang ada disana sangat panik karena hal yang tak terduga itu. Bahkan mereka sungguh tak percaya, seorang MacKenzie Johnson dengan beraninya membunuh dirinya sendiri agar bisa ikut menemani istrinya yang sudah tiada. Sungguh sangat besar cinta seorang suami kepada istrinya, begitu isi pikiran mereka semua yang ada didalam ruangan itu.