GABRIEL DIRGANTARA

GABRIEL DIRGANTARA
propose you


__ADS_3

Gabriel memperhatikan wajah lelah Danayla kemudian mengusap puncak kepala wanita itu lembut. Pesawat sudah landing 20 menit yang lalu dan Gabriel masih ingin tidak beranjak dari tempatnya. Ia masih sibuk mengangumi wajah Danayla yang bertambah cantik sekarang.


sama dengan Gabriel yang tidak beranjak dan Danayla masih dunia mimpinya. Frans, Jonathan dan juga Bianca masih sama-sama diam ditempat masing-masing. Juga awak kabin pesawat yang tidak ia biarkan membangunkan Danayla.


"Danayla, kita udah landing" bisik Gabriel mengusap-usap pipi Danayla. Tidak lagi mencubitnya seperti waktu itu.


"Danayla"


"Nghh" Danayla melenguh pelan dengan tangannya mengucek matanya, dan dengan cepat pula ditahan oleh pria disampingnya.


"Jangan di kucek matanya, malah merah nanti, sayang" ucap Gabriel lembut sambil merapikan helaian rambut Danayla. Lalu keduanya berjalan keluar dari dalam pesawat pribadi Dewson itu.


"Langsung istirahat, kalau sudah sampai di mansion" ucap Gabriel mengusap puncak kepala Danayla sebelum mendaratkan kecupan singkat disana.


Danayla mengangguk kemudian melirik ke arah bawahan Gabriel yang masih berada di landasan udara Dewson itu. Ada Frans dan juga asisten pribadi Gabriel yang bernama Bianca itu. "Lo bisa anterin gue pulang?" tanya Danayla yang kini sudah menatap Gabriel.


Gabriel mengerutkan dahinya kemudian melirik kearah Jonathan yang sudah berdiri didekat supir pribadi yang sudah tiba untuk menjemput Danayla. "Supir kamu gimana?"


"Iya atau tidak?" ulang Danayla lagi, wajah wanita itu sudah tidak bersahabat sekarang.


"Iya, sayang" ucap Gabriel setelah mengecup bibir Danayla.


pria itu berjalan ke arah supir pribadinya, menagih kunci mobil kemudian mendekati Frans dan Bianca. "Saya balik duluan" kemudian berjalan mendekati Danayla yang sejak tadi memperhatikan setiap gerakan langkahnya dengan tatapan datar.


"Kamu kurang nyaman dengan supir kamu?" tanya Gabriel melirik Danayla yang sudah memasang seat beltnya dengan baik. Kemudian menjalankan mobilnya membelah jalanan yang terasa sepi karena sudah tengah malam.


Danayla melirik sekilas kemudian menggeleng pelan. "Biasa saja" jawab Danayla kembali menatap kearah depan.


sedangkan Gabriel menginjak pedal gasnya lebih kuat dengan 1 tangan yang memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. 15 jam di pesawat dan Gabriel memanfaatkannya hanya untuk menatap wajah Danayla yang tertidur pulas.


setelah mobilnya berhenti didepan bangunan megah milik orang tua Danayla, Gabriel melepas seat belt kemudian memutar tubuhnya agar leluasa menatap wajah Danayla yang sedang sibuk melepaskan seat belt ditubuhnya.


"Danayla" ucap Gabriel mengusap pipi wanita itu.


tangan besarnya bergerak mengusap pinggang Danayla sensual sambil melayangkan beberapa kecupan singkat dileher wanita disebelahnya.


"Sayang" gumam Gabriel mencium leher jenjang Danayla lembut yang kemudian berubah menjadi ciuman basah yang meninggalkan jejak sedikit kemerahan.


"Enough, Riel" ucap Danayla serak, kemudian membalas pelukan Gabriel.


"I like your sigh" ucap Gabriel


menatap wajah sayu Danayla

__ADS_1


sambil mengusap pelan pinggangnya. Danayla terkekeh pelan mendengarnya, kemudian Gabriel mengusap wajah Danayla lembut. Wanita itu mengecup sudut bibir Gabriel


singkat, sebelum melepaskan pelukannya bersama pria itu.


"Gue turun dulu, habis nganterin gue, lo langsung pulang kan?" tanya Danayla memperhatikan wajah Gabriel.


pria itu terkekeh pelan lalu mengangguk, tangan besarnya bergerak pelan meremas bokong sintal Danayla ketika wanita itu berbalik hendak turun.


"Gabriel!" peringat Danayla dengan matanya melotot galak.


Gabriel menepiskan bibirnya menggeleng kecil kemudian mengemudikan mobilnya meninggalkan pelataran mansion Danayla setelah melayangkan flying kiss kepada wanita itu.


...----------------...


"Char, sayang. Aku merindukanmu"


diciuminya bibir Charlotte sambil terus bergerak masuk dan terus masuk. Keluar masuk dengan gerakan cepat, brutal dan liar.


"Oh damn"


"This is really driving me crazy baby, ah ****"


waktu terus berlalu sampai akhirnya pria itu melepaskan cairan cintanya dengan sangat banyak kedalam rahim Charlotte.


namun alih-alih tidur, pria itu malah turun dari ranjang dan merogoh saku celananya. Charlotte yang melihatnya pun heran.


"Char, maukah kamu menikah denganku?"


pria ini! apa-apaan? tidak ada romantisnya, nekat sekali melakukannya pikir Charlotte sambil menatap datar pria yang berdiri dihadapannya.


"Aku mencintaimu sampai aku mati. Aku tak menginginkan apapun di dunia ini selain kau. Maukah kau menjadi istriku dan hidup selamanya dengan bajingan


sepertiku?"


Charlotte menggigit bibirnya, menepuk pipinya pelan, oh sial apakah ini nyata? dia tak siap dengan ini. Mereka baru saja bercinta setelah sekian lama, dan pria itu melamarnya? apakah pria itu gila?


"Sayang" cemas yang tak melihat reaksi apapun pada wajah Charlotte.


apakah dia akan ditolak? apakah cara ini salah? oh sialan kau Nathan! dia sampai jauh-jauh ke Ukraina untuk saran sialan. Brengsek memang.


"Ya aku menerimamu"


"A-apa?"

__ADS_1


"Aku bilang aku menerimamu"


"Bagaimana bisa kamu menerima lamaran ini? bahkan, kita baru selesai bercinta dan semuanya mendadak, apa kau yakin?"


"Kamu berharap aku menolakmu?"


"Ehh tidak-tidak! bukan seperti itu, maksud ku jika kamu tidak suka lamaran seperti ini, aku akan melamarmu ditempat lain. Bagaimana kamu ingin aku melamarmu? katakan padaku"


"Cepat pakaikan cincin itu, kamu tidak ingin aku berubah pikiran bukan?"


"Ah iya, baiklah"


pria itu tersenyum haru sambil memasang cincin bermata rubi itu. Setelah terpasang sempurna dia mengecup jemari wanitanya itu. keduanya kembali tersenyum ******* bibir masing-masing.


"Aku mencintaimu, Charlotte"


"Benarkah? bukankah waktu itu kamu berpura-pura tidak mengenal diriku? kamu bahkan langsung pergi begitu saja. Tidak menoleh ke belakang sedikitpun. Apalagi kamu dengan sengaja mencium perempuan lain didepanku" ucap Charlotte menggebu mengeluarkan segala unek-uneknya.


"Kapan itu?" ucapnya memalingkan wajahnya dari tatapan intimidasi Charlotte.


"Waktu dicafe itu"


"Benarkah? kenapa aku bisa melupakan kejadian itu?" ucapnya menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.


Charlotte berdecak malas mendengar pengakuan pria dipelukan nya.


"Aku ingin sekali lagi, sudah lama aku tidak melakukannya. Berikan aku **** yang banyak"


oh **** dan **** saja yang ada di dalam otaknya.


"Aku lelah" ucap Charlotte melepaskan pelukannya kemudian berbaring menyamping sambil melirik cincinnya.


"Mana bisa begitu?"


"Tentu bisa!"


"Hei kamu itu calon istriku! kamu harus disimulasi terlebih dulu. Karena kehidupan pernikahan kita kelak akan dihiasi oleh **** sepanjang hari"


"Kamu sungguh hiperseks?" Charlotte terkesiap.


"Ya aku memang hiperseks dan hiperseks ini hanya ingin bercinta denganmu seorang. Jadi terima saja nasibmu itu"


"Yonatan, berhenti!" Charlotte tertawa keras mendapatkan ciuman yang menggelikan dari Yonantan.

__ADS_1


yah, pria itu Yonantan Axel Imanuel. Salah satu teman Gabriel juga, sifatnya pun tak jauh-jauh dari keduanya, siapa lagi kalau bukan Gabriel dan Nathan?


__ADS_2