GABRIEL DIRGANTARA

GABRIEL DIRGANTARA
cooperation accepted


__ADS_3

"Atur ulang soal kerjasama resort itu, uncle Jo" ucap Danayla pada Jonathan tanpa menoleh sedikitpun kemudian mulai masuk kedalam mobil yang sudah siap dikendarai oleh supirnya menuju kantor.


bahkan tidak ada 30 menit, Danayla sudah melangkah memasuki gedung raksasa perusahaannya dengan dagu terangkat tinggi. Juga dengan jabatannya yang tidak perlu diragukan lagi.


Danayla menyandarkan tubuhnya didinding lift dan menatap pantulan dirinya yang terlihat samar-samar pada dinding lift dihadapannya. Menyakinkan dirinya bahwa tidak ada hal buruk yang akan terjadi atau bahkan terulang karena pembangunan resort itu.


berbeda dengan Danayla yang baru masuk kedalam ruangannya. Puluhan kilometer dari perusahaannya Gabriel sudah berdiri dengan tegap menatap pemandangan dari atas ruangannya.


"TOK"


"TOK"


"Selamat pagi, Sir" sapa Frans yang berdiri tak jauh dari Gabriel yang membelakanginya.


Gabriel memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana bahannya. "Apa kau membawa kabar baik?"


Frans mengangguk pelan meski Gabriel tidak menatap kearahnya. "Mrs. Johnson akhirnya menyetujui pembangunan resort itu"


Gabriel tersenyum miring mendengarnya. "And then?"


"Kita hanya perlu menentukan kapan rapat itu akan dilakukan kembali" ujar Frans kembali membuat Gabriel terkekeh pelan.


"Booking reservasi makan siang untuk rapat itu, Frans. Dan pastikan hanya Mrs. Johnson yang datang"


...----------------...


"Sir. anda yakin tidak mengajak saya atau Frans untuk rapat ini?"


Gabriel menghentikan langkahnya kemudian menoleh kearah Bianca dan Frans yang mengantarnya hingga lobby kantor, padahal hal itu tidak perlu dilakukan karena Gabriel menghadiri rapat seorang diri.


"Kamu meragukan kemampuan saya?" balas Gabriel langsung membuat Bianca terdiam detik itu juga.


Gabriel menatap Frans dengan tatapan tajamnya sebelum masuk kedalam mobil lexus lfa miliknya.



1 jam.


2 jam.


3 jam.


dan sekarang sudah nyaris 4 jam Gabriel menunggu duduk seperti orang bodoh direstaurant yang sudah dibooking oleh Frans.



untungnya Frans mem-booking restaurant VVIP dengan tingkat privasi yang cukup tinggi, sehingga ia tidak perlu kesal dengan tatapan kasihan yang dilayangkan orang lain.


bahkan kini jam sudah nyaris menunjukkan pukul 5 sore, seharusnya sekarang Gabriel tangah berada didalam ruangannya menunggu beberapa saat waktu pulang kantor. atau mungkin mengisinya dengan rapat bersama petinggi perusahaan. Bukannya menunggu Danayla yang antara datang atau tidaknya.

__ADS_1


Gabriel menghembuskan nafasnya kasar sebelum beranjak dari duduknya. Tapi satu detik setelah ia mengangkat bokongnya, terlihat Danayla yang berjalan tergesa-gesa kearahnya dengan raut wajah gugupnya.


"Sorry gue..."


"Ekhm! maksud saya Sir, bisa kita lanjutkan rapat sekarang?" ucap Danayla meletakkan tas dan dokumen yang ia bawa diatas meja.


Danayla datang sendiri. Persis seperti perintah yang diberikan Gabriel kepada Frans agar membuat wanita itu datang sendirian.


Gabriel menatap Danayla lama. "Lanjutkan rapat? kita bahkan belum memulainya" ucap Gabriel membuat Danayla tersenyum kaku.


"Kalau anda menolak rapat hari ini, besok sekretaris saya yang akan mewakilkan rapatnya" ucap Danayla yang menatap Gabriel datar.


"Danayla, ini kerjasama besar dan menyuruh sekretaris kamu mewakilkannya? are you kidding me?" pekik Gabriel menatap tajam Danayla.


Danayla mengedikkan bahunya acuh. "Kalau anda masih menolak juga, batalkan saja kerjasama ini, Sir." ucapnya enteng berhasil membungkam Gabriel yang kemudian menarik kursinya tadi dengan kasar sebelum akhirnya duduk dihadapan Danayla.


"Sekarang jelaskan konsep mana yang mau kamu ubah"


"Saya mau bangunan itu dibuat sekokoh mungkin" ucap Danayla.


Gabriel tersenyum miring mendengar ucapan Danayla barusan. Apa katanya? sekokoh mungkin? apa wanita itu sedang bercanda?


"Dana yang dikeluarkan untuk pembangunan itu milliaran dollar dan kamu hanya takut bangunan itu roboh hanya karena tidak kokoh?" balas Gabriel yang tidak mendapat balasan apapun dari Danayla.


pembahasan ini masih berlanjut dengan Gabriel yang masih menjawab pertanyaan dan menerima saran tidak penting dari Danayla.


Gabriel seketika tidak bisa menahan tawanya lebih lama lagi, karena sedari tadi pertanyaan dan saran Danayla sungguh konyol.


"Tidak ada yang lucu" balas Danayla sengit.


Gabriel mengangguk kecil. "Kita bisa buktikan dengan cara menginap disana nanti" jawabnya sambil tersenyum miring pada Danayla yang memutar bola matanya malas.


"Saya rasa sekian untuk hari ini" ucap Danayla mulai merapihkan dokumen dan isi tasnya yang tercecer diatas meja dengan cepat. Rasanya sangat malas berada didekat Gabriel yang bersikap dengan santai sejak tadi tapi tatapannya mengintimidasi.


"Kita bisa pulang bersama, ayo" ucap Gabriel yang tiba-tiba sudah berdiri disebelah Danayla.


Belum sempat wanita itu menolak ajakan Gabriel, pria dengan balutan sweater hitam itu sudah menariknya erat kearah mobil miliknya. Bahkan sedikit mendorong tubuh Danayla agar masuk kedalam jok penumpang lebih cepat.


"Mansion kamu dimana?" tanya Gabriel memecah keheningan diantara mereka. Melirik Danayla yang bahkan masih menampilkan raut datarnya.


"Saya rasa anda sudah mengetahuinya terlebih dahulu, Sir." balas Danayla tersenyum formal kearah Gabriel sebelum kembali menatap jalanan yang lumayan ramai dengan raut wajah bosan.


tanpa Danayla sadari, Gabriel menurunkan puluhan kilometer kecepatan mengemudinya hanya untuk membuat waktunya sedikit lebih banyak dengan Danayla. Kemudian membelokkan stir mobilnya memasuki pekarangan masion mewah milik Danayla.


"Sudah sampai" ucap Gabriel kepada Danayla yang ada disebelahnya.


karena tidak mendapatkan balasan apapun Gabriel menoleh kearah Danayla. "Pantes aja sepi, ternyata ketiduran disini" ucap Gabriel pelan dengan senyum tipisnya.


"Danayla wake up" bisik Gabriel menekan-nekan pipi tembam Danayla dengan telunjuknya.

__ADS_1


Gabriel memperhatikan wajah lelah Danayla kemudian mengusap puncak kepala wanita itu lembut. Mobilnya sudah terparkir sempurna dipekarangan mansion Danayla 15 menit yang lalu bahkan Gabriel tidak beranjak dari tempatnya. Ia terlalu sibuk mengagumi wajah Danayla yang masih atau kian bertambah cantik setiap harinya.


"My beautiful Danayla" lirih Gabriel menyentuh wajah Danayla yang terasa dingin dengan sentuhan ringan.


karena tak tahan dengan bibir Danayla yang sejak tadi seperti menggodanya Gabriel mengecupnya sekilas dan ******* pelan bibir Danayla.


"Emhh..." lenguh Danayla mendorong dada bidang Gabriel untuk menjauhinya.


"Si-sir..." ucap Danayla kaget karena jarak antara wajah keduanya sangat dekat.


"Kamu tidur sangat pulas dan aku sudah memanggil mu beberapa kali tapi kamu tidak sadar juga, jadi..." Gabriel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal bingung menjelaskan maksud ucapannya kepada Danayla.


"I know" ucap Danayla memotong ucapan Gabriel. Ia sungguh malu untuk saat ini.


"Terimakasih atas tumpangan anda, Sir." ucap Danayla tersenyum menatap Gabriel sekilas kemudian mengalihkan pandangannya.


Gabriel hanya mengangguk menjawab pertanyaan Danayla. "Ekhm! Danayla, bisa kemari sebentar?" ucap Gabriel memberanikan diri saat melihat Danayla melangkah menjauhi mobilnya.


"What?" menatap bingung Gabriel. pasti ada udang dibalik batu ini pikirnya begitu.


Danayla kembali masuk kedalam mobil lexus Gabriel dan mengambil posisi disebelah pria itu. "Ada apa anda memanggil saya, Sir?" menatap Gabriel yang terlihat gugup ditempatnya.


"A-aku...emm my i..."ucap Gabriel gugup menundukkan pandangannya. "****! kenapa saat dekat dengan wanita ini gue bisa gugup seperti ini?" gumamnya dalam hati.


"Me what?" memiringkan kepalanya mencoba melihat Gabriel.


seketika Gabriel menegakkan tubuhnya dan langsung memeluk erat tubuh Danayla yang langsung tersentak karena tiba-tiba mendapatkan pelukan dari Gabriel.


"My beautiful Danayla..." lirih Gabriel menjauhkan wajahnya dari Danayla fokusnya kepada bibir yang sedikit terbuka milik Danayla.


"Can i kiss you?" menatap dalam mata Danayla. "Danayla" bisik Gabriel tepat didekat bibirnya.


Danayla meneguk ludah kasar mencerna apa yang akan terjadi tetapi sebelum ia sadar dengan keadaan, sebuah benda kenyal sudah mendarat sempurna dibibirnya membungkamnya agar ia tidak dapat mengeluarkan kata-kata.


pelukan Gabriel semakin mengerat perlahan melepaskan pangutan keduanya kemudian menempelkan dahi keduanya dengan mata terpejam serta nafas yang terengah-engah. "Oh my ****! kenapa harus bangun sekarang? baperan banget sih lo damn!" maki Gabriel dalam hati saat rasa sesak mendera daerah sensitifnya.


"L-lo..." ucap Danayla terputus karena Gabriel meraih tengkuk Danayla kemudian menyatukan bibirnya dengan bibir wanita itu lalu mulai menggerakkannya lembut, ******* bibir merah Danayla dengan kedua mata terpejam. Sedangkan Danayla kini sibuk mengusap leher Gabriel dengan halus.


"Emhh... enough Sir" lenguh Danayla mendorong dada pria itu agar menjauh.


Gabriel mengusap bibir Danayla yang terlihat sedikit membengkak karena ulahnya. "Besok kamu ikut party bareng temen-temen aku ya?" ucap Gabriel dengan suaranya yang serak.


"Bakal ada banyak orang pastinya kan?" tanya Danayla polos sukses membuat Gabriel terkekeh pelan mendengarnya.


"Kamu sukanya sepi?" balas pria itu tersenyum miring membuat Danayla memukul dada bidangnya pelan setelah paham bahwa ucapan pria itu mengarah ke hal-hal mesum.


"Besok aku jemput" ucap Gabriel kembali mencium puncak kepala Danayla lembut.


perempuan itu mengangguk. "Hati-hati" pesan Danayla sebelum menutup pintu mobil Gabriel.

__ADS_1


__ADS_2