
saat itu waktu malam hari
KEDIAMAN JOHNSON
"PLAK"
"PRANG"
''CUKUP, KAU MEMANG TIDAK TAU DIRI. ASAL KAU TAU AKU TIDAK PERNAH SEKALIPUN ADA NIATAN UNTUK MENDUDUKKANMU!!.'' teriak seorang wanita paru baya yang masih terlihat cantik dan awet muda itu, di depan suaminya yang juga sama masih terlihat tampan dan juga gagah.
"LALU APA, HAH? JIKA TIDAK DIBILANG SELINGKUH, TEMAN KENCAN BEGITU, MAKSUDNYA?" ujar laki-laki itu tak kalah berteriak keras, kepada istrinya.
"aku bahkan tidak tau dia siapa, dan apa motifnya aku juga tidak tau. Saat aku terbangun, aku sudah ada dihotel dan hanya berbalut selimut." ujar wanita itu pelan, sambil duduk terisak di ujung ranjang.
"Demi tuhan, aku tidak ingat apa-apa kemarin. bahkan aku tidak ada keluar dari Mansion ini dan hanya berkutat di dapur, setelah itu aku tidak tau bagaimana bisa aku berada di kamar hotel sendirian." lanjutnya lagi, sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Percaya padaku, aku tidak mungkin melakukan hal menjijikkan seperti itu sayang." mohonnya, menatap wajah suaminya.
"BOHONG" ujarnya marah, sembari melemparkan semua barang yang ada di meja rias didepannya.
"PRANG"
"PRANG"
"PRANG"
"Kau sudah tidak mencintaiku, huh? kau sudah bosan padaku? jika iya katakan padaku, bukan begitu caranya.
Bukan dengan cara menduakanku, kau tau bukan? aku tidak suka di duakan." ujar laki-laki itu, menjatuhkan kedua kakinya dilantai dengan bertumpu pada kedua tangannya.
"Apa artinya cinta jika tidak ada rasa percaya?" ucap wanita paru baya tersebut.
seketika laki-laki paru baya itu berdiri dari tempatnya dan berjalan menuju ruang kerjanya, tak lama kemudian dia kembali membawa sebuah amplop entah apa yang ada didalamnya wanita itu pun tidak tau.
Laki-laki itupun melemparkan amplop tersebut kepangkuan wanita paru baya tersebut.
"Buka" ujar laki-laki itu dingin.
perlahan wanita tersebut membuka amplop itu, dan ada sebuah foto didalamnya yang terdapat dirinya tidur atau sadarkan diri entah apapun itu dia juga tidak mengetahuinya.
difoto itu terlihat jelas bahwa dia dipeluk oleh seorang laki-laki yang tidak dikenal, dan bahkan bukan hanya foto itu saja, laki-laki didalam foto tersebut juga sedang terlihat mencium bibir wanita itu saat wanita itu dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Jelaskan" ujar kembali laki-laki paru baya tersebut.
"Ba-bagaimana bisa? i-ini? ini bohong sayang, percaya padaku." ujar wanita cantik itu sambil ingin menggapai tangan suaminya.
"Bohong kau bilang? itu real Olivia." ujar laki-laki itu serta menyentak tangan istrinya.
"Hiks hiks hiks sayang please percaya padaku, berpikir untuk menduakamu saja tidak ada didalam benak ku. Jadi bagaimana bisa aku melakukan hal itu? hiks hiks aku mencintaimu, sangat mencintaimu Johnson.'' ujar Olivia Johnson.
"Ini bahkan bukan yang pertama kalinya aku mendapatkan foto-foto seperti ini." ujar Johnson frustasi.
"Maafkan aku sayang, sudah membuatmu sefrustasi ini."
ujar Olivia pelan.
"Kau bisa menceraikanku agar aku tidak menjadi beban bagi dirimu." bisik Olivia pelan.
"Cerai? hahaha kau meminta cerai setelah kau bercinta dengan orang asing?." ujar Johnson pelan.
"Tidak semudah itu aku melepaskanmu, kau harus tau bagaimana rasanya diduakan." lanjutnya lagi.
Johnson pun berjalan mendekati nakas dan mengambil ponselnya, dan mengetikkan sesuatu disana setelah itu mulai menelpon seseorang.
"Yes sir?." sapa diseberang telpon itu.
"Datangkan wanita panggilan kemansion ku Jack." ujarnya to the point.
"What? you are crazy sir? kau mau bermain gila?." pekik Jack diseberang sana.
"Panggilkan sekarang!! tiga sekaligus, cepat." ujar Johnson tegas, dan langsung menutup panggilan telponnya.
"Kau gila Johnson?." ujar Olivia marah.
"Aku gila karenamu." manatap tajam Olivia.
"Cepat kekamarku dan bersihkan dengan segera." ujar Johnson saat mengubungi maid dimansion nya.
"kalau kau melakukan itu, lebih baik aku mati saja dari pada melihat hal yang menjijikkan itu." ujar Olivia geram.
__ADS_1
tak lama kemudian datang dua orang maid untuk membersihkan kamar yang sudah hancur itu karena ulah si tuan rumah.
"sudah selesai Sir." ucap salah satu maid tersebut.
Johnson pun hanya mengibaskan tangannya keatas menyuruh agar maid tersebut cepat keluar dari kamarnya.
TOK TOK TOK
"MASUK." teriak Johnson dari dalam.
tampaklah ketiga wanita menggenakan pakaian ketat, dan riasan menor memasuki kamar mewah dan luas itu.
"Anda memerlukan pelayanan kami Sir?." ujar salah satu diantara mereka, dengan nada yang dibuat semanja mungkin.
****!! membuatku mual saja mereka, jika bukan karena rasa cemburuku aku tidak akan sudi memanggil mereka. Begitu kata Johnson didalam hatinya.
"Tutup pintunya." ujar Johnson sambil mengambil Wine diatas meja Bar didalam kamar itu.
meminum nya langsung dari botolnya, dan berjalan mendekati ketiga wanita itu. Sambil membayangkan bahwa yang didepannya adalah istrinya, istri dari Mackenzie Johnson yaitu Olivia Nayla Johnson.
"Jangan lakukan itu sayang, aku mohon." ujar Olivia.
"Aku tidak peduli." balasnya.
"Buka pakaian kalian." ujar Johnson.
setelah ketiga wanita itu melepaskan pakaiannya, Johnson pun membuka resleting celana kerjanya berwarna hitam. Dan langsung mencium bibir salah satu dari mereka dan salah satu diantara mereka mulai berani memegang milik Johnson, hingga Johnson mengeramkan istrinya.
"Olivia." bisik Johnson pelan sambil memejamkan matanya, membayangkan yang didepannya adalah istrinya.
"AKU MEMBENCIMU JOHNSON." teriak Olivia Johnson.
dan saat salah satu dari wanita itu ingin menyatukan tubuh Johnson dengan dirinya, Johnson langsung membuka matanya dan mendorong wanita itu keras hingga menabrak ujung meja. setelah itu Johnson berlari mendekati istrinya dan langsung menerjang wanita paru baya tersebut.
"Lepaskan aku brengsek." ujar Olivia meronta-ronta dari bawah Kungkungan suaminya.
"Akhh Olivia, aku gila karenamu sayang." ujar Johnson sembari menyentak-nyentak tubuh sintal wanitanya.
bahkan ketiga wanita panggilan itu hanya bisa gigit jari karena tidak berhasil menyatu dengan pria tampan dan gagah itu, walaupun berumur 40 tahun tapi bisa dibilang Johnson seperti sugar Daddy untuk mereka. Apalagi kekayaan keluarga Johnson tak usah diragukan lagi, hingga tujuh turunan dan delapan tanjakan pun tak akan habis kekayaan keluarga itu.
" I HATE YOU JOHNSON." teriak Olivia keras.
..."I REALLY LOVE YOU OLIVIA." ujar Johnson tak kalah keras...
...----------------...
setelah kejadian itu, selama dua Minggu hubungan keduanya merenggang dan berimbas ke anak perempuan mereka.
"Mom." sentak Danayla kepada mommynya.
"Ada apa Mom?." lanjutnya, duduk dihadapan Olivia dan menatapnya intens.
"Nay, Mom and Dad tidak bisa melanjutkan pernikahan kita sayang, besok sidangnya." ujar Olivia menangis.
"Apa maksud mommy? bukankah mom sendiri yang bilang bahwa pernikahan adalah hal yang sakral? lalu kenapa? kenapa kalian ingin berpisah?." tanya Danayla beruntun kepada Olivia.
"Maafkan mommy ya sayang? maaf, tapi ini adalah jalan terbaik untuk Mom and Dad sayang." ujar Olivia terisak pelan.
"Selama dua Minggu hubungan aku, Mom and Dad tidak seperti dulu. Dan aku berusaha memaklumi itu karena aku sibuk dengan sekolah ku, Dady sibuk dengan perusahaan dan Mommy sibuk dengan butik Mommy." ujar Danayla pelan, menatap Mommy dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi sekarang aku tidak bisa Mom!! aku tidak ingin kalian berpisah, apa jadinya aku tanpa kalian?." ujar Danayla dengan air matanya yang sudah deras membasahi pipi putihnya.
"Dengarkan Mommy dulu, sayang." bujuk Olivia.
"DENGARKAN APA LAGI MOM? DENGARKAN KALAU KALIAN AKAN MENINGGALKAN KU, SEMENTARA KALIAN SIBUK DENGAN KELUARGA KALIAN YANG BARU NANTINYA BEGITU? BEGITU YANG INGIN MOMMY BILANG?." ujar Danayla keras.
Johnson yang sejak tadi melihat itu pun berjalan menghampiri mereka.
"Apa Daddy dan Mommy mengajarkan mu begitu Nay? kau berteriak keras dihadapan Mommy mu, Mommy pasti sakit hati Danayla." ujar Johnson dengan suara beratnya.
"Aku menyakiti perasaan Mommy?." menatap sinis Johnson, dan Olivia.
"TAPI KALIAN BERDUA YANG TEGA MENYAKITI PERASAAN NAY MOM, DAD." lanjut Danayla.
"Disini salah Daddy, jadi salahkan saja Dady bukan Mommy Danayla, dan kamu bisa memilih untuk tinggal bersama siapa diantara Daddy atau Mommy." ucap Johnson pelan.
"Iya!! ini salah Daddy, semuanya salah Daddy. Jika Daddy tidak egois dan juga Dady tidak kasar, aku yakin ini tidak akan terjadi." ujar Danayla sinis, menatap Daddy nya.
"DANAYLA." bentak Johnson kepada putrinya.
__ADS_1
deg
"Aku benci Daddy, aku benci kalian." teriaknya, dan berlari keatas menuju kamarnya.
"Nay, Danayla dengarkan Mommy Nak." ujar Olivia.
sementara itu dikamar Danayla, dia langsung menghubungi kedua temannya, melalui aplikasi chatting.
CECANS MENGGABUT
DanaylaJohnson
kt kebar d'wson skrg! gue tunggu skrng!
jngn smpe tlt!
Charlotteballey
okay👌 sekarang gue on the way kesana
AnnabelleHoltzman
siap Nay 😚
setelah itu Danayla bersiap-siap, dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar dengan tergesa-gesa.
"Kamu mau kemana malam-malam begini sayang?." tanya Olivia.
Danayla tidak menjawab pertanyaan Mommy nya dan langsung keluar Mansion, dengan melajukan Mobil sportnya.
"Nay, Danayla." teriaknya dan ingin mengejar anak nya.
tetapi ditahan oleh suaminya dari belakang.
"Biarkan Nay tenangkan pikirannya terlebih dahulu Mom, baru kita bicarakan ini." ujar Johnson.
"Bukankah besok sidangnya Dad?." terisak di pelukan Johnson.
"suttttt, Nay akan mengerti Mommy, maafkan Daddy, Mom." bisik Johnson ditelinga Olivia.
...----------------...
Di sebuah club ternama di Las Vegas, seorang wanita cantik tengah meliuk-liukkan badannya kesamping kanan dan kiri sambil sesekali melompat kecil.
"Lo suka?" tanya seorang wanita kepada teman disebelahnya.
"Hm" respon wanita itu.
"Oh come on baby!! lupakanlah semua beban pikiran, mari kita bersenang-senang disini." ujar wanita yang menggenakan rok span pendek.
"Ayo kita kembali ke tempat tadi" ajak wanita itu kepada dua temannya.
"Kenapa cepat sekali selesai? bahkan kita baru sebentar bergabung nay" seru wanita yang menggenakan rok span pendek.
"Just want to rest, Belle" balasnya santai.
"What? You are crazy?" ujarnya geram.
"If you want to rest it's better to just stay at home then" lanjut Annabelle.
yang dibalas dengan tatapan datar oleh wanita cantik didepannya itu.
"Gila apa? sudah susah-susah kemari dan hanya mencari tempat untuk istirahat? what the hell." ujar Annabelle menggerutu kesal.
"Cheers?" tanya wanita yang sejak tadi terdiam melihat perdebatan tadi, mengangkat gelas alkoholnya dan langsung disusul gelas kedua temannya yang dalam persekian detik menimbulkan bunyi dentingan halus.
"Apa ada masalah nay?" tanya wanita tadi, setelah meneguk alkoholnya dan menaruh gelas diatas meja bundar.
"Sejak kapan dia punya masalah? yang ada dia yang mendatangkan masalah" ujar Annabelle sinis.
oh come on? kapan mulut pedas Annabelle berhenti mengatai dirinya? jika Annabelle berhenti mengatai dirinya sehari saja, maka dia akan bersujud syukur kepada Tuhan saat itu juga. mungkin sehari tidak bermulut pedas hidupnya terasa hampa? begitu pikir Danayla.
"Ada apa?" tanya wanita itu sekali lagi.
"Nothing" ujar Danayla singkat.
"Bukankah kita teman? jadi sesama teman kita harus membagi suka duka bersama bukan?" ucap wanita itu memaksa agar temannya yang satu itu menceritakan masalahnya, karena biasanya temannya itu selalu menutupi dirinya jika ada masalah dan berimbas kepada kesehatannya.
__ADS_1
sebelum menceritakan masalahnya, Danayla menghembuskan nafasnya sejenak. Sembari memejamkan matanya menahan rasa sesak yang menumpuk di dadanya.
"My parents want a divorce and tomorrow's trial, mom and dad told me to choose one of them" ucap Danayla pelan menatap lurus kedepan, sementara tangan kanannya yang kosong mengepal kuat.