GABRIEL DIRGANTARA

GABRIEL DIRGANTARA
prove


__ADS_3

"Sudah merasa puas?" tanya Nathan jahil setelah menuruti kemauan Charlotte barusan. Charlotte meremas milik Nathan yang terlihat menonjol karena posisi tiduran pria itu saat ini.


Charlotte duduk diatas tubuh Nathan dengan posisi mengangkang lebar. Nathan hanya terkekeh kemudian menahan pinggang ramping istrinya agar tidak terjatuh.


"Merindukan milik ku?" tanya Nathan dengan ucapannya yang terlalu vulgar.


"Sayanghhh" leguh Nathan menikmati wajah menggairahkan Charlotte.


"Ahhh" desah Nathan bersamaan dengan cairan putih kentalnya yang merebes keluar dari mulut Charlotte. "Telan" perintah Nathan tak terbantahkan yang langsung dilakukan oleh Charlotte dengan paksa.


Nathan membiarkan Charlotte memasukkan miliknya kedalam celana dengan telaten kemudian menarik tubuh wanita itu kedalam pelukannya, mengelus punggung belakang Charlotte pelan lalu berbisik. "Love you, wife"


...__________...


pagi ini Gabriel langsung membawa Danayla ke kantor pria itu, Setelah selesai sarapan Gabriel menyeret nya agar wanita itu mengikutinya.


disinilah sekarang Danayla berada, didalam gedung pencakar langit milik pria tampan yang sejak tadi sibuk menelpon seseorang yang tidak ia ketahui siapa. Sejak masuk kedalam ruangan Gabriel wanita itu hanya duduk diam dengan raut jutek nya menahan kesal, bagaimana tidak? Gabriel menelpon sudah 20 menit tapi tidak ada tanda-tanda pria itu akan menyelesaikan obrolan nya. Entah sudah berapa kali pria itu menelpon orang yang pasti Gabriel berbicara dengan berbeda-beda dengan lawan bicara nya.


1 jam menunggu dengan diam dan Gabriel sudah selesai menelpon sejak 30 menit yang lalu dan sekarang pria itu duduk di kursi kebesaran nya bahkan Gabriel mengabaikan Danayla. Dirinya sama sekali tidak diperdulikan disini. Ingin pergi tapi ruangan ini dikunci dari dalam oleh Gabriel dan pria itu yang membawa nya disaku celana pria itu, tidak mungkin Danayla mengambil nya, bukan? heh! ia tidak berani selancang itu untuk mengambil sebuah kunci, karena jika salah menyentuh bisa-bisa ia yang di gempur habis-habisan oleh Gabriel.


tak lama kemudian, Danayla mendengar langkah kaki berdatangan di luar ruangan Gabriel. Setelah itu, pintu ruangan Gabriel diketuk dari luar tak sabaran. Danayla memperhatikan pintu dan juga Gabriel yang terlihat tidak terganggu oleh ketukan pintu itu, pria itu bahkan hanya sibuk membolak-balik dokumen yang ada dihadapan nya dengan santai nya.


karena tidak kuat lagi mendengar suara bising diluar sana, Danayla membuka suara nya. "Buka pintu nya" ucap Danayla dengan suara yang terdengar tak santai.


Gabriel mengambil remote control yang tersimpan di saku celana nya dan menekan tombol di remote itu agar pintu ruangan nya terbuka.


terlihat Frans asistennya itu mempersilahkan Jonathan masuk kedalam ruangan Gabriel diikuti oleh Yonantan dan juga Nathan dibelakangnya.


Danayla dibuat bingung oleh mereka mengapa tiba-tiba ada asisten Daddy nya disini? dan kedua teman Gabriel juga? pikir nya bertanya-tanya, kemudian tatapan nya jatuh kepada pria yang asik dengan menghembuskan asap rokok dengan telunjuk kirinya menekan pelipis kepala bagian kiri.


__ADS_1


"What does this mean?" tanya Danayla kepada Gabriel yang terlihat sibuk sendiri bahkan pria itu tidak menghiraukan pertanyaaan Danayla.


"Biar saya yang akan menjelaskan, Nona" ucap Frans menjawab pertanyaaan Danayla yang tidak dijawab oleh Gabriel.


"Aku ingin mendengar secara langsung dari bibir Tuan mu itu" Danayla membalas ucapan Frans disertai oleh tatapan tajam nya.


Nathan dan juga Yonantan hanya duduk diam memperhatikan Danayla yang ingin langsung mendengar jawaban dari Gabriel. Kedua pria itu bahkan memasang telinga lebar-lebar agar tidak terlewat sedikitpun.


"Are you playing me?" tanya Danayla pelan. "Why? you want revenge on me?" Danayla melontarkan banyak pertanyaaan kepada Gabriel yang masih dalam diamnya.


"Are you suddenly mute now? answer my question jerk!"


Frans terkejut dengan bentakan Danayla kepada, Gabriel. Bukan hanya Frans saja Jonathan serta kedua teman Gabriel pun ikut terkejut. Sungguh berani pikir mereka masing-masing.


tidak ada yang tahu jika Gabriel sempat tersenyum tipis, bahkan sangat tipis sampai mereka tidak menyadarinya sama sekali. Kemudian pria itu mematikan rokok ditangannya dan mulai berdiri dari duduknya. Berjalan pelan melangkah mendekati Danayla dan yang lain sambil melonggarkan dasinya yang terasa seperti mencekik dirinya.



"Much talk hastens death" ucap Gabriel tersenyum miring melihat Danayla yang menatapnya dengan aura permusuhan.


"Bukan aku, kamu saja yang menganggapnya seperti itu" ucap Gabriel kelewat santai.


"Kenapa bisa uncle ada disini?" tanya Danayla bingung. "Dan, kenapa juga uncle terlihat sangat akrab dengan asisten si brengsek ini?"


"Nona, saya..."


"Kenapa tidak bisa?" Gabriel menyela ucapan Jonathan dan sekarang pria itu terlihat berdiri menjulang disamping Danayla yang duduk menyandar disofa.


"Shut up you bastard!" ucap Danayla memandang Gabriel sinis.


disaat suasana terlihat tegang seperti ini, terdengar ketukkan pintu membuat perhatian mereka teralihkan. Dan disana terlihat sekretaris pribadi Gabriel yang tak lain adalah Bianca.

__ADS_1


"Anda memanggil saya, Sir?" tanya Bianca menatap Gabriel setelah melemparkan senyum kepada yang berada disana, hingga tatapan nya jatuh kepada Danayla yang menatapnya malas.


"Silahkan duduk, Bianca" ucap Frans dengan suara datarnya. Bianca hanya menjawab dengan anggukkan kepala kemudian duduk dihadapan Danayla.


"After this you will know the truth, dear" ucap Gabriel tanpa mengalihkan tatapannya dari Danayla. Danayla terlihat bingung dengan ucapan Gabriel. "Sebenarnya kenapa?"


"Explain nicely or harshly, Bianca?!" tanya Gabriel menatap tajam sekretarisnya itu. Melihat Bianca yang menatapnya tak mengerti membuat Gabriel geram sendiri. "Don't make me wait to rip your mouth off, *****!"


"Apa maksud anda, Sir?" tanya Bianca bingung, jelas bingung jika tadi Frans menyuruhnya datang kedalam ruangan Gabriel karena pria itu memanggil Bianca. "Bukankah anda yang memanggil saya?"


"This little bastard seems to want to play games with me!" desisnya dengan rahang mengetat serta kedua tangan yang mengepal erat. "Cepat selesaikan kesalah pahaman ini, Frans! aku berlama-lama bermusuhan dengan wanitaku"


"Apa yang ada dipikiran anda tentang Sir Dewson salah besar, Nona" ucap Frans menatap Danayla yang seketika linglung seperti orang bodoh.


"Wanita jadi-jadian ini yang telah membuat scenario untuk merecoki keluarga anda"


Danayla sempat terdiam mendengar penjelasan Frans yang membuat nya tidak menyangka. Bagaimana mungkin? bahkan dirinya saja tidak mengenal wanita yang duduk dihadapan nya ini.


"Ma-maksud mu?"


"Dia dalang dibalik semua yang terjadi dikeluarga anda"


"Ck! penjelasan, Frans sangat lamban" gumam Yonantan yang didengar oleh Nathan yang duduk disebelahnya.


"Kenapa tidak lo saja yang menjelaskan?" bisik Nathan pelan.


"menjelaskan apa?" tanya Yonantan membuat Nathan menatapnya.


"Kamu nanya? kamu bertanya-tanya? yaudah sini biar aku kasih tahu yah, menjelaskan itu tidak segampang itu yah, butuh kepintaran ekstra yah, kamu tau menjelaskan itu apa? menjelaskan itu menguraikan secara terang" ucap Yonantan membuat Nathan menatapnya aneh sekaligus bergidik geli mendengar ucapan Yonantan.


"Sehat?" tanya Nathan menempelkan telapak tangannya dikening Yonantan. "Oh pantesan!ternyata anget, pantes rada-rada" ucap Nathan kembali dengan jari telunjuknya yang memutar didekat kepala mencontohkan seseorang yang kurang sehat entah sebutan apa yang cocok untuk Yonantan.

__ADS_1


"beberapa waktu lalu Gue melakukan perjalanan bisnis ke Indonesia, disana lagi viral dengan kata "kamu nanya?" sampai setiap gue mendatangi tempat disekitar sana, semuanya mengucapkan kata itu, jika ada orang yang bertanya" ucap Yonantan kesal.


Nathan memutar matanya malas kemudian menatap kedepan dan betapa terkejutnya dirinya melihat Danayla ditodong pistol dikepalanya oleh Bianca, asisten jadi-jadian Gabriel yang dikatai Frans tadi.


__ADS_2