GABRIEL DIRGANTARA

GABRIEL DIRGANTARA
debate


__ADS_3

"Wajah lo jelek sekali" ujar Charlotte saat melihat Danayla memasang raut juteknya sedari awal mereka datang.


Danayla hanya melirik singkat kearah Charlotte dan kembali memalingkan wajahnya melihat jendela cafe disampingnya.


"Apa masalah lo kali ini?" tanya Anabelle penasaran.


"Gue rasa seorang Mia Danayla Johnson tidak pernah lepas dari masalah, pasti selalu ada masalah yang datang baik dari dirinya atau musuh?" sambungnya seraya terkekeh pelan.


"Shut up" Danayla menatap jengah kedua temannya yang selalu mengejeknya.


"What's wrong baby?" Charlotte menatap serius Danayla dengan tangan yang sibuk menggoyangkan gelas sloki diatas meja.


"Apa kalian tau D'wson Company?" menatap satu persatu temannya.


"Siapa yang tidak mengenal perusahaan terbesar itu? bahkan memiliki banyak cabang diseluruh dunia mungkin hingga ke pelosok juga ada cabangnya" Charlotte menjawab asal pertanyaan Danayla.


"Gue serius bodoh" menatap sengit Charlotte. Ia sedang tidak ingin bercanda malah temannya yang satu ini selalu membuatnya naik darah.


"Ada apa dengan perusahaan itu? apa lo tertarik dengan CEO-nya? yang pastinya sih berkumis tebal dan berperut buncit" Anabelle menjawab dengan santainya sambil sibuk menyantap makanan yang telah dihidangkan tadi.


"Oh come on guys! i'm not joking" mengeram frustasi karena kedua temannya sedari tadi mempermainkan dirinya.


"Baiklah" Anabelle menjauhkan piring kosong yang ada dihadapannya mengelap bibirnya menggunakan tisu yang ia ambil tadi. "D'wson Company kalau tidak salah sekarang sudah dibawah


kepemimpinan anaknya chairman perusahaan itu"


"Dan anaknya..."


"Gabriel Dirgantara Dewson" potong Charlotte atas kebingungan Danayla.


Danayla menarik nafasnya dalam-dalam sembari memejamkan matanya sebentar sebelum membuka suara. "Dan anaknya itu yang membuat kekacauan saat dipemakaman kedua orang tua gue"


"Pantas saja wajahnya terasa familiar saat itu" ujar Anabelle.


"Perusahaan Daddy menjalin kerjasama dengan perusahaan D'wson untuk pembangunan resort diatas gunung dan gue menolaknya" jelas Danayla.


"Bodoh! ngapain juga lo tolak? jika ada kesempatan emas datang dengan mudah jangan lo sia-siakan Danayla. Jika gue jadi lo saat itu juga gue langsung terima tawaran kerjasamanya" ujar Charlotte kesal karena Danayla temannya yang satu ini tidak bisa memanfaatkan situasi. "Mau jadi simpanannya aja gue mau pastinya, dan siapa yang bisa menolak pria tampan itu? bonusnya kaya raya" detik selanjutnya ia meledakkan tawanya keras karena ucapannya sendiri.


"Gila gila gila wah parah lo Charl" Anabelle menggelengkan kepalanya dengan tawa tak kunjung reda.

__ADS_1


"Ekhm! ngapain lo tolak kerjasamanya? bukankah itu akan menguntungkan perusahaan bokap lo juga?" tanya Anabelle saat sudah menghentikan tawanya.


"Gue tidak suka direndahkan" gumam Danayla pelan sambil menundukkan kepalanya.


"Persetan dengan kata direndahkan, Nay! apa lo yang tidak mengerti taktik perusahaan?" tanya Anabelle sambil menaik turunkan alisnya menggoda Danayla.


"Beginilah jika kaya sejak lahir. Tidak tau bagaimana susahnya kerja keras bisanya hanya menerima yang sudah jadi saja" ucap Charlotte santai. Teman Danayla ini memang jika sudah dapat berbicara pasti tidak bisa difilter langsung asal ceplos begitu.


"Jangan dibatalkan, Nay! lebih baik diterima saja" ucap Anabelle mencairkan suasana.


"Tapi..."


"Bilang kepada uncle Jo jika kerjasamanya tidak jadi dibatalkan problem solved" ujar Charlotte sambil menatap Danayla yang terlihat masih ragu-ragu. "Hilangkan gengsi lo. Bukankah ini proyek pertama lo terjun secara langsung? buat uncle Mack and auntie Oliv bangga mempunyai anak perempuan yang berguna"


"Punya dendam lo sama gue? dari tadi nyindir gue mulu bisanya" melototkan matanya dengan pipinya mengembung yang mana terlihat sangat lucu dan imut.


"Habisnya lo sih, nolak berlian murni demi sebuah batu kali istilahnya" ujar Charlotte terkekeh geli melihat tingkah Danayla bukannya terlihat seperti orang marah malah seperti anak kecil yang sedang mempertahankan kepemilikannya agar tidak diambil teman.


"Udah! intinya lo harus konfirmasi dengan uncle Jo terlebih dahulu sebelum memutuskan apa yang harus lo lakukan. Karena dia yang lebih tau banyak hal tentang bisnis" ucap Anabelle menengahi agar tidak terjadi keributan yang dibuat oleh kedua teman gesreknya itu.


...----------------...


"Tumben lo punya waktu? biasanya setiap diajak kumpul selalu ada alasan biar tidak datang" ujar Yonantan kepada Gabriel yang sibuk dengan rokok ditangannya.


"Bos mah beda kali Yon" ucap Nathan saat selesai meneguk alkohol.


kedua teman Gabriel ini memang satu frekuensi dengannya. Dalam urusan bisnis maupun sepermainan mereka bertiga selalu bersama. Yonantan Axel Imanuel teman Gabriel yang paling sesat ajaranya jangan lupakan Nathan Maximillan Blandino yang paling santai diantara mereka tetapi jika urusan wanita ia tidak bisa tinggal diam.


"Siapa target lo kali ini Gab? seorang aktris atau model?" ujar Yonantan sibuk dengan ponselnya.


Gabriel memejamkan matanya sebentar dan sepintas bayangan ia bertatap muka dengan Danayla memasuki pikiran. Tak bisa ia sangka Danayla sungguh sempurna seperti putri yang dijaga sedemikian rupa oleh keluarga kerajaan agar tidak terluka. Gabriel rasa ia semakin tidak bisa mengendalikan raganya, baru membayangkan saja sudah membuat tubuhnya bereaksi dan membuat gairahnya memuncak. Apalagi jika ia dan Danayla sudah... what's this? oh ****! tubuh dan pikirannya tidak sejalan.


"Gab?"


"Hey?"


"Gabriel" sentak Nathan yang sedari tadi memanggil namanya tetapi yang dipanggil justru sibuk dengan dunianya. Entah apa yang dipikirkan dengannya ia tidak ingin mencampuri urusan Gabriel.


"Hah? apa?" ujar Gabriel seakan baru tersadar bahwa ia masih berkumpul dengan teman-temannya.

__ADS_1


"Mikirin apa lo? pasti mikirin bercinta ya?" tuduh Nathan kepada Gabriel.


"Hah? ma-mana ada bodoh" ucap Gabriel kesal karena banyangan tentang Danayla hilang begitu saja saat ia sudah tersadar.


"Lalu?" ucap Yonantan ingin tau apa yang dipikirkan oleh Gabriel tadi.


"Ayo bubar" seru Gabriel cepat agar kedua temannya tidak menanyakan hal-hal aneh lagi.


"Ck! gak seru banget lo" kesal Nathan tetapi tak urung juga mengikuti kata Gabriel.


"BRAK"


"Jalan masih luas bukan? kenapa tidak lewat sana? kenapa harus nabrak gue?" ujar seorang wanita secara beruntun sibuk memungut tasnya yang terjatuh.


"Jadi jatuh kan" gerutunya kesal.


"Hello" ujar Gabriel.


"Ck! Hello hello sok gaul lo" ucap Danayla kesal masih menundukkan kepalanya.


Saat Danayla ingin menengadahkan kepalanya guna melihat siapa yang telah menabraknya ia pun sangat kaget karena orang inilah yang sedari tadi ia bicarakan. "l-lo?..."


"Hey istri masa depan" ucap Gabriel kemudian tersenyum tipis sangat terlihat manis dan ketampanannya bertambah berkali-kali lipat dari biasanya.


"Apa maksud lo" menatap sengit Gabriel.


"Sstt..." desis Gabriel berjalan pelan mendekati Danayla yang menatapnya was-was.


Tangan besar Gabriel melingkari pinggang ramping Danayla kemudian menarik tubuh gadis itu agar menempel ditubuhnya.


"Le-lepas" ujar Danayla tercekat.


"Kamu takut sama aku?" tanya Gabriel membuat Danayla menutup rapat bibirnya.


Gabriel tersenyum miring kemudian menyembunyikan wajahnya diceruk leher Danayla, mengecup pelan leher jenjang itu kemudian menghisapnya perlahan.


"emmh" leguh Danayla mencengkeram erat kemeja hitam yang digunakan Gabriel.


secepat kilat Danayla mendorong dada bidang Gabriel dan manatapnya tajam sebelum pergi meninggalkan cafe.

__ADS_1


sementara itu Gabriel tersenyum miring mengingat tingkah Danayla dan mengingat tanda merah yang ia buat di leher jenjang wanita itu. She is mine.


dibelakang Gabriel kedua temannya dan juga kedua teman Danayla hanya bisa mematung melihat apa yang baru saja terjadi. Mereka tidak percaya bahwa seorang Gabriel Dirgantara Dewson bisa melakukan hal itu ditempat umum dan untungnya mereka tidak menjadi bahan tontonan karena cafe ini sedang sepi pengunjung. Jika tidak? media pasti akan tau.


__ADS_2