GABRIEL DIRGANTARA

GABRIEL DIRGANTARA
meeting


__ADS_3

"Nona, ada rapat penting soal kerjasama pembangunan resort" ujar Jonathan yang masih sibuk dengan iPad ditangannya.


Danayla hanya menganggukkan kepalanya saja, tidak berniat untuk mengeluarkan sepatah katapun.


"Rapat kali ini diadakan langsung diperusahaan D'wson Nona" ujar Jonathan sekali lagi sebelum menutup iPad nya dan berdiri tegak dihadapan Danayla yang sedang duduk dikursi kebesarannya.


"Apa masih ada waktu? aku ingin mengecek semua dokumen ini" tanya Danayla membuat Jonathan langsung sigap menjawab pertanyaannya.


"Sampai jam makan siang waktu anda Nona" ucap Jonathan setelah melihat jam ditangannya.


"Apa anda ingin saya menyiapkan kopi, Nona?" tanya Jonathan memperhatikan Danayla yang sibuk menandatangani dokumen yang ada dihadapan wanita itu.


wanita itu menoleh kemudian menggeleng pelan menolaknya. "Wine rendah alkohol sepertinya bukan pilihan yang buruk"


"Anda bahkan belum sempat untuk sarapan Nona" ucapnya menolak permintaan Danayla.


"Siapkan saja apa yang aku katakan, Uncle Jo" geram Danayla tanpa menatap asisten pribadi Daddynya itu. Wanita itu memilih mengambil dokumen yang ada diatas mejanya kemudian membacanya serius.


Jonathan mengangguk mendengar perintah anak atasannya itu. "Saya permisi Nona"


Danayla hanya bergumam pelan dan memilih menyibukkan diri dengan dokumen-dokumen yang ada diatas meja kerjanya. Sangat banyak memang, karena Mackenzie sudah sepenuhnya yakin melepaskan perusahaan kepada Danayla, yang mana masih dibantu dengan asisten setianya.Tapi untuk orang awam seperti dirinya, Danayla cukup kewalahan menghandle semuanya.


"Semuanya sudah disiapkan uncle?" tanya Danayla menatap Jonathan yang berjalan disebelahnya.


wanita itu memasuki sebuah gedung perusahaan raksasa dengan percaya dirinya meski ia dan Jonathan sudah sangat terlambat menghadiri rapat penting hari ini. Salahkan kurir pengantar makanan yang datangnya sangat lama dan membuat Danayla mau tak mau menunggu sampai pesanan itu datang.


"Selamat siang semuanya, maaf saya dan..." ucapan Danayla langsung terhenti ketika matanya bertabrakan dengan iris tajam seorang pria yang duduk disalah satu kursi rapat. Oh ****! jangan bilang perusahaannya bekerja sama dengan perusahaan yang berada dibawah kepemimpinan pria itu!?


Danayla berdehem pelan sebelum melanjutkan pembicaraannya. "Maaf atas keterlambatan saya, saya dan asisten saya harus menyelesaikan suatu hal tadi" ucap Danayla sambil tersenyum tipis.


"Menunggu hampir 1 setengah jam untuk kehadiranmu yang sangat penting bukan masalah bagi kami, Mrs Johnson" sarkas pria itu tersenyum miring kearah Danayla yang langsung menatapnya tak bersahabat.

__ADS_1


"Ck! bukan masalah katanya? apa dia lupa siapa yang sedari tadi marah-marah, mengeluarkan segala makiannya, dan bahkan ingin rapat ini bubar? tapi sekarang lihat? baru melihat yang bening dikit langsung luluh" ucap Frans dalam hati.


bagaimana tidak? ia bahkan tadi menjadi sasaran empuk tuannya itu. Dikarenakan Gabriel tidak suka menunggu kecuali dirinya lah yang ditunggu.


memang, Gabriel dan kalimatnya itu sungguh menyebalkan.


"Ekhm. Sir, bisa kita lanjutkan rapatnya? ucap Bianca sekretaris Gabriel saat melihat Danayla dan Jonathan asisten wanita itu sudah dipersilahkan duduk oleh Frans.


"Frans, jelaskan secara detail konsepnya. Aku yakin Mrs Johnson belum mengetahuinya" seru Gabriel sambil menatap Danayla yang duduk tepat dihadapannya sambil tersenyum miring. Memainkan pulpen ditangannya seolah sedang menantang Danayla.


sedangkan Danayla hanya mengangkat satu alisnya pertanda tidak mengerti dengan ucapan pria yang duduk tepat dihadapannya itu. Jelas saja ia belum mengetahui semuanya, ia bahkan baru tiba beberapa detik yang lalu!.


"Bagaimana menurut anda Mrs Johnson? apa anda mempunyai usulan lain?" tanya Frans saat sudah kembali duduk ditempatnya, menatap Danayla dengan senyum formalnya. Saat ia sudah selesai menjelaskan konsep-konsep untuk pembangunan resort.


"Aku..."


"Aku yakin Mrs Johnson akan menyukai konsep yang telah kita siapkan ini Frans, semuanya sudah sempurna dimataku" potong Gabriel sambil tersenyum bangga.


tentu saja merasa bangga, karena 99% dari konsep yang telah dijelaskan oleh Frans itu berasal dari idenya.


"Apa iya, membangun resort diatas gunung sangat sempurna? ide macam apa itu? anda kira ini didunia dongeng? dengan sesuka hati anda, anda membangun resort di manapun yang anda inginkan?" lanjut Danayla membuat Gabriel menegakkan tubuhnya.


apa baru saja Danayla mengejek idenya? what the hell?


"Apa yang salah dengan itu? bukankah bagus jika kita menyatu dengan alam? saya juga tidak akan heran jika anda menganggap itu aneh. Karena anda terbiasa bangun dengan gedung pencakar langit"


sedetik setelah Gabriel mengatakan hal itu, ruang rapat yang tadinya terasa fresh karena pendingin ruangan sekarang terasa panas dan mencekam.


"Watch your mouth sir" menatap tajam Gabriel.


"Kenapa? bukankah apa yang saya katakan itu benar adanya Mrs Johnson?" mengangkat dagunya tinggi menatap sinis Danayla.

__ADS_1


"BRAK"


"Kerjasama kali ini batal! aku tidak mau perusahaanku menjalin kontrak dengan perusahaan ini" ucapnya tegas berdiri dari duduknya dan menatap tajam Gabriel.


"Uncle Jo, bayar semua kerugiannya. Dan berikan kepada mereka aku tidak peduli berapa banyak jumlah uang yang telah kita keluarkan untuk pembatalan kerjasama ini" Danayla meraih ponselnya diatas meja kemudian menatap Gabriel beberapa detik. "Saya permisi" ucapnya kemudian melangkah keluar dari ruang rapat membiarkan Gabriel yang masih menatapnya tajam.


dan beberapa menit setelah Danayla meninggalkan ruang rapat, akhirnya Gabriel muncul dengan wajah yang tak bersahabat. Dan Frans dengan sigap langsung mengikutinya dari belakang.


"Sir, apakah kerjasama ini benar akan dibatalkan oleh perusahaan Johnson?" tanya Frans memberanikan diri memecah keheningan diruangan Gabriel yang sudah tercipta beberapa menit lalu.


Gabriel menatap lurus dengan tangan yang bergerak memainkan jam pasir. "Perusahaan mereka tidak mungkin membatalkan kerjasama ini, Frans. Pembangunan resort itu akan menguntungkan


perusahaan mereka juga" ucap Gabriel tenang dengan tatapan yang tidak berpindah.


"Anda sudah seperti orang yang bisa membaca pikiran saja, Sir" ucap Frans membuat Gabriel terkekeh pelan mendengarnya.


"Mia Danayla Johnson, bukankah kemarin kita datang dipemakaman kedua orangtuanya?" menatap sekilas asisten pribadinya.


"Benar, Sir" menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan tuannya.


"Aku ingin dia menjadi milikku saat ini Frans" ucapnya santai dengan menyandarkan punggungnya dikursi kebesarannya.


"Mau kau culik atau kau paksa dia aku tidak peduli, karena yang ku inginkan dia dalam keadaan yang tidak ada lecet sedikitpun sudah ada dimansion ku"


"Keluarga Johnson sangat memperketat penjagaan untuk pewaris mereka itu, Sir. Jadi sangat mustahil untuk dapat membawanya kehadapan anda, seperti yang anda inginkan" menjelaskan maksud ucapannya kepada Gabriel.


"Kau meragukan kemampuanku, Frans?" memiringkan kepalanya melihat asisten pribadinya itu.


menghela nafasnya sejenak sebelum kembali memberikan pendapatnya. "Bukan begitu maksud saya, Sir. Jika anda ingin menjadikan penerus Jhonson itu sebagai pemuas anda sebaiknya anda lupakan saja keinginan anda itu. Saya bisa mencari pelacur yang sesuai dengan kriteria anda atau rekan-rekan bisnis anda ada juga yang seorang wanita bukan?" ucapnya beruntun tidak melihat bagaimana ekspresi Gabriel yang menatapnya datar sedari tadi.


"Banyak omong sekali kau! yang aku inginkan Mia Danayla Johnson bukan yang lain, Frans" sentaknya keras menatap penuh permusuhan asistennya itu. Dengan kedua tangan yang mengepal.

__ADS_1


"Si-Sir...sa-saya hanya be-bermaksud memberitahu an-anda Sir" menunduk takut karena sebentar lagi ia tau jika Gabriel pasti akan meledakkan amarahnya.


dan pastinya ia juga yang menjadi sasaran Gabriel ketika pria tampan itu marah. Salahkan saja mulutnya yang tidak bisa direm itu yang dengan seenaknya mengeluarkan kata-kata yang bisa membuat pria didepannya marah.


__ADS_2