
"Sir, mobil yang di kemudikan oleh nyonya Johnson waktu itu, diketahui rem nya blong" ucap Arya memberikan ponsel yang dirinya pegang sembari menunjukkan sebuah foto yang baru ia dapatkan dari bawahan nya setelah beberapa bulan akhirnya menemukan titik terang.
"Terus cari semua informasinya, Ar" ucap Jonathan menatap lurus kedepan yang hanya terlihat sebuah gedung menjulang tinggi disekitar kantor itu.
dengan satu tangannya masuk kedalam saku celana dan menyandarkan tubuhnya di meja kerja bahkan tidak membuyarkan lamunannya. Saya tidak akan membiarkan siapapun lolos begitu saja karena sudah menghancurkan keluarga anda, Sir gumamnya dalam hati.
"Tuan?"
"Pergilah, Ar! aku ingin sendiri"
"Saya ingin memberitahukan kepada anda, bahwa nona Danayla sedang bermalam di mansion Dewson" ucap Arya menjeda ucapannya sejenak melihat reaksi Jonathan tapi tampaknya Jonathan tidak memberikan reaksi apapun. "Dan dari laporan yang saya dapat, Keturunan Dewson itu sepertinya tertarik dengan Nona Danayla, Sir. Bahkan pria itu kerap kali memberikan sikap perhatiannya kepada Nona Danayla" lanjutnya kembali.
"Sejak kapan?" ucap Jonathan yang telah lama terdiam mendengarnya.
"Sejak Nona menerima kembali tawaran kerjasama resort itu, Sir"
Jonathan menganggukkan kepala dengan posisi masih seperti semula tidak berpindah sedikitpun. "Terus pantau Nona Danayla, Arya"
"Baik, Sir"
"Saya pamit undur diri" Arya membungkukkan badan sekilas sebelum berbalik melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Jonathan.
...----------------...
Pagi itu, suasana tampak sangat cerah dan mendukung di kota Washington, D.C. Amerika Serikat. Annabelle berjalan mendekati tirai jendela di mansion milik Nathan.
"Oh my gosh, Nathan" pekik Annabelle terkejut karena dengan tiba-tiba Nathan sudah ada dibelakangnya sedang memeluk erat pinggang rampingnya.
__ADS_1
Nathan tidak meresponnya, pria itu malah dengan sengaja menyusupkan wajahnya di leher jenjang Annabelle. Bahkan dengan jahil Nathan menggesekkan hidung mancungnya dileher Annabelle yang terekspos itu.
"Stop it, Nathan" ucap Annabelle sembari berusaha melepaskan kedua tangan kekar Nathan yang masih setia melingkar di pinggangnya. "Lepas atau gue tendang?" ucap Annabelle serius.
"Oh come on, baby girl! i just wanna hug you, is that wrong?" ucap Nathan dengan suara yang serak dan kedua tangan masih memeluk erat Annabelle dari belakang.
"I'm not comfortable with this position" Annabelle terus berusaha untuk melepaskan belitan tangan Nathan di pinggangnya. "Please, Nathan" sambungnya lirih menolehkan kepalanya kebelakang melihat wajah tampan Nathan dengan rambut yang masih terlihat acak-acakan.
"Don't move baby girl! it makes something that has been sleeping wake up" balas Nathan cepat. Suara gemerletukkan dari giginya terdengar jelas di telinga wanita yang ada di pelukannya.
Annabelle lupa, sungguh. Wanita itu sangat lupa atau mungkin bisa disebut bodoh? mengapa ia tidak menyadari hal itu sedari tadi? apa yang ia pikirkan? bahkan Annabelle bisa merasakan sesuatu yang menonjol dibelakangnya sedang menekan bokong sintal miliknya.
Oh God! jangan bilang milik pria dibelakangnya mengeras dan jangan bilang sesuatu itu akan membuatnya kelelahan di pagi yang cerah ini. Jika benar seperti itu, sungguh malang sekali nasibnya.
"Oh ****! i feel like i want to stab you really hard under my cage" pelukan Nathan semakin mengerat kepala pria itu pun semakin menyusup di belakang leher jenjang Annabelle. "I want you baby girl! i want to repeat our hot night like last night"
"Jika ingin mengulang malam panas itu, berikan gue setengah dari perusahaan lo. Setuju?" ucap Annabelle dengan senyum miringnya. Sesekali porotin bajingan satu ini tidak masalah bukan? lagi pula ia pasti akan sangat untung banyak, walupun nikmat tetapi bisnis tetaplah bisnis, right?
"Bisnis adalah bisnis" ucap Annabelle tenang.
"Wanita licik" dengus Nathan bahkan pelukannya tidak ia lepaskan walupun mereka sedang berdebat.
"Bukankah pelayanan yang gue beri semalam sampai membuat lo terpuaskan? dan disini gue yang sangat rugi, menyerahkan keperawanan gue kepada bajingan seperti lo" ucap Annabelle menatap tajam wajah tampan Nathan yang sibuk menatap Annabelle dengan wajah tengil nya.
"Well, gue harus apa? bagaimana caranya agar keperawanan lo bisa kembali?" ucap Nathan diselingi kekehan kecil yang di dengar oleh Annabelle seperti ledekan. "Oh atau kita lakukan sekali lagi, siapa tahu bisa..." ucap Nathan sengaja menghentikan ucapannya.
"Bisa apa?" tanya Annabelle dengan mata memicing tajam.
"Bisa merasakan kenikmatan tiada tara" ucap Nathan dengan tawa kerasnya dan langsung menjauh dari jangkauan Annabelle kemudian masuk kedalam kamar mandi masih dengan tawa yang tak henti-hentinya.
__ADS_1
"NATHAN" teriak Annabelle karena telah dibodohi oleh pria itu. "Lo benar-benar bajingan gila" sambungnya saat Annabelle sudah berdiri di pintu kamar mandi dengan salah satu kakinya menendang pintu berwarna putih itu.
"Dan bajingan gila ini yang telah memberikan lo rasanya kenikmatan dunia" balas Nathan cepat dari dalam kamar mandi.
"Ketagihan kan lo? heh!" ucap Nathan sambil terkekeh pelan dibawah guyuran shower.
"**** you" teriak Annabelle sekali lagi sebelum melangkah meninggalkan kamar Nathan dengan pakaian yang sudah lengkap ia kenakan.
tak lama setelah Annabelle meninggalkan kamar Nathan yang jauh dari kata rapi atau bisa disebut sangat amat berantakan karena kegiatan mereka dari semalam hingga pukul 3 pagi, Nathan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi miliknya dan tangan yang sibuk mengeringkan rambut pirangnya menggunakan handuk kecil.
matanya yang sipit sibuk melihat sekeliling kamar yang luas tetapi tidak juga menemukannya. Ya Nathan sedang mencari Annabelle tetapi wanita itu sudah tidak berada didalam kamar itu.
"Ck! kemana perginya? menyusahkan saja!" ucap Nathan kesal kemudian melangkah mendekat ke arah ruang pakaian.
setelah Nathan siap dengan pakaian santainya, pria itu lantas keluar dari kamar dengan niatan bisa bertemu dengan Annabelle. Dan semoga saja wanita itu masih berada di dalam mansionnya, gumamnya dalam hati.
"Dimana Annabel?" tanya Nathan kepada salah satu maid yang berpapasan dengannya.
"Sa-saya tidak tahu, Sir" ucap maid tersebut dengan kepala menunduk takut. Bagaimana tidak takut jika ditatap dari atas sampai bawah oleh Nathan?
"Ck! wanita yang keluar beberapa menit yang lalu dari kamar ku" dengus nya malas karena pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban yang tepat.
"Wanita? Ah iya, tadi ada seorang wanita keluar dari kamar anda dengan raut wajah yang terlihat seperti menahan amarahnya berjalan menuju pintu utama, Sir" jelas maid itu. "Mungkin wanita itu sudah sampai gerbang depan mansion, karena sudah dari 15 menit yang lalu dia keluar" sambungnya lagi.
"Bersihkan kamarku" ucap Nathan singkat lalu ia berjalan cepat menuruni tangga menyusul Annabelle.
"Wanita dengan sikap merajuknya memang tidak bisa dipisahkan" dengus Nathan sembari berlari menuju parkiran mobil untuk mengejar Annabelle yang mungkin masih berjalan disekitar mansionnya.
__ADS_1
"Sial! mengapa juga pintu utama ini harus berjauhan dengan gerbang utama mansion" decaknya kesal.