
Flashback on
Setelah beberapa lama berkendara, tiba-tiba mobil mewah berwarna hitam berhenti di basement restaurant yang sudah di janjikan.
Gabriel keluar dari dalam mobil, kemudian melangkahkan kaki nya untuk menemui Danayla. Gabriel juga sempat bertanya kepada pelayan yang tidak sengaja berpapasan dengan nya, di meja mana Danayla menunggu nya.
"Maaf, membuatmu menunggu terlalu lama, Danayla" ucap Gabriel melemparkan senyum tipis nya kepada Danayla.
setelah itu Gabriel menduduk kan bokong nya di kursi yang ada di hadapan Danayla. "Apa kamu sudah memesan makanan?" tanya Gabriel menatap buku menu yang ada di atas meja.
"Langsung saja ke intinya, Gabriel"
Gabriel mengernyitkan dahi nya bingung, ada apa dengan wanita ini? bukankah tadi di mansion mereka baik-baik saja? lalu, mengapa sekarang Danayla terlihat seperti menahan amarah nya saat ini? Gabriel bertanya-tanya dalam hati.
"Apa...ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" tanya Gabriel ragu.
"Pembunuh" desis Danayla pelan, walau begitu Gabriel masih bisa mendengar dengan jelas karena pendengaran pria itu sangat tajam.
"What?" ucap Gabriel tak mengerti. "Pembunuh?" tanya Gabriel.
Danayla tersenyum miring melihat Gabriel yang terlihat seperti tidak mengetahui apapun, atau mungkin pria itu pura-pura tidak mengetahui nya? "Apa motif lo?" tanya Danayla menatap tajam pria di hadapan nya.
Gabriel berdehem pelan mendengar nya.
"Apa maksud mu, Danayla" ucap Gabriel menatap Danayla santai.
"Mobil Mommy gue rem nya blong, pasti itu campur tangan lo kan? lo nyuruh anak buah lo buat sabotase mobil itu agar Mommy gue celaka, dan rencana lo berhasil. Mommy gue tidak bisa tertolong saat itu, karena kecelakaan tunggal yang beliau alami sangat parah, karena hal itu Daddy gue tidak terima istri nya pergi lebih dulu dari Daddy. Dan akhirnya Daddy menembak dirinya sendiri, agar Daddy bisa selalu bersama dengan Mommy" ucap Danayla yang tak sadar menceritakan kematian kedua orang tua nya kepada Gabriel. "Apa lo juga yang telah membuat hubungan kedua orang tua gue renggang? lo juga kan yang buat seolah kalo Mommy gue selingkuh dari Daddy?" tuduh Danayla melihat Gabriel yang sejak tadi hanya diam membisu ditempat nya.
Danayla menatap Gabriel dengan kedua mata nya yang mulai memanas, juga dengan nafas nya yang memburu sempurna.
"Kenapa lo tega? apa lo mau menguasai kekayaan keluarga gue, maka nya lo ngelakuin ini semua? kalau itu yang lo mau, silahkan ambil semua nya. Tapi apa bisa lo kembalikan Mommy dan juga Daddy?" tanya Danayla langsung dengan nafas nya yang kian memburu kemudian bangkit dari duduk nya.
Gabriel mengerut kan kening nya. "What do you mean!?" tanya Gabriel menatap Danayla yang berdiri menatap nya marah.
__ADS_1
"Killer. what do you mean? you are the one who killed my parents, Riel!" teriak Danayla dengan suara nya yang terdengar serak.
Gabriel ikut berdiri dari duduk nya, kedua orang berjenis kelamin berbeda itu saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang berbeda. Danayla menatap Gabriel marah dengan lelehan air mata nya yang mulai membasahi kedua pipi nya. Sedangkan Gabriel menatap Danayla datar detik itu juga.
"Are you accusing me?" tanya Gabriel menatap dalam mata Danayla.
Danayla menggeleng membiarkan air mata nya mengalir deras.
"I accused you? you're serious? don't you feel guilty?" balas Danayla terkekeh remeh.
"I hate you, is it appropriate that at that time you defended the project so desperately, so that I would not know about it? your game is very slick, I commend your plan. You crazy" lanjut Danayla menekan setiap kata yang ia ucapkan.
Gabriel mengepalkan kedua tangan nya erat.
"You don't believe me?" desis Gabriel menatap tajam Danayla.
"Riel, it's not about believing or not believing. All the evidence is in..."
"Yes! I don't believe it" teriak Danayla mengundang beberapa pasang mata menatap mereka aneh.
"So have you also forgotten the moments we've spent together??" tanya Gabriel yang dimana membuat Danayla langsung terdiam ditempat nya.
"Such things are commonplace in this country" balas Danayla setelah wanita itu terdiam beberapa detik. "You shouldn't have to bother doing this, if you want to take over Johnson's assets then I will gladly provide. But after this stay away from me pretend we never knew each other" ucap Danayla pelan, dengan kedua mata memerah menatap Gabriel, kemudian melangkah menjauh dari pria itu dengan langkah cepat.
dibelakangnya Gabriel mengepalkan kedua tangan nya kuat. Apa Danayla pikir setelah apa yang mereka lakukan, wanita itu akan mudah lepas dari Gabriel? tentu tidak, Danayla adalah wanita nya. Miliknya. Dan akan selamanya seperti itu.
Flashback off
...________...
"Lo terlihat kacau, man. Ada apa?" tanya Yonantan sok akrab. "Pasti dia pusing karena tidak mendapat pelepasan" ucap Nathan terkekeh melihat wajah tak bersahabat Gabriel.
Gabriel mendengus kemudian menghempaskan tangan Yonantan. "She's accused me"
__ADS_1
"Menuduh? siapa?" tanya Yonantan menatap Gabriel dengan wajah terkejut nya.
Gabriel menghembuskan nafas panjang, kemudian menyenderkan tubuhnya kasar pada sandaran sofa. "Danayla"
"What!?"
bukan hanya Yonantan yang bereaksi kaget mendengar penuturannya barusan, tapi juga Nathan. Kedua teman nya itu langsung melempar ponsel mereka masing-masing dan bergerak mengerumuni Gabriel.
"Lo serius? bagaimana bisa? tanya Yonantan heran dengan wajah serius nya yang terlihat terkejut.
"Apa lo ada rasa dengan wanita itu?" tanya Nathan dengan tatapan tak percaya.
"Bahkan mereka sering bercinta, man. Gue sering melihat mereka dinner bersama, dan Gabriel terlihat seperti sangat mencintai Danayla" ujar Yonantan mengingat tingkah Gabriel di restaurant saat ia dengan Annabelle makan bersama malam itu yang masih sulit ia lupakan.
"Wh-what? gue kira Gabriel tidak pernah serius dengan wanita mana pun" ujar Nathan menggeleng pelan dengan wajah nya yang terlihat berpikir keras, sedangkan Gabriel menatap tajam Yonantan. "Lo menguntit gue saat itu?"
"Sedikit. Karena setelah nya gue sibuk dengan, Annabelle. Teman sepermainan Danayla dan juga istrinya Nathan"
Gabriel meremas rambut nya, yang terlihat semakin frustasi.
"Kau... mencintai nya?"
Yonantan mengancungkan jari telunjuk nya di depan wajah Nathan ketika mendengar pertanyaaan bermutu pria itu, poin penting nya berada disana.
"Iya" jawab Gabriel tegas.
"Lalu, kenapa lo ambil pusing?" tanya Nathan bingung.
"Danayla menuduh gue yang telah melakukan pembunuhan berencana, terhadap kedua orang tua nya" ujar Gabriel malas, bahkan Danayla tidak mau mendengarkan penjelasan nya kemarin.
"Gabriel, kenapa lo menjadi bodoh begini?" decak Yonantan terkekeh setelah diam beberapa detik memikirkan masalah teman nya.
"Lo memiliki banyak uang. Lo hanya perlu mencari tahu siapa pelaku nya. Lalu masalah selesai"
__ADS_1