
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam dan Danayla kini sibuk memoleskan wajahnya dengan make-up natural. Menyapukan sebuah lipstik matte dibibir tipisnya kemudian tersenyum menatap refleksi dirinya.
wanita cantik itu membuka ponselnya apakah ada notifikasi masuk dari Gabriel sebelumnya atau tidak, dan hasilnya nihil. Jika Gabriel memberikannya harapan palsu maka ia akan sangat marah dengan pria itu.
butuh waktu yang cukup lama untuk Danayla memilih dress yang cocok untuk ia kenakan sekarang, karena Danayla ingin tampil sempurna malam ini walupun ia tidak mengenal siapa saja yang ada diparty itu kecuali Gabriel tentunya. Dan itu pun hanya karena sebatas rekan kerja dari perusahaan Daddy nya.
ketika matanya melihat notifikasi masuk dari nomor yang tidak dikenal dan sudah dipastikan itu dari siapa, dan ternyata Gabriel sudah berada didepan mansionnya. Dengan langkah elegan dirinya turun kebawah menuju halaman mansion dan langsung masuk kedalam mobil pria itu.
"Oh god! sungguh ciptaan mu ini luar biasa tampan malam ini" ucap Danayla dalam hati memperhatikan Gabriel yang sedang duduk disebelahnya.
berbeda dengan Danayla yang menatap Gabriel dengan pandangan memuja, Gabriel justru menatap Danayla dari ujung rambut hingga kaki dengan pandangan datar. Apa Danayla sudah tidak waras? ia dengan beraninya menggunakan dress yang terbuka seperti itu diparty yang khusus diadakan untuk para anak muda seperti dirinya? what the hell! rasanya kepalanya ingin meledak saat ini juga.
"Kamu yakin menggunakan pakaian ini?" tanya Gabriel sambil menatap wajah Danayla dengan tatapan datarnya yang menusuk.
"Maksud mu?" ujar Danayla bingung mendengar kalimat Gabriel barusan.
"Ganti pakaian mu!"
"What?" pekik Danayla menatap Gabriel tak percaya, detik berikutnya ia langsung memukul lengan kekar Gabriel keras yang tidak ada apa-apanya bagi Gabriel. "Please deh, ini party dan malam bukan? lagipula pakaian seperti ini cocok untuk party jangan tacky" dengusnya kesal dengan melipat kedua tangan terlipat di dada serta jangan lupakan wajah cemberutnya.
"Apa kamu marah, Danayla?" tanya Gabriel memutar tubuhnya menatap Danayla.
"Jalankan mobilnya" ucap Danayla datar tanpa mau menoleh kearah pria yang ada disampingnya.
"Tidak akan sebelum semuanya membaik, kamu marah padaku?" tanya Gabriel dengan suaranya yang luar biasa lembut hingga nyaris membuat Danayla terbuai oleh suara pria itu.
Gabriel meraih wajah Danayla agar mau menghadapnya, mengelus pelan pipi Danayla dengan ibu jarinya yang besar. "My beautiful Danayla, dengarkan aku. Aku bukan pria sabar, aku hanya tidak ingin tubuhmu menjadi tontonan banyak pria diluar sana. Kamu mengerti dengan maksud ku bukan?" ucap Gabriel memberikan penjelasan kepada Danayla dengan sabar.
__ADS_1
"Tapi gue sudah menyiapkan semuanya sejak tadi" ucap Danayla berteriak dihadapan Gabriel dengan wajah memerah menahan rasa kesalnya. Bahkan kedua matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"I know! kamu boleh menggunakannya lain kali jika kita pergi hanya berdua ke acara private, okay?" ucap Gabriel sembari mengecup sekilas bibir Danayla.
"Jalankan mobilnya. Atau gue benar-benar tidak akan mau ikut" ujar Danayla final yang membuat Gabriel mau tak mau untuk mengalah kali ini.
----------------
"Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga" pekik Yonantan yang melihat sosok Gabriel pertama kali saat pria itu mulai menapaki kakinya kedalam sebuah club malam.
"Gila, gila. Gercep juga lo, bos" sindir Yonantan menatap Gabriel yang baru saja tiba.
Gabriel memutar bola matanya malas. "Keburu diambil orang nanti" ucapnya tanpa mau repot-repot berbohong.
Gabriel menolehkan kepalanya melihat Danayla yang sibuk menatap sekitar club itu. Menarik pelan pergelangan tangan Danayla kemudian mendudukkan wanita itu diatas kursi yang
ia tarik barusan. Lalu melepaskan jas hitam yang digunakan Gabriel dan menyampirkannya kepada Danayla untuk menutupi bagian depan tubuhnya. Setelah itu ia berdiri tepat disebelah Danayla.
Gabriel menoleh kearah Yonantan kemudian berdecak kesal. "kasih gue 30% aja alkoholnya"
"Dih. Baru bawa cewek sok-sokan tobat lo Riel?" tanya Nathan tertawa mengejek temannya itu.
"Gue nyetir, bodoh" balas Gabriel kesal.
Yonantan tertawa pelan. "Mabuk aja lah, Riel. Gue panggilin supir nanti buat antar pulang kalo lo kobam parah" ucapnya sambil meletakkan sebotol minuman dengan kadar alkohol tinggi diatas meja mereka.
"Bodo amat" balas Gabriel malas sambil membakar ujung rokoknya dengan pematik.
Nathan menatap Danayla sekilas kemudian menatap Yonantan dengan tampang konyol mereka sebelum akhirnya tertawa kompak dengan heboh.
__ADS_1
"Udah gila lo berdua?" ucap Gabriel dengan wajah datarnya dengan malas.
Danayla menatap ketiganya dengan raut malasnya, jika tau party nya akan diadakan diclub maka ia tidak akan pernah mau ikut. Ia kira party nya diadakan dihotel atau restaurant mewah yang menyediakan berbagai macam jenis makanan, ternyata tidak. Yang ada menyediakan berbagai jenis minuman ini mah.
"Calon ya Riel?" goda Yonantan menaik-turunkan alisnya.
"Si doi lagi gak ada special persion, jadi bolehlah lo gas aja" ucap Nathan dengan tawa kerasnya, karena senang bisa mengejek Gabriel disaat Gabriel menjaga imagenya didepan Danayla.
"Oh atau lo memberikan kesempatan untuk gue pendekatan dengan si doi? boleh juga tuh, itung-itung mau memantaskan diri untuk menjadi calon" sambung Nathan urusan mengejek, temannya akan selalu berada diurutan satu.
Gabriel mendengus melihatnya kemudian meneguk alkohol yang barusan disediakan oleh bartender disana.
"Maka gue akan membunuh lo detik itu juga"
"She is mine" ujar Gabriel kemudian mengambil kursi yang ada dibelakang Danayla dan menariknya mendekat agar ia bisa duduk bersebelahan dengan wanitanya. Hah! wanitanya? biarkanlah Gabriel yang mengharapkan seperti itu.
Danayla menatap tangan Gabriel yang ada diatas pahanya seolah-olah bahwa pria itu ingin menunjukkan bahwa ia adalah miliknya.
terdengar dengusan malas yang keluar dari bibir cantik Danayla. Bagaimana tidak? sejak tadi ia bahkan hanya duduk diam dan tidak ada satupun minuman yang masuk kedalam tenggorokannya. Sungguh sangat menyesal sekali rasanya ia mengikuti ajakan pria disebelahnya ini.
"Gue mau pulang" ucap Danayla kesal.
Gabriel menatap bingung kearah Danayla yang berucap tiba-tiba. "Why? apa kamu bosan?" tanya Gabriel dengan polosnya.
"Siapa yang tidak bosan jika hanya duduk diam saja? jika ada orangnya, itu pasti orang bodoh. Lo kira gue tidak punya kesibukan hah? nungguin orang yang asik sama teman-temannya sedangkan gue? cuma numpang duduk disini. Sama aja kayak dirumah kalau gitu cuma beda tempat" ucap Danayla mengeluarkan segala unek-unek yang sedari tadi ingin ia keluarkan.
__ADS_1
"Hah! sangat membosankan"
kedua teman Gabriel hanya bisa menatap keduanya dalam diam, bahkan biasanya mereka berdua akan selalu heboh jika ada keributan tetapi kali ini keduanya hanya diam membisu melihat Gabriel yang dimarahi habis-habisan oleh Danayla.