
9 bulan kemudian...
"Akhhh" pekik Danayla mencengkram erat lengan Gabriel kuat dengan wajahnya yang mulai memerah sempurna.
"Gabriel...shhh" lirih Danayla dengan banyak dokter dan perawat yang mulai mengelilingi dirinya.
"Sayang" lirih Gabriel mengusap wajah Danayla lembut ketika netra wanita itu menatapnya sayu.
"Kamu harus kuat" ucap Gabriel mengecup dahi Danayla lembut. "Aku disini sayang, for you" tanpa sadar pria itu meneteskan air matanya.
"Sa-sakit, Riel" ujar Danayla pada Gabriel.
pria itu menganggukkan kepalanya pelan. "I'm sure you can get through this, dear" bisik Gabriel di telinga Danayla.
"You are strong, you are great, keep spirit dear" ucap Gabriel menyemangati istrinya.
...----------------...
tatapan Gabriel tidak pernah lepas dari bayi kecil di dalam gendongannya, putranya.
"Little Dawson is here" lirihnya bersamaan dengan air matanya yang menetes.
pria itu bergerak mendekati Danayla, kemudian meletakkan tubuh rapuh putranya di atas pangkuan Danayla kemudian memeluk mereka berdua dari samping sembari mengecup puncak kepala Danayla lama.
"Thank you, dear and I love you"
...----------------...
"You like it son?"
"Yes, Daddy"
"Approach she's and get his heart, son"
"Bagaimana caranya?"
"itu urusan mu untuk mencari tahunya" ucap Gabriel tersenyum miring kemudian berjalan meninggalkan putranya yang berumur sekitar 5 tahun itu dihalaman mansion.
__ADS_1
"Come here! If you don't want it, Daddy locks it from the inside" ucap Gabriel berdiri didepan gerbang.
"Dad sucks" ucapnya kesal dengan bibir yang mengerucut kedepan.
"Aiden Dewson"
seketika Aiden langsung terdiam takut karena Daddynya sudah menyebutkan nama lengkapnya. Ini artinya Gabriel benar-benar marah terhadapnya.
"Ada apa ini?" tanya Danayla diambang pintu masuk menatap keduanya dengan bingung, kenapa tiba-tiba kedua pria itu seperti bermusuhan? bukankah tadi mereka terlihat sangat akrab sekali?
"Your son has crossed his limits" desisnya membuat Danayla menatap anaknya yang menunduk takut.
"Ada apa, sayang?" tanya Danayla lembut mengusap puncak kepala Aiden.
"Nothing, Mommy" lirihnya pelan menyembunyikan tangisnya agar tidak dilihat oleh kedua orang tuanya.
"Why are you crying?"
Aiden menggeleng pelan sembari memilin ujung bajunya dan semakin menundukkan kepalanya. Danayla sudah tahu jika seperti ini Aiden pasti menangis. See? belum selesai dia bicara bahu kecil Aiden sudah bergetar karena isakkannya.
"Apakah seperti itu cara menjawab pertanyaaan orang yang lebih tua, nak?" tanya Danayla menyamakan tingginya terhadap putranya itu.
"Look at me, Aiden" ucap Danayla tegas.
"I'm so-sorry"
"Jadi ceritakan kepada, Mommy! ada apa Aiden?"
"A-aku...aku kesal ka-karena Daddy" balasnya menatap Danayla dengan mata bulatnya lucu.
"Why, Daddy?"
"Ka-karena Daddy mengancam, a-aku jadi tidak bisa me-melihat anak itu" ucapnya dengan wajah yang memerah karena tangis.
"Kamu masih kecil dan belum cukup umur untuk mengerti cinta, sayang"
"Ta-tapi di-dia beauty, Mommy. Ka-kata Daddy jika ada gadis cantik kita harus menyukainya, maka itu aku suka Mommy"
__ADS_1
"Oh God" gumam Gabriel panik.
"Gabriel" ucap Danayla geram menoleh kearah Gabriel yang berdiri dibelakangnya. Terlihat Gabriel meneguk ludahnya kasar.
"No! No! bu-bukan seperti itu, dear" ucap Gabriel menggeleng panik. "Aku tidak mengatakan seperti itu, Aiden saja yang salah menangkap maksud dari ucapanku"
"Dear do you hear me? a-aku...aku tidak..."
"Diam"
sementara Aiden melonggokkan kepalanya menatap Gabriel yang terlihat pucat pasi karena Danayla menatap tajam pria itu.
Aiden menahan tawanya melihat Daddynya terlihat panik sekarang. "Maaf Daddy, tapi aku tidak mau dimarahi oleh Mommy sendirian" ucap Aiden pelan menatap Gabriel sok prihatin.
Gabriel melihat putranya yang sedang menahan tawa langsung saja menatap tajam Aiden. Awas kau! gumam Gabriel dalam hati.
"Aiden, masuklah kedalam kamar mu"
"Yes, Mommy" ucapnya langsung berlari menuju kamarnya.
"Sayang, maaf" ucap Gabriel menundukkan kepalanya. Sial! bocah ingusan itu umpat Gabriel dalam hati.
"Malam ini tidur diluar" ucap Danayla tak terbantahkan kemudian pergi meninggalkan Gabriel yang mematung mendengarnya.
"Wh-what? OH NOOOOOO"
...selesai...
...kenapa ceritanya dikit? karena aku memang sengaja, kalau terlalu banyak nantinya kalian cepat bosan dengan ceritanya dan juga alurnya nanti menurutku tidak nyambung....
...Kenapa masalahnya tidak terlalu berat? sengaja juga karena ini ceritaku jadi terserah mau seperti apa...
...dan jika tidak sesuai sama apa yang kalian inginkan aku minta maaf sebesar-besarnya ...
...see you next time ...
...semoga aku bisa membuat cerita lagi dan mendapatkan ide yang lebih baik lagi, bye-bye ...
__ADS_1