
Kembali lagi ke Danayla, sejak tadi Bianca belum mengatakan apapun kepada mereka.
"Jelaskan sekarang atau..."
"Peluru ini bersarang dikepala mu?" ancam Gabriel tak main-main.
Bianca tersenyum mengejek menanggapi ucapan Gabriel. "Ini semua salah lo" balasnya tenang.
"Bianca! lo menyukai Gabriel?" tanya Danayla menatap intens wanita yang duduk dihadapannya.
pertanyaaan Danayla membuat Bianca menatapnya malas kemudian wanita itu berdiri dari duduknya. Danayla melihat setiap gerakan Bianca dalam diam. Jika benar sekretaris Gabriel menyukai pria itu, maka ia akan mulai menjauh dari kehidupan Gabriel, ia juga tidak berminat untuk memperebutkan hal tidak penting dalam hidupnya.
"Lo memanggil wanita ini untuk apa?" tatapan Danayla beralih kearah Gabriel.
"Kamu tahu? wanita ini penyebab semuanya. Dia penyebab atas semua kejadian yang terjadi kepada keluarga Johnson"
"Wanita ini juga yang telah memalsukan jati dirinya kemudian membalikkannya atas namaku, karena dia tahu akhir-akhir ini kita sangat dekat. Bisa dibilang aku dijadikan kambing hitam olehnya"
"Ja-jadi lo? lo yang membuat kedua orangtua gue meninggal? kenapa lo tega melakukannya?" tanya Danayla beruntun. "Kenapa? hah! kalau lo merasa gue yang telah merebut Gabriel dari lo, oke! dengan senang hati akan gue berikan. Tapi gue mohon sama lo, jangan ganggu gue lagi"
"Aku tidak pernah mau bertengkar kepada mu, Danayla" ucap Bianca pelan, membuat Danayla menatapnya heran. Aku-kamu? what?
"Lalu apa? lo mau..."
"SHUT UP!"
"Aku tidak pernah suka sama Gabriel, Danayla. Tidak sama sekali, tertarik sama dia aja aku tidak pernah" teriak Bianca yang Danayla emosi.
Danayla bangkit dari duduknya kemudian terkekeh meremehkan.
"Really? terus kamu suka sama siapa? Frans?" ejeknya.
"Aku suka sama kamu! kamu dengar aku? I love you, Danayla" teriak Bianca membuat Danayla terkejut detik itu juga.
otaknya langsung berhenti bekerja saat itu juga, tiba-tiba Danayla merasa dirinya tidak bisa bernafas dengan benar.
ya tuhan, Danayla tidak pernah menyangka bahwa ada seseorang menyatakan cinta kepada dirinya, walaupun dia sudah biasa dengan ucapan itu tapi ini sungguh pernyataan yang membuat dia terkejut bukan main. Danayla berusaha untuk tidak memikirkannya tapi otaknya berkata lain, sialan.
"Kamu gila, Bianca"
"No! aku cinta sama kamu tulus, Danayla. Dan aku tidak gila, aku masih waras untuk mencintaimu!" pekiknya keras dengan nafas yang memburu
__ADS_1
"Tapi gue tidak suka sama lo, Bianca! gue masih normal" teriak Danayla lebih keras kemudian hendak berjalan menjauh pergi meninggalkan ruangan Gabriel, tapi belum beberapa langkah tangannya sudah dicekal erat oleh Bianca.
"Bianca, lepas! kamu...emhh"
Bianca terkejut bukan main sampai matanya melotot sempurna ketika Bianca mencium bibirnya ganas.
"BIANCA!" teriak Frans kemudian mendorong tubuh sekretaris Gabriel
itu kuat hingga terjatuh keatas lantai begitu saja.
"Wanita jadi-jadian" desis Frans menatap tajam Bianca yang justru tersenyum puas ke arahnya.
Sedangkan Gabriel yang berdiri tak jauh dari ke-3 nya hanya diam menatap lurus kedepan, sekedar untuk membantu Danayla saja tidak. Justru Gabriel terlihat menikmati pemandangan yang ada dihadapannya itu. Dengan posisi menyandar dipembatas kaca.
"Apa salah aku mencintaimu, Danayla? aku mencintaimu" teriak Bianca menjambak rambutnya sendiri frustasi.
"Lo tidak salah untuk jatuh cinta, tapi bukan dengan gue! apa pria diluar sana sudah habis sehingga lo melenceng ke gue?" tanya Danayla menatap tajam Bianca. Wanita gila ini, bibirnya menjadi ternoda setelah dicium olehnya. Sialan.
Bianca berdiri dari duduknya, kemudian langsung menerjang
Danayla dari belakang saat wanita itu hendak membalikkannya badannya. "Jika tidak bisa bersama untuk saling mencintai didunia ini, mari kita pergi dan saling mencintai diakhirat" ucap Bianca menodongkan pistol dikepala Danayla.
"Lo? le-lepas Bianca... please gu-gue mohon, ki-kita bisa membicarakan ini ba-baik-baik" ucap Danayla gugup, badannya pun sudah gemetar takut. Tatapan Danayla beralih kearah Jonathan yang terkejut melihat dirinya ditodong oleh Bianca. Nathan dan Yonantan juga dengan refleks berdiri dari duduknya kaget melihat hal tak terduga ini.
mereka tidak pernah mengira jika wanita gila ini akan membawa senjata, sungguh nekat sekali Bianca.
Nathan mengalihkan tatapannya kearah Gabriel yang masih diam melihat kearah depan dengan raut datarnya, ia tidak tahu apa yang sedang ada dipikiran Gabriel saat ini, yang pasti mereka harus menolong Danayla agar segera terbebas dari Bianca.
"Please, Bianca! lepaskan gue" ucap Danayla menahan tangis matanya bahkan sudah berkaca-kaca. "Apa lo tidak merasa bersalah telah melakukan hal kejahatan seperti itu? apa lo tidak mempunyai belas kasih, Bianca?" air mata Danayla tumpah sudah membasahi kedua pipi mulusnya.
"Tidak sama sekali! justru dengan aku yang menyingkirkan orang-orang terdekat mu akan mudah untuk kita bersama, Danayla"ucap Bianca senang. "Tidak ada yang akan menghalangi kita untuk bersama dan tidak akan ada yang memisahkan kita"
"Mari kita bertemu diakhirat, Danayla! aku akan membunuh mu lebih dulu baru setelah ku pastikan kamu sudah tidak bernafas aku akan menyusulmu, sayang" ucap Bianca diakhiri dengan tawanya.
"Nona! tenang Nona, saya akan berusaha semaksimal mungkin" ucap Jonathan menenangkan Danayla. Sementara Danayla sudah menangis menggigit bibir bawahnya kuat menahan agar isakkannya tidak keluar. "Un-uncle Jo" ucap Danayla sesenggukan.
ya tuhan, apa yang harus aku lakukan? Nona Danayla dalam bahaya, aku tidak akan memaafkan diriku jika Nona Danayla terluka gumam Jonathan dalam hati. lalu Jonathan beralih menatap Gabriel yang terlihat santai dalam diamnya.
mengapa pria itu tidak panik? bukankah asisten pribadinya mengatakan jika pria itu mencintai Nona Danayla? lalu mengapa dia hanya diam tidak melakukan apapun untuk menyelamatkan orang yang dia cinta? begitu pikir Jonathan dalam diam.
karena merasa seperti ada yang menatapnya, Gabriel mengalihkan pandangannya kesekelilingnya. Dan ternyata terlihat Jonathan menatapnya, Gabriel sempat melirik sebentar sebelum kembali menatap Danayla.
__ADS_1
Le-lepas Bianca... gu-gue janji setelah ini gue a-ak...."
"Sudah cukup, Bianca" potong Gabriel berdiri tegak kemudian melangkah mendekati ke-2 nya dengan tenang. Seolah Bianca bukan tandingannya. Gabriel menyisakan jarak sekitar 3 langkah dari Danayla, dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. "Kamu bukan tandingan ku"
"Tidak akan pernah aku lepaskan" balasnya sengit.
"****** kecil ingin bermain-main denganku?" tanya Gabriel tersenyum miring. "Hentikan permainan ini! kamu tidak tahu siapa aku bukan? jangan sampai kamu menyesal, Bianca" ucap Gabriel pelan dengan ancaman tak main-main.
Nathan dan Yonantan yang tahu jika Gabriel marah akan sangat berbahaya, jadi keduanya memilih untuk berjaga-jaga disebelah Gabriel agar pria itu tidak kelepasan, bisa-bisa Gabriel menyakiti Danayla.
"Kamu salah mencari lawan" desisnya membuat Danayla yang ada dihadapannya bisa melihat rahang tegas Gabriel bergetar karena rasa geram pria itu. Wajah putih Gabriel sudah terlihat memerah bahkan gemerletukan gigi geraham pria itu terdengar ditelinganya.
"DOR"
semua terkejut mendengar suara tembakan tersebut, tidak ada yang menyangka gerakan tangan Gabriel terlalu cepat sehingga saat pria itu mengeluarkan pistol dibelakang jasnya tidak ada yang mengetahuinya.
"Akhhh"
Bianca langsung jatuh saat itu juga dengan cepat Gabriel menarik wanitanya kedalam pelukannya.
"Sudah kubilang kamu bukan tandinganku" ucap Gabriel mengejek.
"DOR"
disisa kesadarannya Bianca mengangkat tangannya untuk menembak Danayla dari belakang tapi pergerakannya dilihat oleh Gabriel sehingga dengan cepat Gabriel balik menembakkan pelurunya ke tangan Bianca, sehingga pistol yang wanita itu pegang jatuh terlempar jauh.
"Game over" gumam Gabriel tersenyum melihat lawannya sudah tumbang dihadapannya sekarang.
Danayla terisak didalam pelukan pria itu bahkan pelukannya mengerat dipinggang Gabriel. "Suttt! dia sudah mati" ucap Gabriel santai.
"Gu-gue...gue takut, Riel"
"Maaf, maafin gu-gue sudah menuduh lo"
Gabriel tersenyum, tiba-tiba sebuah ide absurd terbesit dibenaknya. "Aku membantumu ini tidak gratis"
"Kamu harus membayar mahal, Danayla" ucapnya tersenyum miring.
"Ca-caranya?"
Gabriel tidak menjawab melainkan mengalihkan tatapannya kepada Frans agar mayat, Bianca dibersihkan dari ruangannya.
__ADS_1