GABRIEL DIRGANTARA

GABRIEL DIRGANTARA
flashback 2


__ADS_3

"ARGHHH"


"Apa aku bisa hidup tanpa Olivia?" gumam MacKenzie, dengan kedua tangan menutup wajahnya. "Dia yang pertama dan harus dia yang terakhir!! tidak ada yang boleh menggantikan posisinya, dihati dan juga hidupku!!"


"Dengan berat hati, saya mengatakan bahwa istri anda mengalami koma"


ucapan dokter tadi, terus berputar-putar diotaknya, sudah seperti sebuah film yang tampil berulangkali.


"Aku sangat mencintaimu Olivia!! sangat mencintaimu!!" ucapnya tergugu. "Bagaimana aku bisa menjelaskan semuanya kepada Danayla? aku bahkan takut Danayla membenciku, karena menduga aku yang telah membuatmu seperti ini"


FLASHBACK ON


"I love you Olivia"


"Are you crazy?"


"yes. I'm crazy for you!"


ucapnya kepada seorang model internasional, yang memiliki paras cantik, bentuk tubuh yang ideal. Mampu membuat kaum pria, tak mengedipkan mata saat melihatnya. Termasuk juga dengan anak tunggal, dari perusahaan Johnson group, yang sudah dikenal diseluruh dunia.


"will you marry me Olivia?, be my life partner in the future and be the mother of my children in the future"


suara serak dan berat! yang menjadi ciri khas seorang Mackenzie Johnson, Sedang melamar kekasihnya.


"I am yours, I want to be your wife and be the mother of your children someday"


suara tepuk tangan bergemuruh. Menyaksikan langsung, bagaimana seorang MacKenzie Johnson, direktur utama, sekaligus pewaris tunggal yang banyak memiliki anak cabang perusahaan Johnson group, yang sudah mendunia. Melamar wanita pujaannya! di sebuah restauran mewah, yang ada di Amerika Serikat.


"I love you" ucapnya saat sudah memasang cincin bertahtakan berlian murni, yang sangat cantik dan pas dijari lentik wanitanya.


"I love you more" saat mendengar jawaban dari Olivia. ia menarik pinggang ramping itu agar mendekat dan masuk kedalam pelukannya, kemudian ******* habis, bibir seksi wanitanya itu! dengan sangat menuntut.


"I MacKenzie Johnson take you Olivia Nayla to be my wife, to have and care for one another, from now on and forever. In times of trouble and joy, in times of abundance and need, in times of health and sickness, to love and cherish one another, until death do us part, according to God's holy law, and This is My Sincere Promise."


"I Olivia Nayla take you MacKenzie Johnson to be my husband, to have and care for each other, from now on and forever. In times of trouble and joy, in times of abundance and need, in times of health and sickness, to love and cherish one another, until death do us part, according to God's holy law, and This is My Sincere Promise."


"Akhirnya aku bisa merasakan, bagaimana rasanya, kenikmatan surga dunia" teriak MacKenzie Johnson saat sudah menyelesaikan pemberkatan pernikahannya.


suara gelak tawa terdengar nyaring, saat pengantin mempelai pria berteriak mengeluarkan keluh kesah yang selama ini telah ia pendam lama. Bagaimana tidak? walaupun ia tinggal di negara bebas, ajaran keluarganya sangat menentang keras NOT MARRIED NOT ***.


"Bolehkah?" menatap wajah cantik alami wanita yang ada dibawah Kungkungan pria tampan itu.


"I'm yours darling" ucap wanita itu dengan wajah pasrahnya.


"Hello dad i'm here" ucap istrinya menirukan suara, seperti seorang anak kecil.


"Are you serious? will i be a Daddy?" balasnya tak percaya.


"Mia Danayla Johnson" menatap wajah polos bayi, yang ada digendongannya. "Thank you my love! you have given me a very precious gift for me. I love you so much Olivia Johnson"


"Jangan bermain disana sayang!" teriak MacKenzie kepada anak perempuan satu-satunya. "Kan sudah Daddy bilang, jangan! dan sekarang lihat bukan? kamu terluka. Ayo kita kedalam, akan Daddy obati agar tidak infeksi nantinya"


"Horeee" teriak anak perempuan berumur sekitar 5 tahunan. "Dad, Mom I win! I got the highest score in class"


"Congrats princess daddy" menatap bangga kepada anak perempuannya.


"Selamat untuk kesayangan Mommy! Mom love you so much" mengecup seluruh wajah cantik anaknya.


"Jelaskan" ujar kembali laki-laki paru baya tersebut.

__ADS_1


"Ba-bagaimana bisa? i-ini? ini bohong sayang, percaya padaku." ujar wanita cantik itu sambil ingin menggapai tangan suaminya.


"Bohong kau bilang? itu real Olivia." ujar laki-laki itu serta menyentak tangan istrinya.


"Kau bisa menceraikanku agar aku tidak menjadi beban bagi dirimu." bisik Olivia pelan.


"Cerai? hahaha kau meminta cerai setelah kau bercinta dengan orang asing?" ujar Johnson pelan.


"AKU MEMBENCIMU JOHNSON." teriak Olivia Johnson.


"Lepaskan aku brengsek." ujar Olivia meronta-ronta dari bawah Kungkungan suaminya.


"Akhh Olivia, aku gila karenamu sayang." ujar Johnson sembari menyentak-nyentak tubuh sintal wanitanya.


FLASHBACK OFF


"ARGHH"


"OLIVIAAAAA"


"Hiks hiks sorry, im sorry dear. Aku laki-laki berengsek, yang tidak bisa percaya kepada istrinya sendiri hiks hiks" menjambak rambutnya kuat-kuat. Mengingat kepingan-kepingan kenangan yang mereka lalui bersama, suka dan duka. "Aku tidak akan bisa hidup jika kau pergi meninggalkan ku sayang hiks hiks"


merasa ada tepukan di bahu sebelah kanannya, ia pun segera mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang sudah mengganggu waktunya untuk menyendiri. Dan itu tidak lain, dan tidak bukan adalah asisten pribadinya.


"Di dunia ini tidak ada yang abadi, karena semuanya hanyalah titipan palsu, yang sewaktu-waktu bisa diambil Tuhan dari kita semua" ucap asistennya, dengan pandangan matanya lurus kedepan.


keduanya kembali terdiam, tenggelam dengan pikiran yang entah berapa dimana.


"Jo!" setelah sekian lama berdiam diri dengan pikiran masing-masing, akhirnya MacKenzie membuka suara terlebih dahulu.


"Jika Olivia dinyatakan tidak selamat, kau harus menambak mati diriku saat itu juga! mengerti?" manatap dalam mata asisten pribadinya. "Aku tidak bisa hidup tanpanya, tidak bisa melakukan apapun dengan baik tanpa dia Jo!"


"Ini sebuah perintah! bukan permintaan Jo!" ucapnya dengan linangan air mata, yang terjun bebas dikedua mata tajamnya itu. "I-ini perintahku yang terakhir kalinya, aku mohon! tolong kabulkan permintaanku, kali ini saja! aku mohon Jo"


"Olivia cintaku, hidupku, duniaku! apa artinya aku tanpa dia? aku tidak akan bisa hidup jika dia pergi meninggalkanku selama-lamanya, pergi dari dunia ini" ucapnya lemah didepan asisten pribadinya itu, untuk yang pertama kalinya. Karena biasanya, ia tidak pernah memperlihatkan tangisnya atau apapun itu didepan orang lain, hanya kepada Olivia lah ia bisa memperlihatkannya. "Kau tau? saat ia begitu mudahnya, menyuruhku untuk menceraikannya? duniaku seakan-akan hancur saat itu juga! aku yang mati-matian untuk mendapatkan Olivia, dan dengan tidak memikirkan hal yang lain, ia menginginkan perceraian"


"Kau bahkan tau, aku tidak akan pernah bisa menolak segala sesuatu yang diinginkan olehnya? aku selalu tunduk kepadanya" lanjutnya. "Jadi kumohon padamu, ini adalah perintah terakhir untukmu"


"Tapi, bagaimana dengan anak anda? apa anda akan meninggalkannya begitu saja? tidakkah anda kasihan kepadanya? bahkan anak anda masih sangat menginginkan kasih sayang kedua orangtuanya, jika tidak dari ibunya, ayahnya pun tidak masalah bukan?" tanyanya berturut-turut. Karena bingung dengan kemauan bosnya itu.


Ia kira membunuhnya segampang itu? satu goresan saja mengenai tubuh laki-laki tua disebelahnya, maka ia pastikan nyawanya langsung ikut melayang saat itu juga. Karena ia tau bahwa keluarga pria disebelahnya tidak akan tinggal diam jika orang seperti MacKenzie Johnson diperlakukan seperti itu. Ya walaupun itu atas permintaan konyol dari MacKenzie secara langsung. Begitu pikir asisten Jo tersebut, saat ia terdiam lama.


"Aku tidak masalah tentang dirinya, Jo! karena aku tau pasti, walupun ia manja, kekanak-kanakan, sombong dan juga keras kepala. Tetapi ia bisa berdiri dengan kakinya sendiri!" mengembangkan senyumnya, saat mengingat anak perempuan satu-satunya itu. "Aku juga tidak akan khawatir, karena banyak orang yang akan menjaganya, bukan hanya aku saja. Seluruh keluarga besarku maupun istriku pasti akan ikut menjaganya dari kejauhan. Ada para maid dirumah, ada banyak para bodyguard, dan tentunya kau yang harus turun tangan mengurus semuanya, termasuk Danayla! anakku" ucapnya dengan santai.


"Jadi dengan begitu, aku pasti akan tenang diatas sana berdua dengan istriku. Tidak ada lagi yang akan memisahkan kita, tidak ada lagi pekerjaan dari perusahaan yang menganggu kegiatanku saat aku bercinta dengan Olivia" ucapnya terkekeh geli, diakhir kalimatnya.


sungguh, dipikirannya hanya ada istrinya dan istrinya saja! dan satu lagi bercinta. Selain itu tidak ada yang ia pikirkan, sungguh Mackenzie Johnson sangat buncin terhadap istrinya. Begitu kira-kira pikiran, si Jo yang malang wkwkwk.


tak lama kemudian, 2 orang suster berlari mendekati mereka berdua, dengan nafas tersengal-sengal.


"Tu-tuan Johnson...nyo-nyonya, nyonya Jo-johnson sudah sa-sadar" ucap salah satu diantara mereka berdua dengan terbata-bata.


Mackenzie menatap mereka, dengan satu alisnya yang terangkat. "Bicaralah yang jelas! anda berbicara sudah seperti orang yang ingin mati saja"


sedangkan asisten Jo, langsung menahan tawanya agar tidak meledak. Karena disaat-saat seperti ini, tuannya itu masih bisa bercanda.


"Maafkan teman saya tuan! kedatangan kami kesini, ingin memberi tau anda, bahwa nyonya Johnson sudah sadar dan beliau ingin bertemu dengan anda" ucapnya dengan lancar, karena dirinya sudah bisa mengatur nafasnya.


sedangkan MacKenzie? ia langsung berlari pergi meninggalkan mereka bertiga, saat mendengar bahwa istrinya sudah sadar, bahkan suster itu belum menyelesaikan ucapannya, tetapi ia tidak perduli itu. Karena yang dipikirannya hanya ingin melihat istrinya tercinta.

__ADS_1


...----------------...


sesampainya MacKenzie didepan pintu ruangan dimana istrinya dirawat, saat menanyakan kepada salah satu suster yang sedang bertugas.


"KRETTT"


Mackenzie bisa melihat wanita paru baya, yang masih terlihat cantik diusianya yang tak lagi muda. Sedang menatap dirinya dengan tatapan matanya yang sendu, bahkan ia sendiri tidak tega melihatnya.


"I'm sorry dear! maaf karena aku, kamu menjadi seperti ini" berjalan sambil mendekati bangkar tempat, istrinya itu. "Sorry" ucapnya sekali lagi, dengan suaranya yang serak dan berat.


"I'ts okay darling! aku baik-baik saja, hm?" mengulurkan tangannya untuk menyentuh rahang tegas suaminya. "You cry?" tersenyum kecil sembari memicingkan matanya.


membungkukkan badannya, agar bisa memeluk tubuh istrinya. Dan sekilas mengecup keningnya sebentar, sebelum meletakkan kepalanya disebelah kepala istrinya. "Bagaimana aku tidak menangis, jika bidadari cantikku ini sedang berjuang melawan maut,hm?" bisiknya lembut. "Katakan padaku dear, bagaimana bisa aku tidak menangis?" tak sadar sampai kembali mengeluarkan air matanya.


"Bahkan tadi hiks hiks aku takut, kamu tidak akan bangun lagi dear hiks hiks. Aku takut kamu pergi meninggalkanku hiks selama-lamanya, aku takut bahwa nanti cintaku pergi dari hidupku. Aku takut! sangat takut dear hiks hiks" ucapnya pelan dengan mata terpejam, dengan posisi masih memeluk istrinya itu.


Olivia tersenyum, mendengar ucapan yang dikatakan oleh suaminya. Ya, masih suaminya! karena mereka belum resmi bercerai dipengadilan.


"Kau memang tidak pernah berubah sayang! selalu memperlihatkan kelemahanmu dihadapanku, bagaimana bisa aku tenang meninggalkan laki-laki yang aku cintai ini sendirian disini?" ucap Olivia dalam hati, sembari memejamkan matanya.


"Bolehkah aku mengatakan sesuatu?" ucap Olivia dengan suara yang pelan.


"Hm, katakan saja" balasnya pelan.


"Ji-jika aku pergi, janji ja-jangan pernah untuk menangisiku! a-aku ingin ka-kamu me-melepa-paskanku dengan la-lapang da-dada" ucapnya dengan nafas yang tersengal-sengal.


mengatur nafasnya sejenak sebelum kembali mengucapkan sesuatu kepada suaminya. "Aku mencintaimu! sangat mencintaimu MacKenzie Johnson. Kau yang pertama dan terakhir untukku, aku mencintaimu melebihi aku mencintai diriku sendiri" suaranya bahkan sudah seperti bisikan, untungnya MacKenzie bisa mendengar karena tepat berada disebelahnya.


"Jangan pernah meragukan cintaku darling! untuk masalah foto yang kamu berikan itu, aku sama sekali tidak tau apapun tentang itu" ucapnya lagi. "Cari penggantiku jika kamu merasa sendiri, dan membutuhkan pendamping. Aku tidak masalah dengan itu, karena kebahagiaan mu yang terpenting untukku" perlahan air matanya keluar dari mata cantiknya.


"Cari yang bisa dan benar-benar menerimamu apa adanya, bukan karena harta tapi karena ia yang serius mencintaimu dan juga menerima anak kita, Danayla" menghentikan ucapannya sebentar sebelum melanjutkannya. "Jangan pernah melupakan tugasmu, untuk menjaga putri kesayanganku. Jangan memarahinya jika ia melakukan hal yang tidak kamu inginkan, tetapi beritahu ia dengan pelan dan jangan pernah sampai membentak Danayla. Karena aku yang melahirkannya, sama sekali tidak pernah membentak ia dengan keras"


"Jika kamu meninggalkanku, maka aku akan melakukan hal yang sama dear, aku tidak bisa hidup tanpamu! cintaku telah pergi, apa artinya aku disini?" menjauhkan wajahnya dari istrinya. "Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu, dihatiku maupun didalam hidupku. Karena Olivia Johnson hanya diciptakan untuk MacKenzie Johnson dan begitupun sebaliknya, MacKenzie Johnson diciptakan untuk Olivia Johnson"


"Lepaskan aku.. ini rasanya sungguh menyiksaku, aku tidak kuat menahan sakitnya, ak-aku mo-mohon" menatap sendu suaminya. "Sa-sakit... sungguh, aku tidak ber-berbohong"


sementara itu, MacKenzie hanya menatap wajah cantik, dengan bibirnya yang pucat itu dengan air mata yang menetes semakin deras dari sebelumnya. ia bahkan tidak tega melihatnya, jika boleh, ia saja yang merasakan sakit tidak dengan istrinya.


"HUKHH"


"HUKHH"


darah kental keluar dari bibir pucat wanita cantik itu, nafasnya pun mulai tersendat-sendat karena merasa dadanya seperti ada yang menghimpitnya.


"Da-darling sa-sakit... sa-sakit... da-darling..." perlahan Olivia memejamkan matanya saat rasa sakit yang menyerang kepalanya tidak bisa ia tahan.


Mackenzie yang melihat istrinya memejamkan matanya, perlahan meletakkan jari telunjuknya untuk mengecek pernafasan Olivia.


"TIIITTTTT"


Mackenzie menggelengkan kepalanya tak percaya, tak percaya bahwa istrinya, orang yang selama bertahun-tahun menemani dirinya telah tiada didepan matanya sendiri. "No! ini bercandakan? sungguh ini tidak lucu dear, ini bukan lelucon yang sering kamu berikan kepadaku! ini tidak lucu..." teriaknya, dengan air mata tak berhenti keluar dari rahang tegas pria itu.


"Tolong katakan ini hanya mimpi! ini sungguh bukan sebuah lelucon untukmu Oliv...aku tidak suka jika kematian kamu anggap lelucon" mengguncang tubuh wanitanya.


PIW PIW PIW


AKU KEBABLASAN HEHEHE, SAMPAI-SAMPAI BISA NULIS LEBIH DARI DUARIBU KATA... 😱AKU JUGA IKUT NANGIS NULISNYA MWEHEHE, ANEH PADAHAL INI HANYA KHAYALAN TAPI SEPERTI NYATA, IYA GAK? AWOWKAWK.


TUNGGUIN DI BAB SELANJUTNYA OKE?😌

__ADS_1


SIAPKAN TISU-SIAPKAN TISU😭


__ADS_2