
semilir angin menerpa lembut tubuh Danayla ketika sepasang kakinya melangkah keluar dari mobil. Kaki Danayla gemetar ketika menginjak tanah Dewson pertama kali, mata Danayla terperangah manatap sebuah bangunan mewah bak istana yang berdiri kokoh dihadapannya. Sangat besar dan megah. Dengan dikelilingi oleh pepohonan yang menjulang tinggi nyaris menyamai bangunan. Tidak hanya itu, tepat didepan matanya berdiri satu buah kendaraan udara yang tak lain helikopter sedang terparkir gagah diatas bangunan. Belum lagi jejeran mobil yang Danayla taksir harganya mencapai miliaran rupiah. Satu lagi yang tidak boleh ketinggalan, kapal pesiar mewah keluarga Dewson. Letaknya tak jauh dari mansion.
Danayla dibuat tidak berkata-kata. Keindahan yang disuguhkan didepan mata tak dapat dijelaskan oleh bibirnya. Keluarga Dewson memang sangat kaya raya. Pantas semua orang tampak segan dengan mereka, melihat rumahnya saja sudah membuat orang-orang gigit jari. Ditambah lagi circle mereka sangat sulit ditembus.
"Suka?"
lamunan Danayla buyar saat mendengar suara Gabriel. Danayla menolehkan kepala, menemukan wajah Gabriel begitu dekat dengannya, bibir pria itu bahkan nyaris menyentuh daun telinganya.
"Kita akan tinggal ditempat ini. Kamu akan menjadi ratuku. Jadi apapun yang menjadi milikku akan menjadi milikmu juga" ucap Gabriel dengan suara berat. sudut mata Danayla melirik Gabriel menemukan pria itu tengah memandangnya dengan tatapan teduhnya.
Gabriel memajukan wajah, membuat hidung mancung pria itu menyentuh pipinya. Dengan jahil, Gabriel menggesekkan hidungnya membuat Danayla menjadi geli.
"Ini mansion lo?" tanya Danayla sembari menahan diri untuk tidak mendorong kepala Gabriel.
Gabriel mengeratkan pelukannya. "Tidak. Kakek nenek dan kedua orangtua ku juga menempati mansion ini. karena masion ini memang hanya diperuntukkan untuk anak pertama" jelas Gabriel dengan kepala pria itu yang menyusup diceruk lehernya. "Kamu tidak perlu khawatir, mereka mempunyai daerah kekuasaan masing-masing
dan tidak ada yang boleh masuk tanpa izin"
merasa sudah tidak ada lagi pertanyaan yang Danayla ajukan selain anggukan kepala. Gabriel tersenyum puas. " Sekarang kita masuk" ajak Gabriel, mengulurkan tangan yang langsung diterima oleh Danayla.
"Baru ingat jalan pulang, Gabriel?"
Gabriel tersenyum polos mendengar suara wanita paruh baya yang telah melahirkannya dan memeluk Mommynya erat, Alexandria menggeleng pelan dengan tingkah putra tunggalnya kemudian balik menatap Danayla.
"Tidak ingin mengenalkan wanitamu?" tanya Alexandria menaik turunkan alisnya menggoda Gabriel yang terlihat sudah memberengut kesal, sedangkan Austin yang melihat tingkah laku istrinya hanya menggeleng pelan.
"Jangan membuat Danayla takut Mom" ucap Gabriel menarik tangan Danayla agar duduk disebelahnya.
__ADS_1
"Jadi gelar impoten mu sudah hilang karena kehadiran Danayla, Gabriel?"
"Daddy"
Austin terkekeh melihat putranya yang kesal karena ucapannya barusan, sedangkan Danayla hanya terdiam mendengarnya.
"Mia Danayla Johnson, bukankah benar?" ucap Austin menatap Danayla dengan tatapan datarnya dari atas sampai bawah. "Pantas saja wajah mu terlihat familiar dimataku" lanjut nya sembari menyenderkan tubuhnya disandaran sofa.
"Yang kudengar dari para bawahan ku, kedua orangtua mu sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Kalau boleh tahu apa penyebabnya? aku rasa seorang Mackenzie tidak pernah lalai dalam hal apapun"
"Masih diselidiki hingga kini, Mr Dewson" ucap Danayla tersenyum membalas ucapan Austin.
"Aku bisa membantumu jika kamu mengijinkan" ucap Austin melempar senyum tipis pada Danayla.
"Jangan tersenyum kepada wanitaku" potong Gabriel menghalangi keduanya dengan telapak tangan yang ia ulurkan didepan wajah cantik Danayla.
"Ck! dasar Bajingan bodoh"
...----------------...
Danayla yang tidak tahu harus berbuat apa, hanya bisa mengikuti kemana dirinya dibawa oleh Gabriel. Dengan mata yang sibuk melihat berbagai koleksi panjangan mewah berjejer rapi disetiap lorong yang mereka lewati.
abaikan tulisan.
hingga tatapan matanya jatuh ke sebuah pintu yang tidak ia ketahui, saat Gabriel memposisikan telapak tangannya ke arah smart camera door lock disebelah kiri pintu. Otomatis pintu terbuka dengan sendirinya dan saat pintu terbuka lebar, Danayla dibuat terperangah melihat banyaknya maid yang berjejer rapi dari ujung pintu seperti menyambut kedatangan mereka.
"Welcome back Sir" ucap mereka bersamaan dengan membungkukkan badannya sebagai tanda penghormatan kepada tuan rumah yang baru kembali setelah sekian lama.
__ADS_1
"Antarkan Danayla ke kamar utama" ucap Gabriel kepada kepala maid yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Terus, lo mau kemana?" tanya Danayla cemas karena tidak mau dirinya ditinggal. Apalagi Danayla tidak tahu ia sedang berada dimana, ya walupun dirinya tahu jika mereka masih didalam mansion Dewson tapi karena Danayla masih baru disini, jadi ia cukup takut untuk sendirian tanpa adanya orang yang ia kenal.
"Aku harus menyelesaikan suatu hal terlebih dulu" ucap Gabriel tersenyum mencoba untuk menenangkan Danayla yang terlihat takut karena ucapannya barusan. Gabriel sungguh sangat senang melihatnya, itu artinya Danayla sudah ada rasa dengan dirinya. Biarlah Gabriel menganggap seperti itu, agar bisa merasa terbang di atas awan haha. "Aku tidak akan lama, percayalah" lanjutnya sembari mengecup sekilas bibir Danayla dan sempat memeluk tubuh wanitanya sekilas sebelum beranjak pergi.
wanitanya? what are you kidding? sesuka hatimu saja lah Riel, dunia serasa milik berdua sedangkan yang lain ngontrak.
Danayla menatap punggung tegap Gabriel yang semakin lama semakin tak terlihat, ketika pria itu berbelok ke arah kanan yang ia yakini bahwa tempat yang Gabriel maksud tidak akan ia ketahui. Danayla menghembuskan nafas kasar sebelum membalikkan badannya. "Bisa antarkan aku dimana tempat yang Gabriel, katakan tadi?"
"Mari ikuti saya, Mrs" ucap kepala maid disana berjalan terlebih dulu menunjukkan dimana letak kamar utama yang pastinya itu adalah kamar Gabriel.
"Pantas saja orangnya seperti tidak mempunyai rona hidup, kamarnya saja sudah seperti ini. Hitam semua" gumamnya lirih melihat keseluruhan kamar Gabriel.
Danayla melangkahkan kakinya menuju sebuah pintu hitam besar yang berada disebelah kamar mandi, dan ia yakin itu pasti ruang ganti Gabriel.
"Wow! hanya untuk sebuah ruang ganti, sudah seperti mall mini didalam kamar" ucap Danayla mengangumi ruang ganti Gabriel yang terlihat mewah dan maskulin tidak seperti miliknya yang serba berwarna ungu semua.
Sudah seperti warna janda saja ya Danayla haha.
"Ada lantai 2 nya juga, apakah se kaya itu keluarga Dewson? ck! ruang ganti gue kalah saing nih" ucapnya bersungut-sungut memperhatikan koleksi parfum mewah milik Gabriel.
"Gila, koleksi parfumnya saja sangat banyak. Dari segala bentuk"
Danayla sedari tadi tidak selesai-selesai mengomentari segala sesuatu yang ia lihat dikamar Gabriel. Jangankan Danayla. Aku pun juga sama haha, kapan bisa punya rumah dan kamar impian seperti itu? sampai koleksi segala hal biar bisa samaan dengan keluarga Dewson?🤣 halu! dan semoga bisa menjadi kenyataan.
__ADS_1