Gadis Pelunas Hutang

Gadis Pelunas Hutang
Kita teman


__ADS_3

Usaha tidak akan menghianati hasil nya kan. Begitu juga, pisau yang tumpul akan tajam saat kita terus saja mengasah nya. Tidak putus asa adalah kunci sukses bagi setiap manusia.


Setan aja yang ahli ibadah, dan memiliki nama besar di langit. Hancur karna putus asa nya. Apa lagi manusia yang lemah, jika putus asa kita tinggi kan maka binasa lah jawab nya.


(Wkwkwkwk.... Author kayak nya habis bahan, sehingga bikin bahan tentang putus asa di atas sana.)


***


Kembali lagi pada Riana yang tidak putus asa selama ini. Ia tidak pernah menyerah untuk mendekati Dika dan mengajak nya berteman.


Akhir nya, Dika pun terbiasa dengan kehadiran Riana di samping nya. Ia pun sudah mulai mengurangi porsi dingin nya pada Riana.


Usaha Riana selama ini membuah kan hasil ternyata. Bukti nya, saat ini Dika dan Riana sudah bisa berdamai saat bersama. Tidak ada kata-kata kasar yang di ucap kan Dika lagi pada Riana.

__ADS_1


Saat ini mereka sedang menikmati udara segar di sore hari. Mereka berada di danau sekarang. Bersama duduk di satu kursi yang letak nya tak jauh dari danau itu. Di sana juga ada sebatang pohon yang lumayan rindang. Ntah apa nama pohon nya, yang jelas pohon itu sangat rindang dan sejuk saar berada di bawah nya.


"Ria, kenapa kamu tidak menyerah untuk mengaja aku berteman dengan mu." kata Dika.


"Aku tidak punya alasan untuk menyerah Dika. Karna aku yakin, aku akan berhasil mengajak mu berteman." kata Ria sambil tersenyum.


"Aku suka sikap optimis mu itu, dan sikap tidak putus asa mu itu sangat luar biasa." kata Dika.


"Kenapa kamu hanya senyum saja Ria, kamu tidak berniat memberi semangat pada ku. Biar aku hidup semangat terus kayak kamu." kata Dika.


"Kamu orang yang udah kuat, ngapain aku harus kasih semangat lagi pada mu Dika." kata Ria.


"Kamu sangkat aku begitu ya, aku rasa aku tidak sekuat yang kamu bayang kan Ria." kata Dika.

__ADS_1


"Aku hanya berusaha kuat, agar aku tidak terlihat lemah di mata siapa pun. Terutama di mata papa yang selalu melihat aku salah." kata Dika lagi.


"Kita sudah berteman kan sekarang. Aku rasa kamu bisa mencurah kan segala yang ingin kamu cerita kan pada ku. Kamu bisa menjadi kan aku sebagai teman berbagi buat meringan kan beban mu Dika." kata Riana.


"Terima kasih Ria, tapi aku belum siapa untuk berbagi dengan siapa pun. Aku masih ingin menyimpan semua sendiri dulu." kata Dika.


"Aku tidak pernah memaksa kamu mencerita kan pada ku. Jika kamu belum siapa berbagi sekarang, aku harap ada waktu nya kamu siap berbagi dengan aku sebagai teman mu." kata Riana.


Dika tersenyum, senyum yang sangat manis. Senyum seakan tanpa beban, dan senyum terindah yang pernah Ria lihat. Senyum itu terlihat tulus sekali, walau ada rasa sedih yang masih tersimpan di balik senyum itu.


"Ria, jika kamu kangen pada keluarga mu. Kamu bisa pergi kerumah orang tua mu, kapan pun kamu mau. Tapi dengan cacatan kamu harus kembali lagi. Dan tidak berkeliaran dengan bebas di tempat umum." kata Dika.


"Apa kamu bilang, kamu mengizin kan aku pulang kerumah orang tua ku ya." kata Ria sangat bahagia.

__ADS_1


__ADS_2