
Andika pun meninggalkan ruangan itu, berjalan menuju ruangan yang telah suster itu katakan.
Saat sampai keruangan yang ia tuju, matanya pun menyapu seluruh ruangan itu. Disana, ada seseorang terbaring dengan wajah yang pucat pasi tanpa darah. Wanita yang tidak asing bagi Dika, siapa lagi kalau bukan Monika.
"Suster," kata Dika memanggil dengan suara rendah.
"Iya mas," kata suster itu sambil membalikkan badannya.
Tidak ada yang bisa Dika tanyakan, karna ia tahu sendiri apa yang telah terjadi. Saat ia satang, suster hampir saja menutup wajah Monika dengan kain putih itu.
"Ada berapa korban yang meninggal suster?" kata Dika.
"Dari kecelakaan itu menimbulkan empat korban jiwa, selebihnya mengalami luka-luka dan dua orang koma," kata suster menjelaskan.
"Empat korban jiwa?" kata Dika tidak mengerti.
"Iya mas, empat korban jiwa. Dua laki-laki, satu wanita dan satu orang anak kecil."
"Anak kecil? Bagaimana bisa ada anak kecil dalam mobil itu?" kata Dika tak percaya.
"Anak kecil itu bukan dari dalam mobil yang mereka ini kendarai mas, melainkan dari mobil yang mereka tabrak."
Penjelasan suster itu membuat hati Dika merasa sangat sedih. Karna perbuatan papanya itu, seorang anak kecil yang tidak berdosa malah menjadi korban.
__ADS_1
Air mata tanpa sengaja jatuh mengalir dipipi Andika.
"Saya permisi dulu mas," kata suster sambil berjalan meninggalkan ruangan itu.
Andika tidak menjawab apa yang suster itu katakan. Karna hatinya sangat sedih sekarang, sedih mendengar anak kecil yang harus meninggalkan dunia ini, hanya karna ulah orang yang terlalu egois.
"Kak Dika, ada apa sebenarnya. Kenapa kakaka menangis disini."
Aditia datang menghampiri Dika, Andika segera menghapus air matanya dengan cepat.
"Kak, apa karna gadis yang kamu cintai itu meninggal. Itu yang membuat kamu merasa sangat sedih," kata Adit.
"Bukan Dit, aku tidak menyesal bahkan tidak akan membuang-buang air mataku hanya untuk wanita seperti dia."
"Aku menagis karna, seorang anak kecil juga ikut menjadi korban dari kecelakaan ini. Aku tidak bisa membayangkan betapa sedihnya hati orang tuanya," kata Dika.
"Kak, tadi kakak yang bilang padaku, kalau ini adalah takdir. Bagaimana bisa kita menghindar dari takdir kak."
.....
Riana masih belum sadar sampai saat ini, sudah dua hari berlalu. Pemakaman papa mereka dan juga tiga orang lainnya telah pun selesai. Namun, Riana belum juga bangun dari tidur panjangnya.
Andika selalu berada dikamar itu untuk menemani Ria. Pernikahan mereka yang sudah ada didepan mata, harus diundur karna kecelakaan itu. Bagaimana mau nikah, orang calonnya belum sadar juga.
__ADS_1
......
Di hari ketiga, Andika bangun agak lama. Karna ia sangat capek, sudah dua hari ia tidak tidur dan tidak makan dengan teratur. Saat itulah Riana bangun dari tidurnya.
Riana membuka matanya, melihat tempok kamar yang terba putih dan berbagai bau obat-obatan. Ia sudah bisa menebak dimana ia saat ini. Dimana lagi kalau bukan rumah sakit, tempat dengan bau khas obat-obatan yang menusuk hidung.
Riana melihat kesampingnya, disana ada seorang yang sedang tertidur lelap. Mata yang tertutup rapat, alis yang sangat indah diatas matanya.
Ria membiarkan Andika tetap tertidur disampingnya. Karna ia lihat, wajah itu sangat amat lelah sekali.
Suster masuk kedalam kamar itu, seperti biasanya untuk memeriksa kondisi Riana.
"Nona Ria, anda sudah sadar sekarang," kata suster sambil tersenyum manis.
"Iya suster, saya sudah sadar."
"Baiklah, biarkan saya membangunkan suami anda ya."
"Tidak perlu suster, biarkan saja ia tetap tidur."
"Anda sangat beruntung nona, suami anda adalah orang yang sangat perhatian pada anda. Ia tidak membiarkan anda sendirian, ia selalu ada disisi anda hingga saat ini."
"Ada apa sih ini," kata Dika dengan suara berat saat orang bangun tidur.
__ADS_1
Dika melihat suster dan melihat Riana yang tersenyum padanya. Dika mengusap matanya beberapa kali. Ia takut, matanya salah lihat, makanya ia melakukan hal itu untuk memastikan apa yang ia lihat.