Gadis Pelunas Hutang

Gadis Pelunas Hutang
Rasa sakit


__ADS_3

Ria memutuskan untuk membatalkan niatnya untuk mengambilkan air untuk Andika. Ia merasa kasihan pada Dika yang terpejam namun bibirnya terus bicara, untuk meminta Ria tinggal disampingnya.


"Ria, kau harus tahu satu hal. Aku sangat benci padanya, aku benci pada ia yang meninggalkan aku sendirian. Saat aku sangat butuh dia berada disisiku," kata Dika sambil memeluk Ria.


Ria merasa tidak mengerti dengan apa yang Dika katakan. Ntah siapa yang Andika katakan saat ini, ia tidak menyebut nama orang yang ia benci.


Ria tahu kalau Andika tidak sadar saat mengatakan hal itu pada Ria.


"Siapa orang yang telah meninggalkan kamu, katakan padaku siapa dia. Agar aku bisa tahu," kata Ria mencoba mengungkapkan rasa penasarannya.


"Dia adalah orang yang paling aku sayangi, tapi sekaligus juga paling aku benci selama ini."


Mendengar kata itu, hati Ria merasa sedikit sakit. Hanya saja, ia berusaha menutupi rasa sakit itu sebisa mungkin.


"Uuuekkkk ...."


Tiba-tiba Andika muntah dipangkuan Ria. Ria kaget saat melihat kondisi Dika saat ini.

__ADS_1


"Dika, apa kamu baik-baik saja saat ini."


"Kamu diam saja disini, aku akan membersihkan dulu ini semua. Kamu jangan banyak pikir lagi. Kamu akan baik-baik saja," kata Riana.


Riana meninggalkan Dika diranjangnya, ia kekamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Ia tatap wajahnya didepan cermin besar kamar mandi itu.


"Ada apa Ria, kenapa wajahmu terlihat kecewa seperti itu. Kamu tidak berhak kecewa sama apa yang Andika katakan. Kamu hanya gadis pelunas hutang, ingat itu Ria," kata Riana bicara pada dirinya sendiri didepan kaca.


"Iya, kamu harus kuat. Harus bersikap seperti biasanya, tidak boleh ada rasa sakit hati. Ingat, kamu bukan siapa-siapa selain gadis pelunas hutang saja," kata Ria berusaha menenangkan hatinya.


Ia meninggalkan kamar mandi dan kembali kekamar Andika. Sambil membawa semangkuk air dan sebuah handuk kecil.


....


Dika bangun, ia seakan lupa pada kejadian tadi malam. Ia melihat sekeliling kamarnya, saat matanya menyapu kamar. Ia melihat Ria masih terbaring di sana sambil terlelap.


"Ria," kata Dika pelan.

__ADS_1


Ternyata, apa yang ia rasakan tadi malam itu bukan hanya sebagai halusinasi saja. Riana memang benar-benar bersamanya semalaman ini.


"Apakah tadi malam itu benar-benar terjadi," kata Dika lagi.


Ia berdiri mendekati gadis itu, lalu melihat wajah cantik yang terlelap dengan indahnya. Ntah dapat dorongan dari mana, tangannya dengan ringan membelai wajah cantik Riana.


Karna sentuhan itu, Riana kaget dan terbagun dari tidurnya. Ia kaget saat melihat Dika sedang berada disampingnya.


"Dika?" kata Riana sambil bangun dengan cepatnya.


"Tidak usah kaget, kamu lanjutkan saja istirahatnya. Biar aku kedapur dulu," kata Dika menenangkan Riana yang terlihat kaget.


"Dika, tunggu ...." kata Ria mencegah langkah kaki Dika yang ingin berjalan keluar.


"Ada apa?"


"Apa kamu punya masalah besar sehingga kamu harus mabuk-mabukan seperti itu?" kata Ria dengan hati-hati.

__ADS_1


"Tidak ada, aku hanya ingin mencoba hal baru untuk hidupku. Kamu tidak perlu cemas sama aku," kata Dika sambik senyum lalu meninggalkan Ria.


Ria tidak bicara apapun lagi, ia sadar diri. Satu hal yang ia harus ingat, ia bukan siapa-siapa dalam hidup Dika. Apa lagi ia ingat apa yang Dika katakan tadi malam. Ia sangat mencintai orang yang tidak ia sebutkan namanya itu.


__ADS_2