Gadis Pelunas Hutang

Gadis Pelunas Hutang
Monika


__ADS_3

Riana dan pelayan itu pun masuk kedalam kamar ganti. Sementara Dika menunggu diluar sambil duduk dikursi yang telah disediakan.


Tak lama, Ria keluar dengan sebuah gaun berwarna merah muda. Dika terlihat kagum sama apa yang ia lihat.


"Apakah ini jelek Dika?" kata Ria saat melihat Andika terpana menatapnya.


"Tidak, kamu cantik dengan gaun itu. Coba yang lainnya," kata Dika.


Riana kembali masuk kedalam kamar ganti. Ia keluar sambil mencoba satu persatu baju yang bertumpuk itu. Hingga baju yang terakhir, lebih mirip gaun cuma tidak terlalu norak. Sangat indah untuk Ria, baju warna hijau itu sangat serasi ditubuh gadis cantik ini.


"Dika, ini yang terakhir. Apakah ini juga tidak cantik bagi aku. Aku udah bilang sama kamu, aku tidak cantik pakai baju yang beginian."


Andika yang kagun itu pun berusaha menyembunyikan perasaannya. Sejak datang kerumahnya, Ria tidak pernah menggunakan baju yang cantik seperti saat ini. Ia hanya menggunakan baju rumahan saja saat berada di villa Andika.


"Aku rasa kamu cantik dengan semua baju yang kamu pakai tadi Ria. Tapi untuk yang kali ini, ini adalah baju tercantik yang pernah ada."


"Pelayan, aku mau semua baju yang telah ia coba tadi. Bungkus semuanya saja," kata Dika pada pelayan toko.

__ADS_1


"Dika, jangan semuanya. Yang aku coba tadi itu banyak banget. Pilih beberapa saja ya," kata Riana.


"Tidak perlu beberapa Ria, aku ingin semuanya saja. Karna aku suka semuanya, bagaimana bisa aku memilih beberapa."


"Wah ... wah ... wah ... tuan muda yang tampan sedang beli baju untuk istrinya ya?" kata seseorang yang tiba-tiba saja ikut bicara.


Seseorang yang tiba-tiba saja muncul di butik itu. Siapa lagi kalau bukan Herman, papanya Dika. Orang yang selalu memperhatikan gerak-gerik Andika baik di villa mau pun dimana saja.


"Untuk apa papa datang kesini, apakah papa tidak ada kerjaan lain selain mengikuti aku?" kata Dika bicara tapi tidak melihat papanya.


"Hahaha ... aku punya banyak pekerjaan tuan muda. Hanya saja, aku sekarang sedang tidak memiliki pekerjaan yang buat hatiku jadi senang."


"Tuan muda yang bodoh, aku tidak ingin menjawab apa yang tuan muda katakan. Hanya saja, aku ingin lihat tuan muda memanjakan istri pelunas hutang tuan muda, itu saja tidak lebih."


Mendengar hal itu Ria tertunduk, ia tahu jika dirinya akan membuat malu Andika. Tapi apa yang bisa ia lakukan, ia hanya gadis lemah yang tidak bisa apa-apa.


"Jangan ikut campur urusanku pa, selama ini aku mengalah dengan papa karna kau menghormati mamaku. Jangan salahkan aku jika aku bisa berubah jadi manusia kejam," kata Dika.

__ADS_1


"Hahaha ... anak ingusan yang tidak tahu diri, bisa-bisanya kamu bicara seperti itu padaku. Aku ingin lihat kamu bisa apa."


"Bawa gadis itu kesini," kata Herman pada anak buahnya.


Tak lama kemudian, anak buah Herman membawa gadis yang telah hilang dari kehidupan Andika bertahun-tahun ini. Gadis yang sangat Andika cintai, yang bernama Monika.


"Monika," kata Dika kaget saat melihat anak buah papanya membawa Monika masuk kedalam butik.


"Dika, tolong aku Dik. Lepaskan aku dari papamu," kata Monika dengan air mata di pipinya.


Dalam kagetnya itu, Andika ingin menghampiri Monika. Ia tidak tahu bagaimana papanya bisa menemukan Monika. Karna selama ini, ia kehilangan Monika dan baru kemarin ia melihat Monika dikota ini.


Jadi kenapa bisa hari ini papanya mendapatkan Monika dan menyanderanya sekarang.


Anak buah papanya menahan Andika, sehingga Dika tidak bisa mendekati Monika. Sedang Riana, ia hanya jadi penonton saja. Ia baru mengetahui kalau gadis itu adalah gadis yang Dika cintai.


"Andika, kenapa kamu ingin sekali mendekati gadis yang selama ini meninggalkan kamu. Bukankah ia telah jahat denganmu, ia menghilang dan meninggalkan kamu selama ini bukan?" kata Herman.

__ADS_1


"Oh ya, aku hampir lupa. Aku tahu kemarin malam kamu telah melihat cintamu ini bukan. Kenapa kamu tidak bertemu dengannya kemarin malam. Kenapa baru sekarang kamu ingin dekat dengannya."


Andika terdiam, matanya menatap tajam kearah Monika. Monika membalas tatapan Andika dengan mata sendunya. Mata yang berharap belas kasihan pada Andika.


__ADS_2