Gadis Pelunas Hutang

Gadis Pelunas Hutang
Permintaan maaf


__ADS_3

Ria kembali kekamarnya, ia membersihkan diri. Lalu keluar menuju meja makan. Saat sampai di meja makan, tidak ada pelayan yang menyambutnya.


"Dimana semua pelayan, apakah mereka semua sedang ada didapur?" kata Ria pada dirinya sendiri.


"Mereka semua aku suruh istirahat kebelakang Ria," kata suara yang tiba-tiba saja menjawab apa yang Riana katakan.


Riana kaget dengan suara yang tidak asing lagi baginya itu. Ia sangat kenal dengan suara itu, milik siapa lagi kalau bukan suara milik Andika.


Ria melihat kearah dapur, di sana ada Andika yang sedang memegang sendok. Ia tersenyun pada Ria, Adika menggunakan celemek ditubuhnya. Hal yang aneh bagi Ria, seorang tuan muda menggunakan celemek di pagi hari. Dan itu untuk pertama kalinya lagi.


"Dika?" kata Riana tak percaya sama apa yang ia lihat.


"Iya, ada apa? Apa ada yang aneh dengan aku pagi ini?" kata Dika sambil melihat Ria.


"Gak, gak ada sih. Hanya saja, kenapa kamu pakai celemek pagi ini? Apa yang kamu lakukan di dapur? Mana para pelayan?" kata Ria dengan banyak pertanyaan.


"Ria, biasakan bertanya satu-satu pertanyaan yah. Kalau kamu bertanya bertubi-tubi seperti itu, bagaimana aku mau menjawab pertanyaan mu," kata Dika sambil mendekat.


"Baiklah, aku akan ulangi pertanyaan ku padamu. Ngapain kamu pakai celemek pagi-pagi begini?" kata Riana.


"Aku sedang masak," jawab Dika singkat.

__ADS_1


"Masak?" kata Ria tak percaya.


"Iya masak, kenapa kamu gak percaya kalau bisa masak yah?" kata Dika.


"Bukan begitu, aku hanya ragu saja sama kamu. Masa tuan muda yang dingin bisa masak," kata Ria.


"Coba saja cicipin makanan yang ada di atas meja ini. Pasti kamu tahu, aku bisa masak atau tidak."


Ria tak habis pikir sama Andika, benarkah Andika yang memasakkan makanan yang terhidang diatas meja saat ini. Karna makanan yang ada diatas meja itu terlihat lezat dan bermacam-macam.


"Ayo coba makanannya Ria," kata Dika sambil mengambil sesendok nasi goreng.


Saat Ria makan, Dika ada disamping Ria. Melihat ekspresi gadis itu makan. Ria dengan tangan yang lumayan berat, membawa nasi yang ada didalam sendok masuk kedalam mulut.


Ria menikmati nasi goreng itu dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan. Sedangkan Dika menunggu tanggapan Ria yang sedang mencoba nasi goreng buatannya.


'Benarkah nasi goreng ini Andika yang masak. Rasanya enak sekali, aku belum pernah makan nasi goreng seenak masakan yang aku makan ini,' kata Ria dalam hati sambil meniknati nasi gorengnya.


"Gimana Ria rasa nasi gorengnya. Apa ada yang kurang dari nasi goreng yang aku masak?" kata Dika saat melihat ekspresi Riana.


"Gak ada kok Dik, rasanya sangat enak. Baru kali ini aku pernah makan nasi goreng seenak ini," kata Riana.

__ADS_1


"Terima kasih atas pujiannya nona Riana," kata Andika sambil membungkuk dan senyum.


"Apaan sih kamu Dik, aku serius ini. Nasi gorengnya memang sangat enak sekali."


"Tapi Dika, bagaimana kamu bisa masak sedangkan kamu seorang tuan muda?" kata Ria mengungkapkan rasa penasaran yang ada dihatinya sejak tadi.


Andika tersenyum manis saat mendapat pertanyaan seperti itu dari Ria. Ia tahu, Ria pasti tak percaya kalau ia yang memasakkan semua makanan yang ada dimeja ini.


"Ria, aku bukan anak manja. Karna mama selalu mengajari aku banyak hal didunia ini. Tidak hanya jadi lelaki, aku juga diajari jadi wanita. Hanya saja semuanya berubah sejak mama tiada," kata Dika dengan wajah yang sedih.


Riana merasa bersalah dengan wajah sedih yang Dika tunjukkan. Ia bangun dari duduknya, lalu menghampiri Dika yang sedang berdiri disampingnya.


"Maafkan aku Dika, aku gak bermasuk buat luka mu kembali berdarah," kata Ria sambil memegang tangan Dika.


Dika mengangkat wajahnya yang tertunduk sejak ingat mamanya.


"Bukan salah kamu kok Ria, sudah lupakan saja. Ayo makan lagi, semua masakan ini khusus aku buat untuk kamu sebagai tanda permintaan maafku padamu," kata Andika.


"Permintaan maaf?" kata Ria tak mengerti.


"Ia permintaan maafku padamu karna aku udah bikin kamu susah tadi malam. Aku minta maaf ya Ria," kata Dika sambik menatap wajah Riana.

__ADS_1


__ADS_2