Gadis Pelunas Hutang

Gadis Pelunas Hutang
Kabar buruk


__ADS_3

Hari ini, Ria rencana nya akan pergi kerumah orang tau nya. Karna Ria sudah menadapt izin dari Dika untuk keluar rumah. Namun dengan syarat, Ria tidak boleh kemana-mana selain kerumah orang tua nya.


Baru saja kaki nya mau melangkah keluar dari kamar nya. Ponsel baru yang Dika beli kan untu Ria itu pun berbunyi. Yah, po sel itu sudah ia guna kan untuk menelfon mama dan papa nya waktu itu.


Ia melihat ponsel itu, ternyata papa nya yang menelfon. Tanpa rasa apa pun, Ria langsung saja mengangkat telfon yang masuk dari ponsel itu.


"Hallo pa." kata Ria bahagia.


"Hallo Ria, kamu di mana nak." kata papa.


"Di villa Dika pa, Ria rencana nya mau kerumah papa sekarang." kata Ria.


"Riana, papa punya kabar buruk buat kamu nak. Mama mu..." suara papa terlihat sangat tidak enak di dengar.


"Kabar buruk apa sih pa, kata kan saja. Ada apa dengan mama." kata Riana mulai tidak enak hati sekarang.


"Mama mu sudah tidak ada lagi nak, mama mu udah pergi sekarang." kata papa sambil menangis.

__ADS_1


"Tidak, papa bohong kan sama Ria. Papa bercanda kan pa." kata Ria untuk menguat kan hati nya.


"Riana, papa tidak bohong nak. Itu adalah kenyataan yang sesungguh nya." kata papa.


Riana tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tubuh nya seakan kehilangan keseimbangan. Ia jatuh dan menabrak vas bunga yang letak nya tak jauh dari meja samping pintu keluar kamar tidur Ria.


Bunyi pecah nya vas bunga itu pun mengundang para pelayang yang sedang bekerja di dapur. Saat itu, hari sudah agak siang. Dika sudah berangkat kekantor, sejak tadi pagi.


Para pelayan itu pun sangat kaget melihat Ria yang terbaring di samling vas bunga yang berserakan. Mereka sibuk membantu Riana yang pingsan itu. Memindah kan tubuh Ria keatas kasur yang letak nya tak jauh dari Ria terbaring.


"Panggil tuan muda, kata kan nona pingsan." kata salah satu pelayan.


Putri pun menelfon tuan muda nya, ia ingin mengabar kan apa yang terjadi dengan nona mereka.


"Hallo Putri, ada apa?" kata suara di seberang sana.


"Tuan muda, nona Ria pingsan sekarang. Tangan nya berdarah akibat vas bunga yang pecah." kata Putri.

__ADS_1


"Baik lah, saya akan pulang sekarang." kata Dika.


"Baik tuan muda." kata Putri.


Telfon itu pun terputus, Putri kembali melihat nona mereka. Mereka bingung kenapa nona mereka bisa pingsan begitu saja. Tidak mungkin kalau nona mereka mencoba untuk bunuh diri kan.


***


Setelah luka di tangan Ria selesai di balut. Dan para pelayan meninggal kan kamar Ria. Hanya tinggal yang paling tua saja di kamar itu. Dika pun masuk kekamar dengan terburu-buru.


"Bagaiamana keadaan nya bik Tiah?" kata Dika dengan cemas nya.


"Saya rasa ia baik-baik saja tuan muda. Hanya saja, ia terlihat syok saja. Tangan nya agak sedikit terluka akibat pecahan vas bunga. Tapi sudah saya obati kok luka nya." kata pelayan itu.


"Makasih bik, apa yang sebenar nya terjadi pada Ria. Apa yang membuat Ria syok seoerti ini. Apa kah ada kabar buruk yang ia dengar tadi." kata Dika.


"Saya tidak tahu tuan muda, nona awal nya baik-baik saja. Tidak ada hal yang mencemas kan sebelum nya." kata bibik.

__ADS_1


__ADS_2