Gadis Pelunas Hutang

Gadis Pelunas Hutang
Konyol


__ADS_3

Ternyata yang Herman katakan pada Monika itu benar adanya. Di depan butik itu sudah ada sebuah taksi yang menunggu Monika.


Tanpa berpikir panjang lagi, Monika langsung saja masuk kedalam taksi itu dengan cepat. Lalu mengatakan alamat rumah yang mau ia tuju.


"Dasar sialan semuanya, aku akan bikin perhitungan pada kalian semua nanti. Tunggu saja pembalasanku, terutama pada kamu Dika." Monika bicara sendiri dalam mobil itu, membuat sopir mobil melihat aneh kepada Monika.


"Apa lihat-lihat," kata Monika membuat sopir itu takut.


"Gak ... gak ada apa-apa kok mbak," kata sopir itu dengan gelagapan.


....


Disisi lain, Andika dan Ria baru saja sampai dirumah mereka. Sejak dalam perjalanan saling diam, tanpa bicara sepatah kata pun, baik dari Ria maupun Andika.


"Ria, maafkan aku untuk kejadian yang telah membuat kamu merasa tertekan barusan," kata Dika saat Riana ingin keluar dari mobil.


"Gak papa, aku tahu itu semua bukan salah kamu. Aku hanya tak habis pikir padamu, kenapa kamu tidak menyelamatkan gadis itu," kata Ria membatalkan niatnya untuk turun.


"Aku tidak perlu menolongnya, dia akan bebas tanpa aku tolong."


"Bagaimana kamu tahu kalau dia akan bebas, kamu tahukan bagaimana papamu."


"Aku tahu siapa papa dan aku juga tahu siapa Monika," kata Andika.

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Sudahlah, tidak perlu membahas hal yang tidak penting sama sekali. Ayo masuk saja, kamu butuh istirahat, agar kamu bisa menenangkan hatimu."


Riana tidak menjawab, tapi ia mengikuti apa yang Andika katakan. Ia dan Andika sama-sama turun dari mobil. Lalu masuk kedalam rumah mereka.


.....


Seminggu sudah berlalu, sejak kejadian itu, tidak ada yang terjadi. Bahkan, Andika terlihat seperti biasa saja. Mungkin ia sudah melupakan apa yang terjadi waktu itu.


Lain halnya dengan Ria, ia selalu terpikirkan apa yang terjadi dengan gadis yang bernama Monika, yang dijadikan sandera oleh papa Andika.


Saat ini, ia sedang duduk dibawah pohon depan kolam yang indah. Menikmati udara sejuk sore hari yang terasa sangat nyaman.


Tanpa Riana sadari, Andika melihat ia termenung dibawah pohon itu. Andika pun menghampiri Riana dengan cepat, lalu menyentuh bahu Riana.


"Kok melamun aja sih Ria," kata Andika sambil melongarkan dasi yang masih ada dilehernya, lalu duduk disamping Riana.


"Aku gak melamun kok Dika, hanya sedang menikmati angin sore yang sejuk dipingiran kolam ini."


"Kalau kamu gak melamun, kenapa kaget saat aku menyentuh pundakm."


"Itu karna ... karna aku sedang tidak sadar kamu yang menyentuhnya."

__ADS_1


Ria berusaha berkilah dengan apa yang terjadi. Ia memang sedang nelamun, hanya saja tidak ingin Dika tahu kalau ia sedang melamun.


"Kamu baru pulang, kok gak langsung masuk kedalam rumah, ganti baju kek gitu," kata Riana mengubah pembicaraan.


"Aku juga ingin menikmati udara sejuk sore hari Ria."


"Oh ya, aku ada acara malam ini. Temani aku pergi kepesta malam ini yah," pinta Andika pada Ria.


Riana tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Bukannya Andika tahu apa yang papanya lakukan kalau ia membawa Ria keluar dari rumahnya. Sama halnya seperti saat kejadian beli baju dibutik waktu itu.


"Apa kamu yakin mau ajak aku pergi kepesta Dika?" kata Riana tak percaya.


"Iya, aku yakin mau kamu ikut aku. Kenapa? Kamu gak mau pergi kepesta bersamaku ya."


"Bukan gitu, kamu kan tahu apa yang akan papamu lakukan sama kamu, jika kamu berani membawa aku keluar dari villa kamu ini."


"Biarkan saja apa yang mau ia lakukan. Aku tidak keberatan dengan perlakuanya. Aku tidak pernah mempermasalahkan perlakuan papaku, jika kamu bersedia terus berada disamping aku Ria."


Riana kaget saat mendengar kata-kata yang Andika ucapkan. Tidak percaya dengan hal itu, Riana mencubit tangannya. Agar ia merasa sakit, dan ia tahu kalau yang ia dengar itu bukan mimpi.


"Auuu ...." kata Riana kesakitan.


"Kamu kenapa Ria?" Andika panik saat mendengar rintihan sakit dari Riana.

__ADS_1


"Ng ... ngak papa kok, gak papa."


Ria terlihat malu dan serba salah, ia tahu apa yang ia lakukan saat ini sangatlah konyol. Baru satu kata yang Dika ucapkan, sudah membuat ia bersikap seperti orang lain bagi dirinya. Apakah ia benar-benar mencintai Andika saat ini. Ia juga tidak tahu, karna baru dibilang harus selalu ada disamping Andika saja sudah membuat Ria jadi orang lain.


__ADS_2