
Riana terlihat sangat bahagia saat kata-kaat itu menyentuh telinga nya. Di barengi dengan senyum manis yang Andika hadiah kan sambil mengangguk kan kepala nya. Menanda kan ia menjawab ia atas pertanyaan yang baru saja Ria tanya kan.
"Apa kamu gak takut aku tidak akan kembali lagi kevilla mu saat aku udah pergi." kata Ria.
"Tidak, aku tidak takut kamu tidak kembali kesini. Karna aku percaya, kamu pasti tidak akan mengecewa kan aku." kata Dika.
"Kamu terlalu mempercayai orang ya Dik, sekarang." kata Ria.
"Tidak juga, aku hanya percaya pada satu orang saja sekarang. Aku hanya percaya pada mu, dan berharap kamu tidak mengecewa kan aku." kata Dika.
"Bagaimana saat aku juga mengecewa kan mu sebagai teman?" kata Ria.
"Aku akan sangat kecewa dan sangat benci pada mu." kata Dika.
"Aku akan berusaha tidak akan pernah membuat mu kecewa Dika. Karna kita adalah teman sekarang kan." kata Ria.
__ADS_1
"Iya, terima kasih banyak sudah mau menjadi teman ku." kata Dika.
Dika senang, ia bisa bicara baik dengan orang lain. Sebelum nya, Dika tidak pernah bicara baik sama orang lain. Apa lagi itu seorang wanita. Tidak pernah sama sekali ia bersikap layak nya teman sama wanita sejak kejadian itu.
"Dik, kamu kok malah melamun lagi sih. Apa ada hal yang kamu fikir kan." kata Ria membuat lamunan Dika buyar lagi.
"Eh, tidak ada apa-apa. Hanya memikir kan pekerjaan ku saja." kata Dika.
"Oh, kalau masalah pekerjaan aku tidak bisa bantu. Karna aku bukan orang kantoran yang bisa mengerja kan pekerjaan mu." kata Ria.
"Apa maksud mu, aku tidak mengerti dengan apa yang kamu kata kan." kata Ria.
"Aku minta kamu jangan dekat-dekat sama Aditia. Aku bukan melarang mu untuk berteman dengan nya, aku lihat Aditia ada datang kevilla ku untuk bertemu kamu kan." kata Dika.
"Aku hanya tidak ingin mata-mata papa melapor kan kedekatan kalian di sini. Aku tidak ingin papa bikin ulah lagi nanti nya." kata Dika lagi.
__ADS_1
"Mata-mata?"
"Apa di villa mu punya mata-mata papa mu." kata Ria tak percaya.
"Iya, papa punya mata-mata di mana saja. Tapi kamu tidak usah cemas untuk mata-mata di villa. Karna aku tahu siapa dia, namun aku takut ada mata-mata di luar yang aku tidak tahu." kata Dika.
"Kenapa papa mu harus meletak kan mata-mata untuk mengawasi mu. Kamu kan anak nya, tak perlu di awasi kan." kata Ria semakin tidak mengerti.
"Ria, aku dan papa sudah lama bermusuhan dalam diam. Papa selalu menuduh ku punya rencana jahat pada Adit. Dan papa selalu menyalah kan aku atas kecelakaan mama dan Adit." kata Dika.
"Apa kamu menikah dengan aku itu hanya untuk mbuat kamu malu. Karna aku adalah gadis pelunas hutang. Yang papa mu tukar kan dengan hutang papa ku." kata Ria.
"Iya, papa ingin aku malu dengan menikahi gadis yang ia ambil dengan cara menukar gadis dengan hutang." kata Dika.
Riana terlihat sedih, ternyata papa Dika itu hanya untuk membuat malu Dika dengan mengambil ia sebagai istri. Berarti, ia sangat rendah di mata papa Dika.
__ADS_1