
Malam itu, Andika dan Riana pergi keacara pesta peresmian kantor baru rekan bisnis Andika. Riana terlihat sangat cantik malam ini, dengan gaun hijau muda setengah lutut dan dandanan yang seadaanya saja, itu pun sudah memperlihatkan kalau Riana itu cantik. Rambutnya yang sebahu, yang selama ini tidak pernah ia lepaskan sejak dirumah Andika, ia sangulkan dengan cantik. Terlihat sekali aura kecantikan Riana. Andika sampai menatapnya beberapa kali. Dengan tatapan penuh pujian buat Ria.
"Dika, apa aku terlihat jelek saat ini?" kata Ria saat mereka sudah sampai ditempat pesta.
"Tidak, kamu sangat cantik malam ini Ria."
Dika membuka pintu mobil buat Riana, gadis itu pun turun dari mobil dengan hati-hati. Lalu Dika menggandeng tangan Ria, mereka masuk kedalam ruangan pesta itu.
Ria terlihat sangat grogi saat mereka sudah masuk kedalam ruangan pesta, namun Dika menenangkan Riana.
Riana sudah lama tidak berhadapan dengan orang ramai. Sejak ia bukan anak pengusaha lagi, ia tidak pernah datang kepesta seperti ini. Tapi dulu, saat mamanya masih hidup dan papanya adalah seorang ceo diperusahan mereka. Riana selalu ikut papanya untuk menghadiri acara besar seperti ini.
Puluhan pasanga mata melihat kearah Andika dan Riana. Mereka terlihat tidak asing dimata Ria, namun tatapan mereka terlihat tidak bersahabat bagi Riana.
Riana dan Andika pun duduk disalah satu meja bundar yang telah tersedia untuk para tamu. Tak lama setelah duduk, seseorang menghampiri Andika. Andika pun bicara dengan orang itu, lalu pamit pergi, meninggalkan Ria di sana sendirian.
Selang beberapa waktu saja berlalu, dari kepergian Andika meninggalkan Riana. Seseorang pun mengambil kesempatan itu untuk mendekati Riana.
"Hai istri presdir, apa kabar kamu hari ini?" kata wanita yang tidak asing lagi bagi Ria.
__ADS_1
"Kamu ...."
"Monika," kata wanita yang baru datang tadi langsung memotong perkataan Ria.
"Iya Monika," kata Ria menjawab.
"Ternyata ingatan kamu kuat juga ya Riana, eh salah, gadis pelunas hutang deh kayaknya yang lebih cocok."
"Hmz ... boleh aku duduk disini untuk menemani kamu," kata Monika tak memikirkan apa yang Riana rasakan.
"Silahkan," kata Riana singkat. Apa lagi yang bisa ia katakan. Tidak mungkin ia mengusir Monika dan mengatakan kalau Monika tidak bisa duduk disitu.
"Aku gak nyangka lho Ria, bisa ketemu sama kamu diacara ini. Rasanya gimana gitu ya?"
"Ampun, gitu aja kamu gak ngerti sih apa yang aku katakan. Kamu itukan gak punya level disini. Aku gak nyangka lho ya, kok bisa kamu diajak sama Andika datang keacara ini."
Perkataan itu membuat Ria sadar siapa Monika sebenarnya. Ternyata Monika bukanlah gadis lemah dan masih bisa dikatakan jauh dari gadis baik-baik.
"Semuanya, mohon perhatian sebentar yah. Aku mau mengenalkan kalian pada istri pak presdir perusahaan Dhika gruop."
__ADS_1
Semua mata tertuju kearah Monika dan Riana yang sedang duduk dan Monika yang berdiri tegak disamping Riana.
"Para hadirin semua, gadis ini adalah istri presdir Andika, namanya Riana. Dia cantik bukan?" kata Monika.
"Bangun dong Ria, aku sedang memperkenalkan kamu kepada seluruh teman dan rekan kerja suamimu, kok kamu malah duduk diam. Aku tahu kamu adalah gadis pelunas hutang saja, tapi kamu juga istrinya bukan."
Semua yang ada disana melihat Riana dengan tatap menghina. Sambil saling bisik dan bertanya, apakah benar kalau Riana adalah gadis pelunas hutang yang menikah dengan presdir hanya mereka, hanya untuk membayar hutang.
"Apa? Benarkah dia gadis pelunas hutang?" kata yang lain.
"Ups, maaf aku gak seharusnya bicara siapa istri presdir Andika. Lupakan saja apa yang aku katakan ya teman-teman," kata Monika dengan wajah dibuat-buat menyesal padahal ia merasa puas.
Riana merasa, ia tidak bisa bertahan lagi disana. Hatinya sangat sakit, perkataan yang semuanya ucapkan memang sangat membuat ia merasa terluka.
"Aku permisi ketoilet dulu," kata Riana pada Monika.
Monika menahan tangan Riana yang ingin pergi. Mencengkram tangan Riana dengan sangat kuat, sehingga Riana meringis kesakitan.
"Tunggu, apa kamu tidak perlu diantar ketoiletnya istri presdir?"
__ADS_1
"Tidak perlu," kata Riana.
"Siapa juga yang mau mengantarkan kamu toilet, jangan mimpi kamu gadis pelunas hutang," kata salah satu dari tamu yang hadir.