Gadis Pelunas Hutang

Gadis Pelunas Hutang
Butik


__ADS_3

Ria tertunduk dan tak mampu untuk membalas tatapan tajam dari mata Andika. Jika ingat kejadian tadi malam, maka ingat apa yang Dika katakan dalam kondisi mabuknya saat itu.


Perkataan yang keluar dari mulut Andika sangat membuat Riana menjadi terluka. Bagaimana tidak, kata sangat mencintai seseorang yang Andika ucapkan itu sangat tulus keluar dari dalam hati Andika. Riana bisa merasakan semua itu. Bahkan Andika sangat tidak ingin gadis itu meninggalkannya.


"Ria," kata Dika memanggil membuyarkan lamunan Riana.


"Kamu kok malah melamun sih Ria," kata Dika lagi.


"Maaf Dika, aku kekamar dulu yah. Ada hal yang aku lupakan tadi dikamar," kata Riana berusaha menghindar.


"Oh, baiklah. Setelah selesai, kamu harus kembali lagi kesini yah. Aku mau kamu temani aku makan," kata Dika.


"Oke, baiklah."


Riana pun meninggalkan Andika dimeja makan. Sebenarnya tidak ada yang ia lupakan dikamar. Hanya saja, ia tidak sangup berhadapan dengan Andika lama-lama. Apa lagi saat ingat kejadian tadi malam itu. Semakain membuat hatinya jadi sakit saja saat ingat dan bersama Andika.


Riana menatap wajahnya didepan cermin dikamarnya. Aku wanita pelunas hutang, tidak boleh sampai jatuh cinta pada Andika. Aku harus tahu diri, antara aku dan Andika sangat jauh berbeda. Kata Riana dalam hati sambil melihat wajahnya.


Beberapa saat lamanya Ria didepan cermin sambil menatap dirinya yang jelas dipantulkan oleh cermin itu. Ada rasa kecewa dalam hatinya, perasaan yang tidak mungkin ia jelaskan sedang berada didalam hatinya saat ini.


Pintu kamar Ria diketuk oleh seseorang, membuat Ria sadar kalau ia sedang berada dikamar dan sedang melihat cermin. Air mata yang jatuh tanpa sadar tadi pun ia hapus dengan cepat.

__ADS_1


"Sebentar," kata Ria sambil beranjak menuju pintu.


Riana membuka pintu kamarnya, saat pintu terbuka, nampaklah sosok lelaki yang tidak asing lagi baginya. Siapa lagi kalau bukan Andika yang berada disana.


"Ria, aku memutuskan untuk mengajakmu makan malam bersama rekan bisnis aku nanti malam. Apakah kamu bersedia ikut dengan aku?" kata Dika langsung bicara saat pintu kamar Ria buka.


Riana terlihat tak percaya sama apa yang Andika katakan. Benarkah yang ia dengar barusan, kalau Dika ingin ia ikut acara makan malam bersama para rekan bisnis Andika. Bukankah hal itu akan membuat hubungan mereka ketahuan sama rekan bisnis Andika. Dan papanya Andika pasti akan marah.


"Ria, apakah kamu keberatan jika aku ingin kamu ikut aku makan malam?" kata Dika lagi.


"Kamu yakin mau aku ikut sama kamu Dik? Kamukan tahu siapa aku," kata Ria.


"Ria, aku tahu siapa kamu. Bukankah kamu istriku, apa salahnya jika kamu ikut aku makan malam."


"Ria, hidupku adalah hidupku. Biarkan apa yang mau papa lakukan padaku. Aku ingin menunjukkan pada dunia kalau kamu istri aku. Walaupun kita hanya berteman sekarang," kata Andika dengan lantang.


"Ba ... baiklah kalau itu yang kamu inginkan. Aku tidak akan mempermasalahkan, asalkan tidak menjadi masalh buat kamu," kata Ria.


"Baiklah, ayo siap-siap sekarang. Aku tunggu kamu di mobil," kata Dika sambil senyum.


"Tunggu, mau kemana kita sekarang? Bukankah ini masih pagi?" kata Riana tak mengerti.

__ADS_1


"Kita akan pergi beli baju buat kamu, mungkin kamu butuh baju baru untuk jamuan makan malam nanti," kata Andika.


"Baiklah kalau gitu, aku siap-siap dulu."


"Iya, aku tunggu kamu di mobil."


Andika melangkah meninggalkan kamar Riana. Riana melihat Andika pergi, hatinya berkata. Kita teman, masih saja jadi teman. Mungkin juga akan jadi teman selamanya.'


"Baiklah Ria, jangan berharap yang tidak-tidak. Kamukan tahu kalau dia sangat mencintai orang lain. Dan kamu juga harus tahu siapa dirimu," kata Ria pada dirinya sendiri sambil menutup pintu kamar.


....


Mereka pergi menuju butik baju yang terkenal dikota ini. Andika dan Riana sibuk memilih baju untuk Riana. Dibantu juga oleh seorang pelayan yang bekerja di toko itu.


"Coba bajunya Ria, aku yakin semianya cocok untukmu," kata Dika.


Riana melihat setumpuk baju yang pelayang itu bawa. Ia seakan tak percaya melihat begitu banyak baju yang Dika pilih untuk ia coba.


"Kamu yakin mau aku coba semua baju ini Dik?" kata Ria.


"Iya, apakah kamu keberatan untuk mencoba semua baju ini. Apa kita langsung beli saja semua bajunya tanpa harus kamu coba lagi," kata Dika.

__ADS_1


"Tidak-tidak, aku coba saja."


__ADS_2