
Tapi, hari ini Dika sukses membuat Ria terhibur. Mereka bermain dengan bahagianya, Ria seakaan melupakan kesedihannya untuk sementara.
.....
Mereka sampai dirumah, Ria melihat wajah Dika. Yang terlihat capek namun ia masih tersenyum manis pada Ria.
"Dika, aku sangat berterima kasih banyak padamu," kata Ria saat mereka sampai didepan pintu kamar Ria.
"Tidak perlu berterima kasih padaku Riana, aku bahagia melakukan hal ini. Aku suka melihat temanku bahagia," kata Andika.
"Terima kasih banyak sudah mau menjadi temanku Dika, aku merasa kamu adalah teman yang terbaik dalam hidupku."
Dika hanya tersenyum saja menangapi apa yang Ria katakan. Jujur, dalam hati yang paling dalam. Dika selalu merasa nyaman saat berada disamping gadis yang papanya hadiahkan padanya itu. Walaupun sejujurnya, papanya menghadiahkan Riana hanya sebagai gadis pelunas hutang demi mempermalukan Andika dikalangan para pembisnis.
"Ria, aku kekamarku dulu. Kamu istirahat sekarang gih," kata Andika.
"Iya, kamu juga istirahat ya."
Dika senyum sambil berjalan meninggalkan Ria yang masih berdiri didepan kamarnya.
....
__ADS_1
Sampai dikamar, Dika bukannya langsung mandi dan istirahat. Ia malah mengambil foto mamanya yang terpajang di tembok kamarnya.
"Mama, aku merasa nyaman untuk pertama kali setelah kepergian mama dan penghianatan dia," kata Dika sambil membelai foto itu.
"Aku kangen banget sama mama, kepergian mama yang sangat cepat dan tiba-tiba. Selaly membawa aku kedalam sebuah penyesalan dan kesepian yang teramat sangat jauh."
"Tapi sekarang, aku merasakan hehangatan seorang teman mama. Aku merasakan sebuah kenyamanan dan tidak merasa sendiri lagi," kata Dika sambil menyeka air mata yang turun perlahan dari matanya.
Dika kembali meletakkan foto mamanya ditembok. Ia tersenyum setelah melihat wajah cantik sang mama yang terlihat sangat bahagia difoto itu. Sayangnya, wajah cantik itu tidak akan pernah ia lihat lagi untuk selama-lamanya. Wajah cantik orang yang paling ia sayangi itu hanya bisa ia lihat dalam foto saja.
Sementara dikamar lain, Ria senyum sambil mengingat apa yang ia dan Dika lewati hari ini. Ia merasa sedihnya bisa terobati, setelah kepergian mamanya. Hari ini ia merasa hatinya sedikit tenang.
Ternyata, Dika juga bisa membuat hatinya merasa tenang. Lelaki yang terlihat dingin dan kaku itu juga tahu bagaimana menyenangkan hati orang lain. Padahal kalau dilihat sekilas, lelaki itu bagaikan tidak pernah merasakan bahagia. Tapi ia malah bisa membahagiakan hati Ria.
....
"Bik, apa Dika belum turun juga saat ini?" kata Ria bertanya pada salah satu pelayan.
"Belum nona, tuan muda masih belum keluar dari kamarnya sejak pulang tadi."
"Oh begitu ya," kata Ria sambil melihat pintu kamar Dika yang masih tertutup rapat.
__ADS_1
Ria makan sendirian, setelah itu ia mengambil nasi dan lauk pauk. Membuat para pelayan merasa penasaran sama apa yang ia lakukan.
"Nona, mau bawa kemana makanan itu?" kata salah satu pelayan.
"Aku mau antarkan makanan ini kekamar Dika," jawab Ria singkat dan berlalu meninggalkan meja makan.
Para pelayan itu tidak berkomentar apapun lagi. Mereka hanya melihat Riana berjalan menuju kamar Andika sambil membawakan nasi ditangannya.
Sampai dikamar, Ria mengetuk pintu kamar Andika dengan pelan. Ia takut mengganggu istirahat Andika sebenarnya. Makanya ia mengetuk pintu itu dengan pelan.
"Tunggu sebentar," kata suara dari dalam kamar.
Tak lama Ria menunggu, pintu kamar itu pun dibuka oleh pemiliknya.
"Ada apa Ria?" kata Dika saat melihat Riana yang berada didepan pintu kamar.
"Kamu tidak turun makan, maka aku berfikir untuk membawakan makanan ini kekamar kamu saja. Biar kamu makan dikamar saja malam ini, aku yakin kamu capek hari ini bukan?" kata Ria.
"Terima kasih banyak, silakan masuk saja kalau kamu ingin masuk."
"Aku rasa tidak perlu, aku tidak ingin mengganggu waktu istirahat kamu. Aku harap kamu makan makanan ini dan aku kembali kekamarku dulu."
__ADS_1
Ria menyerahkan sepiring nasi yang ia bawa tadi. Dika menerimanya, ia melihat gadis yang ada didepannya saat ini.
"Terima kasih sekali lagi Ria, tapi lain kali jangan sibukkan dirimu hanya karna aku ya."