Gadis Pelunas Hutang

Gadis Pelunas Hutang
Mabuk


__ADS_3

Sejak saat itu, hubungan antara Andika dan Riana sangat dekat. Mereka bahagia mempunyai hubungan sebagai teman. Mereka bisa saling berbagi dan saling menguatkan.


Tapi saat ini, Ria sedang resah menunggu kepulangan Andika didepan ruang tamu. Ia cemas saat jam sudah mununjukkan tengah malam dan Andika belum juga pulang dari kerjanya.


"Kemana kamu Dika, aku merasa sangat cemas saat kamu gak pulang-pulang juga. Ini sudah sangat malam," kata Ria sambil munda-mandir diruang tamu.


"Nona Ria, kenapa belum tidur juga. Sekarang sudah hampir jam dua belas malam," kata pelayang yang paling tua dirumah mereka.


"Maaf bibik, aku merasa cemas sama Andika. Kenapa dia belum pulang juga sampai sekarang," kata Ria.


"Mungkin tuan muda sedang banyak pekerjaan nona. Makanya dia pulang agak malam," kata pelayan itu.


"Iya mungkin saja begitu, aku saja yang terlalu berlebihan mungkin ya."


"Iya, sebaiknya nona Ria pergi tidur saja. Nanti tuan muda juga akan pulang saat ia sudah tidak sibuk lagi."


"Iya, aku akan masuk kamarku sekarang. Selamat malam bibik," kata Ria melangkah menuju kamar.


Baru saja beberapa langkah Ria berjalan menuju kamarnya. Pintu rumah terbuka dengan kuat. Sambil memunculkan Andika yang harus berjalan dengan bantuan anak buahnya.


"Dika?" kata Ria seakan tidak percaya sama apa yang ia lihat.

__ADS_1


Ya, saat ini Dika bagaikan bukan dirinya lagi. Ia mabuk berat dengan wajah yang merah. Ia bicara sembarangan dan tidak sadarkan diri.


"Aku benci kamu, aku benci kamu. Aku tidak ingin melihat kamu lagi," kata Dika ntah bicara sama siapa.


Ria dan bibik menghampiri Andika dan bertanya pada anak buah Andika.


"Apa yang terjadi sama tuan muda, kenapa ia bisa seoerti ini," kata bibik pada anak buah Andika.


"Tuan muda sedang tidak enak hati, tapu maaf aku tidak tahu apa-apa lagi. Yang aku tahu, tuan muda minum terlalu banyak di bar tak jauh dari pinggiran kota," kata anak buah itu menjelaskan.


"Ya sudah, bawa tuan muda kekamar."


Sedangkan Ria hanya diam saja, tidak ada yang bisa ia katakan saat melihat Andika yang seperti bukan Andika yang ia kenal itu.


"Bibik, apa yang sebenarnya terjadi. Apa Dika selalu seperti ini?" kata Ria dengan hati-hati.


"Tuan muda tidak biasa seperti ini, jika tidak ada masalah yang sangat berat. Tuan mudah tidak suka mabuk-mabukan," kata pelayan itu.


"Baiklah nona, saya harus pergi. Nona yang temani tuan muda malam ini ya," kata bibik lagi.


"Saya bik?" kata Ria seakan tak percaya.

__ADS_1


"Iya nona, saya minta tolong sama nona untuk menemani tuan muda malam ini. Karna kasihan sama tuan muda jika ia butuh sesuatu, tidak ada yang akan memberikannya."


"Baiklah bibik, saya yang akan temankan Dika dikamar ini."


Bibik meninggalkan Ria dikamar Andika. Ria melihat Andika yang sedari tadi tergeletak diam sambil sesekali ngomong sendiri.


"Kamu jahat, kamu benar-benar jahat."


Suara itu terdengar seperti seseorang yang sangat terluka. Ria tidak tahu apa yang sebenarnya telah Andika lalui selama hidupnya. Tapi ia bisa merasakan sesuatu, yaitu rasa sakit yang sedang Andika sembunyikan selama ini.


Ria duduk dikasur samping Dika yang terbaring, Ria merasakan hawa tubuh yang sangat panas saat berdekatan dengan Andika.


"Dika, apa kamu sakit?" kata Ria sambil meletakkan tangannya diatas dahi Dika.


"Ya ampun, kamu panas sekali Dika."


Ria ingin bangun dari duduknya, ia ingin mengatakan pada bibik kalau tubuh Dika saat ini sedang panas sekali. Tapi sayangnya, belum juga bangun dari duduk. Tangan Andika sudah memegang tangannya dengan erat sambil berucap.


"Jangan tinggalkan aku, aku mohon jangan pergi. Aku tidak mau sendiri, aku tidak suka kesendirian ini."


"Aku akan ambilkan kamu air dan handuk, biar aku bisa mengomores kamu. Suhu tubuh mu terlalu tinggi," kata Ria.

__ADS_1


"Jangan pergi, aku mohon jangan tinggalkan aku sendiri."


__ADS_2