Gadis Pelunas Hutang

Gadis Pelunas Hutang
Kecewa Monika


__ADS_3

Herman berjalan mendekati Riana yang terpaku disana. Ia hanya bisa menjadi penonton di antara Andika dan papanya.


"Nona Riana, gadis pelunas hutang papanya. Kamu sudah melihat bagaimana reaksi suamimu saat melihat gadis itu bukan? Aku yakin, kamu sudah tahu kalau gadis itu adalah gadis yang suamimu cintai," kata Herman sambil melihat wajah Riana dari dekat.


"Apakah tidak ada rasa sakit didalam hatimu saat ini, saat tahu kalau suamimu punya orang yang ia cintai," kata Herman lagi.


"Tidak, aku sama sekali tidak pernah sakit hati," kata Riana dengan sangat lembut.


Riana menundukkan kepalanya, apa yang keluar dari mulutnya sangat bertentangan dengan yang ada dalam hati Ria saat ini. Tapi ia tidak mungkin mengatakan apa yang ia rasakan langsung sekarang. Ia sadar diri, siapa dia dan siapa Andika.


"Bohong!" kata Herman dengan nada tingginya.


"Jangan pura-pura baik-baik saja kamu wanita. Aku sudah tahu kalau kamu menyimpan rasa suka pada Andika," kata Herman.


Andika melihat kearah Riana, ia kasihan melihat Ria yang menjadi bahan tindasan papanya. Padahal, gadis itu sama sekali tidak ada salah dengan papanya.


"Cukup papa, aku tidak ingin kamu menyakiti orang yang tidak ada hubungannya dengan masalah kita. Bukankah Ria datang kedalam kehidupanku itu karna kamu, jadi dia tidak salah apapun. Tolong jangan ganggu dia," kata Andika menghampiri Ria.


"Bagus, menarik sekali. Aku suka caramu membela gadis pelunas hutang ini," kata Herman tersenyum jahat.

__ADS_1


Melihat hal itu, Monika seakan tak percaya dengan pandangannya. Ia tak percaya kalau Andika mengabaikannya saat ini. Andika malah peduli pada gadis baru yang terlihat biasa saja, yang awalnya hanya penonton saja.


"Papa bisa menyiksa aku, tapi tidak akan aku biarkan papa menyiksa orang yang tidak ada hubungannya dengan masalahku," kata Andika.


"Ria, apa kamu baik-baik saja. Ayo kita pulang," kata Andika seakan melupakan masalahnya dengan papa dan Monika.


"Hahahah ... manis sekali kamu Andika, ingin meninggalkan aku dan melupakan siapa yang aku miliki sekarang."


"Aku tidak peduli siapa yang kamu miliki, aku tidak peduli lagi dengan semuanya."


"Dika, jangan tinggalkan aku. Aku memang salah meninggalkan kamu, tapi kamu tidak bisa meninggalkan aku begitu saja. Apa lagi saat ini," kata Monika merintih berharap Andika berubah pikiran.


"Kamu tidak ada hubungannya dengan aku, karna pada saat aku sangat mencintai dan sangat membutuhkan kamu, tapi kamu malah meninggalkan aku."


Andika dan Riana meninggalkan butik dengan mobil Andika. Sedangkan papa dan anak buahnya masih belum keluar dari dalam butik itu.


"Kasihan sekali nasib kamu Monik, lihatlah Andika yang tidak peduli padamu lagi sekarang. Aku lihat ia mulai jatuh cinta pada gadis pelunas hutang itu," kata Herman.


"Ini semua karna kamu, jika tidak, semuanya akan baik-baik saja sekarang. Lepaskan aku," kata Monik.

__ADS_1


"Lepaskan dia," kata Herman pada anak buahnya.


Anak buah Herman mengikuti apa yang Herman katakan. Mereka melepas Monika yang sedari tadi mereka pegang. Setelah lepas, Monika berjalan kearah Herman yang sedang duduk di sebuah kursi yang ada didalam butik.


"Herman, kamu telah membuat aku kehilangan Andika bertahun-tahun yang lalu. Lalu, sekarang kamu ingin aku kembali lagi, hanya untuk melihat semua ini. Apa yang kamu rencanakan buat aku sebenarnya?" kata Monika.


"Kamu lihatkan Monik, Andika sudah bukan Andika yang dulu lagi. Makanya aku minta kamu pulang, itu semua karna kamu sudah tidak harus pergi dari Andika lagi. Melainkan, kamu harus kembali kepada Andika."


"Maksud kamu?" kata Monika tidak mengerti.


"Kamu tunggu saja kabar dari aku, dan berperanlah sebaik mungkin. Aku tidak ingin kamu mengecewakan hatiku."


"Ayo pergi," kata Herman pada anak buahnya.


"Tunggu, kamu tidak boleh meninggalkan aku disini begitu saja dong. Aku pulangnya nanti naik apa," kata Monika.


"Didepan sudah ada taksi menunggu kamu, pulang dengan taksi itu. Semuanya sudah aku urus," kata Herman sambil meninggalkan Monika.


"Tunggu Herman!"

__ADS_1


Monika berusaha ingin bicara lagi, tapi Herman sudah tidak mau mendengarkan lagi apa yang Monika bicarakan. Ia meninggalkan Monika sendirian di butik.


"Dasar tua bangka sialan," kata Monika sambil berjalan keluar dari butik.


__ADS_2