
Aditia masih berada di ruanag kerja papa. Saat pintu ruang kerja papa di ketuk oleh seseorang dari luar.
"Masuk." kata papa.
Ternyata yang mengetuk pintu itu adalah Andika. Andika pun masuk kedalam, sedang kan anak buah nya ia tinggal kan di luar sana.
"Ada apa papa minta aku datang kesini." kata Andika langsung pada pokok nya saja.
"Duduk dulu Dika, dan bicara baik-baik dengan papa." kata papa.
"Aku tidak punya banyak waktu pa, biasa nya papa pasti punya masalah yang akan papa beri kan pada ku jika ingin aku datang kesini." kata Dika.
"Kali ini bukan masalah untuk mu, kali adalah kesenangan untuk mu Dika." kata papa.
"Aku tidak yakin itu adalah kesenanagan yang akan papa beri kan untuk ku." kata Dika.
Papa bangun dari duduk nya di kursi itu. Ia melihat Andika dan Aditia secara bergantian.
__ADS_1
"Dika, ayo ikut papa. Sedang kan kamu Adit, istirahat di kamar mu sekarang." kata papa.
"Tapi pa." kata Aditia.
"Sudah lah Dit, ikut saja apa yang papa kata kan." kata papa.
Papa pun memanggil suster yang selalh melayani Adit. Suster itu membawa Aditia pergi dari ruangan itu. Sedang kan papa dan Dika berjalan menuju ruang belakang rumah mereka.
"Kenapa papa bawa aku kesini." kata Dika.
Setelah mereka sampai, Dika kaget saar melihat seorang gadis di dalam kandang kucing.
"Kamu lihat gadis itu kan, aku ingin kamu menikah dengan nya. Gadis itu adalah gadis yang telah menjadi pelunas hutang keluarga nya." kata papa.
"Ha.. Ha.. Ha... Jangan main-main dengab ku pa, kamu berikan aku gadis pelunas hitang. Apa kah segitu benci nya papa pada ku." kata Andika.
"Aku tidak benci pada mu, aku hanya ingin kamu menikah dengan nya. Bukan kah itu hal yang baik untuk mu." kata papa.
__ADS_1
"Hal baik apa yang papa maksud kan. Memberi kan aku gadis yang papa ambil dari menukar hutang." kata Dika.
"Kamu tidak punya pilihan lain selain menikahi gadis itu besok. Menikahi nya atau aku yang akan menikah dengan gadis itu. Mengganti kan posisi mama mu dengan gadis yang aku ambil darj menukar gadis dengan hutang." kata papa tegas.
Tidak, itu adalah hal yang paling tidak Andika sukai. Mama nya adalah wanita yang tidak boleh di hianati. Apa lagi dengan gadis yang jauh lebih muda dari mama nya. Walau pun mama telah tiada, tapi ia tetal tidak rela jika mama nya di hianati.
"Bawa gadis itu sekarang." kata Andika pada anak buah nya.
"Baik bos." kata kedua anak buah Andika.
"Pilihan yang bagus Dika, aku akan lihat besok. Kamu menikah dengan gadis itu tanpa ada acara apa pun." kata papa.
"Aku harap papa senang dengan menikah kan aku dengan gadis pelunas hutang itu." kata Andika.
"Dan satu hal lagi, aku harap papa tidak akan mengganggu hidup aku lagi." kata Andika.
"Lihat saja nanti, apa kah aku tahan tidak bikin hidup mu susah. Sama hal nya bagai mana kamu telah susah kan hidup ku." kata papa sambil senyum pada Andika.
__ADS_1