Gadis Pelunas Hutang

Gadis Pelunas Hutang
Sedih


__ADS_3

Bibik itu pun meninggal kan Ria dan Dika di kamar. Tak biasa nya Dika terlihat cemas pada wanita. Kali ini, ia terlihat sangat cemas pada kondisi Ria.


"Mama...." kata Ria saat mata nya baru saja terbuka.


"Ria, tenang lah. Kamu akan baik-baik saja, disini ada aku." kata Dika.


"Dika, semua nya tidak bai-baik saja. Aku harus pergi melihat mama." kata Riana dengan air mata di pipi nya.


"Ria tenang, kamu baru saja pingsan dan tubuh mu masih lemah." kata Dika mencegah.


"Bagaimana aku bisa tenang Dika, mama ku sudah tidak ada lagi. Jelas kan pada ku bagaimana cara aku tenang." kata sambil berteriak dan menangis.


Dika memeluk Ria, ia berusaha menenang kan Ria walau itu tidak mungkin. Karna ia juga pernah mengalamai hal yang sama. Dulu dia lebih gila lagi saat tahu mama nya sudah tiada. Seluruh barang yang ada di dekat nya, habis di hancur kan Dika dengan tangan kosong saja.

__ADS_1


"Tenang lah Ria, aku akan membawa kamu melihat mama mu. Tapi dengan syarat kamu harus tenang dulu ya." kata Dika pelan dan lembut.


"Tidak Dika, aku tidak bisa tenang saat ini. Aku sudah tidak bisa tenang dan aku sudah tidak tahu bagai mana cara nya tenang." kata Ria.


"Baik lah, ayo pergi sekarang dan berhenti lah menangis. Aku akan membawa me kerumah orang tua mu." kata Dika.


Riana sudah tidak tahu bagai mana rasa tenang lagi. Ia terus saja menangis, sampai kedalam mobil pun ia masih menangis. Mobil melaju kencang, saat ini Dika membawa mobil sendiri. Ia meninggal kan anak buah nya jauh di belakang.


***


Akhir nya, Ria sampai depan rumah nya dengan selamat. Ria meninggal kan Dika di dalam mobil, Ria berlari supaya bisa sampai pintu rumah dengan ceapt.


Saat masuk kedalam rumah, bagaikan di sambar petir. Ia tidak percaya apa yang ia lihat. Mama nya sudah tidak ada lagi, mama nya sudah terbaring di sana.

__ADS_1


Papa melihat anak nya yang datang, papa langsung menghampiri Ria dan memeluk anak nya dengan air mata. Di belakang sana, di depan pintu. Dika hanya bisa melihat apa yang terjadi.


Hal yang sama dengan apa yang ia rasa kan beberapa tahun yang lalu. Ia juga merasa kan hal itu, bahkan lebih sakit lagi saat itu. Karna mama nya pergi karna ulah nya. Ulah kelalaian diri nya saat membawa kenderaan.


"Ini tidak mungkin pa, ini tidak mungkin." kata Riana.


"Papa juga berharap seperti itu Ria, papa tidak ingin ini nyata. Tapi bagai mana lagi, semua nya sudah terjadi." kata papa.


Saat papa melihat kebelakang, ia melihat Dika menyaksi kan apa yang telah terjadi. Hati papa tiba-tiba saja sakit saat melihat Dika.


"Ngapain kamu ada di sini, kalian keluarga Wijaya yang jahat. Kalian telah membawa anak ku dan menjadi kan nya tahanan di rumah kalian." kata papa sambil menunjuk-nunjuk Dika.


Dika tidak berkata apa pun, ia hanya diam saja saat papa menunjuk kearah wajah nya. Ia tidak ingin jadi anggota keluarga Wijaya sebenar nya. Tapi bagai mana lagi, nama itu sudah melekat di diri nya.

__ADS_1


"Cukup pa, dia tidak bersalah. Dia memang bagian dari anggota keluarga Wijaya. Namun, sama hal nya seperti kita. Dia juga korban dari keluarga nya." kata Ria pada papa nya.


__ADS_2