Gadis Pelunas Hutang

Gadis Pelunas Hutang
Persiapan


__ADS_3

Sejak hari itu, Andika berusaha untuk membuktikan apa yang ia katakan. Dengan berbagai macam cara, Andika berusaha membuat Riana nyaman dan senang.


Dika juga mempersiapkan pesta pernikahan untuk dia dan Riana. Ia ingin menikah secara sah dimata agama dan dimata negara.


Semua persiapan itu ternyata diketahui oleh Herman. Ia terlihat sangat marah saat tahu rencana Andika untuk menikahi Riana. Ia tidak bisa membiarkan Andika bahagia. Karna baginya, Andika adalah orang yang telah membuat ia kehilangan orang yang paling ia sayangi.


"Papa, jangan lakukan hal itu lagi pa. Biarkanlah kak Dika bahagia, dia tidak mengganggu papa lagi bukan?" kata Aditia pada papanya yang sedang bicara dengan anak buahnya.


"Adit, kenapa kamu berada disini. Masuk kedalam sekarang dan jangan ganggu papa. Kamu tidak tahu apa-apa tentang semua ini, apa kamu tidak sakit hati saat melihat Andika bahagia sedangkan kamu tidak bisa berjalan karna ulahnya."


"Pa, ini semua bukan salah kak Dika. Semuanya hanyalah kecelakaan semata, tidak ada orang yang perlu disalahkan."


"Suster ... suster, bawa tuan muda masuk kedalam."


Seorang suster pun datang ketempat itu dengan tergesa-gesa. Lalu mendekat dan ingin membawa Adit pergi dari sana.

__ADS_1


"Tidak perlu suster, aku bisa pergi sendiri dari sini. Aku bukan anak kecil yang selalu kamu bawa kemana kamu mahu," kata Adit pada suster.


"Maafkan saya tuan muda, saya hanya menjalankan perintah saja."


"Papa berubah, papa selalu membuat aku tersiksa karna ulah papa. Aku bahkan tidak kenal siapa papa yang saat ini berada dirumah ini," kata Adit sambil menatap papanya.


"Cepat suster, bawa tuan muda pergi. Jangan biarkan ia keluyuran kemana-mana," kata Herman sedikit berteriak.


Saat suster itu memegang kursi roda Adit. Adit mencegah suster itu untuk mendorongnya.


"Tidak perlu mendorong kursi roda aku lagi. Aku bisa pergi sendiri, aku bosan hidup disangkar emas ini, dengan seorang pemburu yang selalu mengekang aku."


Semua itu membuatnya gelap mata, dan tidak menggunakan hatinya lagi. Yang ia tahu adalah, bagaimana bisa membuat Andika menderita. Hanya itu saja yang ada dalam pikirannya.


.....

__ADS_1


Dua hari lagi adalah hari pernikahan yang akan Andika adakan buat membuktikan kalau ia sangat mencintai Ria. Riana sudah tahu akan niat Andika untuk menjadikannya sebagai istri yang sah baik dimata hukum maupun dimata agama.


Riana sedang duduk di ruang tamu sendirian. Pelayan yang bekerja dirumah itu, sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Karna mereka juga ikut membantu persiapan pernikahan yang Andika adakan di villa besar yang berada tak jauh dari villa tempat tinggal mereka saat ini.


Tak lama, terdengar seseorang mengetuk pintu, yang tak jauh dari ruang tamu. Riana pun bangun dari duduknya. Ia pun berjalan menuju pintu dan membukanya. Betapa kaget Ria saat melihat siapa yang ada didepan pintu rumah itu.


"Riana, aku minta maaf untuk semua yang aku lakukan kemarin. Dua hari lagi adalah hari pernikahan kamu bukan?" kata Monika.


"Sudahlah, tidak perlu minta maaf padaku. Aku sudah melupakan semua yang terjadi antara aku dan kamu. Iya, dua hari lagi adalah hari pernikahan kamu. Apakah kamu bersedi untuk datang nanti? Tapi maaf, aku tidak punya undagannya. Karna semuanya Dika yang urus," kata Riana panjang lebar.


"Tidak perlu sungkan, aku pasti akan datang."


"Oh ya, ayo masuk kedalam. Tidak baik hanya berdiri didepan pintu saja," kata Riana ramah.


"Tidak usah, aku datang kesini hanya minta maaf dan ingin memberikan hadiah padamu. Apakah pelayang kamu ada?" kata Monika.

__ADS_1


"Oh, mereka tidak ada divilla ini. Mereka sedang sibuk divilla belakang, untuk membantu persiapan pernikahan."


"Aduh, bagaimana aku akan membawanya yah. Ini sedikit berat kalau dibawa sendiri. Apakah kamu bisa bantu aku untuk membawakan barang yang akan aku hadiahkan padamu? Barangnya ada didalam mobilku."


__ADS_2